Tales of Panchatantra in indonesian

1 - CERITA TENTANG SEEKOR KERA DAN BALOK KAYU .

Seorang pedagang mulai mendirikan sebuah candi di bawah pepohonan di pinggiran sebuah kota.

Setiap hari para tukang kayu dan para perkerja pergi ke kota untuk makan siang.

Sekarang pada satu hari, satu kelompok kera yang lagi berkelanat iba di tempat tersebut.

Seorang tukang kayu yang sedang menggeraji sebuah balok kayu, meletakkan satu tiang di dalamnya sehingga balok kayu tidak dapat tertutup dan kemudian dia pergi.

Kera kera mulai bermain di atas pohon pohon dan banggunan yang tinggi tanpa mempunyai khawatir sedikitpun di dunia ini.

Seekor kera yang sungguh sial dan yang takdirkan untuk hidup tidak lama, duduk di atas balok yang sedang digergaji, memegang pasak dengan tangannya dan mulai mencabut tiang itu dan meletakkan kakinya di dalam celah.

Dan lihat saja! Tiba tiba tiang tersebut tercabut dan balok kayu itu tertutup dan menjerak kaki - kaki kera itu. Kera itu langsung mati.

Pesan moral : seorang yang mengganggu pekerjaan orang lain, pasti akan mendapatkan sial.


2 - SEEKOR SRIGALA DAN SEBUAH GENDANG

Dahula kala ada seekor serigala bernama Gomaya.

Pada sautu hari dia merasa sangat lapar dan dia mengembara mencari makan.

Akhirnya dia sampai di satu medan pertempuran.

Tentara yang telah berperang meninggalkan sebuah gendang yang digeletakkan di depan semak - semak.

Karena angin yang bertiup cukup kencang, semak semak itu menerpa gendang itu sehingga menimbulkan suara. Mendengar ini serigala ketakutan dan berpikir,' jika saya tidak menghindar sebelum terlihat makhluk yang menimbulkan suara itu, matilah saya Akan tetapi tidak baik meninggalkan rumah mendadak jadi harus kucoba mencari siapa yang membuat suara ini' .

Maka ditetapkan hatinya dan ketika dia menghampiri suara itu, dia menyadari bahwa yang membuat suara itu hanya sebuah gendang. Dia terus memeriksa dan di sana ditermukannya makanan cukup untuk waktu yang lama.

Pesan moral: Hanya yang memliki keberanian yang akan berhasil dalam hidup.


3 - CERITA TENTANG PEDAGANG DANTILA.

"Di sesuatu tempat di dunia ini, ada sebuah kota bernama Vardhamana. Seorang pedagang yang sangat makmur, bernama Dantila tinggal di sana.

Dia memiliki kekuasan atas seluruh kota.

Selama administrasinya, dia membuat rakyat dan raja, kedua - duanya bahagia

Sangat langka bisa ditemukan orang yang begitu bijaksana.

"Dalam keadaan yang seperti ini, itu hal yang mustahil untuk menjadi seorang yang disayang oleh raja dan juga oleh masyarkat umum.

"Seiring dengan berjalannya waktu, suatu hari diadakanlah pesta pernikahan puteri Dantila.

Dantila mengundang seluruh masyarakat umum dan pegawai - pegawai kerajaan.

Dia menghibur mereka dengan mewah, memberi mereka hadiah - hadiah berupa kain sebagai rasa hormat nya kepada mereka, para tamu.

Setelah pesta usai, raja beserta ratu dan seluruh pejabat kerjaan diundang ke rumah Dantila dan dia keluarganya memberi hormat.

"Satu pembantu istana yang bernama Gorambha*, yang bertugas menyapu lantai istana raja, juga datang kesana tanpa diundang.

Dia duduk di satu tempat yang seharusnya disediakan untuk orang lain. Dantila memegang leher Gorambha dan melemparnya keluar.

Pembantu itu merasa dihina dan sepanjang malam dia tidak bisa tidur karena berpikir, 'Bagaimana saya bisa membuat raja membenci Dantila dan dengan demikian saya bisa membalas dendam tapi kesempatan apa yang saya miliki.'

Beberapa hari kemudian, pagi pagi ketika raja belum bangun benar, Gorambha menyapu lantai didekat kamar tidur Raja sambil berkata, 'Ampun! Dantila menjadi begitu tebal muka akhir akhir ini hingga dia berani merangkul ratu?'

Ketika raja mendengar ini, dia meloncat bangun dan berteriak, 'Gorambha!

Apakah ini benar? 'Apakah Dantila benar - benar telah merangkul ratu?'

'Tuan,' kata Gorambha, ' saya berjudi semalaman dan tidak tidur sama sekali. Pagi ini saya merasa mengantuk. Saya benar benar tidak tahu apa yang saya telah saya ucapkan.'

"Cemburu, raja berpikir, 'Benar. Pembantu Gorambha diijinkan untuk berjalan dengan bebas di istana begitu juga Dantila. Ini mungkin bisa terjadi bahwa Gorambha melihat Dantila merangkul ratu saya'

Pikiran raja menjadi begitu terganggu, mulai hari itu, dia mengendalikan keramahan nya terhadap Dantila dan melarang Dantila untuk masuk istana.

Dantila merasa sangat heran melihat perbedaan yang mencolok dalam sikap raja dan dia berpikir, 'Bahkan dalam mimpi pun, saya belum pernah menyakiti siapapun, tidak kepada raja sendiri atau siapapun juga di keluarganya. Kenapa kalau begitu raja menunjukkan sikap bermusuhan terhadap saya?'

"Beberapa waktu berlalu.

"Pada satu hari, waktu Dantila ingin melalui pintu gerbang istana, dia diberhentikan oleh para penjaga.

Gorambha yang sedang menyapu lantai, melihat ini dan berkata dengan menyeringai, 'Ho, para penjaga, orang ini paling disayangi oleh raja. Dia bisa menahan atau bebaskan orang-orang menurut keinginannya.

Dia melempar saya keluar.Hati- hati, kamu mungkin akan mendapat nasib yang sama.'

"Waktu Dantila mendengar hal ini, dia berpikir, 'Itu pasti Gorambha yang menyebabkan semua kesusahan ini.'

"Dantila merasa bingung dan pulang kerumahnya dalam keadaan pikiran muram.
Dia mulai pikir tentang ini dan sore hari dia mengundang Gorambha ke rumahnya, memberi dia satu setel baju dan berkata dengan ramah, 'Teman yang ku sayang, Itu bukan karena saya marah, saya melempar kamu keluar pada hari itu tapi karena kamu telah menduduki tempat duduk yang disediakan buat seorang Brahmana. Brahmin itu merasa dihina, karena itu saya melempar kamu keluar. Tolong maafkan saya !'

"Waktu Gorambha melihat baju-baju, dia merasa bahagia sekali.
Penuh kegembiraan dia berkata kepada Dantila,'Tuan!
Sekarang saya maafkan tuan. Tuan sudah mengungkapkan perasaan kekecewaan tuan dan juga menghormati saya. Satu kali lagi anda akan disayangi oleh raja dan dengan cara ini saya akan buktikan kepintaran saya.'

Dengan kata - kata begini Gorambha pulang dengan bahagia.

"Pagi berikutnya, dia pergi ke istana dan mulai menyapu lantai.
Waktu dia sudah tahu pasti bahwa raja belum betul- betul bangun,
dia berkata,' Raja mempunyai tingkah-laku yang kurang bijaksana,
beliau makan ketimun di kamar kecil.'

"Raja terkejut waktu beliau mendengar ini dan berteriak, 'Kamu! Gorambha! Omong-kosong apa yang kamu bilang? Ini hanya karena kamu adalah pembantuku, aku tidak membunuhmu. Apakah kamu pernah melihat aku melakukan sesuatu seperti itu?'

"Tuan,'kata Gorambha,' Saya berjudi sealaman dan tidak tidur sama-sekali. Pagi ini saya merasa mengantuk. Saya benar-benar tidak tahu apa yang telah saya katakan. Tetapi jika saya bilang sesuatu yang tidak benar, tolong maafkan saya.'

"Waktu raja mendengar ini, beliau berpikir 'Sama-sekali belum pernah dalam hidupku, makan ketimun di kamar kecil. Kalau si bodoh ini mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal tentang saya, pasti apa yang dia kata tentang Dantila tidak masuk akal juga. Itu kesalahan saya telah menghina Dantila. Lagi pula, tanpa dia, seluruh sistim administrasi di istana dan di kota mulai lemah.'

Beliau merpertimbakkan dengan hati hati untuk mengundang Dantila dan menghadiahkan perhiasan serta baju-baju dan mengangkat dia ke posisinya semula.

Pesan moral: seseorang seharusnya memperlakukan orang lain, baik yang terrendah sekalipun dengan respek.


4 - CERITA TANTANG SEEKOR SANYASI DAN PENIPU

"Pada satu waktu di sebuah pura yang sunyi dan lengang, hidup seorang Pertapa bernama Deva Sharma.

Banyak orang mengunjuginya dan menghadiahkannya dengan baju tenunan yang halus, yang kemudian dijualnya sehingga dia menjadi sangat kaya.

Pertapa ini tidak mempercayai siapapun.

Siang dan malam dia menaruh dompet khazanahnya dibawah ketiaknya, dan tidak pernah pisah dengannya barang sedetikpun.

"Seorang penipu bernama Ashadhbhuti, yang telah merampok uang orang lain, melihat bahwa Pertapa menaruh dompet khazanah dibawah ketiaknya.

Dia berkata kepada dirinya, 'bagaimana saya bisa merampok uang orang ini?

Sulit untuk membuat lubang pada tembok-tembok Pura, atau untuk loncat diatas pintu gerbang yang tinggi, jadi apa yang akan saya lakukan adalah menawan hatinya dengan kata-kata manis supaya dia menerima saya sebagai muridnya. Ketika dia sudah yakin dan percaya pada saya, pada satu hari, dia akan jatuh kedalam cengkeraman saya.'

"Waktu dia sudah dengan pasti memustuskan untuk menjalakan rencananya, Ashadhbhuti menghampiri Deva Sharma, berdiri didepannya dengan rasa hormat yang mendalam dan berkata, 'Om Namaha Shivaya*!

'Dengan kata-kata ini, dia membungkuk dengan rendah hati didepan Deva Sharma dan berkata, 'Oh, Begawan! saya capek dengan hidup ini!

Hidup ini adalah seperti api dirumput, semua kesenangannya tidak kekal seperti awan di musim gugur, hubungan seorang dengan teman-teman, anak-anak, para isteri dan pembantu tidak lebih daripada sebuah mimpi.

Itu saya sadari dengan jelas. Sekarang bimbinglah saya supaya saya bisa melewati lautan kehidupan ini.'

"Ketika Deva Sharma mendengar ini, dia berkata dengan baik hati, 'Anakku, kamu memang diberkati sehingga kamu bisa datang kepadaku pada usia muda,pasti saya akan beri petunjuk untuk melewati lautan kehidupan ini.'

"Ketika Ashadhbhuti mendengar ini, dia bersujud diatas tanah didepan Deva Sharma, menyentuh kakinya dan berkata, 'Begawan! Mohon terima saya sebagai murid anda.'

'Anakku!' jawab Deva Sharma, 'Saya akan terima, tetapi dengan satu syarat bahwa kamu tidak diperkenankan masuk Pura pada malam hari, karena Pertapa dianjurkan untuk tinggal sendirian pada malam hari tanpa teman, dan kita akan tetapkan seperti ini, kamu dan saya.'

"Dan jadi, "lanjut Deva Sharma, 'setelah mengambil sumpah atas pengesahan sebagai seorang murid melalui upacara, kamu harus tidur di pondok yang terbuat dari jerami di pintu gerbang Pura.'.

'Saya akan dengan sedia melaksanakan perintah anda! 'kata Ashadhbhuti.
Pada saat orang orang sudah tidur, Deva Sharma melantik Ashadhbhuti melalui upacara sesuai adat dan mengangkatnya sebagai muridnya.

Ashadhbhuti memijat tangan dan kakinya, melayaninya dan membuatnya bahagia tetapi Dev Sharma tetap tidak melepaskan dompet khazananya barang sedetikpun.

"Beberapa waktu berjalan, Ashadhbhuti berpikir, 'Dia sama sekali tidak percaya saya! Akankah saya tusuk dia dengan pisau di siang bolong atau meracuninya atau membunuhnya seperti seekor binatang buas?'

"Waktu dia sedang berpikir seperti ini, anak salah satu pengikut DevaSharma, dari desa dekat sana datang untuk menyampaikan undangan secara pribadi dan berkata, 'Begawan! Hari ini upacara sakral pengalugan benang suci* dilaksanakan di rumah kami. Mohon Begawan datang dan sucikan ini dengan kehadiran Begawan.'

"Deva Sharma dengan senang hati menerima undangan ini dan Ashadbbhuti menemaninya.

Di tengah jalan, mereka sampai ke sebuah sungai.

Waktu Deva Sharma melihat sungai, dia melipat dompet uangnya di jubahnya dan berkata, 'Ashadbbhuti, jagalah baju ini dengan kewaspadaan seorang yogi*, sampai saya kembali".

Pada saat Deva Sharma kembali, Ashadhbhuti hilang dengan dompet uang.
"Deva Sharma selesai melakukan apa dia lakukan, dan pelan-pelan kembali,
sambil memikirkan tentang peristiwa ini dan juga tentang uangnya.
Waktu dia kembali, dia tidak berhasil menemukan Ashhadhbhuti
tetapi hanya melihat jubanya, tergeletak di tanah.

Dia mencari cari dompetnya dengan gelisah didalam jubahnya tetapi tidak ketemu juga.
Dia mulai berteriak, 'Aduh! Saya dirampok'.
Dan dia jatuh pingsan di tanah.
"Setelah satu menit atau lebih, dia sadar kembali.
Dia bangun dan mulai berteriak, 'Asadhbhuti, dimana kamu, penipu? Jawab saya!'
Setelah dia berteriak seperti itu dengan suara yang keras, dia pelan-pelan mengikuti jejak kaki Ashadhbhuti dan menjelang sore, dia sampai di sebuah desa.
Dia bermalam disana dan kemudian kembali ke Puranya.

Pesan moral: jangan termakan oleh mulut manis seorang penipu.


5 - Cerita tentang dua Biri Biri yang bertengkar

Pada suatu hari, waktu seorang Sanyasi melalui satu hutan berjalan, dia melihat di jauh, dua biri-biri jantan yang emas, saling bertengkar.

Mereka memukul dan mendorong sampai darah mulai mengalir keluar tetapi mereka masih menolak unutk berhenti bertengkar.

“Sementara, seekor serigala yang haus-darah datang dan mulai menjilat darah dari tanah.

Dev Sharma berpikir, ‘Kalau dia datang diantara biri-biri jantan yang

bertengkar, dia pasti akan terbunuh.’

“Pasti saja, berhasrat buat darah, serigala tertangkap dalam pertengkaran. Dia terpukul di kepala, jatuh diatas tanah dan mati.

Pesan moral: janganlah tutup mata terhadap bahaya yang akan datang dikarenakan keserakahan.


6 - CERITA TENTANG SEEKOR ULAR KOBRA DAN SEEKOR BURUNG GAGAK.

“Di sesuatu tempat di sebuah negara, di atas sebuah pohon banyan, hidup sepasang burung gagak.

Maka, kapanpun si burung betina menetaskan telur-telurnya,seekor ular kobra yang hitam suka keluar dari lubang pohon itu, menaiki pohon dan membuat santapan dari mereka.

Didekat sana, dibawah pohon banyan yang lain, hidup seekor serigala.

Burung-burung gagak menceritakan kepadanya semua.

‘Teman, ‘mereka kata,’ Ular kobra yang hitam merayap keluar dari lubang pohon dan memakan anak-anak kita. Katakanlah, apa yang bisa kita lakukan untuk melindungi mereka? Ini menjadi sangat bahaya buat kita untuk hidup disini..’

’Jangan putus asa.’ kata si serigala,’ ini kenyataan bahwa sebuah musuh bisa dihancurkan oleh sebuah tipu muslihat. Seorang yang biasa, kalau dia licik, terhindar dimusnahkan oleh orang-orang yang paling kuat.

Habis mendegar ini, burung gagak kata, ‘Teman, katakan kepada kita bagaimana kita bisa membunuh ular kobra yang jahat? ‘

‘Baik’, kata serigala, ‘Pergilah ke kota yang adalah ibu kota sebuah kerajaan. Mengunjungi rumah seorang yang kaya, seorang menteri atau siapapun, dan lihat kalau mereka sombrono untuk meninggal sebuah rantai yang emas atau.

sebuah kalung tergelekat disana. Mengangkatlah itu , dan sambil membuat pasti bahwa pembantu-pembantu lagi melihat kamu, terbanglah pelan-pelan dengannya dan menjatuhkannya di lubang pohon dimana ular hidup. Waktu pembantu-pembantu lari belakangmu untuk mendapat kalung kembali, mereka akan melihat ular kobra dan pasti ini bahwa mereka akan membunuhnya.’

“Burung-burung gagak memutuskan untuk mengambil nasihat serigala dan mulai terbang.

Waktu mereka sedang terbang, yang betina melihat sebuah danau, dimana wanita-wanita piaraan lagi berenang. Mereka meninggalkan kalung mutiara dengan baju-baju mereka di tepi danau.

Burung gagak betina mengangakat sebuah rantai emas di paruhnya dan mulai terbang pelan-pelan ke sarangya.

“Waktu sida-sida melihat ini, mereka mengangkat kayunya dan mulai lari belakang burung gagak betina yang birarkan kalung emas jatuh di dekat lubang pohon dimana ular hidup dan menduduk di sebuah pohon didekat sana.

Waktu pembantu-pembantu raja datang di depan lubang mereka melihat seekor ular dengan tudang yang dinaiki.

Mereka membunuhnya dengan kayu, mendapat kembali rantai emas dan kembali pulang.

an burung-burung gagak hidup dengan bahagia untuk selama-lam

Pesan moral: seorang musuh terkuat sekalipun bisa dikalahkan dengan tipu muslihat.


7 - CERITA TENTANG SEEKOR BURUNG BANGAU

“Di sesuatu tempat di hutan, ada sebuah danau yang besar, dan dalam ini hidup semua jenis binatang-binatang air.

Seekor burung bangau juga tinggal disana. Dia sudah menjadi tua dan tidak mempunyai tenaga lagi untuk menankap ikan-ikan.

Karena dia menderita lapar, dia menjadi kurus.

“Pada satu hari, dia datang ke tepi danau dan mulai menangis dengan keras, mengalirkan air matanya seperti mutiara.

Seekor kepiting menghampirinya (beberapa ikan-ikan juga dengannya) dan tanya dengan simpati, “Paman! Apakah kamu baik? Kenapa kamu tidak makan hari ini dan kenapa kamu lagi menangis? Kenapa nafas panjang ini?’

“Ah, anak” jawab burung bangau, Saya sudah memutuskan hubungan dengan dunia ini. Saya dahulu pemakan ikan tetapi sekarang saya tidak akan menyentuh juga mereka biarpun kalau mereka datang dekat saya, karena saya sudah berjanji untuk sebuah puasa sampai mati.”

“Apa sebabmu untuk melepaskan hubungan dengan dunia? kepiting tanya dia.

“Wah”, kata burung bangau,’ saya lahir di danau ini dan inilah disini saya menjadi tua. Sekarang saya mendengar bahwa tidak akan turun hujan disini buat dua-belas tahun berikutnya.”

“Dimana kamu mendengar ini?”meneriak kepiting.

“Dari mulut ahli perbintangan”, kata burang bangau. “Dia kata bahwa itu tertulis di sebuah buku astrologi bahwa, karena tempat berkenaan dengan planit –planit, tidak akan turun hujan buat dua-belas tahun. Tidak ada banyak air di danau ini sekarang, ini akan menjadi kurang dan lebih kurang dan akhirnya, ini akan menjadi sama-sekali kering. Sebagai akibatnya, tanpa air, binatang-binatang air, dengannya saya menjadi besar dan bermain-main dengan, akan mati. Saya tidak bisa tahan terpisah dari mereka. Karena itu saya mengambil puasa ini sampai mati. Binatang air danau-danau kecil sedang diungsai ke danau yang besar oleh keluarga-keluarga mereka, sementara kura-kura, buaya-buaya, dan binatang-binatang yang lebih besar sedang pergi ke tempat lain sendirian. Tetapi binatang-binatang di sini akan dengan sepenuhnya terhapus.”

“Kapiting mengatakan ini kepada binatang-binatang air yang lain.

Semua kepiting kepiting, ikan-ikan, kura-kura dan semua dalam keadaan panik.

Mereka pergi ke burung bangau dan kata,“Adakah cara untuk keluar? Bisakah kita melindungi kita diri dari bencana ini?”

“Wah, “kata burung bangau, “tidak jauh dari sini ada sebuah danau, penuh air. Biarpun, kalau tidak ada hujan buat dua puluh empat tahun, danau ini, yang ditutupi dengan bunga-bunga teratai, tidak pernah akan menjadi kering. Kalau seorang menaiki di punggung ku saya bisa membawa dia kesana.”

“Dan, dalam cara ini, dia menang kepercayaan mereka.

Mereka mengumpul kelilingnya, menjerit, “Paman! Bapak!Kakak! Saya duluan! Tolong!.”

“Burung bangau yang jahat mengambil mereka satu per satu, di atas punggungnya.

Waktu dia sudah terbang beberapa jarak, dia suka membantingnya mereka, atas sebuah batu dan memakan sampai hatinya puas.

Waktu dia kembali, dia suka menyampaikan pesan-pesan yang palsu kepada keluarga-keluarga mereka.

“’Pada satu hari, kepiting kata kepada burung bangau, “Paman, saya berteman kamu pertama dan masihpun kamu membawa yang lain sebelum saya. Sekarang menyelamatkan hidupku juga.”

Waktu dia mendengar ini, burung bangau berpikir, “Saya capai makan ikan setiap hari.Untuk mengganti kesamaan, saya akan makan kepiting ini hari ini”.

Dan jadi dia membawa kepiting di punggungnya dan mengangatnya ke batu dimana dia membunuh ikan-ikan. Kepiting mengenal tumukan tulang-tulang dan kerangka ikan-ikan dan mengerti semuanya.

Tetapi dengan tenang dia kata kepada burung bangau, “Paman! Katakan, berapa jauh danau ini?Kamu pasti capai mengangkatku. Saya sangat berat.’

Burung bangau berikir, “Sekarang binatang air ini yang bodoh dalam kekuasanku, dia tidak bisa lolos cengkeramanku.“

Jadi, dengan seringai, dia kata kepada kepiting, “Kepiting, dimana bisa ada danau yang lain? Perjalanan ini buat makananku. Saya akan mendobrakmu atas batu ini dan memakanmu.”

“Pada burung bangau kata ini, kepiting menaruh cakarnya keliling leher burung bangau yang seperti teratai, menceciknya sampai mati.

“Kepiting pelan-pelan menyeret leher burung bangau ini ke danau.

Semua binatang-binatang air mengumpul kelilingnya dan mulai tanya, “Kepiting!, Kenapa kamu kembali? Dan kenapa paman belum kembali denganmu? Kenapa dia lagi buang waktu? Kita tidak bisa sabar lagi buat kesempatan untuk dibawa.”

“Kemudian kepiting ketawa dan kata, “Bodoh! Penipu tidak membawa binatang binatang air ke danau apapun Dia membantingnya mereka atas sebuah batu tidak jauh dari sini dan memakannya. Saya ditakdirkan tetap hidup dan mengerti apa yang dia lakukan. Saya membunuh si penipu dan membawa kembali lehernya. Sekarang tidak perlu khawatir. Kita aman.”

Pesan moral: ketika segalanya tidak ada yang benar, pergunakan kecerdasanmu untuk melewatinya


8 - CERITA TENTANG SEEKOR SINGA DAN SEEKOR TERWELU.

“Di sebuah hutan, hidup seekor singa bernama Bhasuraka*. Dia sangat berkuasa dan suka membunuh binatang-binatang lain tanpa pilih-pilih.

“Pada satu hari, semua kijang, celeng-celeng, kerbau-kerbau, terwelu-terwelu dan yang lain bersama-sama pergi ke singa dan kata. ‘Tuan, kenapa anda tetap berusaha untuk membunuh begitu banyak dari kita setiap hari tanpa diperlukan, waktu sekor binatang bisa memuaskan keleparan anda? Tolong marilah kita saling mencapai persepakatan. Dari hari ini, kita berjanji untuk mengirim ke tempat persembunyian anda, seekor binatang setiap hari buat makanan anda, sebagai ganti kalau anda memberi jaminan bahwa kita bisa mengembara tanpa diganggu di hutan ini. Dengan cara ini, anda tidak akan mempunyai kesusahan apapun dalam menjaga diri dan kita tidak akan dibunuh tanpa pilih-pilih.’

Waktu dia sudah habis mendengar ini, Bhasuraka kata, “Itu benar apa yang kamu kata, tetapi kalau saya tidak menerima seekor binatang setiap hari, saya akan makan kamu semua.”

“Binatang-binatang berjanji bahwa mereka akan menepati janji mereka.

Oleh sebab itu, setiap hari mereka menarik undian, mengirim seekor binatang kepada singa dan mengembara di hutan tanpa merasa takut.

“Pada satu hari, geliran terwelu datang."

Karena dipaksa oleh binatang-binatang lain, dia mulai perjalanannya ke singa, pelan-pelan dan tanpa dihendaki.

“Di tengah perjalannya, terwelu lagi berpikir bagaimana dia bisa membunuh si singa, waktu dia sampai di sebuah sumar.

Dia melompat ke tepi sumar dan melihat bayangannya di air.

Melihat ini, dia berpikir,“ Sekarang saya mengetahui sebuah cara yang tidak akan gagal. Saya akan menipu singa dan membuat dia jatuh kedalam sumur.”

Waktu si terwelu sampai di tempat singa, matahari lagi terbenam.

Bhasuraka sangat marah karena dia harus tunggu begitu lama.

Dia menjilat bibirnya dengan lapar dan berpikir, “Besok pertama –pertama saya akan membunuh semua binatang-binatang.”

Waktu dia lagi pikir ini, terwelu datang pelan-pelan dan berdiri didepannya.

Singa merasa sangat marah dan mulai menjerit, “Kamu binatang yang menyedihkan! Pertama-pertama kamu sangat kecil dan kedua kamu sangat telat. Wah, untuk ini, saya akan membunuh kamu langsung dan yang lainnya di hutan besok pagi.”

‘Tuan’ jawab terwelu dengan rendah hati, ‘ini bukan salah ku dan juga bukan salah binatang – bintang lain. Tolong dengarlah dan saya akan menjelaskan.‘

‘Cepat katakanlah sebelum saya meremukkan kamu!’ kata Singa.

‘Baik’ kata terwelu, ‘hari ini, saya mendapatkan undan untuk menjadi mangsamu... Karena saya kecil, mereka mengirim empat terwelu dengan saya. Di tengah perjalanan, seekor singa yang besar keluar dari tempat persembunyiannya dan menjerit, ‘Ho! Kamu! Kamu lagi pergi kemana? Berdoa kepada Dewa yang kamu pilih!’

Dan saya kata, “Tuan, kita semua lagi pergi ke tuan kita, Bhasuraka pada waktu yang ditentukan untuk menepati janji kita.”

‘Dan dia kata, “Siapa Bhasuraka? Saya adalah majikan hutan ini. Kamu harus menepati janji kamu hanya kepada saya. Bhasuraka adalah seorang pembohong. Saya akan menaruh kamu empat terwelu sebagai sandera sementara kamu (Artinya saya) pergi dan memberi tantangan kepada Bhasuraka untuk bertanding dengan saya. Siapa yang membuktikan lebih kuat, patut menjadi raja hutan dan hanya dia akan makan semua terwelu!”

‘Dan jadi, ‘melanjut terwelu, ‘saya datang ke kamu seperti dia perintah. Kerena itu saya terlambat. Sekarang, lakukan seperti apa anda berpikir terbaik.’

Waktu dia mendengar ini, Bhasuraka kata, ‘Teman, kalau ini benar, bawalah saya ke Pembohong itu langsung supaya saya bisa mencurahkan kemarahan saya karena kamu dan habis itu saya akan merasa tanang.’

‘Tuan, ‘kata terwelu. ‘Itu benar, tetapi singa itu tinggal di sebuah benteng. Itu sangat sukar untuk menyerang seorang yang lagi sembunyi di sebuah benteng.’

“Waktu dia mendangar ini, Bhasuraka jawab, “Teman !Dia mungkin menyembuyikan dirinya di sebuah benteng, tetapi hanya menunjukkan saya siapa dia dan saya akan membunuh dia.’

‘Itu benar! Kata terwelu, ‘tetapi saya sudah melihat dia. Dia sangat kuat. Itu salah untuk anda untuk menghampirinya tanpa mengetahui benar-benar apa kekuatannya adalah.’

‘Itu tidak berhubungan dengan kamu! Kata Bhasuraka, ‘hanya bawa saya kepada dia!’

‘Baik, kalau begitu!’ kata terwelu, ‘ikut dengan saya.’

“Terwelu pergi depan supaya bisa membawa singa ke sumur.

“Waktu mereka sampai sumur, terwelu kata kepada singa, ‘Tuanku! Siapa yang bisa melawan kekuatan anda!Si pembohong itu sudah melihat kamu datang dan sudah sembunyi di tempat persembunyiannya!

’Dan terwelu menunjukkan sumur.

“Singa yang bodoh melihat bayangannya di air dan kira bahwa itu adalah musuhnya.

Dia meraung dengan keras dan pada yang sama raungnya terulang dua kali dari sumur. Karena sangat marah pada singa yang lain, dia melompat diatas singa yang lain dan tenggelam.

“Sangat bahagia dengan dirinya sendiri, terwelu pergi kembali ke hutan dan menceritakan kepada binatang-binatang lain apa yang terjadi.

Mereka menghujaninya dengan pujian dan mereka semua hidup dengan bahagia unutk selama selama .

Pesan moral: akali si jahat dan bunuh mereka tanpa ampun.


9 - CERITA TENTANG SEEKOR SERANGGA DAN SEEKOR PINJAL

“Di sesuatu kota, hidup satu raja yang mempunyai kamar tidur yang telah dihiasi dengan indah. Satu seprei sutera, yang putih dan istimewa menutupi tempat tidur. Dan dalam lipatan-lipatan seprei, hidup seekor pinjal putih, bernama Mandavisaripini.

Dia suka minum darah raja dan dengan cara ini, menghabiskan waktunya dengan bahagia..

Pada satu hari, seekor serangga bernama Agnimukha* merayap ke dalam kamar tidur

Saat pinjal melihat dia, dia menjerit, “Agnimukha!Apa yang lagi kamu melakukan di sini ? Keluarlah seketika itu .’

‘Nyonya,’ jawab serangga, ‘itu bukan untuk bicara, dengan satu tamu, biarpun kalau dia adalah seorang yang tidak layak buat apapun. Satu ibu rumah tangga harus menyambant dengan senang hati juga kepada orang dari yang rendah. Dia harus kata., “Selamat dantang! Tolong disinilah duduk dan bersenang senang sendiri. Kamu mengunjungi saya habis beberapa hari. Katakanlah apa berita yang baru? Kamu kelihatan agak kurus? Apakah kamu baik? Saya sangat bahagia untuk melihat kamu lagi.”

