|
|||
|
|||
|
BAGIAN -I
|
|||
|
Di tepi sungai Godavari, berdiri sebuah pohon kapuk sutera yang besar.
Pada malam hari, burung-burung dari semua jurusan datang ke pohon ini dan
beristirahat di sini.
Suatu kali ketika fajar, waktu bulan sementara terbenam di balik pegunungan di
sebelah barat, seekor burung gagak bangun dan melihat seorang pemburu mendekati
pohon itu.
|
|||
![]() |
|||
Si pemburu kelihatan seperti Yama (dewa kematian).
Melihat pemburu itu, burung gagak merasa resah dan berpikir, ”Ini kelihatan
seram. Aku tidak menyukai hal ini sama-sekali.”
Sambil berpikir demikian, dia mulai mengikuti pemburu tersebut.
Tidak lama kemudian, pemburu itu berhenti dan memeriksa daerah sekitarnya.
Dia mengeluarkan beberapa butir nasi dari tasnya, menaburkannya di atas tanah
dan kemudian ia membentangkan jaringnya di atas butir-butir nasi itu.
Sesudah melakukan ini, dia bersembunyi di belakang pohon.
Pada saat itu, raja merpati bersama pengikutnya sedang mengembara keliling
daerah ini, mencari makanan.
Dia melihat butir-butir nasi dan berkata kepada pengikutnya, ”Aneh sekali,
butir-butir nasi di sebuah hutan yang tidak berpenghuni. Mari kita lihat
apa artinya semua ini. Saya merasa curiga.”
Tetapi karena rakus, burung-burung tidak mendengar raja mereka dan mereka
terbang ke bawah untuk mengambil butir-butir nasi. Dan aduh!.Tiba-tiba dalam
sekejap mata, mereka semua tertangkap dalam jaring itu.
Sebuah kericuhan yang hebat timbul di antara burung-burung merpati yang tertangkap.
Si raja kemudian berseru, ”Teman-teman, kita dalam bahaya yang besar. Kecuali kalau
kita mengendalikan diri dan segera memikirkan satu rencana untuk keluar dari ini,
pasti kita semua akan mati. Sekarang saya mengusulkan supaya kita semua menangkap
cepat-cepat jaring ini pada waktu yang sama, lalu terbang bersama-sama ke atas.”
Burung-burung setuju. Mereka menangkap dengan cepat jaring itu dan bersama-sama
terbang jauh.
Ketika pemburu melihat ini, dia amat terkesan dan sama-sekali tidak tahu apa yang
harus dilakukan.
Tapi dia segera sadar dan mulai lari mengejar dibelakang mereka sambil berpikir,
”Burung-burung ini telah berhasil lolos karena mereka telah bersatu.Tapi waktu
mereka turun ke bawah, mereka akan jatuh dalam kekuasaan saya.”
Namun, burung-burung merpati terbang sangat cepat dan tidak lama kemudian, mereka
sama-sekali tidak kelihatan lagi.
Kemudian mereka bertanya kepada raja mereka, ”Apa yang akan kita lakukan sekarang?”
“Saya mempunyai satu teman yang sangat saya sayang” kata sang raja merpati, ”seekor
tikus yang tinggal di tepi sungai Godavari. Kita akan pergi kepadanya. Saya yakin
bahwa dia akan mencari sebuah cara untuk membebaskan kita.”
Jadi, mereka semua terbang ke tempat di mana tikus itu tinggal.
Waktu tikus melihat burung-burung terbang menuju dia, dia merasa takut dan lari ke
dalam lubang di akar sebuah pohon.
Tetapi raja burung merpati berteriak, ”Teman, masa kamu tidak kenal saya? Datanglah
dan bebaskan kita semua.”
Tatkala tikus mendengar ini, dia mengenal suara temannya dan cepat-cepat keluar.
Raja burung merpati menceritakan kepadanya semua yang terjadi dan si tikus langsung
mulai menggigit benang-benang jaring dan membebaskan burung-burung.
Burung gagak yang telah terbang dengan mereka dan lagi melihat ini dari satu pohon
dekat sana, merasa kagum atas persahabatan mereka dan berkata kepada diri sendiri,
”Wah , benar juga apa yang mereka katakan,“Teman yang memberi
pertolongan dalam kesulitan adalah teman sejati.”
|
|||
"Pada suatu hari, ada seekor harimau yang
sudah begitu tua sehingga dia hampir tidak bisa berburu lagi. Dengan keadaan
seperti ini, dia kemudian merencanakan sebuah gagasan.