“Dan apa lagi “melanjut seranggga. “Saya sudah minum berbagai macam -macam darah, tapi saya belum pernah mendapat kesempatan untuk menikmati darah raja. Dan saya kira itu sangat manis, karena dia sudah

makan makanan yang paling istimewa .Saya datang ke rumah anda lemah sambil lapar. Mandavisarpini, itu tidak pantas untuk anda buat menikamti darah raja sendirian! Bialah saya juga mendapat begian dari ini!’

‘Tapi,Agnimukha’ kata pinjal. “Saya hanya mengisap darah raja waktu dia sudah pergi tidur tapi kamu canggung dan menggigit seperti jarum yang tajam. Masihpun, kalau kamu berjanji untuk membiarkan raja pergi tidur sebelum kamu mulai gigit dia, saya akan membiarkan kamu minum darahnya.”

“Oh, saya berjanji!” jawab serangga. Saya juga akan bersumpah untuk menunggu sampai kamu sudah mengisap darahnya sebelum saya mengisap itu sendiri!’

“Waktu mereka lagi bicara, raja datang dan berbaring di tempat tidurnya. Mulut si serangga mulai berliur dan dia menggigit raja tanpa menuggu buat dia untuk pergi tidur.

“Gigitan seranga seperti jarum yang tajam. Raja itu melompat dan menjerit ke pembantunya,‘Hey! Ada sesuatu yang gigit saya! Lihatlah kalau ada serangga atau seekor pinjal di tempat tidur saya.”

“Waktu serangga mendengar ini, dia sembunyi di satu sudut tempat tidur,.

Waktu pembantu-pembantu datang dan mencari dengan mata-mata yang tajam, mereka menemu seekor pinjal yang terletak diantara lipatan seprei dan membunuhnya.

Pesan moral: janji palsu dari seorang kawan atau dari orang asing tidak ada artinya. Anda yang akan membayar akibtanya!


1O - CERITA TENTANG SEEKOR SERIGALA YANG JATUH KEDALAM TANGKI PENUH DENGAN WARNA BIRU

“Di satu hutan, hidup seekor serigala bernama Gandharava*.

Pada satu hari, dia meresa sangat lapar, jadi dia pergi ke kota untuk mencari makan.

“Disana dia dikeliling oleh anjing-anjing yang menggonggong dengan keras. Mereka menyerang dia dan melukainya dengan gigi-gigi yang tajam.

Untuk menylamatkan diri , dia pergi ke dalam rumah pewarna

Satu tangki besar yang penuh dengan warna celupan biru tua lagi terletak disana. Dia melompat di dalam ini dan sebagai akibatnya seluruh badannya terwarna menjadi biru tua dan dia tidak lagi kelihatan seperti seekor serigala.

“Waktu dia keluar, anjing-anjing tidak bisa lagi mengenalinya dan lari ke segala arah dalam keadaan takut.

“Si serigala sendiri pergi kembali ke hutan. Warna celupan biru tua tidak keluar.

“Kembali di hutan, waktu binatang-binatang, singa-singa, harimau-harimau, gajah-gajah,anjing-anjing hutan dan lainnya, melihat serigala dengan warna biru tua, mereka lari karena takut dan saling berkata, “Marilah kita lari karena kita tidak tahu kekuatan binatang itu atau apa yang harus diharap dari dia.’

Waktu serigala melihat binatang-binatang yang takut, dia memanggil untuk

kembali, dan kata, ‘Ho! Binatang-binatang! Kenapa anda lagi lari dalam panik? Jangan takut. Dewa Brahma membuatku dengan tangan dia sendiri

dan dia kata, ‘Binatang binatang tidak mempunyai raja, jadi saya menobatkan kamu sebagai raja, dengan judul, Kukudruma. Pergilah ke bumi dan melindungi mereka dengan baik.”

‘Dan jadi, ‘melanjut serigala, ‘karena itu saya datang kesini. Tinggalkah di kerajaan saya, dibawah perlindungan saya. Saya, Kukudruma, sudah dimahakoti sebagai raja Tiga Dunia-Surga, Bumi dan Neraka.’

“Waktu semua binatang-binatang, singa-singa, harimau-harimau dan yang lain, mendengar ini, mereka mengelilinginya dan kata, ‘Tuan, kita menantikan perintah anda.’

“Kukudruma menentukan tugas-tugas khusus ke semua binatang, tapi dia tidak ingin ada hubungan apapun dengan serigala serigala dan mereka semua diusir.

“Si singa dan si harimau suka pergi untuk berburu dan membawa mangsa di depan serigala. Dia suka membagikan ini diantara binatang-binatang lain. Dengan demikian, dia melaksanakan tugas-tugas seorang raja.

Dengan cara ini, beberapa waktu berlalu .

Pada suatu hari , Kukudruma mendengar dari jauh lolong kekawanan serigela .Dia amat terpesona , matanya penuh dengan air mata karena bahagia. Kemudian dia bangun dan mulai melolong .

“Waktu singa dan binatang-bintang lain mendengar dia lolong, mereka sadar bahwa dia hanyalah seekor serigala dan menurunkan kepala mereka karena malu.

“Hanya untuk satu detik mereka tetap dalam sikap ini.

Kemudian mereka saling kata dengan marah, ‘Serigala keji itu menpermainkan kita ! Kita akan membunuhnya!”

“Waktu Kukudruma mendengar ini, dia mencoba lolos tapi tersobek jadi bagian-bagian kecil langsung dan terbunuh.

Pesan moral: orang yang memperlakukan yang lainnya dengan tidak baik, pasti dia akan menderita nantinya.


11 - CERITA TENTANG SEEKOR SINGA,SEEKOR UNTA, SEEKOR SERIGALA DAN SEEKOR BURUNG GAGAK

“Di sebuah tempat di hutan, hiduplah seekor raja singa yang bernama Madotkata* serta pengikutnya yang terdiri dari seekor serigala, seekor burung gagak, dan binatang lainnya.

Pada satu hari, ketika mereka sedang mengembara didalam hutan, mereka melihat seekor Onta yang terpisah dari kelompoknya.

‘Kelihatannya ini binatang yang hebat, Madotaka memberikan perintah kepada si burung gagak, 'Pergilah dan tanyai dia darimana dia datang.’

“Burung gagak angkat bicara, ‘Tuan, binatang ini adalah seekor onta dan hidup di sebuah desa. Daging onta enak untuk dimakan, jadi bunuhlah dia, tuan.’

‘Aku tidak akan membunuh tamu, ‘jawab Madotaka. ‘Pastikan dia tetap hidup dan bawalah dia kepada ku. Aku akan tanyai dia kenapa dia disini.’

”Dengan yakinnya mereka semua pergi mendekati si unta dan mengambil hatinya, setelah menyakinkan dia bahwa dia akan aman , mereka membawa si unta menghadap Madotkata.

“Si unta membungkuk dengan sopan didepan raja singa.

Madotkata bertanya tentang kisah si onta sampai ke hutan .

Si onta menceritakan bagaimana dia sampai terpisah dari kelompoknya.

Ketika si onta mengakhiri ceritanya, raja singa berkata, ’'Oh Onta, janganlah kembali ke desa untuk menjadi binatang pengangkat beban yang berat.

Tinggallah disini dengan ku. Kamu bisa hidup di hutan yang rumputnya berwarna emerald ini tanpa rasa cemas dan takut.'

Onta menyetujui tawaran raja singa dan memulai hidup dengan bahagia diantara hewan lainnya.

“Pada satu hari, Madotkata bertempur dengan seekor gajah yang murka, dia terlukai oleh taring sang gajah yang tajam akan tetapi walaupun si raja singa terluka parah namun dia tidak mati

Namun luka luka tersebut membuat tubuh Madotaka menjadi semakin lemah sehingga dia tidak mampu berjalan beberapa langkah saja.

Karena kejadian ini, si burung gagak bersama hewan lainnya mulai menderita kelaparan dikarenakan,mereka semua selalu ketergantungan dari raja singa untuk mendapatkan makanan dari nya.

Dalam keadaan lemah Madotaka berkata kepada hewan hewan disana, "Pergilah kalian mencari binatang yang bisa aku bunuh sehingga aku bisa menyediakan makanan untuk kalian".

“Semua hewan mengambara di tenagh hutan, namun mereka tidak menemukan satu hewanpun.

Akhirnya si burung gagak dan serigala berpikir .

‘Burung gagak!’ kata serigala. “Apa gunanya kita mengembara jika si onta bisa dibunuh dengan mudah untuk persediaan makanan kita.'

‘Kamu benar’ kata burung gagak, ‘akan tetapi tuan telah berjanji kepada si onta bahwa hidupnya akan aman disini,karena itu kemungkinan besar tuan tidak akan setuju membunuh si onta.

Si serigala berkata, ‘Saya akan mempengaruhi tuan kita sedemikian rupa sehingga dia akan setujuuntuk membunuh si onta.

Sekarang sebaiknya kalian tunggu disini hingga saya kembali.’

Pesan moral: berhati hatilah selalu bila kamu berada diantara si buruk hati. Jangan biarkan termakan mulut manisnya.


12 - CERITA TENTANG BURUNG-BURUNG TITTIBHA DAN SEBUAH LAUT.

“Di sebuah tempat di jagat raya ini, di pinggiran samudra, hiduplah sepasang suami istri burung tittibha.

Seiring dengan berjalannya waktu, burung Tittibha betina telah mengandung dan saat bertelur

telah tiba, burung Titibha betina berkata kepada suaminya, ‘`Sayangku, waktu menetaskan telur sudah dekat bagi buat saya.

Carilah sebuah tempat yang aman, dimana saya bisa menetaskan mereka.’

‘Sayangku, kata burung Tittibha jantan, ‘Pinggira samudra ini sangat bagus.

Kamu bisa menetaskan mereka disini.

‘Tetapi,’kata burung Tittibha betina, ’’Pada malam hari, waktu bulan purnama, gelombang samudra menjadi sangat tinggi,

gelombang tinggi mampu menyeret seekor gajah sekalipun.

Tidak, kata Burung Titibha betina, carilah sebuah tempat yang lebih baik, aman dan jauh dari sini.’

“Ketika burung Ttittibha jantan mendengar hal ini, dia tertawa dan berkata, ‘apa yang kamu katakan?

Samudra tidak mungkin berani mencelakai anak-anak ku! Tetaskanlah telur telur itu disini dan hentikan ke khawatiranmu.!’

Sekarang, Samudra mendengar ucapan si burung Titibha jantan dan berpikir, ‘macam apa pula ini, seekor burung ng sebesar ulat besar mulut!

Hanya untuk bersenang senang, saya akan seret telur-telur mereka dan lihat apa yang dia akan lakukan!’

“Dalam beberapa hari, Tittibha perempuan bertelur.

Pada satu hari, tidak lama kemudian, ketika mereka terbang untuk mencari makan, gelombang samudra menjadi tinggi dan menelan semua telur telur pasangan Titibha.

“Saat mereka kembali, Tittibha betina pergi ke sarangnya dan mendapatkan sarangnya sudah kosong.

Dia menangis dengan sedih dan berkata kepada suaminya, ‘kamu tolol! Gelombang samudra telah menelan telur-telur saya.

Saya minta kamu untuk mencari tempat yang lebih aman untuk bertelur, tetapi kamu bodoh tidak mendengarkan saya!’

‘Tetapi, sanyangku,’ ‘kata Tittibha jantan, ‘kamu kira saya sebodoh Yadbhavishya!

Kamu akan lihat bagaimana pintarnya saya akan

keringkan samudra ini!’

‘Bagaimana kamu bisa mengeringkan samudra ini? ‘jawab Tittibha betina dengan marah,

‘Tapi, sayangku, ‘kata Tittibha jantan, ‘janganlah berbicara seperti begitu!

Biarpun kecil, tetapi bersemangat, kamu bisa mengatasi musuh yang paling kuat.’

‘Dan jadi,‘lanjut Tittibha jantan, ‘saya akan mengeringkan samudra ini dengan paruhku,’

‘Sayangku! kata istrinya, “Manabisa kamu mengisap isi samudra jika Sungai Sindhu* dan Gangga* serta ratusan sungai-sungai lainnya mengalir ke samudra ini. Apa baiknya menbual .’

‘Sayangku, ’kata Tittibha jantan, ‘paruh saya sekuat besi.

Kenapa saya tidak bisa mengisap isi laut, kalau saya bekerja siang malam ?

Dan sebelum seseorang melakukan usaha, dia tidak akan berhasil.’

‘Sayangku, ‘kata Tittibha betina, ‘kalau kamu benar-benar ingin bertarung dengan samudra ini, kirimlah pesan kepada semua burung dan minta bantuan mereka.

“Dan jadi, Tittibha jantan memanggil burung kaswari, angsa undan, burung merak dan yang lainnya dan berkata,

“samudra ini telah menghina kita dengan mencuri telor-telor kami. Pikirkanlah cara untuk mengeringkan samudra ini sepenuhnya.’

“Pada perkataan ini, semua burung-burung datang ke satu tempat untuk membicarakan keadaan ini.

‘Kita tidak bisa menyedot isi samudra ini kedalam paruh-paruh kita, ‘mereka berkata, ‘jadi apa baiknya berdebat? ‘

‘Sebaiknya kita mendatangi burung Garuda, raja kita an minta tolong kepadanya.

Kalau dia marah karena sesamanya telah dihina, dia sendiri akan membalas dendam.

“Jadi, kita semua akan menemui Garuda, tuan kita.”

“Burung-burung mendekatinya dengan muka-muka yang muram dan air mata di mata mereka, dan mulai mengeluh dengan napas panjang yang memelas, ‘Oh tuan, bencana besar menimpa kami. Tuan adalah pelindung kami, betapa celakanya hidup kami. Samudra telah merampok telor-telor burung Titibha.

Kalau keadaan ini berlanjut, satu hari keturunan kita akan musnah.’

“ketika Garuda mendengar hal ini, dia berpikir, ‘Burung burung ini benar! Saya akan pergi untuk mengeringkan samudra ini.’

“Tetapi ketika dia sedang berpikir seperti ini, seorang utusan dari Dewa Wisnu, dan berkata, ‘Garuda yang mulia! Saya di utus oleh Dewa Wisnu. Beliau memerlukan anda untuk sebuah pekerjaan penting di Amaravati*. Anda sebaiknya ikut dengan saya segera. “Ketika Garuda mendengar ini, dia berkata dengan merajuk, ‘Utusan! Apa yang bisa Dewa Wisnu harapkan dari seorang pembantu biasa seperti saya?

Tolong sampaikan hormat saya kepada beliau dan minta untuk mencari pembantu yang lain selain saya!’

‘Garuda! ‘ kata utusan itu. ‘Kamu belum pernah bicara seperti ini.

Katakanlah, apakah Tuan kita menyinggung perasaanmu?

’‘Baik, ‘kata Garuda, ‘samudra, tempat istirahat Dewa Wisnu telah merampas telur telur pasangan burung Tittibha.

Kalau Dewa Wisnu tidak memaksa samudra untuk mengembalikannya, saya menolak untuk melayani beliau lagi. Ini keputusan saya. Pergilah dan ampaikan hal ini semua kepada Dewa Wisnu.’

“Waktu Dewa Wisnu mendengar dari utusannya bahwa Garuda sedang kesal, beliau berpikir, ‘Saya mengerti kenapa dia sedang kesal.

Saya akan pergi untuk menemunya dan menenangkannya,’

Dewa Wisnu pergi secepatnya ke Rukmapur*, dimana Garuda berada.

“Waktu Garuda melihat tuannya datang ke rumahnya, dia menunduk dengan malu dan berkata, ‘Tuan! Samudra tempat istirahat telah menghina saya dengan melahap telor-telor pembantuku. Akan tetapi saya menahan diri untuk tidak menyiksanya, karena hormat saya kepada tuan‘

“Waktu Dewa Visnu mendengar ini, beliau berkata, ‘Kamu benar, Guruda. Ikutlah dengan ku dan kita akan mengambil telor-telor dari samudra dan memberikan kepada pasangan burung Tittibha. Kemudian kita akan pergi ke Amaravati.’

“Waktu Dewa Wisnu selesai berbicara, beliau memarahai samudra dan seperti sambaran halilintar beliau berkata, ‘Samudra yang jahat! Kembalikan telor-telor burung Tittibha sekarang juga atau aku akan mengeringkanmu!’

“Pada saat itu, amudra menjadi sangat ketakutan dan segera

mengembalikan telor-telor itu kepada Tittibha jantan

yang kemudian memberikannya kepada isterinya.

Pesan moral: janganlah melecehkan kekuatan seorang pemalu.


13 - CERITA TENTANG SEEKOR KURA-KURA YANG JATUH DARI SEBUAH KAYU.

“Di seduah danau, hiduplah seekor kura-kura betina yang bernama Kambugriva*.

Dia mempunyai teman dua ekor angsa yang bernama Sankata* dan Vikata*.

Setiap hari, mereka bertiga suka pergi ke tepi danau dan saling bercerita tentang

orang-orang suci dan para pertapa, kemudian pulang ke rumah masing masing

etika matahari terbenam.

“Setelah beberapa tahun berlalu, sebagian dari negara sulit mendapatkan air karena hujan tidak turun

sedikit demi sedikit danau mulai mengering.

“kedua anagsa meresa cemas akan hal ini dan berkata kepada kura – kura,

’Danau ini akan menjadi seonggok lumpur.

amikhawatir bagaimana bisa bertahan hidup tanpa air?.

“Teman ku, jawab si kura-kura. ”memang benar bahwa mustahil unutk hidup disini.

Tetapi kita akan mencari satu cara untuk keluar.’

“Jadi, “lanjut kura-kura, “pertama kita akan mencari sebuah danau

yang penuh dengan air.

Kemudian kita cari sebuah tongkat atau sebuah tali dari suatu tempat.

Mulut saya akan memegang tongkat di tengah tengahnya,

dan kalian memegang masing masing ujung tongkat ini, dengan

demikian kalian bisa menerbangkan saya ke danau yang laina.

“teman, balas si angsa “kami akan lakukan anjuranmu, akan tetapi kamu

jangan buka mulut selama kita dalam perjalanan, atau kamu akan jatuh.

”Baiklah, kata si kura kura.

Mereka lakukan rencana tersebut.

Ketika mereka sudah terbang beberapa jauh, kura-kura melihat sebuah kota dibawah,

Orang-orang kota melihat ke atas dan melihat sesuatu terbang di langit.

Mereka berkata satu sama lain dengan penuh kekaguman,

“Lihatalah itu! Burung-burung itu lagi mennerbangkan sesuatu.

Waktu Kura-kura mendengar keributan itu, dia membuka mulutnya untuk bertanya,

“Kenapa begitu ramaiya? ‘

Tetapi tentu saja, saat dia membuka mulutnya untuk bicara,

dia jatuh ke tanah. Dan orang- orang memotong-motong kura-kura ini

menjadi bagian-bagian kecil dan memakannya‘

Pesan moral: jangan lupa nasehat baik dari teman teman mu.


14 - CERITA TENTANG TIGA IKAN.

Di sebuah telaga, hiduplah tiga ekor ikan yang bernama:

Anagataviddhata”, Pratyutpannamati*, dan Yadbhavishya.*

“Pada satu hari, beberapa nelayan melewati telaga itu.

Mereka melihat telaga itu dan salah satunya berkata,

“Kita belum pernah mengamati telaga ini.

Telaga ini penuh dengan ikan!

Tatapi hari ini kita sudah menangkap banyak ikan,

dan hari sudah mulai gelap,

marilah kita pulang dan kembali kesini besok. “Maka pulanglah para nelayan itu."

“Sekarang, mendengar akan percakapan para nelayan itu, ikan pertama (Anagataviddhata) sangat kaget seperti disambar petir

Dan dia memanggil ikan-ikan lainnya dan berkata, “Dengarkah kalian apa yang dibicarakan para nelayan barusan?Marilah kita tinggalkan tempat ini ke telaga yang lain’

“Saya yakin para nelayan itu akan kembali besok pagi, “lanjut Anagataviddhata, dan mereka akan mulai menangkap kita semua. Jadi tidak baik unutk tinggal lebih lama lagi disini.’

“Ketika ikan kedua, Pratyutpannamati mendengar hal ini,' dia berkata,

“Kamu benar! Marilah kita pergi ke tempat yang lain,.”

“Tetapi ikan ketiga, Yadbbhavishya ketawa dengan keras dan berkata,

“Oh, saya tidak setuju dengan kalian!Apakah dibenarkan untuk meninggalkan tempat ini yang telah dimiliki oleh nenek moyang kita hanya karena omongan para nelayan! ."

“Waktu Anagataviddhata mendengar keputusan itu, dia langsung meninggalkan telaga itu secepatnya dengan membawa

serta seluruh keluarganya.

“Keesokan paginya, ikan kedua, Pratyutpannamati melihat para nelayan

datang dari kejauhan dan dia juga meninggalkan tempat itu dengan membawa

serta semua keluarganya.

Para nelayan tiba di telaga tersebut, menebarkan jaringnya dan menangkap

semua ikan-ikan disana termasuk Yadbhavishya dan mereka akhirnya semua mati.‘

Pesan moral: ketika kamu lihat bahaya datang, lakukan sesuatu secepatnya.


15 - CERITA TENTANG SEEKOR GAJAH DAN SEEKOR BURUNG PIPIT.

“Di sebuah hutan belantara hiduplah sepasang burung gereja yang membuat sarangnya di sebuah pohon Tamal*.

Beberapa waktu kemudian, burung gereja betina menetaskan telur-telurnya disana.

“Pada satu hari, karena udara yang sangat panas, seekor gajah datang dan berteduh dibawah pohon.

Dengan belalainya yang panjang, dia melilit dahan pohon yang menopang sarang burung gereja dan menariknya kebawah. Sarang burung gereja jatuh di tanah dan telur-telur hancur berantakan.

Untungnya burung gereja betina berhasil melepaskan diri, namun karena dia kehilangan telur telurnya, dia merasa sangat sedih dan mulai menangis dengan keras.

“Seekor burung pelatuk sangat iba mendengar sedu-sedan burung gereja betina, kemudian dia menghampirinya dan berkata, “Sayangku, burung gereja, apa untungnya menangis?’

sesuatu yang ditakdirkan untuk terjadi, pastilah terjadi.

“Itu benar,” kata burung gereja.

“tetapi gajah ini telah membunuh anak-anak saya.

Jika kamu adalah teman saya, tolong

cari jalan untuk menghancurkannya, supaya saya bisa melupakan perasaan kehilangan telur-telur saya.”

“Baiklah,” kata burung pelatuk. “Sekarang, saya juga punya satu teman seekor lalat yang bernama Veenarava*.

Marilah kita enemuinya dan minta bantuan untuk menghancurkan gajah yang jahat itu.”

“Begitulah, burung pelatuk pergi dengan burung gereja betina menemui lalat dan berkata kepadanyaa, “Temanku, burung gereja ini adalah teman tersayangku.

Seekor gajah yang jahat sudah menghancurkan telur-telurnya. Tolong bantu kami untuk mencari jalan untuk membunuhnya.’

“Pasti saya akan membantumu temanku tersayang”, jawab lalat, “jika tidak, apa gunanya berteman?

Sekarang saya juga punya satu teman sekor kodok yang bernama Meghanad*. Marilah kita menemuinya dan minta bantuan untuk menghancurkan gajah yang jahat itu.”

“Begitulah, mereka semua pergi bersama-sama menemui si kodok dan menceritakan apa yang telah terjadi.

Kemudian kodok berkata. “Apa yang bisa dilakukan oleh seekor untuk melawan kita, jika kita berkerja bersama-sama? Dengarlah, saya mempunyai satu rencana. Lalat!

Ketika matahari berada pada titik yang paling tinggi, kamu pergi dan terbang mendesis di telinga si gajah, dalam keadaan seperti itu, dia akan menutup matanya.

Kemudian burung pelatuk, kamu serang matanya hingga menjadi buta.

Kamudian saya akan duduk di tepi lubang galian yang dberekatan dengan si gajah dan menguak.

Ketika gajah mersa haus, mendengar saya kroek kroek,

dia akan datang ke lubang galian dan berpikir

bahwa ini adalah danau yang penuh dengan air.

Dia akan jatuh kedalam galian ini dan, karena

tidak bisa keluar, dia akan mati.

Sekarang, kalau kita menjalankan rencana ini,

kita bisa membalaskan dendammu.”

“Yang lainnya setuju dan mereka menjalankan rencana itu dengan sukses: Gajah mencari-cari jalannya ke lubang galian yang penuh dengan lumpur, dia jatuh kedalamnya dan kemudian dia mati.

Pesan moral: orang dari kalangan terendah pun yang rendah hati bisa menggapai sukses jika mereka bekerja bersama.


16 - CERITA TENTANG VAJRADAUNSTRA, SINGA DAN CHATURAKA, SI SERIGALA.

“Di sebuah hutan, hidup seekor singa yang bernama Vajradaunstra*.

Seekor serigala bernama Chaturaka dan seekor anjing hutan bernama Kravyamukha* menjadi pelayannya.

“Pada satu hari, seekor onta betina yang hamil,

yang kesakitan karena akan melahirkan tertinggal dari kelompoknya.

Di tengah tengah hutan yang lebat, dia jatuh kecengkeraman singa. Si singa merobekkan kandungannya,

dari kandungannya keluar seekor bayi onta. Si singa dan binatang lain memakan daging onta betina sepuasnya.

Akan tetapi si singa menyelamatkan bayi onta dan membawanya ke rumahnya dalam keadaan hidup.

Si singa berkata kepada bayi onta, ‘Onta kecill, kamu tidak perlu takut, baik terhadap saya maupun yang lainya, jadi bermainlah dengan bebas di hutan ini, sepuasmu.

Kita akan memanggilmu Shankukarana, karena telingamu nampak seperti tiyang.’

"Begitulah ke empat-empatnya hidup berdampingan dengan bahagia.

Mereka saling menghiburkan diri dengan mendongeng satu dengan yang lainnya.

“Shankukarana tumbuh menjadi besar tetapi dia tidak pernah meninggalkan si singa barang sejenakpun.

“Pada satu hari, si singa bertengkar dengan gajah yang liar

Gajah melukai singa dengan taringnya hingga Vajradaunstra tidak mampu lagi berjalan.

Terlalu capai, karena menahan lapar, singa berkata kepada binatang yang lainnya, ‘pergilamencari seekor binatang yang bisa aku bunuh, supaya kita bisa memuaskan rasa lapar kita.’

“Kemudian, si serigala, si anjing hutan, dan si onta, mengembara di hutan hingga malam, tetapi tidak bisa menemukan satu binatangun.

Akhirnya mereka kembali dengan tangan kosong.

“Chaturaka, si serigala mulai berpikir, ‘Kalau singa mau membunnuh Shanukarana, kita bisa semua mendapat makanan buat beberapa hari mendatang.

Tetapi tuan kita pasti tidak mau membunuhnya, karena dia sudah berjanji pada onta bahwa hidupnya akan aman disini. Bagaimanapun juga, dengan bantuan kecerdasaan saya, saya akan pengaruhi si onta dengan cara apapun agar dia menawarkan dirinya kepada tuan kita.’

“Dengan pikiran seperti itu, Chaturaka menghampiri si onta dan berkata kepadanya, ‘Tuan kita sedang sekarat karena kelaparan. Kalau dia mati, kita juga akan musnah.

Jadi saya ingin mengatakan kepadamu bagaimana kamu bisa menjadi berguna buat dia. Tolong dengar baik-baik.’

‘Tolong katakan’, kata Shankukarana, ‘dan saya akan melakukannya dengan segera.

Dan kalau saya melakukan sesuatu yang baik buat tuan kita, menurut agama kita, saya akan dihadiahkan seratus kali lipat dari apa yang saya lakukan.’

‘Kalau begitu teman, ’kata serigala,

‘kamu harus menawarkan diri kamu kepada tuan untuk menyelamatkan hidupnya. dan untuk pengorbanan ini, tuan akan memberi jaminam bahwa kamu akan diberikan badan, dua kali ukuran badanmu sekarang, pada kehidupanmu yang akan datang.’

‘Baik, kalu begitu’, jawab Shankukarana, ‘saya setuju.’

Kemudian semua binatang pergi menghadap si raja singa dan berkata, ‘Tuan! Matahari sudah terbenam dan kita masih belum menemukan seekor binatangpun.

Tetapi kalau anda memberi jaminan kepada Shnkukarana bahwa dia akan mempunyai badan dua kali lebih besar dari ukuran badan dia sekarang, pada kehidupnya yang akan datang, dia bersedia untuk menawarkan dirinya kepada tuan sebagai pengorbanan yang suci’

‘Pasti, saya janji bahwa ini akan terjadi, ‘ jawab singa.

Begitu selesai dia mengucapkan hal ini, anjing hutan dan serigala langsung menerkam si onta dan merobek-robek badannya. Dan inilah akhir hidup si onta.

“Setelah itu, si raja singa berkata kepada serigala, ‘ Chaturaka! Jagalah keragnka ini dengan baik, sementara saya pergi ke sungai untuk mandi dan sembahyang kepada para Dewa.’ Dan kemudian, si raja singa pergi.

“Ketika dia sudah pergi, serigala berpikir, ‘ Bagaimana saya bisa menikmati kerangka ini sendirian?.’

“Dia berpikir tentang hal ini untuk beberapa saat, kemudian dia mendapat satu rencana..

“Dia berkata kepada anjing hutan, ‘ Ho! Anjing hutan! Kamu sangat lapar, benar kan? Sampai tuan kembali, makanlah daging onta ini sepuasmu.

Saya akan karang satu cerita sebagai alasan, jika raja singa kembali.”

“Begitu si anjing hutan baru mulai makan, serigala menjerit, ‘ Awas ! Kravyamukha!, Tuan kita kembali. Tinggalkan daging onta ini dan pergilah dari sini!’

Anjing hutan langsung berhenti makan.

“Ketika si raja singa kembali, dia melihat kalau hati onta sudah dikeluarkan.

Dia bersungut dan berkata dengan marah, ‘ Siapa yang mengotori makananku?

Katakanlah namanya dan aku akan membunuhnya segera!’

“Anjing hutan mulai melihat serigala, seperti ingin mengatakan sesuatu, ‘Ayo, cepat, bicaralah untuk menenangkannya.’

“Tetapi serigala hanya tersenyum dan berkata kepada anjing hutan, ‘Kamu makan hati si onta bahkan saya sudah melarangmu.

Sekarang nikmati apa yang telah kamu perbuat.’

“Ketika anjing hutan mendengar hal ini, dia ketakutan akan kehilangan hidupnya dan dia langsung lari.’

“Pada saat itu, sebuah kafillah, yang penuh dengan beban- berat sedang menuju mereka berjalan dari arah yang berlawanan.

Onta yang memempin rombongan tersebut mengenakan satu lonceng yang besar di lehernya. Ketika si raja singa mendengar suara lonceng yang gemerincing dari kejuahan, dia berkata kepada serigala, ‘Pergi dan lihatlah darimana suara yang menakutkan itu datang.

Aku belum pernah mendengar suara ini sebelumnya.’

“Serigala pergi beberapa juah, setelah itu dia kembali dan berkata, ‘ Tuan! Tinggalkan tempat ini secepatnya, kalau anda ingin tetap hidup!’

‘Teman’ kata si raja singa, ‘kenapa kamu menakut-nakuti aku? Katakanlah, ada apa?