Pada satu hari yang cerah, dia berdiri di sebuah danau sambil memegang sehelai rumput
Kusha yang suci di cakarnya dan sebuah gelang emas di cakarnya yang satu lagi.
|
|||
![]() |
|||
Si harimau kemudian berkata lantang, ”Inilah saudara-saudari, satu
gelang emas yang bisa menjadi milik anda.”
Seorang musafir yang sedang lewat, menyukai bentuk gelang emas ini. Dia berhenti dan
berkata kepada diri sendiri, ”Ini kelihatan seperti satu benda yang akan mendatangkan nasib baik.”
Tetapi sang Musafir berkata dalam hati, "Bagaimanapun, ketika ada risiko terlibat di dalamnya, seseorang
tidak boleh gegabah . Jadi saya akan berhati-hati.”
Kemudian, orang itu berkata kepada harimau, ”Dimana gelang emas itu?”
Harimau membuka cakarnya dan menunjukkannya kepada orang itu.
”Tapi bagaimana saya bisa mempercayai kamu?” Tanya musafir, ”padahal aku tahu bahwa kamu adalah pembunuh?”
“Dengar musafir,” jawab harimau, ”saya mengaku waktu masa muda saya jahat dan membunuh banyak sapi dan
manusia. Isteri dan anak saya mati karena tindakan-tindakan saya yang jahat. Lalu saya meminta nasihat
dari seorang suci yang menasehati saya untuk memberi derma. Jadi sekarang saya mandi setiap hari dan
memberi barang-barang sebagai derma. Apa lagi saya sudah tua, dan cakar saya sudah jatuh. Jadi,
apa yang kamu takutkan?”
Musafir itu ditipu dengan pembicaraan yang pintar dan masuk ke dalam danau, dan ternyata dia terlekat
di lumpur yang sangat dalam.
Ketika harimau melihat ini, dia meringankan musafir, ”Aduh, jangan khawatir, saya akan membantu kamu”,
kata dia dan pelan-pelan dia berenang menuju musafir dan menyeretnya..
Ketika musafir itu sementara diseret keluar ke tepi danau, si musafir dalam keadaan menyesal dan sulit
bernapas, berkata kepada dirinya sendiri. ”Ah, pembicaraan penjahat ini tentang kesucian telah benar-benar
menipu saya. ” Sekali berandal tetap berandal .” Seperti orang yang bodoh, saya percaya kepada dia dan
sekarang saya harus membayar untuknya.”
Tidak lama kemudian, harimau itu membunuh musafir dan memakannya. Musafir sebetulnya harus tahu bahwa sifat
dasar harimau sebagai pembunuh tidak akan pernah berubah.
|
|||
Di dalam sebuah hutan yang besar, hidup seekor rusa dan seekor burung gagak. Mereka adalah teman yang sangat akrab.
Rusa telah menjadi gemuk dan suka mengembara di hutan tanpa khawatir tentang apapun di dunia ini.
Pada suatu hari, seekor serigala kebetulan melihat rusa kecil yang gemuk itu.
|
|||
![]() |
|||
”Hmmm,” kata serigala. ”Daging empuk rusa yang muda ini akan merupakan
hidangan yang sangat lezat. Ah, sebagai permulaan, saya akan mencoba untuk memperoleh kepercayaannnya.”
Serigala berpikir tentang hal ini lalu kemudian pergi ke si rusa kecil.
“Halo” katanya, ”apa kabar?”
“Kamu siapa?” tanya rusa.
“Saya adalah seekor serigala dan saya tinggal sendirian di hutan ini. Saya tidak mempunyai teman. Sekarang, karena
saya telah bertemu denganmu, saya ingin menjadi temanmu dan akan melakukan apapun yang kamu inginkan untuk membuat
kamu bahagia,”jawab serigala.
“Wah, baik kalau begitu,” kata rusa.
Kemudian, ketika matahari sudah terbenam, keduanya bersama-sama pulang ke rumah rusa. Teman rusa, burung gagak, hidup
berdekatan di cabang sebuah pohon.
Ketika ia melihat serigala, dia berseru, ”Rusa temanku, siapa itu yang bersama kamu?”
“Ini adalah seekor serigala. Dia ingin menjadi teman kita. Oleh karena itu , dia ikut dengan saya,” jawab rusa.
“Apakah kamu kira adalah bijaksana untuk berteman begitu cepat dengan seseorang yang kamu tidak tahu apa-apa tentangnya?”
kata burung gagak.
Kamu tidak tahu tentang keluarganya atau bagaimana sifatnya. Bagaimana kamu bisa mengundang dia untuk tinggal dengan kamu
tanpa mengetahui semua ini?”
“Burung gagak” teriak serigala dengan marah. “Waktu kamu pertama bertemu rusa, apakah kamu tahu apapun tentang dia,
saudaranya atau kelakuannya? Kalau begitu, bagaimana kalian telah menjadi teman akrab hari ini?”
“Aduh, tolong jangan berdebat,” kata rusa. ”Marilah kita semua berteman. Kamu hanya bisa tahu seorang teman dari seorang
musuh setelah mengamati kelakuannya.”
“Baik, kalau begitu,” kata burung gagak. ”Terserah kamulah.”
Dan kemudian mereka pun semua hidup bersama-sama.
Waktupun berlalu.
Pada satu hari, serigala membawa rusa ke samping lalu berbisik, ”Teman, di bagian lain hutan ini, ada ladang penuh jagung.
Saya akan membawa kamu ke sana dan menunjukkan kepada kamu tempatnya.”
Serigala itu membawa rusa dan menunjukkan ladang itu. Semenjak itu, rusa mulai pergi ke sana setiap hari dan makan sampai puas.
Ketika pemilik ladang menyadari bahwa ada seseorang sedang makan jagungnya, dia kemudian memasang sebuah perangkap dan akhirnya
rusa itu tertangkap.
“Aduh! Saya sekarang perlu bantuan temanku. Dia pasti akan membebaskan saya dari perangkap ini”, pikir rusa.
Sementara itu, serigala sampai disana dan berpikir, “inilah yang sedang aku tunggu-tunggu. Kalau dia dibunuh oleh pemilik ladang,
dagingnya akan menjadi makananku selama berhari-hari.”
Pada waktu rusa kebetulan melihat serigala, dia menjerit, “Oh, teman, tolong. Bantu saya. Hanya teman seperti kamu yang bisa
menyelamatkan saya dari keadaan yang mengerikan ini.’
“Tapi teman”, kata serigala, “jerat ini dibuat dari kulit, jadi mana bisa saya menyentuhnya hari ini, sebab hari ini saya
puasa. Tolong jangan salah mengerti terhadap saya. Saya akan menggigit jerat ini di awal pagi besok..”
Ketika matahari terbenam dan rusa masih belum kembali, burung gagak merasa cemas. Dia langsung berangkat untuk mencari rusa
dan akhirnya sampai di ladang jagung.
Seketika itu juga , dia melihat rusa temannya.
“Rusa temanku! Apa yang terjadi padamu?” kata burung gagak dengan suara penuh belas kasihan.
“Inilah yang terjadi jika seseorang tidak mendengar nasihat temannya”, jawab rusa.
Lalu dia menceritakan kepada burung gagak bagaimana serigala menunjukkan ladang jagung untuk menangkap dia.
“ Di mana penjahat itu?” Tanya burung gagak dengan marah.
“Dia sedang bersembunyi di sekitar sini, sambil menunggu kesempatan untuk membunuh saya untuk dimakan”. Jawab rusa.
“Saya sudah memperingati kamu untuk tidak pernah mempercayai orang asing, tetapi kamu tidak memperhatikannya”, kata
burung gagak.
Sambil mengeluh, burung gagak kemudian berteriak, “Serigala, penipu! Pendusta ! Apa yang kamu lakukan? Bagaimana
bisa kamu menipu seseorang yang mempercayaimu? Ah, kalau seseorang berteman dengan seorang penipu, pastilah dia
harus menerima akibatnya”.
Burung gagak kemudian memutuskan untuk tinggal, menemani temannya.
Pada pagi hari, petani kembali dengan sepotong kayu di tangannya.
Begitu burung gagak melihat dia datang, dia berkata kepada rusa, “Cepat! Lakukan seperti yang saya katakan!
Berbaringlah tanpa bergerak seakan-akan kamu sudah mati. Kalau aku memberi kode dengan bersuara, meloncatlah
dan langsung lari untuk keselamatan dirimu”.
Maka rusa pun berbaring tanpa bergerak di tanah seolah-olah dia sudah mati.
Tatkala petani sudah berada dekat sekali dengan rusa, dengan muka yang menyala-nyala dia merasa senang sekali
dan berkata, “Bagus sekali, rusa ini sudah mati!”