‘Tuan’ kata serigala, ‘ Yama* sangat marah kepada tuan, karena tuan telah membunuh seekor onta sebelum waktunya dia mati.

Dia datang sendiri dan membawa serta bapak dan kakek si onta yang sudah mati, untuk membalas dendam kepada tuan, dan suara yang tuan dengar, adalah suara lonceng yang dia ikat di leher pemimpin rombongan itu.’

“Ketika si raja singa melihat rombongan sedang menghampirinya, dia berhenti memakan bangkai onta dan lari untuk menyelamatkan dirinya.

”setelah itu, serigla memakan daging onta sendirian dan ini blangsung buat beberapa hari."

Pesan moral: tolaklah ajakan orang jahat jika tidak kamu akan menyesal.


17 - CERITA TENTANG SEEKOR MONYET DAN SEEKOR BURUNG BERNAMA SUCHIMUKHA.

“Di sebutlah ada sekelompok kera yang hidup di sebuah pegunungan.

Pada musim dingin, hujan yang ditemani oleh angin kencang, menyebabkan badan mereka menjadi basah kuyup, dan mereka mulai gemetar karena kedinginan.

“Beberapa kera menemukan sedikit buah Gunja* yang merah dan mulai meniupnya, berharap untuk bisa membuat api unggun dari buah-buah ini.

“Kegiatan mereka ini dilihat oleh seekor burung yang bernama Suchimukha*,

melihat usaha mereka yang sia-sia, Suchimuka berkata, ‘Kamu benar-benar bodoh! Buah-buah ini tidak akan bisa melindungi kamu dari kedinginan.

Carilah sebuah tempat untuk berlindung, di sebuah hutan atau sebuah gua atau sebuah lubang dimana hujan dan angin tidak bisa menerpamu.'

‘Kamu yang tolol’! kata seekor kera tua. ‘Apa urusanmu?,

“Dengan mengabaikan kata si kera tua itu, Suchimuka tetap bersikeras tuk bertanya kepada kera kera itu melakukan hal yang tak berguna mereka menolak untuk menghentikan usahanya.

Seekor kera yang menjadi patah semangat atas usaha yang dilakukannya,memanjang pohonnya,menangkap sayap kemudian dia melemparnya ke sebuah batulalu membunuhnya.

Pesan moral: jangan membagi nasehat terkecuali diminta.


18 - CERITA TENTANG SEEKOR BURUNG PIPIT DAN MONYET.

“Di sebuah hutan lebat tumbuhlah sebuah pohon Sami*.

Di dahannya yang panjang, sepasang burung gereja membuat sarangnya.

Satu hari, di musim dingin, ketika sepasang burung gereja sedang duduk bersama-sama,hujan rintik rintik mulai turun.

“Beberapa saat kemudian, seekor kera tertiup angin yang kencang, datang dan berdiri dibawah pohon, giginya menggeretuk karena kedinginan.

“Ketika burung gereja betina melihatnya dalam keadaan seperti itu,

dia berkata kepada si kera, ‘dengan tangan dan kakimu, kamu kelihatan seperti manusia. kenapa kamu tidak membuat sebuah rumah buat diri kamu?’

“Mendengar hal itu, kera itu menjadi marah dan berteriak, 'Kenapa kamu tidak tutup mulutmu, perempuan kotor!’

Dan kemudian dia kata kepada dirinya sendiri, ‘Begitu sembrono burung betina ini, memberi saya nasihat! Pelacur yang kurang ajar pikir, dia adalah wanita yang terpelajar dan tidak berhenti mendengking. Dia membuatku ingin membunuhnya!’

“Kemudian kera itu berkata pada dirinya sendiri, ‘Kenapa kamu harus khawatir?’Apa yang dimiliki oleh si burung betina itu, sok menasehati saya !

Dia membuat saya ingin membunuhnya! '

Kemudian si kera berkata, apa pedulimu?

Tetapi si burung gereja betina tetap ngoceh tanpa henti.

Tanpa berpikir panjang si kera memanjat pohon tersebutdan meghancurkan sarang burung gereja hingga berkeping keping.

Ketika burung gereja betina melihatnya dalam keadaan seperti itu,

dia berkata kepada si kera, ‘dengan tangan dan kakimu, kamu kelihatan seperti manusia. kenapa kamu tidak membuat sebuah rumah buat diri kamu?’

“Mendengar hal itu, kera itu menjadi marah dan berteriak, 'Kenapa kamu tidak tutup mulutmu, perempuan kotor!’

Dan kemudian dia kata kepada dirinya sendiri, ‘Begitu sembrono burung betina ini, memberi saya nasihat! Pelacur yang kurang ajar pikir, dia adalah wanita yang terpelajar dan tidak berhenti mendengking. Dia membuatku ingin membunuhnya!’

“Kemudian kera itu berkata pada dirinya sendiri, ‘Kenapa kamu harus khawatir?’Apa yang dimiliki oleh si burung betina itu, sok menasehati saya !

Dia membuat saya ingin membunuhnya! '

Kemudian si kera berkata, apa pedulimu?

Tetapi si burung gereja betina tetap ngoceh tanpa henti.

Tanpa berpikir panjang si kera memanjat pohon tersebutdan meghancurkan sarang burung gereja hingga berkeping keping.

Pesan moral: berikanlah nasehat hanyat kepada mereka yang memerlukannya jika tidak, kamu akan menyesal.


19 - CERITA TENTANG DHARMABUDDHI DAN PAPABUDDHI

“Di seduah desa hiduplah dua orang teman yang bernama Dharmabuddhi dan Padabuddhi.

Pada satu hari Papabuddhi berpikir, ‘Saya bukan hanya miskin saja tetapi juga tidak begitu pintar, jadi saya akan minta bantuan Dharmabuddhi untuk pergi dengan saya ke kota raja dan berusaha untuk mendapatkan sedikit uang.Setelah mendapatkan uang, kemudian saya akan tipu dia, dan hidup dengan bahagia untuk selama-lamanya.”

“Setelah berselang beberapa hari, Papabuddhi berkata kepada Dharmabuddhi,

‘Temanku! Bagaimana kamu mempersiapkan masa tua kamu? Mari kita pergi ke luar negeri untuk mencari uang disana! Jika kamu tidak bepergian keluar negeri, apa yang akan kamu ceritakan ke pada cucu cucumu nanti?’

“Dharmabuddhi dengan mudah setuju untuk menenami Papabuddhi yang sudah siap melaksanakan rencananya.

Dia pamitan sama orang tuanya, dan pada hari baik, berangkat bersama Papabuddhi.

“Dengan kepintaran Dharmabuddhi, mereka berdua bisa mendapatkan banyak uang dan setelah beberapa saat, dengan puasnya mereka kembali pulang.

“Begitu mereka mendekati desanya, Papabuddhi berkata kepada Dharmabuddhi, 'Teman! Ini bukan cara yang baik membawa semua uang ini pulang karena semua relasi dan keluarga kita pasti minta bagian.

Jadi kita akan membawa pulang uang cukupnya dan sisanya kita kubur di hutan.Kapan kita perlu uang lagi, kita bisa pergi ke hutan dan menggalinya.

‘Baik, kalau begitu’, jawab Dharmabuddhi, ‘Kita akan kubur uang ini di hutan.’

“Setelah mereka mengubur sebagian besar uang mereka, mereka pulang ke rumah masing masing dan hidup dengan bahagia.

“Suatu hari, pada bulan mati, Papabuddhi pergi ke hutan menggali semua uang tersebut dan menutup bekas galiannya. Kemudian dia pulang dengan uang tersebut.

“Beberapa hari kemudian, Papabuddhi pergi menemui Dharmabuddhi dan berkata

‘Teman! Saya mempunyai keluarga besar karena itu semua uang saya sudah habis. Marilah kita gali uang kita yang dulu kita kubur di hutan.'

‘Baik, kalau begitu, ‘jawab Dharmabuddhi.’

Lalu mereka berdua berangkat bersama.

“Setibanya di hutan yang dituju, mereka mulai menggali lubang dimana uang itu di kubur, namun yang mereka temukan hanyalah tong kosong tanpa uang.

Papabuddhi mulai membenturkan kepalnya sambil berteriak, 'Oh Dharmabuddhi! Hanya kamu dan tidak orang lain yang bisa mencuri uang

didalam lubang ini! Kembalikan bagian saya atau saya akan mengadukan hal ini ke pengadilan!’

‘Kurang ajar! ‘kata Dharambuddhi. ‘Jangan lagi kamu bicara seperti itu!

Saya memang Dharambuddhi* ( Budi yand adil)! Tidak mungkin saya berbuat seperti pencuri.'

“Mereka bertengkar dan menghadap ke hakim dan saling menuduh.

Untuk mengetahui kebenaran perkara itu, Hakim menyuruh mereka bersumpah dengan menggunakan api sebagai saksi.

“Tetapi Papabuddhi berkata,“Keputusan ini tidak baik. Maka, dewa-dewa di pohon di dekat hutan akan menjadi saksi saya. Mereka akan memberitahukan kepada kita, siapa yang pencuri dan siapa yang jujur.’

‘Kamu benar’, kata Hakim. ‘Kita sangat berkeinginan untuk mengetahui kebenaran tentang perkara ini. Jadi, besok pagi kalian temani kami ke hutan.’

“Setelah itu, Papabuddhi pergi ke rumah dan berkata kepada bapaknya,

“Saya mencuri sejumlah besar uang yang dimiliki oleh Dharmabuddhi dan kami membawa masalah ini ke pengadilah. Sekarang hanya kerjasama ayah yang akan menyelamakan saya. Kalau tidak, bukan hanya saya akan kehilangan uang tetapi juga nyawa saya.’

‘Anakku! ‘kata ayah Papabuddhi. “Katakan kepada saya dengan cepat apa yang bisa saya lakukan untuk menyelamatkan kamu dan membuat uang itu aman.’

‘Wah’, kata Papabuddhi, ‘di hutan itu, ada sebuah pohon Shami yang berlubang di dalamnya. Ayah masuk kedalam lubang pohon itu supaya besok pagi, waktu kita datang dengan para Hakim, untuk mencari kebenaran, ayah bisa berteriak dari dalam pohon, “Dharmabuddhi adalah pencuri.”

“Ayahnya setuju dengan rencana ini dan langsung berangkat.

“Pagi berikutnya, Papabuddhi mandi pagi-pagi dan ditemani oleh Dharmabuddhi dan para Hakim, pergi ke pohon Shami dan bertanya dengan suara keras, ‘Oh Dewa-Dewa di pohon, katakanalah yang mana pencuri!’

“Langsung, ayah Papabuddhi, yang sembunyi di dalam lubang pohon menjawab ‘Dengar! Itu Dharmabuddhi, yang mencuri uang tersebut.’

“Ketika para Hakim mendengar ini, mereka sangat kaget. Mereka membuka mata mereka lebar dan langsung membicarakan cara untuk menghukum Dharambuddi secara hukum.

Tetapi sementara itu, Dharmabuddi menaruh satu tumpukan daun-daun kering dan rumput didepan lubang pohon dan menyala api pada daun2 kering tersebut. Ketika api menyala, keluarlah ayah Papabuddhi, menangis dengan sedih, dengan sebagian badannya terbakar dan matanya melotot.

‘Teman! Mereka semua bertanya kepadanya. ’Apa yang terjadi kepadamu?’

‘Itu semua salah Papabuddhi!’ Dia menjawab dan menceritakan semua yang Papabuddhi lakukan.

“Kemudian mereka mengantung Papabuddhi pada pohon Shami yang sama.

“Para Hakim memuji kecerdasan Dharmabuddhi.

Pesan moral: hindarilah berteman dengan penjahat atau kamu akan menerima getahnya.


2O - CERITA TENTANG BURUNG BANGAU YANG BODOH, ULAR HITAM DAN CERPELAI.

“Di sebuah hutan terdapat sebuah pohon beringin yang sangat besar.

Beberapa burung bangau sudah membuat sarangnya disana.

“’Pada pohon beringin itu terdapat sebuah lubang dimana hidup seekor ular berwarna hitam.

Dia suka memangsa anak-anak burung yang masih muda, sebelum sayap mereka tumbuh.

“Si bangau jantan, yang anak-anaknya sudah dimangsa oleh ular hitam,

datang ke tepi sungai Saraswati* sambil menangis.

“’Seekor kepiting melihatnya dan dia bertanya, “Paman, kenapa paman menangis?”

“Apa yang bisa saya lakukan?” kata bangau jantan itu. Saya sungguh tidak beruntung, semua anak-anak saya dimangsa oleh ular hitam yang hidup di lubang pohon beringin. Saya menangis karena saya patah hati. Katakan, bagaimana saya bisa membunuh ular hitam itu?’

Sekarang, ketika si kepiting mendengar hal ini, dia berpikir,

“Burung bangau ini adalah musuh alami warga kami. Apa yang akan saya lakukan adalah mengatakan kepadanya kebenaran dan berdusta sedemikian rupa hingga semua burung bangau yang lainnya binasa.’

“Akhirnya si kepiting berkata kepada burung bangau, "Paman, kalau ini masalahnya, siapkan ikan ikan dan daging sebagai umpan dari lubang musang ke lubang ular, sehingga si musang akan mengikuti umpan tersebut mendekati lubang tempat si ular hitam berada dan kemudian membunuhnya."

“Burung bangau mendengar nasihat kepiting dan melakukan seperti yang dikatakan oleh si kepiting.

Sebagaimana telah di antisipasi oleh si kepiting, si musang mengikuti umpan ikan dan daging, mencapai lubang pohon rumah ular hitam itu kemudian dia membunuhnya.

Namun sayang sekali, musang juga membunuh seluruh burung bangau yang yang hidup di atas pohon beringin itu.

Pesan moral: solusi dari satu masalah seharusnya tidaklah lebih buruk dari masalah itu sendiri. Maka itu, sementara mencoba memecahkan satu masalah, seharusnya jangan membuatnya lebih buruk lagi.


21 - CERITA TENTANG TIMBANGAN DAN ANAK LAKI PEDAGANG.

“Di sebuah kota, tinggallah seorang anak laki laki seorang saudagar yang bernama Jveernadhana*.

Karena dia telah kehilangan semua uangya, dia memgambil keputusan untuk meninggalkan daerah tempat tinggalnya dan pergi ke tempat lain.

“Kini di rumahnya, Jveernadhana mempunyai sebuah timbangan besi yang berat, yang dia warisi dari nenek moyangnya.

Dia menitipkan timbangan itu dengan saudagar lainnya kemudian dia berangkat ke negara lain.

“Ketika dia telah selesai mengadakan penjalanan ke seluruh negara itu hingga puas, Jveernadhana kembali ke kotanya asalnya,

kemudia dia pergi ke rumah saudagar dimana dia titipkan timbangannya dan berkata, ‘Ho! Saudagar, tolong kembalikan timbangan besi yang dulu saya titip dengan mu.’

‘Tetapi kakak,' kata saudagar itu, ‘Saya tidak lagi mempunyainya!

Tikus-tikus telah memakannya!’

‘Saudagar, kata Jveernadhana, ‘kalau begitu permasalahannya,

ini bukan salahmu. Hidup kadang seperti itu, tidak ada yang bertahan selamanya. Baiklah, saya ingin pergi ke sungai untuk mandi. Tolong ijinkan anak lakimu Dhanadewa* pergi bersama saya untuk mengangkat barang-barang ini untuk mandinya dan menjaganya.”

“Saudagar itu takut kalau peralatan mandinya* akan dicuri, lalu dia berpesan kepada anak lelakinya, ‘Anakku, ini adalah pamanmu. Dia ingin pergi ke sungai untuk mandi. Pergilah dengannya dan bawa barang-barang yang dia perlukan.'

'Anak laki saudagar itu dengan senang hati menemaninya .

Ketika Jveernadhana selesai mandi, dia menangkap anak lelaki saudagara itu

dan melemparnya kedalam sebuah gua didekat pinggiran sungai.

Dia kemudian menutup jalan masuk gua itu dengan sebuah batu dan kembali cepat-cepat ke rumah saudagar itu.

“Waktu saudagar melihatnya kembali sendirian tanpa anak lelakinya , dia berteriak, 'Dimana anak lelakiku yang pergi dengaanmu ke sungai?’

‘Maafkan saya, 'kata Jveernadhana, “ketika dia berdiri di tepi sungai, seekor burung bangau dengan sayap merah terbang merendah kemudian dia menghampirinya kemudian menerbangkannya.’

‘Pandusta, teriak saudagar itu. ‘Bagaimana bisa seekor burung bangaau dengan sayap merah bisa menerbangkan seorang anak?Kembalikan anak lelakikku atau aku akan membuat pengaduan terhadup kamu di pengadilan.’

‘Berbicaralah jujur kepadamu!’ jawab Jveernadiana, ‘persis seperti burung bangau dengan sayap merah tidak bisa menerbangkan seorang anak, begitu juga tikus-tikus tidak bisa makan sebuah timbangan besi yang berat. Kembalikan timbanganku dan aku akan kembalikan anakmu.’

“Pertengkaran seperti ini berlanjut sampai ke Pengadilan.

Disana si saudagar berteriak, memalukan. 'Pencuri ini telah menculik anakku.’

‘Kembalikan anak pedagang itu kepadanya’, kata hakim kepada Jveernaahana.

‘Apa yang bisa saya lakukan?’ jawabnya. ‘Ketika anak itu sedang berdiri di tepi sungai, seekor binatang semacam burung bangau dengan sayap merah terbang merendah kemudian menerbangkannya.’

‘Kamu tidak tidak berkata jujur,' jawab hakim. 'Maanabisa seekor burung bangau dengan sayap merah menerbangkan seorang anak?’

‘Tolong dengarlah! ‘kata Jveernadhana, ‘mana ada tikus yang telah memakan sebuah timbangan besi yang berat, tidak diragukan lagi seekor binatang menyerupai burung bangau dengan sayap merah juga bisa menerbangkan seorang anak!’

‘Apa maksud mu?’ tanya hakim.

Dan kemudian Jveernadhana menceritakan kepada mereka seluruh cerita dari awal sampai akhir.

Dan para hakim tertawa keras.

“Dalam hal ini mereka berimbang.

Jveernadhana mendapat kembali timbangannya dan saudagar itu mendapat anaknya.

Para hakim merasa bahagia.

Pesan moral: gayung bersambut kadang merupakan aturan terbaik dalam hidup ini.


22 - CERITA TENTANG RAJA DAN MONYET YANG BODOH.

Dikisahkan seorang raja mempunyai binatang piaraan seekor kera.

Si kera di perbolehkan memasuki istana dimana pembantu yang lain tidak diperkenankan membawa binatang piaraan masuk istana.

Suatu hari, sang raja tertidur dengan cepat sementara si kera mengipasinya.

Tiba tiba, seekor lalat masuk dan hinggap diatas dada sang raja yang sedang tidur.

Si kera mengusirnya dengan kipasnya, akan tetapi si lalat datang lagi dan lagi dan hinggap di tempat yang sama.

Si kera yang bodoh menjadi sangat kesal, dia ambil pedang dan menyerang si lalat yang hinggap di dada sang raja.

Si lalat terbang akan tetapi sang raja terluka parah di dada dan akhirnya meninggal.

Pesan moral: waspadalah terhadap teman yang bodoh. Dia bisa membuatmu lebih sengsara dari pada musuhmu.


23 - CERITA TENTANG PENCURI DAN BRAHMIN-BRAHMIN

“Di sebuah kota, hiduplah seorang Brahmana yang sangat terpelajar. Namun karena perbuatan dia pada kehidupan terdahulu, dia kini menjadi seorang pencuri.

“Pada satu hari, empat orang Brahmana lain dari negara tetangga datang ke kota dimana Brahama pencuri itu tinggal.

Ke empat Brahmana itu mulai menjual pakaian yang mereka kenakan.

“Ketika Brahmiana pencuri melihat mereka menjual pakaian yang mereka kenakan, dia berkata kepada dirinya sendiri, ‘Bagaimana saya bisa merampok orang-orang ini?’

“Ketika dia sedang memikirkan hal itu, dia mendatangi ke empat Brahmana itu dan mulai mengutip kata-kata dari kitab suci dengan lancarnya .

“Dengan cara ini, Brahmana pencuri mendapat kepercayaan menjadi pembantu ke empat Brahmana itu “

Sementara Brahmana pencuri melayani mereka, ke empat Brahmana itu menjual semua milik mereka dan membeli perhiasan-perhiasan yang mahal.

Di depan Brahmana pencuri keempat Brahmana itu memotong paha mereka, menyimpan perhiasan-perhiasan itu di paha mereka masing masing dan kemudian mengoleskan salep untuk menyembuhkan luka-lukanya.

Setelah itu, mereka mulai melakukan persiapan untuk kembali ke tempat asal mereka.

“Ketika Brahmana pencuri melihat hal ini, dia menjadi sangat cemas dan berpikir, ‘Aduh, aduh, saya belum sempat merampok mereka sampai sekarang, jadi apa yang akan saya lakukan adalah menyertai mereka kemudian saya racuni mereka di perjalanan dan ambil semua perhiasan mereka.’

“Dengan rencana ini di benaknya, dia menemui ke empat Brahmana tersebut dan mulai menangis dengan sedihnya.

‘Teman-teman, ‘Brahmana pencuri memohon, ‘kalian segera akan pergi dan meninggalkan saya disini sendirian. Perasaan saya menjadi begitu dekat dengan kalian bagaikan terikat tali kasih, berpikir akan berpisah dengan kalian, menghancurkan hati saya. Tolong kasihanilah saya dan ijinkan saya pergi bersama kalian.'

“Begitulah, keempat Brahmana itu merasa terharu dengan permohonan Brahmana pencuri dan membawanya ikut serta mereka.

Dalam perjalanan tibalah mereka berlima di sebuah tempat yang bernama Palipura*, yang dikuasai oleh suku bangsa kirata*.

Begitu mereka memasuki daerah tersebut, burung-burung gagak mulai berteriak ke seluruh penghuni setempat, 'Cepat, cepat, si kaya raya datang.

Bunuh mereka dan rampok kekayaannya!’

“Ketika para pemburu mendengar teriakan burung burung gagak itu, mereka bergegas menghampiri ke lima Brahmana itu, memukul mereka dengan tongkat kecil, menanggalkan pakaian mereka dan memeriksa mereka. Tetapi mereka tidak menemukan apapun.

Kemudian mereka kata, ‘Pengembara, si burung gagak tidak pernah salah. Kalian menyimpan harta di suatu tempat. Serahkan itu kepada kami atau kami akan membunuh kalian, kemudian menguliti kalian dan menggeledah disetiap bagian dari tubuh kalian sampai kami temukan harta tersebut.'

“Ketika Brahmana pencuri mendengar akan hal ini, dia berpikir, 'Jika pemburu-pemburu liar membunuh ke empat Brahmana ini, menggeledah tubuh mereka dan megambil semua perhiasan itu, mereka juga akan pasti membunuh saya. Saya akan mati juga. jadi yang akan saya lakukan adalah, menganjurkan mereka untuk membunuh saya dulu dan mereka tidak akan menemukan perhiasan tersembuni di tubuh saya. Dan melihat bahwa tidak ada perhiasan tersembunyi di badan saya dan jadi menyelamtkan hidup empat Brahmin ini, dan perhiasan mereka juga.

“Setelah mengambil keputusan ini, Brahmana pencuri berkata kepada para pemburu, ‘Baiklah kalau begitu, bunuh saya dulu kemudian geledah tubuh saya . '

’Sesuai dengan permintaan para pemburu membunuh Brahmana pencuri itu dan menggeledah tubuhnya akan tetapi tidak menemukan apapun.

Ke empat Brahmana akhirnya di biarkan melanjutkan perjalanan mereka.

Pesan moral: lebih baik musuh yang cakap daripada seorang teman yang bodoh.


24 - CERITA TENTANG SEORANG SADHU DAN SEEKOR TIKUS.

Sesuai dengan yang dipaparkan sang tikus!

“Di bagian selatan sebuah negara terdapat sebuah kota yang bernama Mahilaropyam*.

Tidak jauh dari kota ini terdapat sebuah pura yang tempat pemujaan Dewa Siwa (Dewa yang bertugas untuk melebur segala ciptaanNya, untuk kembali ke asalNya).

Seorang Pertapa Suci yang bernama Tamrachuda* tinggal di pura tersebut.

Setiap hari dia akan pergi ke kota untuk derma dan dengan cara ini dia memenuhi kebutuhan hidupnya.

Ketika sang Pertapa selesai makan malam dia akan menaruh sisa makanannya di mangkok pengemisnya dan menggantungkannya di atas satu paku.

Kemudian dia akan tidur. Pagi-pagi dia akan memberikan sisa makanan itu kepada para pekerja

disana dan sebagai imbalan, para pekerja itu akan menyapu dan membersihkan tempat tinggal sang Pertapa. “

Pada satu hari, beberapa ekor tikus teman saya, bilang pada saya ‘Hiranyaka!

Pertapa takut jika tikus tikus akan menggambil sisa makannya.

Maka dari itu, dia menaruhnya di sebuah mangkok pengemisnya dan manggantungnya pada tiang yang tinggi supaya kita tidak bisa meraihnya.

Tetapi kalian bisa loncat untuk mencapai mangkok tersebut dengan mudah.

Kenapa kita harus repot mencari mekanan di temapt lain jika dengan bantuanmu kita bisa menikmati apa yang ada disini.’

“Begitulah kami semua setuju dengan renacana itu dan kami mulai merangkak ke tempat itu bersama-sama untuk menemukan mangkok pengemis tergantung disana.

Saya meraih mangkok itu dengan mudah dan melemparkan makanan ke teman-teman saya yang sedang menunggu dibawah.

Kemudian saya juga akan mendapatkan bagian saya.

Setelah ini, kami semua merangkak kembali ke rumah kami masing masing.

Dengan cara ini, kami bisa menikmati makanan setiap malam.“

Ketika sang Pertapa mengetahui bahwa sisa makannya sudah tercuri,dia menggantungkan mangkok pengemisnya lebih tinggi lagi.

Akan tetapi, pada saat dia tertidur, dengan cara apapun, saya berhasil menggapai mangkok pengemis itu dan kita lakukan seperti biasa, memakan sisa makanan itu bersama teman teman saya.

Kejadian ini terjadi setiap malam. Akhiranya sang Pertapa memikirkan sebuah rencana untuk menghentikan perbuatan tidak baik kami.

Ketika sang Pertapa masih melek, dia akan memukuli mangkok pengemisnya untuk menakut-nakuti dan mengusir saya.

Akan tetapi begitu dia tertidur, saya akan berusaha untuk meraih makanan di mangkok itu, seperti biasa.

Jika dia terbangun, dia akan memukuli mangkok itu lagi.

Saya akan lari menjauh secepat dan kembali lagi setelah beberapa saat.

Dengan begitu, kami akan habiskan semalaman, berebut makanan.

“Pada satu hari, seorang Sanyasi, bernama. Brihatsfinga*, yang dalam perjalanan mengunjungi tempat tempat yang suci, datang ke pura itu unutk bertemu temannya Tamrachuda (sang Pertapa).

Sang Pertapa menyambutnya dengan tangan terbuka dan ramah tamah.

Sebelum mereka tertidur, mereka berbicara tentang agama.

Akan tetapi begitu sang Pertapa teringat akan kami, para tikus,

dia terus-menerus memukul mangkok pengemisnya dengan bambu.

Dia tidak memberikan perhatian penuh, maka dari itu dia memberikan jawaban yang kurang masuk akal.

Tiba-tiba Sanyasi berkata dengan marah, ‘Temrachuda, sekarang jelas bagi saya.

Kamu bukanlah taman sejati saya.

Kamu memberi jawaban yang tidak masuk akal.

Sekarang setelah kamu mempunyai sebuah pura kamu menjadi sombong.

Kamu telah melupakan persahabatan kita yang berlangsung sudah lama dan melupakan kasih yang kamu miliki untuk saya.

Untuk kelakuan semacam ini kamu patut masuk meraka.’

Saya tidak bisa menerima perlakuan seperti ini!

Saya akan meninggalkan tempat ini sekarang juga dan pergi ke temapt lain.’

“Tamrachuda sangat kaget mendenger pernyataan Sanyasi.

Dia berkata kepadanya dengan rendah hati, ‘Begawan, tolong jangan bicara seperti itu.

Kamu adalah teman terbaik saya. Tolong dengarkan dan saya akan beritahu alasan kenapa saya kurang perhatian terhadap pembicaraan kita.

Dengarlah : Setiap hari, apapun yang tersisa dari makanan saya, saya taruh dalam mangkok pengemis ini dan menggantungnya di tempat yang lebih tinggi.

Akan tetapi ada seekor tikus yang selalu berhasil menggapainya.

Dia akan makan sedikit dari mangkok itu, kemudian sisanya melempar ke bawah kepada tikus-tikus lain.

Akibat dari perbuatannya itu, keesokan paginya tidak ada makanan buat para pekerja sehingga mereka menolak untuk membersihkan tempat ini.

Itu sebabnya saya memukuli mangkok pengemis ini untuk menakut-nakuti tikus-tikus itu.

Itulah satu-satunya alasan saya kenapa saya tidak memberi perhatian penuh kepadamu.

Untuk meloncat, tikus ini juga telah membuat seekor kucing dan seekor monyet merasa malu.’

‘Tahukah kamu dimana tikus-tikus itu tinggal?’ tanya Sanyasi.

‘Tidak, saya tidak tahu’, kata Dadhu ‘Baiklah, lanjut Sanyasi, ‘dimanapun tikus itu tinggal, pasti dia telah mengumpulkan banyak makanan, dan ini memberikan dia tenaga yang kuat sehingga dia mampu loncat begitu tinggi.’

Kamu bilang bahwa kamu tidak tahu darimana dia datang?’

‘Tidak, Begawan!’

Apakah kamu punya sebuah beliung yang kedua ujungnya runcing?’ tanya Sanyasi ‘Ya’ kata Sadhu, saya puya satu dari besi ‘.

Baik kata Sanyasi, ‘besok pagi-pagi kita berdua akan mengikuti jejak kaki tikus ini, temukan lubangnya kemudian kita gali tepat dimana dia menyimpan makanannya.’

“Ketika saya mendengar hal ini, saya berpikir, saya dalam kesulitan!

Apa yang dikatakan Sanyasi masuk akal dan saya yakin mereka akan temukan tempat persembunyian saya.’

“dengan ketakutan dan ditemani oleh pengikut-pengikut saya, saya menghindari jalan yang biasanya saya tempuh waktu pulang dan memandu mereka melalui rute yang lain mencoba mengalihkan mereka ke lain tempat.

“Tiba-tiba, disana, persis didepan kami, ada seekor kucing jantan yang besar.

Dia memburu kami dan berhasil membunuh serta melukai beberapa dari kami.

Mereka yang selamat, kembali ke lubang mereka masing masing, sepanjang jalan mereka mengutuk saya yang telah membawa mereka menjadi seperti itu.

Lantai penuh darah dari yang terluka dan yang mati.

“kejadian ini sangat mengesalkan saya, kemudian saya pergi ke tempat lain seorang diri.

“Beberapa saat setelah itu, Sanyasi ditemani oleh Sadha, mengikuti jejak darah, mencari-cari lubang-lubang tikus.

Mereka tiba di jalan masuk lubang persembunyian saya dan mulai menggalinya.