Kemudian petani membebaskan dia dan mengambil jerat itu. Pada saat yang sama, burung gagak memberi tanda kepada
rusa yang kemudian meloncat dan lari secepat mungkin.
Petani terkejut, lalu langsung melempar kayunya ke rusa tetapi lemparan kayu tersebut tidak mengenai rusa melainkan
mengenai serigala yang sedang bersembunyi di dekat sana. Akibat terkena lemparan kayu tersebut, serigala itu
langsung mati.
Rusa menyadari bahwa
lebih baik memiliki satu musuh yang jelas daripada teman yang menusuk dari belakang .
|
|||
| Pada suatu ketika, ada sebuah bukit yang melereng ke tepi sungai. Di kaki bukit itu terdapat sebuah pohon dan di dalam lubang pohon ini , hidup seekor burung bangkai tua yang buta. Beberapa burung lain hidup di pohon yang sama dan karena kebaikan hati, mereka suka membagi makanan dengan burung bangkai. | |||
![]() |
|||
Sebagai gantinya, burung bangkai itu menjaga anak-anak mereka pada saat
burung-burung keluar.Suatu hari, seekor kucing datang ke kaki pohon itu dengan harapan
untuk menangkap dan memakan burung-burung kecil.
Tetapi pada waktu burung-burung kecil melihat si kucing datang, mereka mengeluarkan tanda
bahaya dengan berteriak-teriak.
Burung bangkai yang buta mendengar mereka dan berteriak, ”Siapa di sana?”
Si kucing ketika melihat burung bangkai, dia merasa takut dan berpikir, ”Aduh! Saya akan
mati sekarang. Tapi harus menjadi berani dan menghadapi bahaya. Saya harus berusaha untuk
memperoleh kepercayaannya.”
“Saya, saya, saya cuma datang untuk menghormati Anda, oh yang bijaksana,” sahut
kucing dengan suara yang keras.
“Siapa kamu?” Tanya burung bangkai.
“Saya hanya seekor kucing yang malang,” jawabnya.
“Pergi, kalau tidak saya akan makan kamu,” jerit burung bangkai.
“Tuan, dengar dulu,” kata kucing, ”Kemudian Anda boleh membunuh saya. Tapi apakah Anda
membunuh seseorang hanya karena dia termasuk dalam satu keturunan yang khusus?”
“Baik,” kata burung bangkai. ”Saya siap untuk mendengarmu. Tapi katakan kenapa kamu ke sini?”
“Saya tinggal dekat sini di tepi sungai Gangga.” kata kucing itu. ”Saya tidak makan daging.
Saya mandi setiap hari di sungai itu dan saya sedang menebus dosa-dosa saya. Waktu
burung-burung di sana mengetahui hal ini, mereka berkata kepada saya, ”Kamu harus belajar
lagi tentang agama dari burung bangkai tua yang sangat terkenal dengan pengetahuan dan
kebijaksanaannya.”
Kucing melanjutkan, ”Mereka semua memujimu. Karena itu saya datang untuk menghormatimu.
Tapi apa yang saya lihat? Anda siap untuk membunuhku, seekor kucing yang malang. Anda harus
memperlakukan saya seperti seorang tamu seharusnya diperlakukan. Biarpun anda tidak mempunyai
makanan untuk ditawarkan kepada saya, paling tidak katakanlah sesuatu yang baik kepada saya.”
“Tapi kamu adalah pemakan daging dan ada anak-anak burung yang tinggal di pohon sini.
Manabisa saya mempercayai kamu? ”kata burung bangkai tua yang buta.
Kucing menyentuh tanah kemudian memegang telinganya sebagai tanda kejujurannya dan berkata,
”Saya telah membaca semua kitab-kitab suci dan saya telah mempelajari bahwa membunuh adalah
hal yang salah. Seluruh hutan ini penuh dengan daun-daun dan sayuran-sayuran. Jadi, buat apa
saya harus berbuat dosa dengan membunuh burung-burung.”
Dengan perkataan demikian, kucing memperoleh kepercayaan burung bangkai tua yang buta dan dia
membiarkan kucing tinggal di lubang pohon.
Waktu pun berlalu, kucing yang licik mulai memakan burung-burung kecil satu per satu dan burung
bangkai sama-sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Tetapi burung-burung menyadari bahwa anak-anak mereka sedang hilang dan mulai mencari mereka.
Pada waktu kucing menyadari bahwa permainannya sudah selesai, dia pun kemudian secara diam-diam
pergi dari situ.