Ketika mereka sedang menggali, mereka temukan simpanan makanan yang saya kumpulkan selama ini, yang telah memberikan saya tenaga untuk loncat dan mencapai tempat yang begitu sulit.

Kemudian mereka mengambil simpanan makanan itu dan mereka kembali ke pura.

“ketika saya kembali ke lubang persembunyian saya, saya tidak tahan melihat tempat yang berantakan dan porak poranda.

Saya mulai berpikir, ‘Apa yang akan saya lakukan?

Kemana saya akan pergi? Bagaimana saya bisa hidup tenang?’

Saya lewatkan malam yang menyedihkan itu dengan pikiran yang yang tenggelam dalam pertanyaan pertanyaan tersebut diatas.

“Keesokan harinya, begitu matahari terbenam, dengn ditemani oleh beberapa pengikut saya, saya berhasil sampai di pura.

Ketika Temracuda mendengar suara berisik kami, dia mulai memukul mangkok pengemisnya dengan bambu.

‘Kawan, ‘kata tamunya, ‘kenapa kamu bukannya santai saja dan tidur?’

‘Begawan,’ ‘jawab Sadhu, ‘tikus yang jahat itu dan kembali lagi bersama temannya!

Karena itu saya pukuli mengkok pengemis itu lagi.’

‘Temaku, ‘kata Sadhu dengan senyuman, ‘jangan khawatir.

Setelah kehilangan makanannya, tikus ini juga akan kehilangan tenaga untuk loncat.

Semua makluk hidup seperti itu.’

Ketika saya mendengar hal ini, saya merasa sangat jengkel dan saya loncat ke mangkok pengemis itu tetapi meleset dan jatuh di atas tanah.

“Ketika musuhku mendergar saya terjatuh, dia tertawa dengan puasnya dan berkata kepada Tamracuda, ‘lihat, lihat! Begitu lucunya!

Lihatlah bagaimana dia bergerak terhuyung-huyung!

Tanpa simpanan makanannya, tikus ini menjadi lemah seperti yang lainnya Sekarang, tidurlah dan biarkan pikiranmu istirahat.

Sumbur tenaganya untuk loncat ada di tangan kita.

“Begitu saya mendengar ini, saya berpikir, ‘Ya, musuhku benar.

Sumber tenaganya ada di tangan kita.’

“Ketika saya mendengar hal ini, saya berpikir, ‘ya, musuhku benar.

Saya tidak bisa meloncat. Tersiksalah hidup seseorang yang telah kehilangan kekayaannya. '

“Sekarang, sementara saya ada disana, saya temukan bahwa musuh saya menyimpan makanan saya di kantong yang kecil

dan memakainya sebagai bantal. Saya sangat terganggu.

Ketika saya sampai rumah, sudah pagi.

Waktu pengikut saya melihat saya, mereka mulai saling berbisik,

dia tidak berdaya untuk memimpin kita dengan baik.

Dengan menjadi pengikutnya, kita telah jadi mangsa kucing-kucing gemuk.

Apa baiknya mempunyai pemimpin seperti ini?’

“Ketika saya dengar perkataan mereka, say pergi dengan diam-diam kedalam lubang saya.

Tidak ada siapapun yang datang mendekati saya dan saya berpikir, ‘kutuklah kemiskinan .

“Saat saya lagi pikir seperti ini, pengikut saya engadakan pemilihan untuk memilih pemimpin yang lain.

Melihat saya yang benar-benar telah ditinggalkan oleh semua pengikut saya,

mereka mulai mengolok-olok saya.

“Hingga hari telah sore. Setenagah tertidur, saya mulai berpikir,

‘Saya akan mencoba masuk pura itu lagi malam ini sementara pendeta tertidur,

pelan-pelan saya akan seret yang terbuat dari sisa makanan sang Pendeta.

Dengan cara ini, saya akan bisa meraih kembali pangkat saya yang dahulu.

Walaupun saya harus kehilangan nyawa dalam hal ini, usaha itu pasti tidak akan sia-sia belaka.’

“Begitulah, saya kembali ke pura. Saya raih kantong makanan itu dan perlahan-lahan menariknya, tetapi bagaimanapun juga pendeta itu terbangun dan memukuli saya dengan tongkat bambunya. Saya ditakdirkan untuk hidup lebih lama, jadi saya terlepas dari pukulannya.’

Sekarang, saya sangat menderita tinggal di kawasan pura itu dan saya sangat sedih.

Saya rasa tidak baik untuk saya tinggal lebih lama di sana.Oleh karena itu, saya meningalkan tempat itu.’

Pesan moral: seranglah pada sumber kekuatan musuh untuk menghancurkannya.


25 - CERITA TENTANG IBU SANDILI.

“Satu hari, pada musim hujan, saya minta seorang Brahmana agar

memperbolehkan saya untuk tinggal dengannya, supaya saya bisa berpuasa

dan sembahyang tanpa diganggu.

Dia setuju, dan saya pergi ke rumahnya.

“Pada satu hari, saya dengan penuh perhatian mendengarkan percakapan yang dilakukan oleh Brahaman tersebut dengan istrinya.

“Brahmini*”, kata Brahmana itu kepada isterinya, “besok adalah hari Sankranti*, perayaan yang istimewa. Rupakan waktu yang sangat menguntungkan buat mengumpul derma. Jadi saya akan pergi ke salah satu desa untuk meminta-minta. Dan kamu juga harus mendermakan sesuatu kepada seorang Brahmana.”

Si Brahmini menjadi marah ketika dia mendengar suaminya mengatakan hal ini.

“Bagaimana kita mampu mendermakan sesuatu kepada seorang Brahmana jika kita sendiri begitu miskin?, katanya. Apa lagi setelah saya mengawinimu, saya tidak mendapatkan keberuntungan apapun. Saya tidak pernah mempunyai makanan yang bagus untuk di makan atau baju untuk di pakai dan kamu belum pernah membelikan satu perhiasan pun untuk saya.'

“Ketika Brahmana mendengarkan ini, dia merasa sangat sedih dan dia berkata, ' Oh Brahmini ! Saat kamu mempunyai semulut-penuh, kamu hendaknya memberikan setengahnya kepada seseorang yang memerlukannya.’

‘Baik, ‘kata isteri Brahmana, “Saya punya sedikit biji sesame*. Saya akan mengupas biji-bijian ini dan membuat sajian yang enak untuk seorang Brahmin.”

“Keesokan paginya, waktu Brahmana sudah berangkat ke desa yang lain, isterinya membersihkan biji-bijian itu dalam air panas, mengeluarkan kulitnya dan menaruhnya di bawah terik matahari untuk mengeringkannya.

Kemudian dia sibuk dengan pekerjaan rumah tangga lainnya.

“Sementara itu, seekor anjing datang dan kencing di atas biji-bijian yang dijemur kemudian anjing itu pergi.

Waktu Brahmini melihat apa yang terjadi, dia berkata, “Takdir berlawanan dengan kehendak saya! T ipu muslihat yang lucu akan saya mainkan saya!

Saya akan bawa biji-bijian ini ke rumah tetangga untuk menukarnya dengan biji-bijian yang sudah bersih.Siapapun akan setuju dengan penukaran begini.” ?.

“Dan jadi, melanjut Sanyasi, ‘Ibu Shandili berangkat untuk menukarkan biji-bijian nya.

Sekarang, dia secara kebetulan datang ke rumah tetangganya yang saya kunjungi pagi itu untuk mengumpulkan derma.

Ibu Shandili berkata kepada tuan rumah, “Apakah anda ingin menukar biji-bijian yang berkulit dengan yang sudah bersih?”

“Tuan rumah hampir setuju dengan sistim penukaran ini. ketika itu anak laki-lakinya memberhentikannya, menirukan kalimat kalimat dari nitisastra Kamandaki*.

‘ Ibu!” lanjutnya. “Pasti ada suatu alasan buat ibu Shandili untuk menukar biji-bijiannya yang masih berkulit ini.Jangan setuju dengannya!”

“Saat Ibu Shandili sadar bahwa dia sudah gagal, dia diam-diam meninggalkan rumah itu dan kembali ke rumahnya.

Pesan moral: ketika seseorang menawarkan sesuatu yang sulit untuk dipercaya, janganlah langsung menerimanya – pikirkan dan analisalah.


26 - CERITA TENTANG KEMUSUHAN DI ANTARA BURUNG BURUNG GAGAK DAN BURUNG BURUNG HANTU.

“Pada satu hari, semua burung: angsa, burung beo, bangau, burung tekukur,

burung-burung bulbul, burung-burung hantu, burung merak jantan, merpati,

ayam hutan dan lain lainnya, mengadakan sebuah pertemuan.

Mereka mulai pembicaraan dengan semangat yang menggelora.

“Garuda adalah raja kita”, mereka bilang dia begitu sibuk melayani Dewa Wisnu, sehingga dia tidak ada waktu untuk kita.

Apa gunanya mempunyai seorang tuan hanya nama saja?!

Dia tidak pernah membantu kita untuk keluar dari perangkap yang dipasang oleh pemburu!’

‘Jadi,’ lanjut para burung,‘marilah kita pikirkan hal ini dengan serius dan memilih raja yang baru!’

“Para burung saling memandang satu dengan yang lainnya, mereka melihat bahwa burung hantu mempunyai wajah yang sangat mengesankan dan semua berkata, “Burung hantu ini akan menjadi raja kita.

Siapkanlah barang-barang yang diperlukan untuk upacara naik tahta’!’

Begitulah, burung-burung mulai mengumpulkan air dari sungai – sungai yang suci dan juga seratus delapan macam akar-akaran.

Singgasana dihiasi dengan mewah dan selembar kulit harimau dibentangkan di atas tanah di depan singgasana tersebut.

Mereka mulukis sebuah peta tentang semua benua dan lautan.

Gendang di pukul bertalu-talu dan kerang lautpun di tiup.

Para brahmana mulai mengucapkan bait-bait dari kitab Veda,

dan gadis-gadis yang cantik mulai melantunkan kidung suci dengan gembira.

“ Akan tetapi, ketika burung hantu di antar menuju singgasana untuk di nobatkan,

seekor burung gagak tiba ditempat dan bertanya, apa maksud dari kumpulnya burung burung ini?

“Ketika para burung melihat burung gagak, mereka saling berkata,

‘marilah kita minta pendapat dia juga’,

‘Burung-burung’, kata burung gagak dan mengulangi pertanyaannya lagi, ‘untuk apa pertemuan dan perayaan ini?’

‘Teman’ jawab para burung yang ada disitu, raja kita burung Garuda tidak mempunyai waktu lagi buat kita. Jadi kita putuskan untuk menobatkan burung hantu menjadi raja kita.

Kamu datang tepat pada waktunya untuk turut memberi pendapatmu juga.”

‘Baik,’ jawab burung gagak dengan senyum, ‘nasehat saya menolak untuk menobatkan si buurng hantu sebagai raja kita.

Kenapa memilih si buruk rupa yang buta pada siang hari jika kita punya yang terbaik seperti : burung merak jantan, angsa-angsa, burung tekukur,

burung bulbul, burung dara, burung bangau dan yang lainnya.

Sudha tentu saya menolak penobatan si burung hantu.

Hidungnya yang bengkok dan matanya yang juling membuat dia kelihatan jahat walaupun dia dalam keadaan tidak marah.

Bagaimana rupan dia jika dia benar-benar dalam keadaan marah?.

Apa yang bisa kita dapatkan dari memilih pemimpin yang buruk rupa dan kelihatan jahat?

Dan ada lagi, biarpun burung hantu ini mempunyai kualitas,

kita sudah mempunyai burung Garuda, raja dari segala raja burung, sebagai raja kita,

dan hanya dengan menyebut namanya saja, kamu bisa membuat musuh musuhmu menjauh.

‘Maka, kalau kamu memilih burung hantu ini yang buta pada siang hari untuk menjadi rajamu, kamu menempuh jalan yang salah .

Ketika buurng-burung mendengarkan pendapat si burung gagak,

mereka saling berkata, ‘Dia benar.

Kita bertemu lagi pada kesempatan yang lain dan memilih raja yang lain.’

‘kemudian mereka semua terbang, kecuali burung gagak, burung hantu dan isterinya, Krikalika*.

“Burung hantu sedang menunggu untuk dinobatkan sebagai raja.

Dia menghadap isterinya dan bertanya, ‘ada apa ini? Kenapa penobatan saya belum dimulai?’

‘Burung gagak ini menghalangi jalanmu untuk dinobatkan sebagai raja,’ kata isterinya.

‘Semua burung-burung yang lain sudah terbang menjauh, hanya burung gagak yang masih menunggu di sini unutk suatu alasan tertentu.

Dan jadi sebaiknya kita juga mesti pulang.’

“Ketika burung hantu mendengar hal ini, dia merasa kecewa dan berkata kepada burung gagak, ‘burung gagak yang jahat!

Kejahatan apa yang pernah saya lakukan kepadamu, hingga kamu menghalangi jalanku unutk dinobatkan sebagai raja.

Mulai hari ini, kita akan bermusuhan.’

Dengan berkata seperti itu, burung hantu dan istrinya kembali ke tempatnya.

Ketika mereka telah berlalu, si burung gagak berpikir sendiri, ‘Kenapa saya bicara seperti itu dan memulai permusuhan dengan burung hantu?’

Dengan pikiran ini di benaknya, burung Gagak pun pulang juga.

Pesan moral: simpanlah nasehatmu sendiri, itu akan menghindarkan kamu dari masalah.


27 - CERITA TENTANG TERWELU-TERWELU DAN GAJAH-GAJAH.

“Di sesuatu tempat, hiduplah seekor raja gajah yang bernama chaturadanta*, dengan beberapa pengiringya.

“Suatu waktu, tidak ada hujan untuk beberapa tahun lamanya. karena itu semua danau dan kolam menjadi kering.

Para gajah pergi menghadap raja mereka dan berkata, “Yang Mulia,

kami disiksa kehausan, beberapa anak-anak kami yang masih kecil telah mati karena kehausanS ementara anak anak kami yang lainnya berada diambang kematian. kita harus mencari tempat diamana kita bisa minum sesuai dengan keperluan kita.”

“Setelah merenung sejenak, raja Gajah berkata,' Saya tahu sebuah tempat dimana Terdapat sebuah danau yang besar yang selalu penuh air karena dialiri oleh simpanan air dibawah tanah. Kita akan pergi ke sana.”

“Begitulah rombongan gajah-gajah berbondong bondong berjalan selama lima hari dan lima malam, dan keesokan paginya mereka sampai di danau yang dituju.

Tanah lembek di sekeliling danau itu penuh lubang lubang rumah kelinci yang tak terhitung jumlahnya.

Waktu gerombolan gajah terjun ke air danau dengan riangnya, rumah rumah kelinci hancur dan banyak kelinci yang terinjak.

Beberapa mati karenanya, sedangkan ada yang lainnya terluka parah.

“Ketika rombongan gajah meninggalkan danau tersebut, kelinci yang selamat berkumpul sambil menangis dengan sedih, “Oh, aduh, aduh, aduh!

Karena air tidak bisa di-dapat di tempat lain, gajah-gajah itu pasti akan datang ke sini setiap hari dan menginjakkan kita. Kita harus pikirkan apa yang harus kita lakukan.”

“Kemudian salah satu dari mereka berkata,” Apa lagi yang bisa kita lakukan kecuali meninggalkan tempat ini?”

“Tetapi kelinci kelinci yang lainnya menjawab, “Apa, teman? Menyerahkan rumah nenek moyang kita dengan begitu saja?Ini mustahil! Tidak, kita harus takut-takuti gajah-gajah itu sehingga mereka tidak berpikir untuk kembali lagi. Walaupun kita hanya kelinci tetapi kita mampu melakukannya.'

“Kemudian salah satu darinya berkata,’ saya tahu sebuah cara untuk menakut-nakuti mereka Tetapi kita memerlukan diplomat yang cakap dan pintar berpura-pura.Rencana saya adalah: Diplomat ini akan mendekati raja gajah dan menyampaikan bahwa dia diutus oleh Dewa Chandra )dan

mengatakan kepadnya bahwa Dewa Chandra melarang gajah-gajah itu untuk datang ke danau itu lagi karena ini adalah rumah para kelinci dan keturunannya. Mereka dilindunggi oleh Dewa Chandra .Sekarang, jika raja gajah percaya akan cerita ini, dia akan pergi.”

“Baik,” kata kelinci yang lain, “kita punya diantara kita, Lambakarana*

yang sangat pandai dan pembicara unggul. Kita bisa mengutusnya,

“Kemudian kelinci yang lain berkata,” Kamu benar! Kita akan menjalankan rencanamu.Kelihatannya tidak ada cara yang lain untuk menyelamatkan hidup kita.”

“Dan jadi, Lambakarana dikirim menemui raja gajah.

Setelah berjalan beberapa jauh dari danau, dia melewati bebukitan kecil yang terbentang di jalan yang dilalui rombongan gajah itu, tetapi terlalu tinggi buat mereka untuk sampai.

Dia duduk di atas ini.

Waktu raja gajah lewat dengan pengiringnya, kelinci berteriak kepadanya,

dengan menakutkan , “Hai, kamu! Gajah jahat! Jangan kamu berani lagi menghampiri danau ini. Ini milik Dewi Chandra. Kembalilah ke tempatmu!”

Raja gajah sangat terkejut dan bertanya kepada si kelinci, “Siapa kamu?”

“Nama saya adalah Lambakarana”, jawab si kelinci, “dan saya adalah utusan DewiaChandra. Beliau telah mengirim saya untuk menemuimu.”

“Kelinci, kata raja gajah. “sampaikan pesan ini segera, kami akan mematuhinya.'

“Pesannya adalah”, kata Lamabakarana. “kalau kamu ingin tetap hidup, jangan pernah kembali ke danau ini lagi, kemarin kalian telah datang kedanauini dan menginjak-injak banyak kelinci yang dalam perlindungan saya.”

“Saya mengerti”, kata raja gajah. “Baiklah, dimana Dewa Chandra sekarang?”

“Beliau sendiri turun ke danau untuk menghibur kelinci kelinci yang selamat”, kata Lambakarana.

“Kalau bagitu bawalah saya kepadanya”, kata raja gajah, “supaya saya bisa

memohon pengampunan dan kemudian pergi.”

“Baik, kalau begitu”, kata Lambakarana. “Ikutilah bersama saya”.

“Saat itu malam mulai turun. Si kelinci membawa raja gajah ke tepi danau

lalu menunjukkan bayangan bulan di dalam air.”

“Dewa Chandra sedang melakukan meditasi yang khusus”, kata kelinci. “

“Membungkuklah dan pergilah tanpa berisik, karena kalau kamu

menggangu meditasinya, beliau akan sangat marah kepadamu!”

“Begitulah, sesuai dengan perintah, raja gajah membungkuk dari jauh dan pergi sambil gemetar ketakutan.

Sejak hari itu seterusnya, kelinci-kelinci hidup dengan bahagia untuk selama-lamanya.

Pesan moral: kelemahan harus dimanfaatkan sebagai taktik agar bisa bertahan hidup.


28 - CERITA TENTANG TERWELU SEEKOR AYAM HUTAN.

(sesuai dengan yang diceritakan oleh ayam hutan)

“Pada satu hari, saya tinggal di sebuah pohon.

Didalam sebuah lubang, pada kaki pohon tersebut tinggallah seekor ayam hutan yang bernama Kapinjala* Dalam beberapa waktu kita menjadi teman baik.

Setiap hari, kala matahari terbenam, kita pulang dan saling bercerita tentang Orang Suci (Rishis*) dan cerita yang lainnya tentang kejadian yang terjadi seharian.

Begtulah kami melewati hari hari kami dengan senang “Pada satu hari, Kapinjala pergi dengan ayam-ayam hutan lainnya ke daerah lain yang penuh dengan padi yang sudah menguning.

Ketika dia tidak kembali pada malam hari, saya menjadi sangat cemas dan berpikir, 'Aduh, kenapa Kapinjala belum kembali juga? Apakah dia tertangkap dalam satu perangkap atau seseorang telah membunuhnya?Saya yakin dia pasti sudah kembali kalau dia selamat, karena dia tidak bisa hidup tanpa saya!”

“Begitulah, saya lewatakan beberapa hari dengan cemas. “Satu hari, ketika malam tiba, seekor kelinci bernama Sheegraha* datang dan mengambil alih atas lubang di pohon itu.

Karena saya sudah putus harapan untuk bisa melihat Kapinjala lagi, saya tidak keberatan si kelinci tersebut untuk menempati lubang itu.

“Sementara, Kapinjala, yang sudah menjadi begitu gemuk setelah memakan padi, tiba-tiba ingat akan rumah yang dulu dan dia kembali.

Waktu dia temukan si kelinci menempati rumahnya, dia menjadi geram dan berkata,'Kelinci,kamu mengambil rumah saya! Itu sangat tidak adil! Keluaralah dan pergi sekarang juga!”

“Oh, tetapi tempat ini adalah milik saya sekarang,” balas kelinci itu.

“Kelinci,' kata ayam hutan, ,marilah kita cari seseorang yang ahli dan bijaksana dalam kitab suci dan kita serahkan permasalahan ini kepadanya untuk menentukan siapa yang berhak atas tempat ini.

“Keduanya setuju dengan gagasan ini dan mereka berangkat bersama-sama untuk menemui orang suci dan menyelesaikan masalah mereka.

‘Dari keinginan tahuan saya’, lanjut ayam hutan 'Saya mengikuti mereka, sambil berpikir, “Saya telah mendengar keputusan dalam masalah ini!” “Sekarang, seekor kucing jantan liar bernama Teekshadaunstra*, mendengar perdebatan mereka. Dia pergi dan berdiri di tengah jalan, di tepi sebuah sungai.

Di satu kakinya dia memegang rumput Kusha*(rumput muda) yang suci. Dia menutup matanya, berdiri tegak lurus, menengadah ke matahari, dan mulai memberikan pidato tentang moral baik.

“Ah! Hidup di dunia ini tidak kekal dan tidak berguna. Kumpulan orang-orang yang kamu cintai hanyalah sebuah mimpi dan kehadiran keluarga seperti permainan seorang ahli sulap. Kenapa membuat cerita menjadi panjang? Saya akan beritahu kamu secara ringkas tentang agama: Berbuat baik untuk yang lainnya adalah sikap yang luhur akan tetapi mencelakai atau berbuat tidak baik untuk orang lain adalah dosa.”

“Ketika kelinci mendengar hal yang berkenaan dengan agama, dia berkata kepada ayam hutan, “Kapinjala, mahluk ini, yang lagi duduk di tepi sungai, adalah Tapasvi* ahli agama. Marilah kita dekati dia dan minta pendapat dia tentang masalah kita. “Baik”, kata Kapinjala, akan tetapi dia adalah si tom kucing jantan yang liar musuh kita, jadi kita seharusnya bicara dengan dia dari jarak jauh.”

“Dan jadi, sambil berdiri di kejauhan, mereka berdua bertanya kepada “Tepasvi! Hai orang suci, kami ada masalah. Tolong beri kami pendapat anda, sesuai dengan Kitab suci, dan anda berhak memangsa siapaun dari kami yang terbukti bersalah.' “Teman-temanku” balas si tom kucing jantan, tolong jangan bicara seperti itu! Saya sudah tidak lagi melakukan kekerasan yang hanya akan membawa saya ke neraka. Orang-orang bijaksana sudah mendeklarasikan gerakan anti kekerasan sebagai inti ajaran agama yang benar dan sepatutnya. Akan berdosalah walaupun hanya membunuh seekor nyamuk, sudah pasti saya tidak akan membunuhmu. Saya akan putuskan siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam perkara ini. Tetapi saya tua dan tidak bisa mendengar apa apa tentang perkaramu dari kejauhan.

Mendekatlah dan ceritakan perkaramu supaya saya bisa memberikan keputusan yang benar, sehingga saya tidak ti pihak yang disalahkan kelak di dunia sana.’

“Jadi percayalah pada saya dan ceritakan semua kenyataan dengan jelas di kupingku. Apa lagi yang harus saya katakan?” “Kemudian, si tom kucing jantan yang jahat berhasil membuat ayam hutan dan kelinci begitu yakin sehingga mereka berdua datang mendekat dan duduk didekatnya.

Begitu mereka tiba di dekat si tom kucing jahat itu, secepatnya dia tangkapsatu dengan cengkeraman giginya dan yang satu lagi pada kaki-kakinya.

Mereka di bunuh kemudian di santapnya.

Pesan moral: berhati hati lah kepada si jahat yang pura pura jadi orang suci.


29 - CERITA TENTANG BRAHMIN DAN TIGA PENJAHAT.

“Di sebuah kota tinggallah seorang Brahmana yang bernama Mitra Sharma*

pemuja Dewa Agni (Dewa Api).

“Pada satu hari, pada bulan hujan, angin sepoi sepoi berhembus dan mendung tebal menggantung di langit.

Sang Brahmana berkunjung ke desa lain, untuk mengunjungi beberapa pengikutnya untuk meminta seekor kambing untuk dikorbankan dalam satu upacara.

“Ketika beliau tiba disana, sang Brahmana berkata kepada salah satu pengikutnya, 'Anakku, hari baik yang akan datang untuk melakukan upacara, saya berniat untuk melakukan upacara korban, tolong berikan saya seekor kambing yang sehat untuk korban.'

Pengikutnya setuju dan memberikannya seekor kambing yang sehat.

Brahmana itu menggendong kambing itu di pundaknya supaya dia tidak lari dan Brahmana mulai perjalanannya pulang.

“Di tengah perjalanannya, dia dilihat oleh tiga orang penjahat, yang benar-benar kelaparan.

Mereka saling berkata, ‘Jika kita bisa mengambil kambingnya yang sehat itu kita tidak akan menderita kedinginan dan kelaparan. Marilah kita pergunakan tipu muslihat kita untuk membuat Brahmana itu melepaskan kambingnya.’

“Kemudian penjahat pertama menyembunyikan dirinya, melewati Brahmana lewat jalan yang memotong dan berdiri di jalan, di depan Brahmana tersebut.

Ketika Brahmana mendekat, penjahat itu menangis, ‘Ho, Pemuja Dewa Agni,

Kenapa anda berlaku begitu bodoh? Kenapa kamu menggendong anjing ini yang tidak suci di pundakmu?’

“Brahmana itu marah sekali dan berkata, ‘tolong jangan buat saya kesal, apa kamu buta menyebut kambing yang masih hidup ini sebagai seekor anjing?”

Penjahat itu menjawab, ‘tolong jangan marah, salah saya terlah berbicara dengan anda, silahkan lewat.'

“Ketika Brahmana berlalu sedikit kebih jauh, penjahat yang kedua menegurnya dan berkata,‘Ho, Brahmana, memalukan sekali, sekalipun anak lembu ini yang tersayang bagi anda, seharusnya anda tidak menggendongnya seperti itu di pundak anda.'

Sang Brahmana menjawab dengan sangat kesal, tolong jangan buat saya kesal, apakah kamu buta menyebut kambing yang masih hidup ini sebagai anak lembu yang sudah mati?'

Kemudian si penjahat menjawab, tolong jangan marah sepada saya, saya telah salah bicara dengan anda. silahkan lewat.'

Ketika sang Brahmana berlalu beberapa jauh, penjahat ketiga muncul dan berkata,' Oh brahmana, sangat tidak pantas anda menggendong seekor keledai dipunak anda, jatuhkan dia secepatnya sebelum orang lain melihat anda.'

Sang Brahmana berpikir, setelah mendengar semuanya: 'Kemungkinan benar dia telah mengendong anak setan yang telah berubah wujud. '

Dengan pikiran seperti itu, sang Brahmana membuang kambing gendongannya dan lari dengan kencangnya meninggalkan kambingnya.

“Ketiga penjahat itu menangkap kambing tersebut, membunuh dan memakannya sampai puas.

Pesan moral: ketidak benaran yang terucap berkali kali bisa menjadi kenyataan.


3O - CERITA TENTANG BRAHMIN DAN ULAR KOBRA.

“Di sebuah kota, hidup seorang Brahmana yang bernama Haridatta*. Meskipun dia telah bekerja keras di ladangnya, hasilnya tidak menguntungkan.

“Pada satu hari, udara sangat panas, dia istirahat di bawah rindangnya sebuah pohon di ladang.

Tiba tiba seekor ular kobra muncul dari sarangnya dan menyerang Haridatta dengan tudung yang terangkat tegak.

“Haridatta berpikir,’ Mungkin ular kobra ini utusan dari penghuni ladang ini. Karena saya tidak sembahyang kepadanya, hasil ladang saya menjadi tidak menguntungkan. Jadi, mulai hari ini, saya akan mulai menghaturkan sesajen untuknya.”

Dengan pikiran seperti ini, Haridatta membawa susu dan menunangkan ke dalam sebuah piring di depan sarang ular kobra dan berkata, ‘Oh, sang pelindung ladang, saya tidak mengetahui keberadaan anda disini, itu sebabnya saya tidak menghaturkan apa apa kepada mu hingga saat ini. Mohon ampuni saya.'

Begitu selesai menyuguhkan susu sesuai tradisi kepada ular kobra, lalu dia pulang.

“Besok paginya, ketika dia kembali ke ladang, dia temukan sekeping uang logam emas di piringnya.

Mulai hari itu, setiap hari, Haridatta mempersembahkan susu kepada ular kobra dan setelah itu dia akan mendapatkan sekeping uang logam emas lagi.

“Pada satu hari, Brahmin pergi untuk mengunjung desa yang lain.

Dia menyuruh anak lakinya untuk membuat persembahan susu kepada ular kobra.

Seasuai dengan perintah, anak laki lakinya melakukan tugasnya mempersembahkan susu kepada ular kobra.

Keesokan harinya ketika dia kembali ke ladang, dia temukan sekeping uang logam emas terletak di piring.

Dia sangat terkejut dan berpikir sejenak, ‘Sarang ini pasti penuh logam emas. Saya akan bunuh ular kobra dan ambil semua logam emasnya. '

Begitulah, pagi berikutnya, ketika dia seharusnya persembahan susu kepada ular kobra, anak laki lakinya Haridatta memukul ular kobra dengan sebuah kayu.

Tetapi, untunglah ular kobra tidak mati kemudian dia berbalik menghadap anak laki laki Haridatta dengan marah dan mematuknya.

Anak laki langsung meninggal .

Kemudian jasadnya di kremasi oleh keluarganya di ladang itu.

“Keesokan harinya, waktu Haridatta kembali dari desa, saudara-saudaranya memberitahunkannya tentang kematian anak lelakinya dan menceritakan kejadiannya kepadanya.

Haridatta sangat menyesali tindakan anak lelakinya yang gegabah dan telah menyebabkan kematian.

Besok paginya, Haridatta menemui ular kobra dengan membawa persembahan susu, seperti biasa, dia berdiri didepan sarang ular kobra itu rayap dan sembahyang dengan suara keras.

Ular kobra yang sedang duduk didepan sarangnya berkata, ‘Ya ampun, kamu sangat serakah dengan emas sehingga kamu sudah lupa akan kematian anak lelakimu dan untuk itu kamu datang ke sini! Persahabatan kita tidak akan bertahan lama. Anakmu dengan watak mudanya menyerang ku dan aku membalas mematuknya. Mana bisa saya lupakan serangan anak lelakimu, dan bagaimana mungkin kamu melupakan kematiannya? Lihatlah tumpukan kayu untuk meng-kremasinya dan tudungku yang terluka. Kasih sayang, sekali musnah, tidak bisa dibangun kembali dengan cara apapun.’