Setelah beberapa hari, burung-burung menemukan tulang anak-anaknya tidak jauh dari pohon itu.
“Aha,” kata burung-burung. ”Burung bangkai tua yang buta telah memakan anak-anak kita yang tersayang.”
Burung-burung berkumpul dan membunuh burung bangkai itu. Untuk si kucing,
sekali pendusta tetaplah pendusta
|
|||
|
Pada suatu hari, di kota Campaka hidup seorang suci. Dia memenuhi kebutuhannya dengan meminta-minta untuk makan.
|
|||
![]() |
|||
Dia memakan sedikit hasil meminta-mintanya dan
menyimpan sisanya di satu mangkok derma yang selalu digantungkannya tinggi pada sebuah paku.
Seekor tikus yang telah memperhatikan hal ini, suka meloncat dan mengambil makanan apapun yang ada
di mangkok derma itu.
Pada satu hari, seorang teman dari orang suci itu datang untuk mengunjunginya. Orang suci itu menyambut
temannya dan menawarkannya makanan.
Lalu mereka duduk dengan tenang dalam pembicaraan dari hati ke hati.
Tetapi orang suci itu tidak bisa memusatkan perhatiannya ke pokok pembicaraan mereka.
Dia terus-menerus memukul-mukul tanah dengan sepotong kayu bambu untuk menakuti si tikus.
Temannya menyadari hal ini dan bertanya, ”Apa yang sedang kamu lakukan? Kenapa kamu tidak mau mendengarkan
saya dengan baik ?”
“Oh, tolong maafkan saya. Ini hanya karena tikus tak beradab itu. Setiap hari dia memakan apapun makanan
yang saya simpan,” seru orang suci itu.
Temannya melihat ke arah paku dan berkata, ”Tapi bagaimana seekor tikus bisa meloncat begitu tinggi? Pasti
ada suatu alasan untuk bias melakukan hal sesulit itu .’
Teman orang suci itu kemudian berpikir tentang hal ini sejenak lalu dia berkata, ”Bisa ada hanya satu alasan.
Tikus ini pasti sudah menyimpan banyak makanan dan mempunyai begitu banyak makanan, memberi dia kekuatan luar
biasa untuk meloncat begitu tinggi.”
Mereka mulai mencari makanan buat persediaan yang telah dikumpulkan oleh tikus itu. Pada waktu mereka
menemukannya, mereka menggalinya dan mengambil makanan itu.
Ketika tikus kembali dan melihat bahwa semua makanan yang telah dikumpulkannya sudah lenyap, dia sangat putus
asa. Semua kegairahaannya tidak ada lagi, sehingga berjalanpun dia tidak bisa.
Dan oleh karenanya orang suci itu pun menjadi bebas dari gangguan dan dapat terus-menerus menjaga makanan
yang disimpan di mangkok derma.
Adalah tetap untuk menghantam kekuatan musuh dari sumbernya agar dapat
mendapatkan hasil maksimal
|
|||
Di sebuah hutan, hidup seorang pemburu.
Pada suatu hari yang cerah, dia berangkat dari rumahnya dengan harapan untuk memburu seekor rusa.
Nasibnya baik dan dia membunuh satu, memikulnya di atas pundaknya dan pada sore hari ia memulai
perjalanannya pulang ke rumah.
|
|||
![]() |
|||
Di tengah jalan, dia melihat seekor babi yang gemuk. Pada waktu dia melihat
babi itu, dia cepat-cepat menjatuhkan rusa di atas tanah, lalu menembak babi itu dengan sebuah
panah. Babi mendengus dengan perasaan takut, lalu menyerang pemburu itu dengan seluruh kekuatannnya.
Dengan keras dipukulnya pemburu itu di bagian perutnya yang membuatnya langsung terbunuh.
Terluka di pertempuran, babi itu juga mati. Sepanjang perkelahian, seekor ular yang kebetulan sedang
lewat, terinjak dan mati remuk.
Setelah beberapa saat, seekor serigala tiba di tempat itu untuk mencari makanan.
Saat dia melihat pemburu, babi, rusa dan ular semua terbaring mati di tanah, ia merasa sangat gembira
dan berkata pada dirinya sendiri, ”Alangkah baiknya nasibku ini, kelihatannya saya seperti akan merayakan
pesta besar, tetapi saya akan makan hanya sedikit pada satu kali supaya ini bisa bertahan untuk saya
lebih lama.”
Kemudian serigala mengambil busur dan mulai menggigit tali busur.