Selesai bicara seperti itu, ular kobra menyerahkan sebutir intan kepada Haridatta yang tidak ternilai harganya. Kemudian dia masuk ke sarang nya sambil berkata, ‘Jangan pernah kembali ke sini lagi!’

“Haridatta menerima intan itu, kemudian dia pulang sambil menyesali perbuatan konyol anak lelakinya.

Pesan moral: keserakahan yang menghalalkan segala cara akan akan menemui bencana.


31 - CERITA TENTANG PEDAGANG YANG TUA,ISTERINYA YANG MUDA DAN SEORANG PENCURI.

“Di sebuah kota, hidup seorang saudagar yang sudah tua yang bernama Kamatura*.

Setelah kematian isterinya, dia begitu kesepian sehingga timbul niatnya untuk menikah lagi.

Kamantura mempunyai seorang teman saudagar, dia ingin menikahi anak gadis saudagar itu.

Untuk maksud itu, Kamantura memberikan banyak uang kepada saudagar itu agar dia bisa menikahi anak gadisnyasakit.

Begitulah, akhirnya, pernikahan pun terjadi. Akan tetapi istri muda Kamantura tidak bahagia dan tidak sudi memandang suaminya yang sudah tua.

Hal ini cukup bisa dimengerti.

Suatu malam, ketika istrinya sedang istirahat di tempat tidur dengan memunggungi Kamantura, dengan diam diam seorang pencuri memasuki rumahnya.

Istri muda Kamantura menjadi sangat ketakutan ketika dia melihat si pencuri itu hingga dia membalikkan badannya dan merangkul Kamantura erat-erat.

Lelaki tua itu luar biasa senangnya, tetapi dia berpikir, ‘Saya heran bagaimana dia bisa merangkul saya begitu eratnya? Pasti ada sesuatu alasan.

Kamantura memperhatikan kamarnya dengan seksama. Disitu dia melihat seorang pencuri bersembunyi di salah satu sudut kamarnya.

Kemudian dia menyadari bahwa isterinya merangkul dia karena dia sangat takut dengan pencuri.

Sadar akan hal itu, Kamantura menangis kepada pencuri itu dan berkata, ‘Penderma, terima kasih! Selama ini istri saya selalu menghindari saya tetapi sekarang dia merangkul saya dengan kasihnya. Temanku, ambillah apapun yang kamu mau. '

Pencuri membalas, 'Saya tidak melihat barang berharga yang bisa saya curi disini akan tetapi saya pasti akan kembali lagi lain kali untuk mencoba keberuntungan saya dan melakukan tugas saya jika istri anda tidak menunjukan kasihnya kepada anda lagi!’

Pesan moral: kadang kadang musuh pun bisa memberi keberuntungan.


32 - CERITA TENTANG SEEKOR ULAR DI SARAN RAYAP DAN SEEKOR ULAR DI PERUT SEORANG PUTERA RAJA.

“Di sebuah kota, hidup seorang raja bernama Devashakti*.

Beliau mempunyai seorang putra yang keadaannya menjadi bertambah kurus setiap hari, akibat dari bersarangnya seekor ular di perutnya.

Sudah beberapa pengobatan dilakukan oleh para ahli, namun tidak menyembuhkannya sama sekali.

Karena kesal dengan hidupnya, sang Pangeran pergi ke kota kerajaan lain,

diamana dia tinggal di sebuah pura dan melanjutkan hidupnya dengan mengemis.

“Diceritakanlah raja di kota itu mempunyai dua orang putri yang masih muda.

Setiap hari, waktu matahari terbit, mereka akan mendatangi ayahandanya dan membungkuk di kaki raja (sebagai tanda hormat).

Satu putrinya akan berkata, ‘Yang Mulia, dengan doa restu anda, semua kebahagiaan dianuhgerakan kepada kami.‘

Putri yang satu lagi akan berkata,’Yang Mulia, seorang akan menuai hasil perbuatannya sendiri. '

“Satu hari, raja sangat marah kepada putrinya yang ke dua dan berkata kepada salah satu menterinya, ‘Nikahkanlah putri ke dua ku dengan seorang asing yang dari seberang sehingga dia menuai hasil perbuatannya.'

'Akan hamba lakukan Tuanku, 'jawab sang Mentri.

Dalam usahanya mencari seorang asing, sang menteri akhirnya bertemu dengan Pangeran Devashakti yang tinggal di pura.

Kemudian dia menikahkan putri Rajanya yang ke dua dengan Pangeran Devashakti.

“Sang Putri sangat bahagia dengan pernikahannya dan memperlakukan suaminya seperti Dewa.

Setelah upacara pernikahan berlangsung, Sang Pangeran dan Tuan Putri melanjutkan perjalanannya ke bagian negara lain untuk menetap.

Dalam Perjalanannya ke tempat yang di tuju, Tuan Putri meninggalkan suaminya di bawah pohon dan pergi ke kota terdekat untuk membeli keperluan sehari hari.

Ketika dia kembali, dia melihat suaminya sedang tertidur.

“Tiba-tiba, dia melihat seekor ular keluar dari mulut suaminya dan satu lagi keluar dari sarang di dekat sana.

Kedua ular keluar untuk mendapatkan angin segar.

Waktu kedua ular tersebut saling memandang, mereka menjadi sangat marah.

‘Kamu mahluk jahat!’ kata ular dari sarang lain kepada yang lainnya.

‘Kenapa kamu tega menyiksa Pangeran yang tampan ini?Kalau misalnya dia hanya memakan bubur dibuat dari biji jinten dan mustad (sejenis tanaman) kamu pastilah akan mati.’

‘Baik, jawab ular satu lagi, kamu juga akan binasa jika seorang menyiramkan air panas atau minyak panas ke sarangmu. '

Kemudian dia akan mendapatkan kedua peti emas yang kamu jaga.

“Puteri raja yang bediri di belakang sebuah pohon mendengar perdebatan mereka dan mengetahui rahasia mereka.

Dia bertindak sesuai dengan apa yang harus dia lakukan.

Sebagai hasil, suaminya menjadi sembuh dan sehat lagi, dan saat yang bersamaan, mereka mendapatkan dua peti emas dari sarang ular.

Pesan moral: ketika para pencuri pada kabur, manfaatkan lah kesempatan itu.


33 - CERITA TENTANG TIKUS BETINA

“Di tepi sungai Gangga* terdapat sebuah pertapaan yang sangat indah.

Air dari sungai mengalir dengan derasnya menuruni bebatuan, menciptakan suara bising sehingga menakutkan ikan-ikan disana. Air itu memutar-mutar hingga berbusa.

“Di pertapaan tersebut tingallah beberapa pertapa yang selalu tenggelam dalam meditasinya.

Tubuh mereka menjadi kurus karena lama berpuasa, melakukan meditasi penebusan dosa serta disiplin yang keras. Mereka hanya memakan akar-akaran dan buah-buahan dan hanya minum air dari sungai Gangga.

Mereka mengenakan pakaian dari kulit pohon.

“Ada satu Guru dari para pertapa ini yang bernama Yadnyavalkya*.

Satu hari, ketika sang Guru Yadnyavalkya sedang manding di sungai Gangga dan melakukan sembahyang setelah mandi, tiba tiba seekor tikus yang diterbangkan oleh seekor burung rajawali lewat dan terjatuh di tangan sang Guru.

Sang Guru Yadnyavalkya memitik sehelai daun beringin didekat sana dan menaruh si tikus itu di atas daun ini.

Kemudian sang guru mandi kedua kalinya, untuk membersihkan dirinya setelah memgang tikus tersebut.

Dengan kekuatan meditasinyaguruYadnyavalkya merubah wujud tikus betina itu menjadi seorang anak perempuan kecil .

Kemudian dia bawa anak perempuan itu pulang ke pertapaannya dan berkata kepada isterinya: 'isteriku, kita tidak mempunyai anak dari benih kita sendiri, terimalah anak perempuan kecil ini dan besarkan dia dengan baik sebagaimana anak perempuan kita sendiri.’

“Begitulah, sesuai dengan perintah, anak kecil itu dibesarkan dengan baik, hingga dia berumur dua belas tahun, ketika itu istri sang guru sadar bahwa anak perepuannya sudah mencapai umur menikah, dia berkata kepada suaminya, “Suamiku, saat untuk menikahkan anak perempuan kita sudah dekat. Pikirkanlah dengan sungguh-sungguh.”

‘Ya, kamu benar istriku’ jawab sang suami,saya akan menikahkan dia kepada seorang yang pantas untuknya.‘

Dan jika anak perempuan kita setuju, saya akan memanggil Tuhan Surya dan memberi anak kita kepada Nya.’

‘Ya’ jawab isterinya, ‘lakukanlah’.

“Dengan kekuatan doanya, guru Yadnyavalkya memanggil Dewa Surya.

Beberapa saat kemudian, beliau muncul di hadapan guru Yadnyavalkya dan berkata, ‘Maharishi*, kenapa anda memanggil saya?’

‘Inilah anak perempuan saya, jawab Yadnyavalkya.

‘Jika dia bersedia menikahi anda, mohon terimalah dia’

“Kemudian guru Yadnyavalkya menanyai anak perempuannya,

‘Akankah kamu terima Dewa Surya sebagai suamimu? Dia yang selalu menyinari dunia.’

‘Ayah, jawab sang anak, ‘Dia terlalu bergelora.

Saya tidak mau menikahinya. Tolong carilah saya seseorang yang lebih baik!’

Guru Yadnyavalkya berkata kepada Dewa Surya, ‘Tuanku, adakah yang lebih baik dari tuan?’

‘Ya, ada, jawab Dewa Surya, ‘Raja Awan lebih pintar dari saya, jika dia menyelimuti saya,

saya tidak akan bisa dilihat.’

“Begitulah, Guru Yadnyavalkya mengundang Raja Awan dan menanyai anak perempuanya, ‘Anakku, bolehkah saya memberi lamaran kepada Raja Awan?’

Sang anak menjawab, ayah, dia berkulit gelap dan sikapnya sangat dingin. Saya tidak mau menikahinya. Carikan saya calon suami yang lebih baik, Ayah.'

“Jadi Yadnyavalkya bertanya kepada Raja Awan, ‘Oh Raja Awan, Adakah seseorang yang lebih baik dari anda?'

‘Ya, ada, jawab Raja Awan. Dewa Vayu (Dewa Angin) lebih baik dari pada saya. '

Mendengar itu, Yadnyavalkya mengundang Dewa Vayu, dan berkata kepada anak perempuannya, ‘Apa katamu tentang dia, nak?

‘Ayah, dia menjawab, ‘dia selalu berubah-ubah. Saya tidak mau menikah dengannya. Tolong carikan saya seorang yang lebih baik dari nya.’

“Akhirnya sang ayah bertanya kepada Dewa Vayu, ‘Tuanku, adakah seseorang yang baik dari tuan?’

‘Ya, ada, jawab Dewa Vayu, ‘Dewa Gunung lebih unggul dari pada saya. Sekalipun saya kuat, dia selalu bisa menebak kemana saya akan bertiup.'

“Begitulah, Yadnyavalkya mengundang Dewa Gunung dan berkata kepada anakya, 'Sekarang saya lagi memberi lamaran kepadanya.’

‘Ayah, dia menjawab, ‘dia gelap dan menetap di satu tempat saja. Saya tidak mau menikahinya. Tolong carikan saya yang lebih baik dari Nya.’

“Yadnyavalkya bertanya kepada Dewa Gunung, ‘Oh Dewa Gunung, adakah yang lebib baik dari pada Anda?’

‘Ya, ada, jawab Dewa Gunung, “Raja Tikuslebih baik dari pada saya,

dia mampu membuat lubang dalam tubuh saya.’

“Begitulah, Yadnyavalkya mengundang Raja Tikus, dan berkata kepada anaknya.

‘Sekarang anakku, saya akan memberi lamaran ini kepada Raja Tikus ini. Apakah kamu suka dia?’

“Waktu si anak melihat Raja Tikus, sekujur tubuhnya mulai bergetar dengan bahagianya dan berkata kepada ayahnya,

‘Yah, dia yang terbaik dari semua calon lainnya!

Tolong rubah saya menjadi seekor tikus lagi supaya saya bisa menikahi Raja Tikus dan bisa melakukan pekerjaan rumah tangga di keluarga saya yang baru.’

“Dengan kekuatan meditasinya, Yadnyavalkya mengubah anaknya kembali menjadi seekor tikus betina dan menikahkannya dengan Raja Tikus.

Sang bijak berkata: ketika musuhmu bertengkar, pemenangnya adalah kamu sendiri.


34 - CERITA TENTANG SEORANG PEMBURU DAN BURUNG YANG KOTORAN BUSUKNYA MENGUBAH MENJADI EMAS.

“Di atas sebuah gunung tumbuhalah sebuah pohon yang besar dan lebat.

Di pohon itu hiduplah seekor burung yang bernama Sindhuka*, yang dikenal kotorannya selalu berubah menjadi seonggok emas.

“Pada satu hari, seorang pemburu datang ke tempat itu untuk berburu burung.

Sementara si pemburu memperhatikan suasana, Sindhuka (burung) mengeluarkan kotorannya yang langsung berubah menjadi emas.

Si pemburu sangat kaget dan berpikir, ‘Sedari kecil saya memburu burung tetapi tidak pernah saya melihat kotoran burung berubah menjadi emas!’

“Akhirnya si pemburu memasang perangkap di pohon tersebut.

Burung yang bodoh tidak menyadari kehadiran si pemburu dan perangkap yang dipasangnya., Akhirnya dia masuk perangkap ditertangkaplah dia.

Pemburu mengeluarkan dia dari perangkap dan menaruhnya di sebuah kurungan.

“Kemudian dia pikir, sebelum orang lain pada tahu tentang keanehan burung ini dan melaporkannya kepada raja, lebih baik saya langsung

menghadap raja sendiri dan menyerahkan burung ini kepada nya.

“Begitulah, akhirnya dia bawa burung itu menghadap raja dan menceritakan semuanya kepada raja.

Raja menjadi sangat puas dan berkata kepada pelayannya, 'Peliharalah burung ini dengan baik. Beri dia makan dan minum sepuasnya.’

“Selesai memberi perintah, seorang menteri berkata, 'Yang Mulia, bagaimana Tuan percaya kata-kata seorang pemburu? Apakah mungkin bisa mendapatkan emas dari kotoran burung?

Kami sarankan Tuan untuk melepaskan burung itu.'

Raja mendengarkan nasihat menterinya dan melepaskan burung tersebut.

Secepatnya si burung terbang keatas gerbang terdekat dan menjatuhkan kotorannya yang kemudian berubah menjadi seonggok emas.

Pesan moral: yang sudah menjadi bakat tidak bisa dirubah lagi.


35 - CERITA TENTANG SEEKOR SINGA, SEEKOR SERIGALA DAN SEBUAH GUA.

“Di sebuah hutan hiduplah seekor singa yang bernama Kharanakhara*.

Suatu hari, dia kelaparan dan mengembara ke semua tempat untuk mencari makan, tetapi dia tidak berhasil menangkap satu hewanpun.

“Pada waktu matahari terbenam, dia pergi ke sebuah gua dan berpiki, ‘Beberapa hewan hidup disini dan pastilah mereka akan kembali pada malam hari. 'aya akan sembunyi di gua dan menunggu mereka.’

“Sudah tentu benar, setelah beberapa saat lamanya, seekor serigala bernama Dadipucha* tiba di tempat itu.

Dia melihat jejak kaki seekor singa telah menuju ke gua tetapi tidak kembali lagi.

Serigala berpikir, matilah saya sekarang! Sudah pasti si singa ada didalam gua ini, tapi bagaimana saya bisa yakin? Bagaimana caranya untuk mengetahuinya?

“Tiba-tiba dia mendapat satu akal.

Dia berdiri di pintu masuk gua dan mulai terteriak, ‘Halo Gua! Gua! '

Beberapa saat dia menunggu dengan sepi.

Kemudian dia berteriak, ‘Ho, Gua! Apakah kamu sudah lupa akan janji bahwa, jika aku sampai, aku akan memanggilmu dan kamu akan menjawab panggilanku. Hanya setelah itu aku akan masuk ke dalam gua.Sekarang, kamu tidak jawab panggilan ku, aku akan pergi ke gua yang lain saja.’

“Ketika si singa mendengar hal itu, dia berpikir, ‘Gua ini selalu menjawab panggilan si serigala saat dia kembali, tetapi hari ini, karena dia takut akan saya, gua ini tidak menjawab panggilan si serigala.Jadi, akan saya undang dia dan ketika dia masuk pintu gua, saya akan terkam dia!’

“Dengan ide tersebut, si singa menjawab panggilan serigala, ‘Halo serigala! Halo serigala, masuklah!’

Suara si singa menggema dengan kerasnya sehingga serigala dan semua hewan pada lari ketakutan akan di terkam si singa.

Pesan moral: telitilah dengan seksama apa yang membuatmu ragu ragu!


36 - CERITA TENTANG KODOK-KODOK DAN ULAR YANG HITAM.

“Didekat pegunungan Varuna*, hiduplah seekor ular yang sudah tua yang bernama Mandavishya*.

Suatu hari dia berpikir, ‘Saya sudah semakin tua untuk memburu berburu makanan. Bagaimana saya bisa memelihara diri saya tanpa berusaha keras untuk itu?’

Kemudian dia menemukan sebuah ide.

Dia pergi ke sebuah telaga yang penuh dengan kodok dan mulailah si ular tua ini bertingkah seperti seorang pertapa yang sudah melepaskan hubungan keduniawian.

Seekor kodok mendekatinya dan bertanya, ‘Kenapa kamu tidak mengembara mencari makan seperti biasa?’

‘Ah!’ jawab ular, ‘Saya yang tidak beruntung!! Saya tidak lagi mengembara mencari makan. Saya akan jelaskan semua kepadamu.‘

Dia melanjutkan, ‘Tadi malam, saya melihat seekor kodok. Waktu saya coba untuk menangkap nya, dia ketakutan dan melompat diantara para Brahmana yang sedang membaca sajak-sajak Vedas dan menghilang. Saya tidak bisa menghampiri si kodok, jadi saya duduk sambil menunggu dia keluar. Sementara itu secara kebetulan mata saya tertuju ke seorang anak laki laki Brahmana dan karena putus asa, saya mematuk anak itu, dia langsung meninggal di tempat.

Ayahnya menjadi sangat sedih dan dia menugutuk saya dengan:

“Ular yang jahat, kamu telah menggigit dan membunuh anak laki laki ku padahal dia tidak berbuat kejahatan apapun kepada kamu. Untuk perbuatanmu ini, mulai hari ini, kamu akan melayani para kodok dan mereka akan menunggangimu.

Kamu akan hidup dengan apapun yang mereka tawarkan kepada kamu”,

“Dan jadi,” kata ular ‘Saya datang untuk melayani kalian semua’.

“Ketika si kodok mendengar cerita ular tua itu, dia pergi dan mencaritakan kepada kodok kodok lainnya.

Akhirnya, berita itu didengar oleh raja kodok.

Dia berpikir ini sangat aneh, kemudian dia menemui si ular tua dengan ditemani para menterinya, guna mengetahui kebenaran berita itu.

Setelah si ular tua berhasil meyakinkan raja kodok bahwa hidupnya akan aman, raja kodok menaiki punggung ular.

Kodok-kodok yang lain juga mengambil giliran mereka, sesuai dengan umur mereka.

Dan mereka yang tidak mendapat tempat di punggugl ular,berlompatan dibelakang ular.

Untuk membuat kodok-kodok bahagia, si ular tua mempertunjukan cara merayap yang bervariasi.

“Raja kodok sangat puas dan berkata, ‘Saya belum pernah mendapat kesenangan seperti ini saat saya menunggagi seekor gajah, seekor kuda atau kereta kuda atau digendong manusia, sebagaimana berada pada gendongan ular ini!’

“Keesokan harinya, si ular tua mulai merayap pelan-pelan dengan sengaja.

Waktu raja kodok menyadari ini, dia bertanya, ‘Teman, kenapa kamu tidak merayap seperti biasa?’

‘Saya belum makan apa apa,' jawab si ular tua,' saya terlalu lemah untuk merayap dengan baik.'

Raja kodok menjawab, ’Biklah kalau begitu , kamu boleh memakan kodok yang kecil.’

“Ketika si ular tua mendengar ini, dia berpura-pura terkejut dan berkata, 'wah, wah.Inilah kutukan Brahmana yang ke dua tiba,' kata dia,'bahwa saya harus hidup dengan apapun yang ditawarkan oleh para kodok. Yang Mulia, kebaikan anda membuat saya senang. '

Setelah itu si ular tua mulai memakan kodok-kodok yang kecil setiap hari, dan dalam beberapa saat, dia menjadi kuat lagi.

“Si ular tua berpikir sambil tersenyum, ‘Saya sudah cukup berhasil memperdaya mereka untuk membiarkan saya memangsa kodok yang kecil kecil saja, tetapi sampai kapan persedian kodok kecil akan tersedia?’

“Begitulah, tanpa mengetahui maksud sebenarnya si ular tua itu, Jalapada*, raja para kodok benar benar telah diitipu oleh ucapan si ular tua itu.

“Berselang beberapa hari, seekor ular hitam yang besar datang ke tempat yang sama.

Dia sangat terkejut melihat kodok-kodok menunggangi si ular tua, Manadavishya, dan berkata kepadanya, ‘Mandavishya, kodok-kodok ini adalah makanan kita! Kenapa kamu menggendong mereka di punggung mu? Tidak pantas kamu lakukan it!’

‘Saya setuju dengan kamu’ kata Mandavishya, tetapi saya membuat mereka tenang dan menunggu dengan sabar.’

Dan dia menjelaskan semuanya kepada si ular hitam.

“Satu hari, Mendavishya, berkata sambil tertawa, ‘dengan memakan kodok-kodok ini, saya mendapatkan rasa yang berbeda.’

Hal itu didengar oleh raja kodok, Jalapada, dia sangat terkejut dan dengan kesal dia bertanya kepada si ular tua, ‘Temanku, apa yang telah kamu ucapkan?’

“Untuk mengelabui raja kodok, si ular tua berkata bohong, 'Oh tidak apa apa!'

Dan kemudian dengan kemampuan bicaranya yang bagus, dia berhasil membuat raja kodok tenang.

“Dalam beberapa saat, si ular tua mulai memakan kodok-kodok yang besar pula dan akhirnya, dia memakan raja kodok sendiri dan semua kodok-kodok akhirnya disapu bersih oleh si ular tua.

Pesan moral: pergunakanlah akal sehatmu untuk melindungimu dari bahaya.


37 - CERITA TENTANG RAJA KODOK DAN SEEKOR ULAR.

“Didekat pegunungan Varuna*, hiduplah seekor ular yang sudah tua yang bernama Mandavishya*.

Suatu hari dia berpikir, ‘Saya sudah semakin tua untuk memburu berburu makanan. Bagaimana saya bisa memelihara diri saya tanpa berusaha keras untuk itu?’

Kemudian dia menemukan sebuah ide.

Dia pergi ke sebuah telaga yang penuh dengan kodok dan mulailah si ular tua ini bertingkah seperti seorang pertapa yang sudah melepaskan hubungan keduniawian.

Seekor kodok mendekatinya dan bertanya, ‘Kenapa kamu tidak mengembara mencari makan seperti biasa?’

‘Ah!’ jawab ular, ‘Saya yang tidak beruntung!! Saya tidak lagi mengembara mencari makan. Saya akan jelaskan semua kepadamu.‘

Dia melanjutkan, ‘Tadi malam, saya melihat seekor kodok. Waktu saya coba untuk menangkap nya, dia ketakutan dan melompat diantara para Brahmana yang sedang membaca sajak-sajak Vedas dan menghilang. Saya tidak bisa menghampiri si kodok, jadi saya duduk sambil menunggu dia keluar.

Sementara itu secara kebetulan mata saya tertuju ke seorang anak laki laki Brahmana dan karena putus asa, saya mematuk anak itu, dia langsung meninggal di tempat.

Ayahnya menjadi sangat sedih dan dia menugutuk saya dengan :

“Ular yang jahat, kamu telah menggigit dan membunuh anak laki laki ku padahal dia tidak berbuat kejahatan apapun kepada kamu. Untuk perbuatanmu ini, mulai hari ini, kamu akan melayani para kodok dan mereka akan menunggangimu. Kamu akan hidup dengan apapun yang mereka tawarkan kepada kamu”,

“Dan jadi,” kata ular ‘Saya datang untuk melayani kalian semua’.

“Ketika si kodok mendengar cerita ular tua itu, dia pergi dan mencaritakan kepada kodok kodok lainnya.

Akhirnya, berita itu didengar oleh raja kodok.

Dia berpikir ini sangat aneh, kemudian dia menemui si ular tua dengan ditemani para menterinya, guna mengetahui kebenaran berita itu.

Setelah si ular tua berhasil meyakinkan raja kodok bahwa hidupnya akan aman, raja kodok menaiki punggung ular.

Kodok-kodok yang lain juga mengambil giliran mereka, sesuai dengan umur mereka.

Dan mereka yang tidak mendapat tempat di punggug ular, berlompatan dibelakang ular.

Untuk membuat kodok-kodok bahagia, si ular tua mempertunjukan cara merayap yang bervariasi.

“Raja kodok sangat puas dan berkata, ‘Saya belum pernah mendapat kesenangan seperti ini saat saya menunggagi seekor gajah, seekor kuda atau kereta kuda atau digendong manusia, sebagaimana berada pada gendongan ular ini!’

“Keesokan harinya, si ular tua mulai merayap pelan-pelan dengan sengaja.

Waktu raja kodok menyadari ini, dia bertanya, ‘Teman, kenapa kamu tidak merayap seperti biasa?’

‘Saya belum makan apa apa,' jawab si ular tua. 'saya terlalu lemah untuk merayap dengan baik.'

Raja kodok menjawab, ’Baiklah kalau begitu , kamu boleh memakan kodok yang kecil.’

“Ketika si ular tua mendengar ini, dia berpura-pura terkejut dan berkata, ‘wah, wah.Inilah kutukan Brahmana yang ke dua tiba, kata dia, bahwa saya harus hidup dengan apapun yang itawarkan oleh para kodok. Yang Mulia, kebaikan anda membuat saya senang.'

Setelah itu si ular tua mulai memakan kodok-kodok yang kecil setiap hari, dan dalam beberapa saat, dia menjadi kuat lagi.

“Si ular tua berpikir sambil tersenyum, ‘Saya sudah cukup berhasil memperdaya mereka untuk membiarkan saya memangsa kodok yang kecil kecil saja, tetapi sampai kapan persedian kodok kecil akan tersedia?’

“Begitulah, tanpa mengetahui maksud sebenarnya si ular tua itu, Jalapada*, raja para kodok benar benar telah diitipu oleh ucapan si ular tua itu.

“Berselang beberapa hari, seekor ular hitam yang besar datang ke tempat yang sama.

Dia sangat terkejut melihat kodok-kodok menunggangi si ular tua, Manadavishya, dan berkata kepadanya, ‘Mandavishya,kodok-kodok ini adalah makanan kita! Kenapa kamu menggendong mereka di punggung mu? Tidak pantas kamu lakukan it!’

‘Saya setuju dengan kamu’ kata Mandavishya, tetapi saya membuat mereka tenang dan menunggu dengan sabar.’

Dan dia menjelaskan semuanya kepada si ular hitam.

“Satu hari, Mendavishya, berkata sambil tertawa, ‘Dengan memakan kodok-kodok ini, saya mendapatkan rasa yang berbeda.’

Hal itu didengar oleh raja kodok, Jalapada, dia sangat terkejut dan dengan kesal dia bertanya kepada si ular tua, ‘Temanku, apa yang telah kamu ucapkan?’

“Untuk mengelabui raja kodok, si ular tua berkata bohong, 'Oh tidak apa apa!'

Dan kemudian dengan kemampuan bicaranya yang bagus, dia berhasil membuat raja kodok tenang.

“Dalam beberapa saat, si ular tua mulai memakan kodok-kodok yang besar pula dan akhirnya, dia memakan raja kodok sendiri dan semua kodok-kodok akhirnya disapu bersih oleh si ular tua.

Peasn moral: berhati hatilah akan tipu muslihat dari siapapun termasuk dari temanmu.


38 - CERITA TENTANG SEEKOR SINGA DAN SEEKOR KELEDAI

“Di sebuah hutan yang lebat hiduplah seekor singa yang bernama Karalakesara.

Dia mempunyai satu pembantu, seekor serigala, yang bernama Dhusaraka*, yang selalu setia menemaniya.

“Suatu hari singa berperang dengan dahsyatnya dengan seekor gajah yang ganas dan tubuhnya terluka parah sampai dia tidak mampu berjalan lagi.

Karena keadaan ini, Karalakesara tidak mampu berburu lagi.

Sebagai akibat, Dhusaraka juga mulai kelaparan dan menjadi sangat lemah.

“Pada suatu hari, dia kata kepada singa, ‘Tuan, saya lapar sekali hingga saya tidak mampu ber jalan setapakpun.

Bagaimana saya bisa melayani anda, Tuna?’

‘Wah, kawanku,’ kata Karalakerasa, ‘pergilah mencari seekor hewan yang bisa saya bunuh untuk kebutuhan makan kita sekarang.’

“Jadi, serigala ini mulai mencari hewan buat di makan.

Di tengah hutan dia bertemu dengan seekor keledai yang bernama Lambakarana* yang sedang merumput di sepanjang tepian sebuah sungai.

Serigala menghampiri keledai itu dan berkata, ‘Paman, sapa si serigala! Saya melihat anda seudah sekian lama. Beritahu saya kenapa anda menjadi begitu kurus?’

‘Nak, jawab si keledai. ‘Apa yang bisa saya katakan kepadamu? Si tukang cuci yang jahat itu, majikan saya, menyi ksa saya dengan membawa beban yang berat-berat dan hanya memberi segenggam rumput untuk saya makan. Jadi, saya makan rumput ini yang bercampur debu. Bagaimana bisa badan saya bisa menjadi gemuk? '

‘Paman,’ jawab serigala, ‘jika itu permasalahanya, saya tahu sebuah tempat yang bagus, dimana rumputnya sehijau warna permata emerald. Ikuti saya dan paman bisa tinggal disana. Kita akan melewati hari-hari kita dengan senang, saling bercerita tentang cerita-cerita yang bernilai moral yang tinggi dan membicarakan filsafat.’

‘Anakku, kata keledai, ‘betapa baiknya kamu. Tapi kami binatang desa dengan mudahnya akan di bunuh oleh bintang binatang hutan yang buas. Jadi apa bagusnya tempat seperti itu untuk saya?’

‘Paman, ‘ kata serigala, tolong jangan berbicara seperti itu.

Bagian kota itu benar-benar di jaga dan dilindungi ketat oleh kekuatan klan saya. Tidak ada binatang lain yang berani masuk ke sana! Untuk alasan yang sama karena mereka juga disiksa oleh majikannya, tiga keledai betina juga tinggal disitu. mereka masih muda dan mendapatkan makanan yang teratur.’

Serigal melanjutkan, mereka bilang kepada saya’, “Jika kamu benar-benar paman kami, tolong carikan kami calon suami yang pantas di salah satu desa terdekat. Itu sebabnya saya ingin membawa paman ke sana.’