Tiba-tiba, tali busur terbuka dengan keras, maka busur itu melompat dan menusuk hatinya. serigala ini
langsung mati pada saat itu juga.
Dan ini menunjukkan bahwa ketamakan bisa mempunyai akibat yang buruk.
|
|||
| Pada suatu hari, di sebuah hutan yang lebat, hidup seekor gajah.
Sekelompok kawanan serigala yang lewat disana sedang mencari makanan lalu melihat gajah tersebut.
|
|||
![]() |
|||
”Sekarang jika gajah itu mati dengan suatu cara tertentu,” mereka berkata,
”kita akan memiliki makanan yang cukup untuk beberapa bulan.”
Seekor serigala tua berkata, ”Dengan kelicikan, sangat mudah bagi saya untuk menggiring kematian
gajah ini”
Lalu serigala tua itu datang menghampiri gajah, ia menunduk dengan hormat di depannya dan berkata
“Tuanku! Terimalah penghormatan saya dengan memandang saya meski hanya satu detik saja.”
“Siapa engkau dan kenapa datang kepadaku?” tanya gajah.
“Saya hanyalah seekor serigala sederhana”, jawabnya. “Barusan saja semua binatang di hutan bertemu
dan datang pada satu keputusan bahwa akan sulit bagi semuanya untuk hidup tanpa perlindungan seorang
raja. Dan Anda yang diberkati dengan semua ciri-ciri seorang raja telah dipilih oleh kita semua untuk
menjadi raja . Para ahli perbintangan telah memberitahu kepada kami bahwa hari ini adalah hari yang
terbaik untuk memakaikan mahkota dan memberi kekuasaan kepada Anda. Waktu berjalan begitu cepat,
jadi ikutilah saya tanpa menunda untuk mengadakan upacara.”
Kemudian serigala berjalan."
Sang gajah merasa senang mendapat kehormatan dengan kata-kata serigala tersebut dan karena serakah
untuk mendapatkan kerajaan, dia pun mengikuti serigala.
Serigala melewati sebuah danau berlumpur.
Karena gajah berat, dia terbenam di lumpur. Sang gajah berusaha dengan seluruh tenaganya untuk keluar,
tetapi sia-sia belaka.
“Teman!” kata gajah dalam keadaan panik. “Apa yang harus saya lakukan? Saya terbenam ke dalam lumpur ini.
Saya akan mati.”
“Tuanku! Peganglah ekor saya dan saya akan membantu anda”, kata serigala dengan senyuman yang nakal.
“Anda mempercayai orang seperti saya. Wah, sekarang bayarlah untuk itu.”
Dan sang serigala pun membiarkan si gajah tersebut tetap terbenam sehingga tidak bisa keluar dari dalam
lumpur. Tidak lama kemudian, gajah itu mati dan dimakan oleh para serigala.
Semestinya, gajah yang benar-benar pintar itu tidak boleh tertipu oleh kata-kata
seorang penjahat. |
|||
Pada suatu hari, seorang penulis memutuskan untuk mendirikan sebuah candi di kotanya.
Ketika pekerjaannya sementara berjalan, seorang tukang kayu menggergaji sebuah balok
kayu di tengah-tengah, menaruh sebuah pasak di tempat itu supaya tidak tertutup dan
kemudian dia pergi makan siang. |
|||
![]() |
|||
Kebetulan, sekelompok monyet yang lagi mengembara datang ke
tempat itu dan mereka mulai bermain-main di atas dan di sekeliling balok-balok kayu tersebut.
Salah satu monyet duduk di atas balok kayu yang setengah pecah, memasukan kedua kakinya di dalam
lubang di antara balok yang setengah digergaji dan mencoba untuk mencabut pasak itu.
Tiba-tiba, pasak itu tercabut dan balok kayu itu tertutup, sambil menjepit kaki-kaki monyet
dan meremukkan mereka.
Monyet itu mati dalam kesakitan yang besar sambil mengetahui di akhir
hayatnya bahwa tidaklah baik untuk ikut campur dalam urusan orang lain .
|
|||
Dahulu kala, di kota Varanasi, hidup seorang tukang cuci.
Pada suatu malam, saat dia sedang tertidur, seorang pencuri masuk ke dalam rumahnya untuk mencuri apa saja yang dapat diperoleh.
Pada saat itu , di sudut halaman rumah tukang cuci itu, ada keledainya yang diikat dengan tali, sementara anjingnya duduk di dekat sana.
Pada waktu keledai melihat pencuri masuk rumah, dia berkata kepada anjing, ”Teman! Pasti ini tugasmu untuk membangunkan majikan kita!"
|
|||
![]() |
|||
“Jangan bicara dengan saya tentang tugasmu, ”jerit anjing.” Kamu
tahu cukup baik bahwa saya telah menjaga rumah ini untuk waktu yang lama sekali. Dan majikan dari dulu
tidak pernah perlu khawatir tentang apapun. Tapi baru-baru ini dia tidak memberi makanan yang cukup kepada
saya, jadi saya tidak perlu peduli tentang apa yang akan terjadi kepadanya.”
“Dengar, bodoh,” ringkik si keledai. ”Pasti ini bukan waktunya untuk mengeluh. Ini waktu untuk bertindak.
Lakukan sesuatu! Bangunkan majikan! Cepat!”
“Tidak” jawab anjing dengan tajam. ”Saya membalasnya karena ia tidak memelihara hewan peliharaannya
dengan baik .”
“Binatang dengan pikiran jahat,” timpal si keledai. ”Kamu mengabaikan tugasmu pada saat kau sangat
dibutuhkan. Baik, saya akan melakukan tugasmu dan membangunkan dia.”
Kemudian keledai meringkik begitu keras sampai tukang cuci terbangun.
Pencuri itu cepat-cepat bersembunyi.
Tukang cuci melihat sekelilingnya dan ia tidak melihat siapapun.
Dia merasa sangat marah dan sambil mengambil sepotong kayu, ia pergi ke halaman
rumahnya dan mulai memukul si z keledai yang malang.
Sang keledai pun mati sambil mengharap bahwa dia seharusnya tidak perlu
ikut campur dalam urusan orang lain.
|
|||
Dahulu kala, di sebuah gunung hidup seekor singa yang sangat berkuasa.
Setiap kali dia tidur, seekor tikus suka keluar dari lubangnya dan mengkerit bulu yang ada di tengkuk singa.
Ketika singa mengetahui hal ini, dia merasa sangat marah.
Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena tikus ini suka lari pada saat singa itu bangun untuk
menangkapnya dan langsung menyelinap ke dalam lubangnya.
Singa itu berpikir tentang hal ini dan akhirnya secara kebetulan mendapatkan sebuah rencana.
|
|||
![]() |
|||
Dia pergi ke sebuah desa di dekat sana dan membawa seekor kucing kembali
dengannya. Sang singa memberi makanan yang paling enak kepada si kucing dan membiarkan dia
berjalan bebas di gua.
Ketika si tikus melihat sang kucing, dia merasa sangat takut dan tidak mau keluar.
Hal ini membuat singa itu dapat tidur dengan tenang.
Setiap kali dia mendengar tikus berjalan-jalan, dia memberi makanan kepada kucing dan
kemudian tidur lagi, sementara si kucing menjaganya.
Hal ini bertahan untuk beberapa saat.
Kemudian pada suatu hari, tikus itu merasa begitu lapar sehingga dia memberanikan diri untuk
keluar mencari makanan. Si kucing langsung menyambar tikus itu dan membunuhnya.
Ketika singa menyadari bahwa tikus sudah mati, dia beristirahat dan berhenti memberi makanan
kepada kucing. Dia membiarkan kucing itu mencari makanannya sendiri.
Kucing yang malang itu lama-kelamaan menjadi kurus dan akhirnya mati kelaparan. “Sungguh benar!
Seorang diperlakukan dengan baik selama ia berguna,” kata kucing yang bernasib malang sebelum ia mati.
|
|||
Pada zaman dahulu , di kota Brahmapura hidup seorang pencuri. Suatu saat dia mencuri
sebuah lonceng dari sebuah kuil dan kemudian lari ke dalam hutan.
Seekor harimau yang mendengar suara lonceng ingin sekali mengetahui dari mana suara itu datang.
Ketika dia melihat si pencuri, harimau itu menyambarnya lalu membunuhnya. Lonceng itu jatuh di atas tanah.
Setelah beberapa hari, sekelompok monyet melihat lonceng, mengambilnya dan mulai bermain-main dengan benda itu.
Tidak lama kemudian, orang-orang dari kota menemukan tubuh pencuri dan berseru, “Pasti ada satu setan di
sekitar sini yang menyerang manusia-manusia dan kemudian membunyikan lonceng dengan penuh kegembiraan.”
Ketika orang-orang mendengar hal itu, mereka mulai meninggalkan kota dalam keadaan panik.