Waktu keledai mendengar kata-kata serigala, dia menjadi tertarik untuk tinggal disana dan dia berkata, “baik lah kalau begitu, berjalanlah, saya akan mengikutimu. ‘

Begitulah, dengan sedikit bujukkan si keledai pergi dengan serigala ke hutan dimana si singa telah menunggunya.

Waktu singa yang sedang kelaparan melihat seekor keledai datang, dia langsung bangun dan mencoba memukuli si keledai dengan cakarnya, tapi dia gagal.

Melihat hal itu, si keledai lari secepat mungkin untuk menyelamatkan nyawanya.

Ketika si keledai sudah pergi, serigala berkata dengan marah kepada si singa, ‘Apakah itu cara kamu menangkap mangsa? Seekor keledaipun terlepas darimua. Bagaimana mungkin kamu bisa mengalahkan seekor gajah?’

Si singa tersemyum dengan malunya dan berkata, ‘Apa yang harus saya lakukan? Saya tadi belum siap untuk menyerang - jika saya sudah siap, seekor gajahpun tidak akan lepas dari seranganku.’

‘Baik,’ kata serigala, ‘saya akan membawa dia sekali kepadamu, tapi kali ini bersiap siaplah untuk menyerangnya.’

‘Kawan,’ kata si singa, ‘bagaimana mungkin dia mau kembali lagi, waktu dia melihat saya, dia langsung kabur. Carilah bintang yang lainnya.’

‘Apa hubungannya dengan mu?’ kata serigala. ‘yang harus kamu lakukan adalah bersiap-siaplah untuk menyerang.’

“Kemudian serigala mengikuti jejak kaki si keledai dan melihatnya memakan rumput di lapangan yang sama.

“Waktu serigala melihat si keledai, dia menangis, ‘Nak, kamu membawa saya ke tempat yang benar-benar indah! Saya hampir terperangkap diambang kematian. Katakan kepadaku siapa bintang itu yang pukulannya seperti petir saya nyaris tidak bisa lolos darinya.’

Si serigala berkata dengan senyum, ‘Paman, itu adalah seekor keledai betina yang ingin menyambut paman ketika dia melihat paman datang.

Tapi paman seperti pengecut, langsung lari. Datanglah sekarang. Dia bilang bahwa dia akan biarkan dirinya mati karena paman. '

“Dia bilang pada saya jika Lambakarana tidak menjadi suami saya, saya akan membakar diri saya hingga menjadi abu dan hanyut dalam air. Saya tidak bisa berpisah darinya.“

Jadi paman, tolonglah datang menemuinya ataupaman akan bertanggung jawab atas kematian si keledai betina dan Kamadewa akan sangat marah kepada paman.

“Keledai satu kali lagi dibujuk untuk menemani si serigala.

Kali ini, singa sudah siap untuk menyerang dan lalu si keledai dibunuhnya.

“Setelah itu, si singa minta serigala untuk menjaga keledai kemudian dia pergi ke sungai untuk mandi.

Si serigala tidak bisa menahan laparnya, dia memakan otak si keledai.

“Ketika si singa kembali setelah selesai mandi dan sembahyang, dia temukan otak keledai telah hilang.

Dia berbalik kepada si serigala dengan geramnya,' Kamu jahat! Apa yang telah kamu lakukan? Kamu rusak makanan ku dengan memakan otak si keledai.'

'Tolong tuan, kata serigala, janganlah berkata seperti itu. Keledai ini tidak punya otak. Jika dia punya, bagaimana mungkin dia mau kembali kesini lagi menjumpai tuan?'

Si singa mempercayai ucapan si serigala. Dia lahap si keledai dan sisanya dia tinggalkan untuk makanan si serigala.

Pesan moral: berjuanglah untuk dirimu sendiri, jika kamu tidak mau gagal.


39 - CERITA TENTANG TUKANG POT BERNAMA YUDHISTHIRA

Di sebuah kota hiduplah seorang tukang tembikar yang bernama Yudhisthira .

Pada satu hari dia mabuk, tersandung dan jatuh kedalam pot pot yang menjadi pecah berantakan.

Pecahan yang tajam melukai kepalanya dan darah mulai mengalir.Dengan susah payah dia berusaha bangun dan berdiri.

Karena kurang perrawatan, luka itu menjadi bertambah parah dan walaupun akhirnya sembuh, luka itu meninggal bekas yang dalam di dahi nya.

Selang beberapa waktu kamudian terjadi musim paceklik (kelaparan) di negeri tersebut dan tukang tembikar menjadi sangat kurus.

Bersama bersama dengan beberapa orang pelayan dari keluarga kerajaan, Yudhithira pergi ke bagian negeri lain dan bekerja sebagai pelayan Raja.

Ketika Raja melihat bekas luka yang besar di jidat si tukang tembikar, raja berpikir, ‘Tanpa diragukan lagi bekas luka yang besar diperolehnya waktu dia berperang menghadapi musuh. Dia pasti seorang pemberani.

Begitulah, atas dugaan itu, sang raja dengan hormat menempatkan si ahli tembikar untuk menjaga para putri raja.

Ketika pelayan lainnya mengetahui hal ini, mereka mengira sang raja telah berbuat terlalu baik kepada si ahli tembikar. walaupun sebenarnya dia tidak berhak atas posisi itu namun pelayan lainnya tidak bisa berkata apa apa karena takut kepada raja.

“Pada suatu hari, terjadilah perang dengan mendadak.

Raja mengundang semua prajurit untuk memberikan anugerah serta dukungan dan memberikan semangat kepada mereka.

Sementara gajah-gajah dan kuda-kuda sedang dilengkapi persenjataan kemudian para prajurit memeriksa dengan teliti. sang raja mengambil tempat di samping tukang tembikar dan berkata, ‘Pangeran, siapa namamu dan apa kastamu? Dari pertempuran mana kamu dapatkan bekas luka goresan di dahimu itu?’

‘Yang Mulia, jawab ahli tembikar. Bekas luka ini tidak disebabkan oleh goresan pedang. Pekerjaan saya sebagai tukang tembikar. Dan di rumah saya dulunya dipenuhi dengan banyak gentong tanah berjejer disana-sini.

Pada suatu hari, saya mabuk dan jatuh diatas gentong tersebut yang kemudian pecah berantakan dan itu yang menyebabkan luka di dahi saya.’

“Waktu raja mendengar hal itu, beliau merasa sangat malu dan berkata kepada prajuritnya, ‘Tukang tembikar ini telah menipu ku dengan berpura-pura bertindak seperti seorang Pangeran. Usir dia sekarang juga.’

Waktu mereka mengusir si tukang tembikar, dia menangis, 'hentikan! Mohon jangan lakukan ini pada saya. Ujilah saya dalan pertempuran ini.’

“Raja menjawab, ‘sangat diragukan kalau kamu memiliki kemampuan untuk berperang, lebih baik pulang.Karena jika prajurit-prajurit ini mengenali mu sebagai tukang tembikar, mereka akan mencemoohkan kamu dan kemudian membunuhhmu.”

“Waktu tukang tembikar mendengar ini, dia langsung kabur meninggalkan istana.

Pesan moral: penipuan dengan kata kata manis sering berhasil dengan sukses.


40 - CERITA TENTANG SEEKOR SINGA DAN SEEKOR SERIGALA YANG MUDA.

“Di sebuah hutan belantara hiduplah sepasang singa betina dan jantan.

Pada satu hari, singa betina melahirkan dua ekor bayi singa laki laki.

“Si singa jantan pergi untuk berburu makanan buat anak dan istrinya.

Dia membunuh jarahannya dan membawanya pulang serta memberikannya kepada isterinya.

“Akan tapi suatu hari, singa jantan telah mengembara kian kemari untuk mencarim mangsa namun sia-sia saja.

Sementara itu, matahari telah terbenam, singa jantan akhirnya pulang tanpa membawa hasil buruannya.

Dalam perjalanan pulang, singa jantan bertemu dengan seekor bayi serigala, dia tidak membunuhnya karena dia pikir, hanyalah seekor bayi.

Dia angkatlah si bayi serigala itu kemudian digendongnya pulang dan berkata, istriku, 'Kamu boleh membunuhnya dan kenyangkan perutmu tetapi saya tidak sanggup membunuhnya karena dia hanya seekor bayi dan dari keturunan kita juga. itulah sebabnya saya membawa dia dalam keadaan hidup.'

'Suamiku,' balas singa betina, 'kamu tidak sanggup membunuh bahyi ini,bagaimana mungkin saya bisa melakukannya dan mengenyangkan perut saya?Itu ada dalam ajaran agama kuno kita. Saya tidak akan membunuhnya tapi saya akan menjaga dia sebagai anak ketiga.”

“Jadi singa betina mulai menyusui bayi serigala dan tidak lama kemudian, serigala tumbuh menjadi sehat dan gemuk.

Ketiga bayi itu tumbuh bersama tanpa menyadari perbedaan diantara mereka dan mereka habiskan masa kecil mereka bermain bersama.

“Pada satu hari, seekor gajah yang liar muncul disana.

Ketika ketiga anak ini melihatnya, kedua anak singa berlari kencang menghampiri gajah liar itu dan menyerangnya dengan geram' Akan tetapi serigala kecil berkata,” tunggu! Dia adalah musuh klan kita. Jangan mendekatinya!”

Seusai serigala kecil berkata seperti itu, dia lari pulang.

Anak-anak singa menjadi ragu ragu setelah melihat tindakan pengecut kakaknya.

“Waktu dua anak singa kembali ke rumah, mereka menceritakan hal ini kepada orang tua mereka dan mentertawai tingkah kakaknya. Mereka berkata , “Ketika dia melihat gajah liar datang, dia lari terbirit birit.'

Serigala muda mendengar hal ini, dia merasa sangat geram.

Bibirnya bergetar, warna matanya berubah menjadi marah, beberapa kerutan muncul di dahinya dan dia mulai mencela kedua adik adiknya dengan kasarnya.

Singa betina membawa serigala ke samping dan berkata kepadanya' Sayangku, jangan bicara seperti itu, mereka itu adik adikmu.' “Tapi serigala muda menjadi lebih marah dan berkata kepada singa betina, 'Saya tidak sebanding dengan mereka dalam keberanian, lihatlah, jika mereka mentertawakan saya dibidang pendidikan atau kecerdasan, saya pasti akan membunuh mereka. “Ketika singa betina mendengar hal ini, dia tersenyum dalam hatinya dan untuk menyelamatkan yang muda dia berkata “Anakku, itu memang benar bahwa kamu berani, tampan, pintar dan mempunyai pendidikan yang baik, akan tapi tidak ada gajah yang dibunuh oleh keluarga dimana kamu dilahirkan. Dengarlah anak! Kamu sebenarnya adalah anak sepasang serigala yang saya sayangi dan besarkan dari susu saya.Karena rasa sayang saya menjagamu, sambil memberikanmu susu. Sekarang, sebelum anak-anak singa mengetahui kamu seekor serigala, pergilah dari sini dan kembali ke keluargamu atau mereka akan membunuhmu.”

Serigala muda menjadi ketakutan ketika mendengar hal itu, dia lari meninggalkan tempat itu dan bergabung dengan keluarganya.

Pesan moral: jadilah dirimu apa adanya. Jika berpura-pura menjadi orang lain, akibatnya akan susah.


41 - CERITA TENTANG SEEKOR KELEDAI DAN SEORANG TUKANG CUCI.

“Di sebauh kota tinggallah seorang tukang cuci yang bernama Suddhapata*.

Dia hanya mempunyai seekor keledai.

Karena kekurangan rumput dan makanan lainnya, keledai menjadi sangat kurus dan lemah.

“Pada satu hari, waktu Saddhapatta pergi ke hutan, dia melewati seekor harimau yang sudah mati.

Dia berpikir, ‘Oh, ini adalah satu keberuntungan buat saya. Saya tahu apa yang saya akan lakukan. Saya akan ambil kulit harimau dan memasangnya di atas tubuh keledai saya kemudian membiarkan dia berkeliaran di ladang pada malam hari. Para petani akan mengira bahwa itu adalah seekor harimau dan karena ketakutan, mereka tidak akan keluar rumah.’

“Inilah yang dilakukan oleh Saddhapatta.

Mulai hari itu dan seterusnya, si keledai akan puas memakan rumput jawawut di malam hari, pagi harinya Saddhapatta akan menggiringnya ke kandang.

Dengan berlalunya waktu, keledai menjadi begitu gemuk hingga membuat Saddhapatta kesulitan untuk menarik dia kembali ke dalam kandang.

“Pada satu malam, ketika keledai sedang menikmati rumput jawawut, dia mendengar suara keledai betina meringkik di kejauhan.

Dia tidak bisa tahan untuk membalas ringkikan keledai betina tersebut.

Akhirnya para petani menyadari bahwa itu hanyalah seekor keledai yang berselimutkan kulit harimau.

ara petani secepatnya keluar dari rumah mereka, menagkap keledai itu lalu membunuhnya.

Pesan moral: janganlah berpura pura menjadi orang lain.


42 - CERITA DARI SEEKOR UNTA DENGAN SEBUAH BEL KELILING LEHERNYA.

“Di sesuatau kota hiduplah seorang tukang gerobak yang bernama Ujjwalaka.

Karena dia tidak mendapat banyak pesanan untuk membuat gerobak, dia menjadi sangat miskin, berpikirlah dia, ‘Dikutuknyalah kemiskinan ini! Semua orang di kota mendapatkan satu pekerjaan, tetapi saya tidak mendapatkan satupun yang cokok buat saya. Semua orang memiliki gedung bertingkat sementara saya tidak mempunyai sebuah rumahpun yang pantas untuk tinggal. Apa gunanya tinggal di sini!’

Begitulah, Ujjwala bersama keluarganya meninggalkan tempat tersebut dan pergi menuju tempat yang lainnya.

“Dalam perjalanan, didalam sebuah hutan ketika matahari terbenam, tiba-tiba Ujjwala melihat seekor onta betina yang sedang kesakitan untuk kelahirkan. Dia tertinggal jauuh dibelakang oleh kelompoknya.

Tidak lama kemudian dia melahirkan seekor bayi onta.

Ujjwala mengikat onta betina dengan tali, kemudian dia mengambil sebuah kapak kecil yg tajam untuk memotong rumput buat makan si onta. Kemudian dia taruh rumput tersebut didepannya dan pelan-pelan dia menyuapi bayi onta dengan rumput yang masih segar.

“Pagi-pagi berikutnya ketika kondisi onta betina agak pulih, Ujjwala mmbawa mereka ke tempat tinggalnya yang baru.

Ujjwala memelihara onta onta terebut dengan baik sehingga mereka menjadi sehat dan bayi onta cepat menjadi besar.

Dengan rasa kasih Ujjwala mengikatkan sebuah lonceng pada leher onta kecil .

“Setiap hari Ujjwala menjual susu onta di pasar dan dengan demikian dia bisa menghidupi keluarganya.

Kemudian, dia berpikir, ‘Kenapa saya harus mulai pekerjaan yang lain, jika saya bisa menghidupi keluarga saya dengan baik hanya dengan menjual susu onta?’

“Akhirnya dia berkata kepada isterinya, ”Istriku, usaha dagang ini sangat menguntungkan, JIka kamu setuju, saya akan meminjam sedekit uang dari seorang yang kaya dan pergi ke Gujarat* (di India) untuk membeli seekor onta yang muda. Sementara saya pergi, tolong jagalah kedua onta ini.”

Isterinya setuju, berangkatlah Ujjwala ke Gujarat dan kembali setelah membeli seekor onta yang masih muda.

Keberuntungan ada ditangannya, dalam waktu yang singkat Ujjwala menjadi pemilik beberapa ekor onta.

Dia mengupah seorang pembantu untuk membantu memelihara onta onta tersebut dengan baik dan sebagai imbalan, Ujjwala membayar pelayan itu dengan seekor bayi onta setiap tahun. Dia juga meminum susu onta dengan gratis setiap hari.

Ujjwala hidup senang, memelihara beberapa ekor onto yang masih muda kemudian menjualnya.

Setiap pagi, onta-onta itu akan merumput di hutan didekat sana dan memakan tenaman yang tumbuh merambat dan empuk serta tanaman lainnya.

Kemudian mereka akan pergi untuk minum air dari sebuah danau yang besar dan kemudian pulang ke kandangnya.

Dikisahkan, si onta dengan lonceng tergantung di lehernya, dan sombong dan seperti biasa selalu tertinggal di belakang onta lainnya.

Ketika onta yang lainnya menyadari akan hal ini, mereka berkata, ‘Si bodoh itu selalu memisahkan diri dan berjalan di belakang kita dengan suara loncengnya. Itu akan membuatnya sangat mudah ditangkap. Pada satu hari, dia akan tertangkap dalam cenkeraman binatang buas dan dibunuhnya. '

Mereka semua memarahinya akan hal ini dan mencoba membuat dia mengerti, tetapi dia tetap tidak bisa mengerti maksud mereka.

Pada satu hari seekor singa mendengar bunyi lonceng ini di hutan.

Dia mengikut suara itu dan melihat satu gerombolan onta muda bergerak kedepan menuju sebuah danau untuk minum air.

Tetapi satu onta muda dengan lonceng di lehernya terpisah dari kelompoknya, sendirian dan masih merumput.

Onta lainnya setelah selesai minum mereka memulai perjalanan pulang ke kandangnya.

Onta muda mulai berjalan kian kemari kehilangan arah.

Singa mengikuti suara lonceng yang tergantung dilehernya, melewati si onta muda ini dan bersembunyi di depannya.

Ketika onta berjalan mendekat, singa meloncat kearahnya, menyerang lehernya dan membunuhnya.

Pesan moral: orang bodoh yang menolak untuk menuruti nasehat yang baik sudah pasti akan mendapatkan susah.


43 - CERITA TENTANG SEEKOR SERIGALA, SEEKOR SINGA SEEKOR MACAN TUTUL DAN SEEKOR HARIMAU.

“Di satu bagian di sebuah hutan hiduplah seekor serigala bernama Mahachaturaka.”

Satu hari dia menemukan seekor gajah yang mati. Dia berputar putar mengelilingi mayat gajah itu berusaha untuk merobak kulit gajah yang sangat tebal itu, akan tetapi dia tidak bisa melakukannya.

Sementara ada seekor singa yang sedang mengembara kian kemari, muncul di tempat mayat gajah itu.

Ketika Mahachaturaka melihat singa menghampirinya, dia membungkukkan badannya rata dengan tanah tanda memberi hormat dan dengan menggabungkan kaki depannya dengan rendah hati dia berkata, ‘Tuanku yang mulia, saya menjaga gajah ini untuk tuan. Sekarang karena tuan sudah datang, silahkan menikmatinya.'

Ketika si singa mlihat Mahachaturaka bertindak dengan begitu rendah hati, dia berkata, ‘Terima kasih banyak, tetapi saya tidak pernah memakan hasil buruan yang dibunuh oleh binatang lain.’

'Jadi,’ lanjut singa, “akan saya hadiahkan bangkai gajah ini untukmu.'

Mahachaturaka berkata,' Betapa baiknya tuan, memperlakukan pelayannya dengan murah hati.'

Kemudian si singa berlalu. Saat itu, muncul pula seekor macan tutul di tempat yang sama.

Ketika Mahachaturaka melihatnya, dia berkata dalam hati, ‘Saya berhasil mengusir si singa dengan merendah memberi hormat di depannya, tapi bagaimana saya akan menangani yang sat uini? Dia sangat berani, saya tidak mampu menanganinya terkecuali dengan cara ayng licik. '

Dengan cara ini Mahachaturaka menegakkan pundaknya dan merendahkan diri dia berkata kepada si macan tutul, ’Paman ! Kenapa paman menyerahkan diri ke mulut kematian? Si singa membunuh gajah ini, menyuruh saya untuk menjaganya sementara dia pergi ke sungai untuk mandi .Ketika dia pergi, dia bilang, jika seekor macan tutul muncul, beritauh saya scepatnya. saya akan tunjukkan bahwa semua macan tutul akan musnah dari hutan ini. Pernah sekali dalam hidup saya, satu macan tutul mengotori binatang yang saya bunuh dan sejak saat itu saya sangat geram kepada semua macan tutul.”

“Ketika hal itu didengar oleh si macan tutul, dia merasa ketakutan dan berkata kepada Mahachaturaka, ‘Nak, tolong selamatakan nyawa saya! Jangan katakan kepada singa bahwa saya telah datang ke sini.”

Kemudian dia capat cepat beranjak pergi. Ketika macan tutul itu sudah pergi, seekor harimau mucul di sana.

Waktu Mahachaturaka melihat kedatangannya, dia mulai berpikir keras, ‘Dia mempunyai gigi yang kuat dan sangat tajam. Akan saya yakinkan dia agar dia merobek-robek kulit gajah ini.’

“Dengan rencana ini di benaknya, Mahachaturaka berkata kepada harimau, ‘Nak, sudah lama saya tidak melihatmu. Dan kamu kelihatan sangat lapar. Jadilah tamuku. Gajah ini telah dibunuh oleh seekor singa dan dia meminta saya untuk menjaganya. Tetapi sebelum dia kembali, makanlah sepuasnya, kemudian pergi secepatnya.”

Jika begitu, kata harimau, 'Saya tidak mau melakukan apa-apa dengan gajah ini, kaerna singa mungkin bisa membunuh saya. saya lebih baik pergi dari tempat ini. '

‘Betapa pengecutnya kamu, kata Mahachaturaka.' Makanlah dan jangan khawatir tentangnya. Saya akan beritahu kamu jika si singa kembali, sementara dia jauh dari sini. '

“Harimu termakan umpan Mahachaturaka yang licik. Tetapi dengan susah harimau merobek kulit gajah itu dan mengambil mengambil secukupnya untuk dimakan.

Ketika itu Mahachaturaka berteriak, ‘Hentikan - secepatnya kamu pergi dari sini! Si singa telah datang!’

Mendengar hal ini, si harimau secepatnya lari dengan kencang dan menghilang.

“Mahachaturaka baru saja mulai memakan daging gajah tersebut, melalui robekan yang dibuat oleh harimau, saat itu muncullah seekor serigala yang lainnya yang kelihatannya sangat lapar pula.

Mahachaturaka menyerang serigala itu, mengigitnya dengan taringnya yang tajam dan menghalaunya pergi.

Begitulah akhirnya Mahachaturaka bisa menikmati daging gajah itu seutuhnya, sendirian.

Pesan moral: akal sehat di butuhkan untuk bisa mengalahkan kekeuatan lawan


44 - CERITA TENTANG SEEKOR ANJING DI LAUR NEGERI.

“Di sebuah kota tersebutlah seekor anjing hidup disana yang bernama Chitranga*.

Suatu hari terjadilah kelaparan di negeri itu, karena tidak cukup makanan, anjing-anjing serta hewan-hewan lainnya mulai menderita kelaparan.

Beberepa diantaranya bahkan mati kelaparan.

Chitranga tidak bisa hidup dengan keadaan seperti itu lebih lama lagi dan dia meniggalkan tempat itu untuk pergi ke negara lain.

“Di sana, di negara asing itu, di beberapa kota, karena kelalaian pemlilik sebuah rumah, wanita yang kaya, Chitranga bisa masuk rumah ini setiap hari dan mengisi perutnya dengan macam-macam makanan, sampai puas.

Tetapi pada saat dia keluar rumah wanita kaya itu, diluar dugaannya, beberapa anjing mengelilinginya, dengan perasaan dendam, anjing-anjing itu mulai menggigtnya di seluruh tubuhnya dengan gigi-gigi mereka yang tajam.

Chitranga berpikir, Oh, sangat lebih baik berada di negara sendiri dan tinggal dengan damai walaupun kelaparan. saya akan pulang.’

begitulah, akhirnya Chitranga pulang ke negara asalnya.

Ketika dia sudah tiba, anjing anjing lainnya berkumpul dan mengelilingi nya serta bertanya ,’oh kawan, kasih tahu kami tentang negara asing itu. sperti apakah negara itu? Apakah penduduknya sopan? apa makanan pokok yang mereka makan? apa yang mereka perjual-belikan?

apa yang bisa saya ceritakan tentang negara asing itu, jawab Chitranga.

di negara asig itu, perempuannya ceroboh dan membiarkan semua pintu rumahnya terbuka. disana bisa mendapatkan makanan yang lezat. tapi ada satu kerugian, sanak keluargamu akan menyiksamu sampai mati.

Pesan moral: orang luar mungkin tidak bisa mentoleransi keberuntungan mu akan tetapi sanak keluargamu bisa.


45 - CERITA TENTANG ISTERI BRAHMIN DAN SEEKOR LUWAK

Di sesuatu kota hiduplah seorang Brahmana yang bernama Deva Sharma.

Pada satu hari istrinya melahirkn seorang bayi laki-laki.

Pada hari yang sama, seekor musang betina juga melahirkan seekor bayi musang, tetapi kurang beruntung, dia mati saat melahirkan.

Dengan perasaan belas kasihnya, isteri Deva Sharma mengambil bayi musang itu dan membawanya ke rumahnya untuk dibesarkannya seperti anak laki-lakinya sendiri, dia menyusui bayi musang itu serta memandikannya dan mengurut badannya dengan minyak.

Namun istri Deva Sharma selalu waspada, dia berpikir, bagaimanpun juga, anak musang ini menuruni sifat moyangnyasambil dan mungkin suatu hari dia bisa melukai putra saya.

Dia adalah ibu yang sangat menyayangi anaknya’ Pada satu hari, istri Deva Sharma membuat putranya tidur dan meletakkannya di ranjang kemudian dia ingin menggambil kendinya untuk mengambil air.

Jadi dia berkata kepada suaminya, deva Sharma, saya akan pergi ke sumur untuk mengambil air. Jagalah bayi kita dan pastikan si musang kecil tidak melukainya’.

“Tetapi setelah dia pergi, Deva Sharma pun juga pergi meninggalkan rumah untuk menngemis sedelah.

Sementara itu, seekor ular hitam muncul dari sebuah lubang.

Untuk melindungi bayi Deva Sharma, yang sudah seperti saudaranya sendiri, musang kecil menyerang ular hitam yang merupakan musuh bebuyutnya, berkelahi dengannya, menggigitnya sampai ke bagian-bagian kecil dan membunuhnya.

Mulutnya dan cakar musang kecil belepotan darah ular.

Kemudian, dengan semangatnya untuk menunjukan keberaniannya, musang kecil keluar rumah dan berdiri di depan pintu rumah, menunggu istri Deva Sharma pulang.

“Tetapi waktu istri Deva Sharma sampai dan melihat mulut dan cakar musang kecil belepotan darah, dia berpikir bahwa musang kecil telah membunuh putranya.

Dia memukulkan kendi yang berat penuh air kepada musang kecil dengan keras. musang kecil mati seketika.”

“Ketika dia masuk rumah, dia menemukan anaknya selamat di ranjangnya, dan seeko ular yang hitam yang hancur berantakan tergeletak dekat ranjang putranya.

Menyadari apa yang telah terjadi, istri Deva Sharma menjadi sangat pilu. Dia merasa sangat bersalah sepertinya dia telah membunuh putrana sendiri, dan mulailah dia memukul dadanya serta menyalahkan diri sendiri.

‘Setelah beberapa saat lamanya, Deva Sharma kembali.

Istri deva Sharma menangis menyalahkan Deva Sharma yang telah meninggalkan putranya saat dia mengambil air di sumur terdekat.

Dia menangis dengan pilu dia berkata, dasar orang rakus! Kamu begitu berminat besar untuk derma sampai tidak mendengarkan istrimu. Sekarang menyesallah kehilangan anak lelaki mu yang kedua dan makanlah hasil ketamakanmu.’

Pesan moral: pikirlah dengan seksama dan jangan melakukan sesuatu dengan tergesa gesa.


46 - CERITA TENTANG CHAKRADHARA.

“Di suatu kota hiduplah empat Brahmana sebagai kawan . Mereka sangat baik satu dengan yang lainnya, akan tetapi mereka sungguh-sungguh miskin, lalu mereka mengadakan pertemuan untuk mencari jalan apa yang harus mereka lakukan.

“Terkutuklah kemiskinan ini,” kata mereka. Marilah kita tinggalkan kota ini dan pergi ke tempat lain. '

Begitulah, kemudian mereka tinggalkan rumah mereka, kota, teman dan keluaraga dan mereka memulai perjalanan.

“Tidak lama kemudian, mereka tiba di sebuah kota yang bernama kota Avanti*.

Mereka mandi di sungai dekat kota itu, sungai Sipra*, kemudian mereka sembahyang di sebuah Pura Dewa Siwa.

Ketika mereka keluar dari pura itu, mereka bertemu eorang pertapa yang bernama Bhiravananda*.

Mereka membungkuk memberi hormat didepan pertapa Bhiravananda kemudian menemainya ke pasramannya.

Waktu mereka tiba di pasraman sang pertapa, sang pertapa bertanya: siapa kalian? Darimana asal alain? Dan hendak pergi kemana kalian? Apa tujuan perjalanan kalian?”

'Kami hendak pergi ke tempat dimana kami bisa mendapatkan pekerjaan untuk untuk bisa mendapat uang menuju tempat kematian,' jawab ke empat Brahmana sekawan itu.Kami dengar bahwa anda dianugerahkan kemampuan yang hebat. Tolong beritahu kami cara untuk mendapatkan uang, entah itu dengan pergi ke sebuah gua, tinggal di kuburan, menyemah Dewi Kali dengan menghaturkan nyawa manusia sebagai korban, atau dengan bantuan ilmu hitam. Tolonglah ami.”

“Bhiravananda merasa iba kepada keempat Brahmana sekawan itu, kemudian memberikan satu amulet yang terbungkus kain kepada masing masing Brahmana itu. Pertapa Bhrivananda berkata, Pergilah ke arah pegunungan Himalaya*. Jika salah satu dari amulet kalian jatuh tanpa disengaja, kalian pasti akan mendapatkan harta karun yang persembunyi di tempat dimana amulet itu terjatuh. Gaalilah disitu, ambil harta karunnya dan bawalah pulang. '

“Ke-empat Brahmana sekawan membungkukkan kepala tanda hormat, kemudian memulai perjalan menuju pegunungan Himalaya.”

Setelah berjalan beberapa hari lamanya, satu amulet terjatuh. Brahmana pemilik amulet itu langsung menggali tempat tersebut dan disana dia menemukan harta karun berupa tembaga.

Dia mulai mengumpulkan tembaga tersebut dan berkata kepada teman lainnya: hayo, kalian juga ambil tembaga ini sebanyak kalian bisa membawanya dan mari kita pulang.

Kenapa kita pergi lebih jauh lagi? ' 'Bodoh! kata yang lainnya. Berapapun banyaknya tembaga yang kamu kumpulkan dan bawa pulang, kamu akan tetap miskin. Meri kita lanjutkan perjalanan kita.”

“Wah”, dia menjawab,“kalian boleh melanjut perjalanan, saya akan membawa harta karun tembaga ini pulang.'

Ke-tiga kawanan yang lainnya melanjutkan perjalanan mereka.

“Selang beberapa hari berjalan, amulet Brahmana kedua terjatuh.

Dia mulai menggali ditempat itu dan dia menemukan harta karun berupa perak.

Dia menangis kegirangan dan berkata kepada ke-dua temannya, 'Hayolah, kalian ambil sebanyak yang kalian bisa bawa dan mari kita pulang. Kenapa mesti pergi lebih jauh lagi? '

'Bodoh, 'awab kedua kawanan Brahmana. Berapapun perak kamu bawa pulang, tatp saja kamu akan miskin. Pertama kita menemukan harta karun berupa tembaga dan sekarang berupa perak.

Selannjutnya kita yakin bahwa kita akan menemukan emas. Mari kita lanjutkan perjalanan kita.'

“Kalian berdua pergilah, kata Brahmana kedua, saya akan pulang membawa perak-perak ini.

begitulah, dia kumpulkan perak-perak itu sebanyak dia mampu membawanya dan kemudian dia pulang.

Dua Brahmana lainnya melanjutkan perjalanan. yang lain melanjut perjalanan mereka. Selang beberapa hari, amulet Brahmana ketiga terjatuh.

Dengan girangnya Brahmana ketiga mulai menggali tanah dimana amulet itu terjatuh. setelah menggali agak dalam, Brahmana ketiga menemukan harta karun berupa tumpukan emas murni.

“Hayolah, katanya kepada Brahmana keempat, kamu ambil sebanyak yang bisa kamu bawa.Kemudian kita pulang bersama, kata Brahmana ketiga. buat apa pergi lebih jauh lagi? '

'Tolol, kata Brahmana keempat.Kamu tidak mengerti apa-apa. Pertama, yang kita temukan adalah tembaga, kedua kita temukan perak, ketiga kita temukan emas. Selanjutnya, pasti kita akan menemukan berlian dan mutiara. Jika kita ambil satu berlian saja, hidup kita tidak akan menjadi miskin lagi. apa gunanya kita gendong barang berat ini?Apa artinya mengangkat beban yang berat ini?Marilah kita lanjutkan perjalanan kita,' kata Brahmana keempat.

Brahmana ketiga berkata,' Kamu saja lanjutkan perjalananmu, saya akan tunggu disini hingga kamu kembali, 'kata Brahmana ketiga.

Akhirnya Brahmana keempat melanjutkan perjalanannya seorang diri.

Ketika dia sudah pergi jauh, dia mulai mendapat kesulitan dari uddara yang sangat panas yang membuat dia merasa amat kehausan.

Tidak lama kemudian, dia kehilangan jejak yang ditunjukkan oleh Pertapa Bhiravananda untuk dia ikuti. mulailah Brahmana keempat berputar-putar tak tentu arah.

Sementara dia sedang berjalan tak tentu arah, tiba-tiba dia menemukan seorang laki-laki yang sekujur tubuhnya penuh terbalut darah.

Di kepala laki laki itu terdapat sebuah roda yang tak henti berputar.

Secepatnya Brahmana keempat mendekati laki-laki itu dan bertanya, "Siapakah anda dan apakah roda yang berputar di kepala anda itu? Tetapi siapapun anda, demi Tuhan, beritahu saya secepatnya dimana saya bisa mendapatkan air? '

Setelah dia lontarkan semua pertanyaan tersebut, tiba-tiba roda itu mengarah ke Brahmana keempat dan berputar di kepalanya. Dia berteriak, ,'Kawan apa ini?'

'Roda ini nempel dengan sendirinya di kepala saya dalam keadaan yang sama, “jawab laki-laki itu.'

Kapan saya bisa membebaskan diri saya darinya? Ratap Brahmana keempat dengan keras, ‘ini sangat menyakiti saya.

Jika seorang yang membawa amulet datang ke tempat ini dan berbicara dengan kamu, sat itu roda ini akan melepaskanmu dan menempelkan dirinya di kepala orang yang membawa amulet itu, jawab laki-laki yang berlumuran darah itu.

Kapan anda datang kemari, tanya Brahmana keempat. saya tidak bisa menebak dengan pasti kapan saya tiba disini, jawab laki-laki itu.

akan tetapi saya ingat, itu waktu jamannya Sang Rama, saat itu saya menderita kemiskinan. saya berhasil mendapatlan amulet dalam waktu yang singkat, kemudian saya berakhir disini.

saya melihat seorang dengan sebuah roda yang berputar di kepalanya. saya tanyai dia dengan pertanyaan yang sama dengan pertanyaanmu dan dengan cara yang sama pula roda itu berpindah dari kepala orang itu dan nempel di kepala saya dan terus berputar.'

'Akan tetapi kawan, kata Brahmana keempat, 'Bagaimana kamu bisa mendapatkan makanan dan air dengan roda yang berputar di kepalamu sepanjang waktu?'

'Kawanku, 'kata laki-laki itu, siapapun yang datang ke tempat ini akan terbebas dari rasa lapar, dahaga, umur tua, kematian, akan tetapi menahan sakit sepanjang waktu, seperti yang kamu lihat. Dewa Kuber, dewa kekayaan takut harta karunnya akan tercuri, telah menyiapkan senjata ini. sejak itu tidak ada yang berani mendekati tempat ini kecuali dengan bantuan amulet.Sekarang, say apermisi, selamat tinggal kawan, saya akan pulang..'

Setelah berkata seperti itu, laki-laki itu pergi meninggalkan Brahmana keempat sendirian.

Saat itu Brahmana ke-tiga, Survaranasiddhi sadar bahwa Brahmana ke-empat sudah lama tidak kembali, Brahmana ke-tiga memutuskan untuk mengikuti jejak Brahmana ke-empat dan akhirnya tibalah dia di tempat dimana Brahmana ke-empat berada. Dia temukan temannya (Brahmana ke-empat) berlumuran darah, matanya dibanjiri dengan airmata dan sebuah roda berputar di kepalanya.

'Teman, kata Brahmana ketiga, “apa yang telah terjadi?

'Nasib malang selalu bersama saya,' kata Chakradharam Brahmana ke-empat.

Dan dia menceritakan semuanya tentang roda yang berputar di kepalanya.

Setelah dia selesai bercerita, Brahmana ke-tiga berkata, ,Saudarku, kamu pelajar yang baik, tapi kamu kurang peka. kamu tidak mendengarkan nasehat saya ketika saya beritahu, "mari kita ambil emas ini kemudian pulang". kamu meninginkan intan dan mutiara.Kawanku, sekarang biarlah saya pulang. '

'Bagaimana kamu bisa pulang dan tinggalkan saya disini sendirian,, tangis Brahmana ke-empat.

'Saya setuju dengan mu, balas Brahmana ke-tiga. seseorang akan mennjadi teman apa bila bisa saling membantu.dalam masalahmu, tidak ada mahluk yang bisa melakukan apapun untuk membantumu dan saya tidak memiliki kemampuan untuk melepaskanmu.semakin lama saya melihatmu, semakin sakit hati saya dan semakin keras perasaan saya menyuruh saya lekas pergi dari sini, takut masalah yang sama akan menimpa saya.Jadi, biarlah saya pulang. kamu akan berada disini sebagai akibat tidak mendengarkan nasehat saya..'

'Y'a, kamu benar, kata Brahmana ke-empat, pulanglah!'

Begitulah, Brahmana ke-tiga pergi meninggalkan temannya menjalani nasibnya.

Pesan moral: Keserakahan hanya akan membawa celaka.


47 - CERITA TENTANG BRAHMIN YANG MEMBERI KEHIDUPAN KEPADA SINGA.

“Di ceritakanlah, ada empat orang Brahmana hidup di suatu kota. Mereka berteman baik.

Tiga dari mereka sangat mengerti tentang kitab suci serta sastra agama, akan tetapi mereka kurang mempunyai nalar sehat. Tetapi Brahmana yang keempat kurang tertarik tentang kitab suci, sastra agama, tetapi dia mampunyai nalar sehat.

“Pada satu hari keempat sekawan ini mendiskusikan sesuatu bersama sama.

Mereka bilang, apa gunanya pangkat sarjana, jika tidak mampu meyakinkan raja-raja di negeri luar, atau tidak bisa mendapatkan uang? Jadi, marilah kita mengadakan perjalanan ke arah timur.”

“Sesuai dengan rencana ini, mereka berangkat. Setelah mereka menempuh jarak yang cukup jauh, yang tertua dari empat sekawan itu berkata, hanya satu dari kita yang mempunyai nalar yang baik dan terpelajar. Sekarang permasalahnnya adalah, tidak satupun dari kita yang mampu mendapatkan penghargaan sang raja hanya dengan nalar biasa.

Oleh karena itu janganlah bagi keberuntungan kita dengannya. Biarlah dia pulang. '

“Brahmana kedua berkata tidak seharusnya kita bersikap seperti itu kepada teman kita.

Brahmana ketiga berkata, kita semua besar bersama, main bersama sedari kita kecil, jadi biarkanlah dia ikut lebih dari itu, dia juga harus mendapatkan bagiannya.'

“Akhirnya, yang lain setuju dan mereka semua melanjutkan perjalanan mereka.

Setelah beberapa saat, tibalah mereka di sebuah hutan dimana mereka menemukan tulang belulang seekor singa yang beranakan di tanah.

Salah satu dari empat Brahmana itu menyarakan, ‘marilah kita uji kepintaran kita. Di sini tergeletak bangkai seekor singa. pikirkanlah jika kita bisa membuat dia hidup kembali. Begitulah, satu dari mereka mengumpulkan tulang belulan si singa itu. Yang satu lagi mengumpulkan daging singa dan meletakkannya diatas tulang belulang kemudian menutupnya dengan kulit singa. Brahmana ketiga sangat antusias sekali mengembalikan nyawa si singa, sedangkan Brahmana keemmpat mencegahnya: Hentikan teman, katanya! Demi Tuhan, jangan lakukan itu! Lihatlah kemari, jika kamu berhasil menghidupkan si singa, dia akan membunuh kita semua.'

Akan tetapi Brahmana ketiga berteriak, jangan anggap remeh pengetahuanku ketika kita sudah sampai begitu jauh!' ‘Baik kalau begitu, ‘kata Brahmana yang bernalar baik. tapi tunggu sebentar, saya akan memanjat pohon ini. ' Dia langsung panjat pohon itu dan tinggal diatas.

“Brahmana ketiga menghidupkan si singa. begitu dia hidup kembali, si singa langsung menyerang ke tiga Brahmana itu dan membunuh mereka.

Satu Brahmana yang memiliki nalar baik, menunggu sampai singa itu pergi kemudian baru dia turun dari pohon itu dan kembali ke rumahnya.

Pesan moral: nalar baik kadang lebih diperlukan dari pada pengetahuan.


48 - CERITA TENTANG EMPAT-EMPAT TERPELAJAR, YANG BODOH.

“Di suatu kota tinggallah empat Brahmana sekawan.

Mereka semua sangat polos dan lugu.

Pada satu hari, mereka bercakap satu sama lainnya, marilah kita pergi ke kerajaan yang lain, belajar dengan keras dan kemudian mencari nafkah di sana.

Begitulah akhirnya mereka bersiap-siap untuk berangkat ke Kanyakubja* untuk belajar melanjutkan pendidikan mereka.

Mereka bergabung di sebuah pasraman dan mulai belajar.

Mereka belajar dan bekerja keras di pasraman tersebut selama dua belas tahun.

Kemudian, pada satu hari, mereka berbicra satu sama yang lainnya, ‘Kata sekarang telah memperoleh pengetahuan yang cukup di semua cabang pengetahuan.

Marilah kita menghadap Guru* kita, minta ijin dan berangkat.

Begitulah, mereka lakukan itu dan meninggalkan pasraman tersebut, membawa semua kitab suci yang telah mereka pelajari.

Setelah beberapa lama berjalan, tibalah mereka di sebuah tempat di mana dua arah saling bertemu.

Mereka berhenti dan mempertimbangkan.

Satu dari mereka berkata, arah mana yang akan kita tempuh?

Dikatakanlah disana anak laki-laki seoranng pedagang telah meninggal dan pada saat itu upacara kremasi sedang berlangsung, iring-iringan jenazah yang besar, termasuk beberapa warga yang memiliki posisi penting di kota itu, lewat dalam perjalananmereka ke Smasana.*

“Kemudian satu dari keempat Brahmana itu membuka kitab sucinya dan membacanya: Jalan manapun yang ditempuh oleh orang hebat itu, itulah jalan yang benar dan yang diikuti.

Jadi mereka berkata, marilah kita pergi jalan searah dengan mereka ini (iring-iringan kremasi).

Mereka mulai mengikuti jalan yang dilewati oleh orang-orang penting di negara itu.

Ketika mereka tiba di Smasana (kuburan), mereka melihat seekor keledai berdiri di sana.

Karena mereka tidak bisa memutuskan apa yang harus dilakukan berikutnya, Brahmana kedua membuka kitab sucinya dan membacanya: siapapun yang ada di dekatmu dalam setiap kejadian baik yang menyenangkan maupun yang meyedihkan, dia teman sejatimu.

Jadi mereka berpendapat bahwa si keledai itu adalah teman sejati mereka.

Satu Brahmana memeluk keledai itu, Brahmana yang kedua mencium keledai itu, sementara Brahmana yang ke tiga mulai mencuci kuku-kuku si keledai.

Mereka berkata, dia adalah teman sejati kita.

Sementara itu, dari kejauhan mereka melihat seekor unta datang menghampiri mereka.

Brahmana ketiga membuka kitab sucinya dan membacanya: kebenaran berlalu dengan cepat.

Kemudian Brahmana keempat membuka kitab sucinya dan membacanya:

orang yang bijak sharusnya mengarahkan temannya ke arah kebenaran.

“Dan akhirnya mereka memutuskan bahwa si keledai harus diperkenalkan kepada si onta dan ketika onta mendekati mereka, keempat Brahmana itu mengikat mereka menjadi satu.

“Waktu pemilik keledai, satu tukang cuci, mendengar berita bahwa keledainya sedang diseret oleh seekor onta, dia mengambil sebuah tongkat dan mengejar keempat Brahmana terpelajar yang dungu itu untuk memukuli mereka.

Mereka lari dengan cepat untuk menyelamtkan diri.

Ketika mereka sudah lari beberapa jauh, sampailah mereka di sebuah sungai.

selembar daun pohon Palasa* sedang mengambang disana.

Satu dari mereka berteriak, daun ini yang mengambang ini yang akan membawa kita menyeberangi sungai ini.

Dan dengan ini, dia meloncat ke atas daun itu dan langsung tenggelam.

Brahmana kedua menangkapnya di leher dan dia teringat akan kutipan "Ketika kehancuran sudah berada diambang pintu, seorang bijaksana berkorban sebagian - sisanya mesti di usahakan sendiri.

Jadi, dia mengakhiri, ‘dia harus dipotang menjadi dua bagian!’

Dan mereka memotongnya Brhamana itu menjadi dua bagain dengan sebuah pedang yang tajam.

ke tiga Brahmana yang lain mengembara terus hingga sampailah mereka di sebuah desa.

Di sana, mereka diudang oleh warga desa sesuai dengan tradisi, mereka mengundang ketiga Brahmana untuk tinggal di rumah mereka.

Brahmana pertama di suguhi Sutrika* yang manis.

Waktu dia melihat bahan yang panjang seperti mie, dia teringat satu bait dari kitab suci yang berbunyi: Ketika seorang biasa menggunkan

akal tidak baik, sudah pasti dia harus dihancurkan.

Jadi, dia tidak menyentuh makanan ini dan pergi dengan perut lapar.

Brahmana yang kedua disajikan Mandaka*.

Ketika dia melihat mangkok makan yang berbusa, dia ingat sebuah sajak yang berbunyi: apapun yang berbusa dan menggelembung, tidak akan bertahan lama.

“Jadil, dia juga tidak menyentuh makanan ini dan pergi dengan perut masih lapar.

Brahmana ketiga dsuguhkan sebuah Vatika*.

Waktu dia melihat semua lubang-lubang kecil pada makanan tersebut, dia teringat sebuha sajak yang berbunyi: munculnya kerusakan itu pasti tanda mendekati bencana.

Brahmana ke tiga ini pun juga tidak menyentuh makanannya dan langsung pergi dengan perut masih lapar.

Dan demikianlah ketiga Brahmana terpelajar yang dungu kelaparan dan melanjutkan perjalanan pulang dengan saling mengolok-olok satu dengan yang lainnya.

Pesan moral: pengetahuan yang kosong menjadi bahan tertawaan.


49 - CERITA TENTANG DUA EKOR IKAN DAN SEEKOR KODOK.

“Di sebuah telaga terdapatlah dua ekor ikan tinggal disana yang bernama Shatabuddhi dan Sahasrabuddhi.

Mereka menjalin persahabatan dengan seekor kodok yang bernama Ekabuddi.

Ketiga-tiganya biasanya menghabiskan waktu bersaam-sama di pinggiran telaga membicarakan tentang filsafat.

Suatu sore ketika mereka sedang bercakap-cakap, beberapa nelayan lewat, menjunjung keranjang-keranjang penuh ikan di kepala mereka dan menenteng jala di tangan mereka.

Ketika mereka tiba di telaga itu, mereka berkata satu dengan yang lainnya, 'Telaga ini kelihatannya penuh dengan ikan. Airnya juga tidak begitu dalam. Mari kita datang ke sini besok pagi dan pasang jala kita.'

Dengan berkata seperti itu mereka melanjutkan perjalanan mereka pulang.

Ketika ikan-ikan dan kodok mendengar hal ini, mereka merasa sangat sedih dan berdiskusilah mereka bersama.

‘Kawan,' kata kodok, 'dengarkah kamu apa yang telah dikatakan nelayan-nelayan itu? Apa yang akan kita lakukan? Haruskah kita pergi atau tetap tinggal di sini?'

Sahasrabuddhi ketawa dan berkata, ‘Kawanku, jangan ketakutan hanya dengan mendengar omongan mereka!

Saya tidak yakin mereka akan datang. Tetapi sekalipun mereka datang, saya akan melindungi mu dengan seribu bakat saya, saya tahu beberapa tipu muslihat gerakan didalam air.'

'Kawan, 'kata Shatabuddhi, bicaramu sangat meyakinkan.

Saya tahu kamu sangat berbakat. Saya sendiri mempunyai seratus bakat. Jadi, kita seharusnya tidak meninggalkan tempat kelahiran kita, rumah leluhur kita hanya dengan mendengar omong kosong.'

Ketika hal ini didengar oleh kodok, dia berkata, ‘Wah, kawan-kawanku, saya hanya punya satu keahlian, kemampuan untuk meramal, dan ini nasehat saya agar kita pergi. Saya akan pergi dengan isteri saya ke telaga yang lain pada malam ini juga. ' Begitulah, si kodok pergi meninggalkan telaga itu ke telaga yang lain.

Keesokan paginya, para nelanyan itu tiba, mereka menebarkan jalanya dan menjaring semua jenis penghuni telaga itu, besar dan kecil, ikan-ikan, kura-kura, semua kodok serta kepiting-kepiting.

Shatabuddhi , Sahasrabuddhi, dan isteri mereka mencoba untuk lolos, dengan mempergunakan bakat-bakat mereka bergerak dalam air tetapi sia-sia. Tetapi mereka semua tertangkap di jala dan mati.

Pada tengah hari, para nelayan itu meninggalkan telaga itu dengan senangnya kemabli ke rumah masing masing.

Karena Sahasrabuddhi sangat berat, dia dijinjing di kepala salah satu nelayan, sedangkan Shatabuddhi dijinjing di tangannya. Kodok sementara berlindung di dalam sumur, dia berenang ke permukaan, dan melihat ikan-ikan dibawa oleh para nelayan.

Dia berpaling kepada istetrinya dan berkata, ‘Istrimu lihatlah! Nelayan sedang membawa Sahasrabuddhi, serta seribu bakatnya, di kepalnya, Shatabuddhi dengan seratus bakatnya sedang bergantung di tangan nelayan itu. Sementara saya, Ekabuddi hanya memiliki satu bakat untuk meramal, sedang berenang dengan bahagia di air telaga ini.'

Pesan moral: Begitu ada tanda bahaya, selamatkanlah dirimu!

Pesan moral : begitu ada tanda bahaya, selamatkanlah dirimu.


50 - CERITA TENTANG SEEKOR KELEDAI YANG MENYANYI.

'Di sebuah kota, disana hiduplah seekor keledai yang bernama Udhhata *.

Dia milik seorang tukang cuci.

Pagi hari, Udhhata menggendong barang-barang tukang cuci yang berat sementara pada malam hari, dia diperbolehkan mengambara sesuka hati di ladang.

Tetapi setiap pagi, Udhhata akan kembali ke tukang cuci tepat pada waktunya.

Dia takut karena kalau dia gagal melakukannya itu , tukang cuci akan mengikatnya sepanjang malam.

Pada satu malam, ketika Udhhata sedang berkeliaran di ladang, dia bertemu dengan seekor serigala dan mereka mulai berteman. Sekarang Udhhata, karena gemuknya, bisa merusak pagar tanam-tanaman, dimana dia dan serigala suka masuk ke ladang-ladang ketimun.

Jika Udhhata sedang makan ketimun dengan rakusnya, serigala akan memangsa unggas dari peternakan dekat sana.

Kemudian pagi-pagi, mereka kembali ke rumah mereka masing-masing.

Pada satu malam yang istimewa, Udhhata sedang berdiri di tengah-tengah hamparan ladang ketimun, tiba-tiba dia berkata kepada serigala,' Nak, lihatlah bulan purnama dan indahnya malam tanpa ber-awan.Saya ingin menyanyi. Katakanlah, Raga* apa akan saya menyanyi?’

'Paman', balas serigala, paman datang untuk mencuri dan paman hanya akan mengundang bahaya jika paman menyanyi. Pencuri seharusnya selalu diam, apa lagi, lagu paman tidak begitu bagus.Kedengarannya seperti seorang sedang meniup sebuah kerang! Dan suara paman bisa didengar sepanjang jalan. Para petani sedang tidur. Jika suara paman membangunkan mereka, mereka akan keluar dan memukul kita. Jadi, makanlah ketimun-ketimun yang manis ini dan lupakan ide paman untuk menyanyi.

' Ketika Udhhata mendengar hai ini, dia berkata, 'Nak, kamu adalah binatang liar. Kamu tidak bisa menghargai seni musik. Itulah sebabnya kamu berbicara seperti itu. '

'Paman, itu sangat benar ', kata serigala.' Akan tetapi paman tidak tahu cara menyanyi yang baik. Paman hanya tahu cara untuk meringkik. Dan apa gunanya menyanyi seperti itu jika hanya akan membawa petaka? '

Udhhata berkata,' Kamu bilang bahwa saya tidak tahu caranya menyangi, tetapi saya tahu semua tentang musik. '

‘Paman,' kata serigala, jika paman begitu bertekad untuk menyani, saya akan tinggal luar pagar dan berjaga –jaga untuk para petani. Kemudin paman boleh menyanyi sepuas hati paman.'

Serigala kemudian bersembunyi di belakang pagar tanam–tanaman.

Ketika para petani mendengar seekor keledai meringkik, gigi-gigi mereka dimerutuk ?karena marah dan lari menuju Udhhata yang sedang bernyanyidengan membawa tongkat di tangan mereka.

Pada saat mereka melihat si keledai (Udhhata), mereka memukulinya dengan keras hingga dia terjatuh di tanah . Kemudian para petani mengambil sebuah mortir yang terbuat dari kayu dan tanpa dasar didalamnya, kemudian mereka mengikat leher Udhhata dengan disana.

Lalu mereka kembali ke pondok mereka masing masing dan melanjutkan tertidurnya.

Seperti biasanya, Udhhata tidak lama kemudian melupakan rasa sakitnya dan berdiri.

Waktu keledai loncat diatas pagar, dengan mortir kayu tergantung di lehernya,

Serigala melihatnya dan berkata dengan senyuman manis, ‘paman, lagunya benar-benar bagus.Saya meminta paman untuk tidak menyanyi, tetapi paman tidak mendengarkan saya. Kalung yang istimewa ini adalah penghargaan buat lagu paman!’

Pesan moral: selalu ada tempat dan waktu tertentu untuk melakukan apan pun.


51 - CERITA TENTANG RAJA CHANDRA.

“Di sebuah kota kerajaan hiduplah seorang raja yang bernama Raja Chandra.

Salah satu putra Raja memlihara beberapa ekor monyet.

Mereka selau memberikan makanan yang lezat-lezat kepada monyet-monyet itu sehingga mereka menjadi hidup subur dan menjadi gemuk.

Pimpinan kelompok monyet-monyet itu adalah pengikut filasafat Shukra, Brihaspati dan Chanakya*. Tidak hanya dia mengikuti disipline filsafat-filsafat tersebut, tetapi dia juga selalu menasihati yang lain untuk melakukan hal yang sama.

Diceritakanlah sekarang di istana juga terdapat sepasang domba jantan, yang biasanya menarik kereta kencana para putri raja yang masih muda.

Salah satu dari domba tersebut sangat rakus dan dia akan masuk dapur pada waktu yang tidak biasa dan mengganyang makanan apapun yang ada disana.

Tukang masak menjadi sangat marah kepadanya dan memukulinya dengan apapun yang dia temukan di dapur: kayu-kayu, barang barang pecah belah yang terbaut dari tanah liat, pot yang dibuat dari tembaga dan yang lain-lainnya dan mengusir dia keluar.

Ketika kepala monyet menyadari akan ini, nalurinya mengatakan bahwa, pertengkaran ini diantara tukang masak dan domba jantan akan membawa kehancuran kaum monyet. Domba jantan ini ketagihan makanan, berlari masuk dapur, dan membuat para tukang masak menjadi sangat marah. Mereka memukulinya dengan apa saja yang mereka pegang di tangan. Pada satu hari, ketika tukang masak tidak menemukan apa-apa untuk memukuli si domba jantan, mereka memukulinya dengan sepotong kayu yang ber-api. Si domba jantan terbungkus dengan bulu wolnya akan dengan mudah sekali terbakar. Api menyala, kemungkinan dia akan lari secepatnya ke dalam kandang yang penuh dengan rumput.

Dan ini akan menjadi kisah terakhir kalangan monyet di istana tersebut! Bagaimanapun, saya mendapat firasat bahwa ini semua akan akhirnya terjadi seperti ini. '

Akhirnya kepala monyet memanggil semua anggotanya (para monyet) dan berkata kepada merka, 'Pertengkaran ini, diantara tukang-tukang masak dan si domba jantan akan menimbulkan akibat tidak baik untuk kita. Siapapun yang ingin tetapi hidup, harus meninggalkan istana ini segera.

Marilah kita tinggalkan istana ini sebelum kita semua terbakar dan musnah. '

Tetapi monyet-monyet yang gila tidak memperhatikan nasehatnya.

Mereka hanya ketawa dan berkata, 'Kamu sudah menjadi tua dan agak kurang waras. Itu sebabnya kamu bicara seperti itu. Kita pasti tidak akan meninggalkan istana yang seperti surga ini, dimana putera raja memberi berbagai makananan yang lezat kepada kita, dengan tangan mereka sendiri. Di hutan, semua yang kita akan mendapat hanyalah buah-buahan yang jijik, pahit, mentah atau sudah kelewat matang. '

Ketika dia mendengar ini, dengan bercucuran air mata kepala monyet berkata dengan sedihnya, 'Kamu si bodoh! Kamu tidak mengerti kalau hidup yang bahagia ini akan berakhir.Makanan yang enak akhirnya menjadi racun. Saya tidak mau melihat kehancuran suku saya di depan mata saya sendiri, jadi saya lebih baik pergi ke hutan. '

Kemudian, kepala monyet menyerakhan semuanya dan pergi ke hutan.

Pada satu hari, tidak lama kemudian, domba jantan memasuki dapur lagi. Seorang tukang masak yang tidak bisa mendapat apapun kecuali sebuah kayu yang tengah menyala dan memukuli domba jantan dengan kayu yang menyala tersebut.

Tubuh domba jantan yang ditutupi dengan bulu wol yang tebal, mulai dijilat api dan dia lari ke kandang, mengembik. Dia berguling-guling di atas tumpukan rumpat yang ada di sana dan ini membuat tumpukan rumput langsung terbakar api. Dan tidak lama kemudian, api mulai menyelubungi semuanya disekitar sana.

Beberapa kuda terbakar, ada yang kehilangan mata mereka, setengah-terbakar, terlepas dari tali dan mereka mulai lari tergesa-gesa dengan perasaan sangat panik. Panikan disana sini. Raja sangat gelisah ketika mendengar berita ini. Dia mengumpulakan semua doker-dokter hewan dan berkata kepada mereka, 'Tolong berikan resep obat untuk menyembuhkan luka bakar kuda-kuda ini.'

Dokter-dokter hewan mencari keterangan dari sastra-sastra dan berkata, ‘Yang Mulia, sehubungan dengan luka bakar ini, dokter ahli mengatakan bahwa luka bakar akan sembuh jika lemak kera di oleskan pada luka tersebut.'

Kemudian raja memerintakan untuk pembunuhan monyet-monyet di istana dan mengambil lemaknya untuk mengobati luka bakar kuda kuda beliau.

Orang-orang membunuh mereka semua dengan kayu-kayu dan alat apapun yang mereka temukan.

Ketika kepala monyet mendengar tentang kematian anggotanya, dia menjadi sangat sedi.

Dia tidak makan dan mulai berkelana dari satu bagian hutan ke yang lain.

Dia berpikir, 'Bagaimana caranya saya bisa membuat sang raja membayar semua perbuatan jahatnya. '

Pada suatu hari, kepala monyet, ketika sedang berkelana tiba tiba merasa dahaga dan sampailah dia di sebuah danau yang penuh dengan bungan teratai yang mengembang indah sekali.

Sekarang, sebagai penyelidik, dia tahu telahada jejek-jejek kaki manusia dan hewan menuju ke danau akan tetapi tidak satupun kelihatannya kembali.

Dia mulai berpikir, 'Pasti ada raksasa yang telah menyeret mereka ke dalam danau ini ketika mereka sedang minum air. Saya akan loncat ke lubang batang pohon teratai dan minum dari jarak yang aman. '

Jadi, itulah yang dia lakukan.? Sementara dia sedang minum air, dari dalam danau muncul satu rakasa, dengan kalung batu permata tergantung di lehernya.

‘Ho, kamu, teriaknya kepada kepala monyet' Saya memakan siapapun yang memasuki danau ini. Tetapi saya belum pernah melihat satupun yang secerdik kamu, yang bisa minum air danau tanpa kelihatan kapan datang. Saya sangat puas dengan kamu. Kamu boleh meminta apaun kamu mau dan saya akan mengabulkan permintaanmu. '

'Terima kasih', jawab kepala monyet, ‘tetapi pertama, tolong kasi tahu saya berapa orang kamu bisa makan sekalian? ' Saya bisa memakan seratus, ribuan dan bahkan jutaan,' jawab Raksasa itu. 'Tetapi mereka harus masuk danau. Di luar danau saya tidak bisa menyentuh bahkan seekor serigala.'

Dengarlah, ‘kata kepala monyet, ‘Saya punya musuh seorang raja. Sekarang, kalau kamu berikan saya kalung milikmu, saya janji akan meyakinkan raja itu dan pengikutnya untuk masuk danau ini. '

Raksasa itu percaya kata-kata pemimpin kera dan memberi kalungnya, sambil berkata, 'Saya serahkan semuanya kepadamu. ' Kepala monyet memakai kalung itu di lehernya dan berayun dari pohon ke pohon hingga dia sampai di kota raja Chandra. Ketika orang-orang melihat dandanannya mereka berkata, 'Kepala monyet, dimana kamu selama ini? Dan darimana kamu mendapatkan kalung ini? Kecemerlangannya bisa membuat matahari menjadi malu.’

'Kuber, Dewa harta benda telah memberinya kepada saya,' jawab kepala monyet. 'Dia diam-diam telah membuat sebuah danau di sebuah hutan. Siapapun yang mandi di danau itu pada hari minggu, ketika matahari baru terbit, atas berkah Tuhan, akan mendapat kalung permata seperti di leher saya.,'

Akhirnya, raja juga mendengar tentang ini. Dia memanggil kepala monyet dan menanyainya, 'Kepala monyet, apakah danau yang penuh dengan kalung permata benar-benar ada? '

‘Yang Mulai,’ kata kepala monyet,, 'Kalung yang menghiasi leher saya ini adalah bukti nyata. Jika Tuan mau, datanglah bersama saya dan saya akan tunjukkan danau itu. '

‘Kalau begitu.’ kata raja, .saya sendiri akan datang dan membawa seluruh keluarga dan pejabat bersama ku, supaya mereka bisa memperoleh banyak kalung. '

'Silahkan lakukan,' kata kepala monyet.

Dan begitulah, serakah akan batu-batu permata, semua keluarga raja: isteri, pembantu, para menteri dan semua orang lain berangkat dengan kepala monyet.

Kepala monyet dengan senang hati di letakkan di pangkuan raja, dan di elus dan di sayang. Rombongan itu tiba di danau pagi-pagi sekali.

Kepala monyet berkata kepada raja, ‘Yang Mulia, siapapun yang memasuki danau, waktu matahari terbit, mendaapt hadiah, tetapi semua harus masuk bersamaan. Kamu bisa memasuki danau dari tempat yang berbeda, saya akan tunjukkan kepadamu. '

Jadi raja pergi dengan kepala monyet dan yang lain masuk ke dalam danau dan dimakan oleh Raksasa.

Ketika yang lainnya tidak kembali, raja bertanya kepada monyet, 'Kepala monyet, kenapa orang orang ku begitu lamaidak muncul permukaan? '

Kemudian kepala monyet memanjat sebuah pohon dan berteriak dari atas, 'Raja jahat! Keluarga dan pejabat-pehabat mu telah dimakan oleh Raksasa yang tinggal di danau ini. Kamu membunuh seluruh keluargaku dan saya telah melakukan balas dendam kepadamu. '

Kepala monyet melanjutkan, 'Mereka berkata bahwa tidak berdosa jika mengembalikan kejahatan kepada kejahatan. Wah, kamu menghancurkan ras saya dan saya telah menghancurkan rasmu juga. Saya menyelamatkan kamu karena dulu kamu adalah tuan saya. ' Ketika raja sudah pergi, Raksasa muncul dan berkata dengan senang kepada kepala monyet, ‘Selamat, kepala monyet! Kamu telah menghancurkan musuhmu, menjadi teman saya dan juga memperoleh sebuah kalung batu permata. Dengan minum air melalui sebuah tangkai bunga teratai, kamu telah mencapai semua yang kamu iniginkan.'

Pesan moral: keserakahan pada akhirnya pasti akan membawa bencana dan kehancuran.


A - CERITA TENTANG ANAK LAKI PEDAGANG.



CERITA TENTANG SEORANG ANAK LAKI-LAKI SEORANG SAUDAGAR.



Di sebuah kota tingallah seorang pedagang yang bernama Sagaradatta*.

Dia mempunyai seorang anak laki-laki.

Pada satu hari, anak laki-laki itu membeli sebuah buku seharga seratus rupees*. Didalam buku itu yang tertulis hanyalah satu bait sajak yang bunyinya sebagai berikut:

"Kamu selalu mendapatkan apa yang kamu inginkan"?

Ketika Sangardatta melihat buku anak laki-lakinya, dia bertanya,'Kamu bayar berapa buku ini?’

'Seratus rupees', jawab anak laki-lakinya.

"Kamu anak laki-laki yang bodoh,' kata ayahnya.' Kamu seharusnya merasa malu terahadap dirimu sendiri. Jika kamu bayar saratus rupees untuk satu buku yang isinya hanya satu bait sajak saja, manabisa kamu bisa berhasil dalam bisnis?Mulai hari ini dan selanjutnya, jangan masuk rumah ku lagi,' kata ayahnya!’

Dengan kata-kata kasar seperti itu, dia membuang anaknya dari rumahnya.

Sungguh menyedihkan, anak laki-laki Sagardatta berangkat ke kota yang lain untuk menetap disana.

Setelah beberapa hari, satu dari penduduk bertanya kepadanya, 'Siapa namamu dan darimana asalmu?.'

'Anda pasti memperoleh apa yang anda inginkan,'? jawabnya.

Dan siapapun yang menanyainya dengan pertanyaan yang sama,dia akan menerima jawaban yang sama pula.

Dan begitulah anak laki-laki Sagardatta dikenal dengan sebutan 'Ambillah apa yang datang padamnu’.

Pada satu hari, seorang puteri raja yang cantik dan muda bernama Candravati, ditemani oleh dayang perempuannya menghadiri satu perayaan di kota. Sementara dia disana, dengan kebetulan dia melihat seorang pangeran yang sangat tampan dan langsung Kamadewa* membidikkan panah asmara ke dalam hatinya.

Puteri raja berpaling kepada dayangnya dan berkata, 'Carikan satu cara buat saya untuk bisa bertemu pangeran itu!’

Begitulah, dayang perempuan pergi menemui sang Pangeran dan berkata 'Tuan hamba, Puteri raja yang bernama Chandravati mengirim saya untuk menyampaikan pesan kepada anda. Inilah pesan yang dia kirim, 'Saat saya melihat kamu, panah asmara telah membidik hati saya' Datanglah kepadaku secepatnya atau saya akan mati'.

Tapi bagaimana saya bisa masuk istana untuk menemui puteri raja? ' tanya sang pangeran.

'Baiklah,' jawab dayang perempun, ‘ketika hari mulai gelap, tuan akan menemukan seutas tali yang bergelantung dari salah satu jendela istana. Tuan bisa memanjat tali itu dan masuk ke dalam kamar Tuan Puteri.'

'Baiklah,'kata sang Pangeran, ‘jika Tuan Puteri memang menginginkan saya melakukan ini, saya pasti akan datang.'

Akan tetapi ketika saat nya tiba, sang Pangeran berpikir, 'Tidak pantas buat saya menemui Tuan Puteri dengan cara seperti ini.’

Dan jadi, sang Pangeran memikirkan masalah ini dengan hati-hati, akhirnya sang Pangeran memutuskan untuk tidak menemui Tuan Puteri.

Sementara, si 'ambil lah apa yang datang kepadamu' ?sedang berputar-putar di kegelapan, ketika dia tiba istana putih dan melihat seutas tali bergelantungan dari atas.

Penasaran ingin tahu tali itu buat apa, dia kemudian memanjatnya.

Ketika dia sampai di jendela Tuan Puteri, karena keadaan gelap, Tuan Puteri mengira behwa yang datang pasti Sang Pangeran.

Dia songsong kedatangannya dengan hangat, menyuguhkan makanan dan minuman serta menghiburnya dengan mewah.

Kemudian Tuan Puteri berkata kepadanya, 'Saya jatuh cinta kepadamu pada pandangan pertama dan saya adalah milikmu, jiwa dan raga ini. Di hati saya, saya tidak akan bersuamikan yang lain selain kamu. Tetapi kenapa kamu tidak bicara dengan saya?”

'Kamu selalu mendapatkan apa yang kamu inginkan’?, balas anak laki-laki Sagardatta.

Ketika Tuan Pputeri mendengar jawaban itu, dia menyadari bahwa yang ada di depannya bukanlah kekasihnya, sang Pangeran.

Dia sangat marah, mengusirnya secepatnya dan mambuatnya turun melalui jalan yang sama ketika dia datang.

Si 'ambillah apa yang datang kepadamu'?keluar dengan rendah hati dan pergi ke sebuah pura terdekat dan tidur disana.

Sekarang, diceritakan, seorang penjaga malam di pura itu telah membuat janji dengan seorang perempuan nakal untuk bertemu di kuil itu. Si penjaga malam membangunkan anak laki-laki Sagardatta dan bertanya, 'Siapa kamu? '

'Ambillah apa yang datang kepadamu,’ jawab anak laki-laki Sagardatta.

Penjaga berusaha menyembunyikan kebiasaan yang buruknya, jadi dia berkata kepada, "ini adalah pura yang sangat tua dan rusak, tidak ada yang tinggal disini. Sebaiknya kamu pergi ke rumah saya dan beristirahat di sana.'

Dan dia menunjukkan rumahnya.

Si 'ambillah apa yang datang kepadamu'? setuju dan pergi ke sana. Akan tetapi dia memasuki kamar yang salah.

Di dalam kamar itu, anak perempuan penjaga malam yang cantik itu bernama Vinayavati* sedang menunggu pacarnya, mereka telah membuat janji untuk bertemu.

Ketika si 'ambillah apa yang datang kepadamu' ?tiba disana, saat itu keadaan kamar agak sedikit gelap.

Berpikir bahwa yang datang itu adalah pacarnya, Vinayavati mengawininya sesuai dengan ritual Gandhrava rites*.

Sesudah ini dia bertanya, 'Kenapa kamu tidak bicara dengan saya ?. '

Dia menjawab , ambillah apa yang datang kepadamu. ,

Pada saat Vinayavati mendengar ini, dia menyadari bahwa laki-laki itu bukan pacarnya tetapi orang lain dan dia berpikir, 'Bila kamu dalam keadaan tergesa-gesa akan sesuatu dan tidak berpikir lagi tentang hal itu maka, hal semacam inilah yang terjadi.'

Setelah itu dia mengutuk si 'ambillah apa yang datang kepadamu' dan mengusirnya dari rumahnya.

Ketika dia keluar dari rumah tersebut, dia melewati prosesi pernikahan yang besar. Pengantin laki bernama Varakeerti* berasal dari desa yang lain untuk menikah.

Si 'ambillah apa yang datang kepadamu' ikut bergabung dengan iring-iringan tersebut yang sedang berjalan menuju rumah pengantin perempuan.

Sekarang ayah pengantin perempuan sedang mendirikan sebuah panggung yang isitimewa.

Di jalan utama untuk upacara pernikahan dan pengantin perempuan itu sedang duduk di tempat ini dengan pakaian dan perhiasan yang sanagt bagus. Dia menunggu datangnya pengantin laki-laki.

Tiba-tiba, seekor gajah liar yang telah membunuh majikannya, muncul di tempat ini.

Ketika mereka melihatnya gajah itu, semuanya lari pontang panting untuk menyelamatkan diri.

Tetapi pengantin peremuan terlalu takut untuk bergerak.

Ketika si 'ambillah apa yang datang kepadamu' melihat hal ini, dia bergegas mendatangi pengantin perempuan ini, dan berkata, Jjangan takut, saya akan melindungimu!’

Dan dia memegang tangan kiri perempuan ini dan menenangkannya.

Setelah itu dia mencabut sebuah paku yang besar diri panggug pengantin dan dengan berani menghempiri gajah liar itu dan menusukkan paku itu ke tubuh gajah.

Keberuntungan ada padanya, gajah itu merasa ketakutan dan lari menjauh dari situ.

Selang beberapa saat, pengantin laki, dengan teman-teman dan keluarganya kembali dan ketika dia melihat laki-laki lain menggandeng tangan pengantin perempuan dia berkata kepada ayah pengantin perempuan, ‘lihatlah ini! Anda menjanjikan saya tangan gadis ini tapi sekarang anda memberinya kepada orang lain.’

'Dengar', jawab ayah pengantin perempuan, ,saya begitu takut waktu gajah muncul di tempat ini sampai saya juga ikut lari seperti halnya kalian semua. Saya sungguh sungguh tidak tahu apa yang terjadi saat saya tidak ada disini. '

Kemudian dia berpaling kepada anak perempuannya dan berkata, ‘Apa yang telah terjadi? Katakanlah kepadaku!’

Anak perempuannya menjawab, 'Ketika nyawa saya terancam bahaya, laki-laki ini datang dan memperlihatkan keberaniannya yang luar biasa dan menyelamatkanku. Sekarang, saya tidak akan menikahi siapa-pun kecuali dia. ,

Setelah itu, hal ini menjadi bahan argumentasi sepanjang malam berlalu.

Keesokan paginya, seluruh isi kota menggunjingkan tentang berita ini.

Raja dan puteri raja juga mendengar berita ini dan datang sendiri untuk ingin mengetahui semuanya.

Anak perempuan penjaga purapun juga mendengar berita ini dan datang ke tempat itu.

Apa semua ini?’ Raja bertanya.

'Ambillah apa yang datang kepadamu', jelaskan ini padaku' dia jawab.

Waktu puteri raja mendengar jawaban ini, dia langsung teringat kejadian malam lalu, dan berpikir, Tuhan juga tidak bisa menentang nasib.

begitu juga anak perempuan penjaga malam di pura ketika dia mengengar jawaban yang ini, dia juga ingat kejadian malam yang lalu berpikir, Dan waktu pengantin perempuan mendengar jawaban ini, dia berkata, . ...

..Ketika raja mendengar mereka bercakap seperti begini, dia merasa bahwa ada sesuatu yang aneh dibalik semua, ini dia mendesak untuk tahu kebenarannya.

Puteri raja dan dua perempuan itu menceritakan dengan mendetail kepada raja apa yang terjadi diantara mereka dan si 'ambillah apa yang datang pada mu.

Kemudian dengan perayaan yang mewah dan upacara, raja memberikan puterinya dalam perkawinan kepada si 'ambillah apa yang datang padamu" dan mengghadiahkan seribu desa dan segala macam perhiasan mewah.

Karena Raja tidak mempunyai putra, beliau mengangkat si'ambillah apa yang datang padamu' sebagai ahli waris tahta kerjaan.

Penjaga malam pura juga memberikan puterinya kepada si 'ambillah apa yang datang padamu' untuk di nikahi, dengan harta yang dibawa seorang perempuan saat perkawinan sesuai dengan apa yang dia sanggup memberi .

“Si pedagang juga memberi putrinya kepada si 'ambillah apa yang datang padamu' untuk di nikahi dan menghujani dia dengan hadiah-hadiah.

Ketika semua ini sudah selesai, 'ambillah apa yang datang pada mu' mengatur supaya orang tuan serta keluarganya dijemput untuk tinggal bersamanya dan hidup dengan bahagia untuk selama-lamanya.

Pesan moral: berbuatlah yang terbaik, serahkan hasilnya pada yang Kuasa.


B - CERITA TENTANG SEEKOR BURUNG MERPATI DAN SEORANG PEMBURU.

Seorang pemburu burung –burung yang jahat, dengan penampilan seperti Dewa Yama, yang sering mengembara di tengah hutan. Dia tidak menpunyai teman ataupun keluarga.

Dia dikucilkan oleh semua orang karena perbuatannya yang kejam memburu burung dan kemudian membunuhnya. Pada satu hari, ketika si pemburu sedang mengembara di tengah hutan, dia menangkap seekor burung merpati betina dan melemparnya ke dalam sebuah kurungan.

“Sekarang, hari beranjak sore.

Tiba-tiba badai yang ditemani dengan hujan lebat turun dengan ganasnya hingga sepertinya kiamat (Pralaya) sudah tiba.

Si pemburu merasa sangat ketakutan dan mulai gemetar karena terguyur air hujan yang membuat dia kedinginan.

Dia mencari sebuah tempat buat berlindung dan berdiri dibawah sebuah pohon.

Setelah beberapa saat dia berdiri dibawah pohon itu, langit menjadi terang dan waktu.

Si pemburu memandang ke atas, dia melihat sebuah bintang yang cerah gemerlapan.

Kemudian dia berkata dengan suara yang keras, ,'Saya mencari perlindungan dari siapapun yang tinggal di pohon ini. Biarkanlah dia melindungi saya! Saya tidak berdaya atas cuca dingin dan kelaparan.'

Sekarang, sepasang burung merpati sudah lama memiliki sarang di pohon itu.

Malam ini, burung merpati betina tidak kembali ke sarangnya, suaminya sangat cemas dan sedih memikirkannya.

Angin berhembus dengan kencang ditemani hujan, dia berkata, 'Isteri saya belum kembali. Rumah saya sepi tanpa dia.'

Sekarang, isterinya yang telah ditangkap si pemburu dan di kurungnya di sebuah gua.

Ketika merpati betina yang terkurung di dalam penjera mendengar suaminya bicara seperti itu, dia membalasnya: 'Saya ingin memberitahu untuk kebaikanmu. Tolong dengarkan.

Jika seseorang datang ke rumahmu untuk berlindung, dia harus dilindungi, sekalipun itu berarti mempertaruhkan jiwamu.

Pemburu itu kedinginan dan kelaparan, dia minta perlindunganmu.

Jadi buatlah dia merasa diterima. dan jangan benci pemburu itu karena dia telah mengurung yang kamu cintai. Saya ditangkap dan sekarang di penjara (dikurung) itu hanya karena hasil dari perbuatan saya yang telah silam.'

Merpati betina melanjutkan: 'Kemiskinan, kesakitan, kesedihan, keterkurungan dan bencana, semua itu datang dari hasil perbuatan kita sendiri. Jadi, berhentilah membenci si pemburu, karena tertangkapnya saya, berpikirlah tentang agama dan sambutlah dia sesuai adat kita.'

Ketika merpati jantan mendengar kata-kata bijak dari istrinya, dia menghampiri si pemburu dengan ramah dan berkata kepadanya, 'Temanku, selamat datang! Anggaplah tempat ini sebagi rumahmu dan jangan biarkan sesuatu mencemaskan mu.'

Ketika sipemburu mendengar ini, dia menjawab, ‘Oh, burung merpati! Tolong lindungi saya dari cuaca yang buruk ini.'

Burung merpati terbang ke subuah tempat dan kembali dengan membawa batu bara yang menyala-nyala.

Da menjatuhkannya diatas dedaunnan kering dan api langsung menyebar dengan cepat.

Dia berkata kepada si pemburu, hangatkanlah dirimu dan jamgan takut. Tetapi sedihnya, saya tidak mempunyai apa-apa untuk menghilankan rasa laparmu.

Banyak orang menjamu ribuan, ratussan, puluhan tetapi saya begitu malang hingga saya tidak mampu menolong diri saya sendiri. Tapi apa baiknya tinggal di rumah seorang yang sedang dilanda kesusahan hingga dia tidak mampu memberi makan satu tamu pun? '

Merpati jantan melanjutkan, jadi apa yang akan saya lakukan adalah mengorbankan diri saya yang tidak berguna sehingga menjadi berguna, sehingga saya tidak akan dikatakan menolak tamu yang kelaparan.'

Burung merpati jantan hanya menyalahkan dirinya sendiri dan tidak berkata satu kata penyesalanpun kepada si pemburu itu.

Kemudian dia berkata, tunggu sebentar, 'Segera saya akan memuaskan rasa laparmu.'

Setelah berkata begitu, merpati jantan dengan riangnya burung yang soleh itu terbang mengelilingi api dan kemudian memasukinya, seperti layaknya memasuki sarangnya sendiri.

Ketika si pemburu melihat hal itu, hatinya merasa sangat sedih dan berkata , Seorang yang jahat selalu berada dalam kekacauan, akhirnya dia harus membayar tindakannya yang jahat. Saya, sebagai hasil dari dosa dosa saya, tanpa di ragukan lagi, pasti akan masuk neraka. Tetapi burung merpati yang berbudi ini telah menjadi contoh yang sempurna buat saya. Mulai hari ini dan seterusnya, saya akan meninggalkan semua kesenangan saya dan menjalani hidup dengan disiplin.'

Dan si pemburu kemudian membuang jaringnya, melepaskan burung merpati betina yang bernasib malang serta dia menghancurkan kurungannya sampai berkeping-keping.

Ketika merpati betina melihat suaminya terbakar di api, dia mulai menangis keras dengan sedih. ‘Oh Tuhanku! Ratapnya, apa artinya hidup saya tanpa kamu? Hidup janda kehilangan harga diri,kehilangan kehormatan di rumah serta kelihangan hakatas pembantu-pembantu.'

Dan jadi, patah hati dan menangis dengan sedih, merpati betina, istri yang setia terbang ke dalam api yang sama.

Beberapa saat setelah kematiannya, merpati betina melihat suaminya telah berubah menjadi makluk suci.

Dia menunggang sebuah kerata beroda dua dan memaki perhiasan yang mahal sekali.

Merpati betina menyadari bahwa dia juga berubah menjadi makluk yang suci dan dia pergi menemui suaminya.

‘Isteriku yang berbudi baik, ‘kata merpati jantan, 'Kamu telah melakukkan sesuatu yang terbaik dengan mengikutiku.’

Dan, untuk si pemburu, dia tinggalkan semua kebisaan buruknya dan mulai hidup di hutan sebagai pertapa. Pikirannya menjadi bebas dari segala bentuk keinginan.

Pada satu hari, dia melihat hutan terbakar didepannya.

Dia berjalan kedalam kobaran api tersebut dan badannya hangus terbakar.

Dia telah membayar semua dosa-dosanya dan kemudian dia masuk surga dengan bahagia.

Pesan moral: pengorbanan diri sendiri adalah korban yang tertinggi.


C - CERITA TENTANG SOMILAKA.



“Di sebuah kota, tinggal seorang penenun bernama Somilaka. Kain yang dia menenun begitu istimewa sampai ini patut dipakai oleh raja-raja.

Tapi, bagaimanapun juga nafkahnya hanya cukup untuk hidup sederhana. Di sisi yang lain penunun yang lain, yang meniptakan kain yang mutunya lebih rendah, mejadi kaya sekali .

“Melihat ini, penenun kata kepada isterinya, ‘Sayangku, lihatlah ini,! Penenun-penenun yang lain menciptakan kain yang mutunya lebih rendah dan masihpun mereka menjadi kaya, sedangkan saya tetap meskin! Saya sudah capek dengan tempat ini. Saya ingin pergi ke kerajaan lain dan membuat uang disana.’

‘Suamiku tersayang,' ‘jawab isterinya, ‘anda agak salah kalau kamu memikir bahwa kamu akan membuat uang di tempat lain, waktu anda tidak bisa membuat uang disini,’

‘Dan jadi,’ melanjut, ‘meneruskan saja bekerja disini.’

‘Sayangku’, kata penenun, ‘apa yang kamu kata tidak benar.’

.’‘Biarpun kalau takdir menyediakan makanan, anda harus melebarkan tanganmu dan mengambil, ini tidak jatuh di mulutmu, lebih baik daripada seekor kijang jatuh di mulut seekor singa yang bersandar. Itu adalah orang-orang yang berkerja teguh, yang berhasil.’

‘Dan jadi, sayangku, ‘melanjut penenun ini, ‘saya sudah mengambil keputusan untuk pergi ke tempat lain.’

“Tidak lama sesudah ini, penenun itu meninggal kotanya dan pergi ke Vardhamanapura*.

“Dia hidup disana buat tiga tahun dan mendapat tiga ratus biji-biji emas. Habis ini, dia mulai perjalanan untuk rumahnya.

“Dia lagi dia di tengah perjalanannya, dan masih didalam hutan, waktu matahari terbenam. Karena takut dari binatang-binatang liar , dia menaiki sebuah pohon banyan yang besar dan tertidur disana.

Waktu sedang tidur, dia mimipi.,dia melihat dua orang yang menakutkan yang saling sedang berdebat.

‘Akis!’ kata satunya kepada yang lainya ‘Kanapa kamu memperbolehkan Somilaka dapat tiga ratus biji? Apakah kamu tidak tahu bahwa dia ditakirkan memperboleh hanya kehasilanya yang perlu buat makanannya dan bajunya?’

‘Takdir!’ jawab lainya. ‘Apa yang bisa saya lakukan? Orang ini berusaha dengan keras dan saya harus menawarkan hadiah menurut aksinya. Tapi ini masih buat kamu untuk memutuskan berapa uang dia akan menahan. Jadi mengapa harus menyalahkan saya?’

“Waktu penenun bangun, dia megintip ke dalam bungkusannya dan menemu bahwa uang logam emasanya sudah hilang.

Dia mulai berpikir dengan sedih, ‘Oh, apa yang terjadi? Saya mengambil bigitu banyak waktu dan kerepotan untuk dapat uang ini dan ini hilang dalam satu moment .Bagaimana saya dapat muka saya menunjukkan kepada temanku di keadaan misikin seperti begini?’

“Dan jadi, dia memutaskan untuk tidak melanjutakan perjalanan ke rumahnya dan dia kembli ke Vardhamanpura.

“Di dalam satu tahun, dia dapat lima ratus uang logam yang emas. Sekali lagi, dia mulai perjalanan untuk rumahnya.

Seperti dahulu, di tengah perjalanannya, dia masih di dalam hutan, waktu matahari terbenam. Karena Dia takut uangnya bisa hilang seperti kejadian dahulu , dia tidak berhenti aber melanjutkan berjalan berjalan dengan cepat meskipun dia capai sekali.

“Habis sebentar, dia mendengar suara. Dua orang lagi bercakap.

‘Aksi!’ kata satunya. ‘Kanapa kamu memperbolehkan Somilaka untuk dapat lima ratus biji emas? Kamu tidak tahu bahwa dia ditakdirkan hanya unutk apa yang dia perlu untuk makananya dan bajunya?’

‘Takdir!’ jawab laihnya, ‘Apa yang bisa saya lakukan? Orang ini bekerja dengan perkerjaan yang sangat besar dan saya harus kasih imbalan kepada dia menurut aksinya. Tapi ini masih buat kamu untuk memutuskan berapa uang, dia akan menerima. Jadi mengapa kamu harus menyalahkan saya?’

“Waktu Somilaka mendengar ini, dia mengitip ke dalam bungkusannya dan menemu bahwa uang logam emasanya sudah hilang. “Dia sedih sekali dan dia berpikkir, ‘Oh, apa baiknya unutk hidup kalau saya sudah menghilangkan semua uangku?. Saya akan mengantungkan diri dari pohon banyan ini.’

“Dan jadi, dia menenun sebuah tali dari rumput, membikin satu gelung dan mengikat tali ini kepada cabang pohon yang kuat.

Dia pakai gelung ini keliling lehernya dan baru saja buang dirinya ke bawah waktu dia mendengar sebuah suara dari surga.

‘Somilaka?,' suara itu kata.’ Tunggu! Jangan melakukan sesuatu seperti begini! Ini saya, Takdir, yang mencuri uang logammu. Saya tidak bisa tahan bahwa kamu harus dapat biarpun satu cowrie* lebih daripada apa yang kamu perlu untuk makanan dan bajumu. Tetapi saya bahagia dengan semangatmu untuk bekerja keras. Saya memperlihatkan diriku tidak tanpa alasan .Tanyalah untuk apapun rahmat dari saya dan saya akan memberinya kepada kamu.’

‘Baik, kalau begitu,' ‘jawab Somilaka, ‘tolong memberi saya uang yang banyak sekali.’

‘Tetapi apa yang kamu lakukan dengan uang yang kamu tidak bisa mengunakan!? tanya suara. ‘Kamu sudah ditakdirkan untuk tidak mendapat uang lebih banyak daripada apa yang kamu perlu untuk makananmu dan bajumu.’

‘Biarpun saya tidak bisa menikmati uang itu;’ kata Somilaka, ‘tolong berikan kepadaku,’.

‘Ah!’ kata suara dari langit. ‘Tetapi pertama pergi kembali ke Vardhamanapura dan pergi ke rumah dua pedagang. Satu bernama Guptadhana* dan yang lain bernama Upabhuktadhana*. Waktu kamu sudah belajar kelakuan mereka, kemblilah dan katakan kepadaku bahwa kamu lebih suka menjadi seperti Guptahana yang mempunyai uang tetapi tidak menikmatinya atau seperti Upabhuktadhana yang tidak mempunyai uang sisa banyak karena dia suka menghabiskan semua uang yang punya. ‘

Habis ini suara dari langit berhenti.

“Dan jadi, Somilaka kembali kepada Vardhanapura dalam keadaan bingung. Sore-sore dia sampai di kota ini dalam keadaan terlalu capai. Dia meminta keterangan untuk sampai di rumah Guptadhana dan akhirnya sampai disana.

Biarpun Guptadhana, isterinya dan anak lakinya berkeberatan, dia secara paksa masuk ke dalam rumahnya mereka dan menjadi tamu mereka. Waktu jam untuk makan datang, mereka memberi dia makanan tapi dengan cara yang sangat menghinakan.

Waktu dia sudah habis makan, dia pergi tidur. Ketika dia sedang tidur, dia mendengar dua orang bercakap:

‘Aksi!’ kata satunya kepada yang lainya ‘Mengapa kamu memaksa Guptadhana untuk memberi Somilaka makanan waktu dia memberi dengan segan-segan. Kamu tidak tahu bahwa Guptadhana ditakdirkan untuk mempunyai uang tetapi tidak meniknatinya dengan menghabiskan uang di atas diri sendiri atau orang lain?’

‘Takdir!’ kata yang lain. ‘Apa yang bisa saya lakukan? Kebutuhan Somilaka harus diberikan dan Guptadhana melakukan ini sesuai dengan sifatnya yang kikir. Tetapi ini unutk kamu buat memutuskan akibat yang terakhir. Jadi mengapa kamu harus menyalahkan saya?’

Hari berikutnya, waktu Somilaka bangun, dia menemu bahwa Guptadhana mendapat serangan, dan tidak bisa makan satu hari penuh.

“Kemudian Somilaka pergi ke rumah Upabhuktadhana. Dia disambut dengan tangan terbuka.

Tuan rumah itu memberi kepadanya facilitas yang terbaik untuk mandi dan memberi kepadanya baju baru.

Kemudian dia mendapat makanan dengan mewah. ‘Pada malam hari, dia mendapat sebuah tempat tidur yang enak dan dia pergi tidur.

Waktu dia lagi tidur dia mendapat sebuah tempat tidur dia mendengar dua orang bercakap: ,' Kenapa kamu memperbolehkan dia untuk menghibur Somilaka dengan boros samapi dia harus meminjam uang dari pemilik toko. Apakah kamu tidak tahu bahwa Upbhuktadhana ditakdirkan tidak mempunyai uang sisa karena dia suka mengeluarkan semua uang yang dia punya?’

‘Takdir!’ kata yang lain. ‘Apa yang saya bisa lakukan? Kebutuhan Somilaka harus diberkian dan Upbhuktadhana melakukan ini sesuai dengan sifatnya yang dermawan. Tetapi itu untuk kamu untuk memutuskan akibat yang terakhir. Jadi mengapa kamumenyalahkan saya?' ’Pagi-pagi berikutnya salah satu pembantu raja datang dan membawa uang kepada Upabhuktadhana .

“Waktu Somilaka melihat ini, dia kata, ‘Upabhuktadhana adalah orang yang tidak kaya tetapi masihpun dia lebih bahagia daripada Guptadhana. Biarkan takdir membuat saya seperti Upabhuktadhana .’

“Takdir mengabulkan keinginannya dan dia mulai menikmati semua uang seperti Upabhuktadhana .

Pesan moral:Perbuatan dan nasib adalah dua sisi dari satu logam yang sama. Bekerjalah dengan ikhlas tetapi serahkan nasib yang menentukan hasilnya. Dan tetaplah ikhlas dan penuh.


The End