Waktu itu, ada seorang wanita yang berani dan pintar.
Mendengar hal ini si wanita tersebut berpikir, ”Saya yakin bahwa ini adalah monyet-monyet yang sedang
membunyikan lonceng itu.”
|
|||
![]() |
|||
Dia dengan berani pergi ke dalam hutan dan melihat
beberapa monyet bermain-main dan membunyikan lonceng.
Kemudian dia pergi kepada raja dan berkata, ”Yang mulia! Saya yakin bahwa setan ini bisa
dikalahkan dengan pemujaan kepada dewa-dewa. Tetapi hal ini akan memerlukan uang.”
Sang raja yang sangat berminat untuk mendapatkan kebebasan dari setan siap untuk mengeluarkan
uang dalam jumlah yang sangat besar.
Wanita itu membuat pertunjukkan yang besar tentang pemujaan kepada dewa-dewa. Dia membuat lingkaran
di atas tanah, menaruh beberapa buah-buahan di dalamnya dan mulai melakukan sembahyang kepada Dewa Ganesha.
Kemudian dia mengambil buah-buahan itu dan pergi ke hutan.
Dia menaruh buah-buahan ini di bawah sebuah pohon dan menunggu di dekat sana dengan sabar.
Pada saat monyet-monyet yang rakus melihat buah-buahan itu, mereka menjatuhkan lonceng tepat seperti apa
yang diharapkan oleh wanita itu dan langsung lari ke bawah untuk menikmati buah-buahan.
Si wanita kemudian mengambil lonceng itu dan cepat-cepat kembali ke kota.
Raja merasa senang dengan dia dan semua mengagumi keberaniannya.
Benar-benar kecerdasaan dan keberanian memberi keberhasilan dari semua kesulitan.
|
|||
Di pohon besar di sebuah hutan, hidup sepasang burung gagak.
Seekor ular kobra hitam hidup di lubang pada pohon yang sama.
Setiap kali burung-burung gagak mendapat anak, kobra itu memakan anak-anak mereka.
|
|||
![]() |
|||
Pada suatu hari, burung gagak betina yang hamil berkata
kepada suaminya, ”Sayang, marilah kita pergi dari sini. Saya yakin kobra hitam akan memakan
anak-anak kita lagi.”
“Jangan takut!” jawab suaminya. ”Saya tidak mau lagi menerima kelakuannya.”
“Tapi bagaimana kamu bisa melawan ular itu? Dia begitu kuat!” ujar burung betina itu.
“Saya pintar,” jawab si jantan, ”jadi saya lebih kuat.”
“Baik, bisakah saya melakukan sesuatu untuk membantumu?” Tanya si burung gagak betina.
“Ya, kamu bisa,” kata suaminya, ”dengarlah baik-baik. Setiap hari, raja datang untuk mandi di
danau dekat sini. Dia mengeluarkan kalung emasnya dan meninggalkannya di tepi danau di dekat sana.
Sementara dia mandi, kamu harus mengambil kalung itu dan menjatuhkan di depan lubang pohon kita,
dimana ular kobra itu tinggal. Kalau pembantu-pembantu raja mengejarmu untuk mendapatkan kembali kalung itu,
mereka pasti akan melihat kobra hitam dan membunuhnya.”
Si burung gagak betina melakukan rencana seperti disarankan suaminya.
Pembantu-pembantu raja mengejar burung gagak betina yang dengan cerdik menjatuhkan kalung di depan lubang pohon.
Pada saat pembantu-pembantu itu sampai di tempat tersebut, mereka melihat kobra hitam dan langsung membunuhnya.
Memang apa yang dikatakan orang bijak itu benar, bahwa apa yang tidak dicapai dengan kekuatan bisa dicapai
dengan kecerdikan.
|
|||
Dahulu kala, di sebuah gua hidup seekor singa. Dia suka membunuh binatang-binatang,
walaupun sebenarnya dia tidak lapar.
Suatu hari, semua bintang-binatang berkumpul datang kepadanya dan memohon, ”Raja singa! Apa artinya dengan membunuh
seperti ini yang tidak masuk akal. Kalau Anda setuju, kami akan memberikan seekor binatang setiap hari buat makanan Anda.”
|
|||
![]() |
|||
Sang singa berpikir tentang hal ini sejenak dan berkata, ”Baik, baik!
Ini adalah gagasan yang bagus!”Semenjak hari itu, bintang-binatang mulai mengundi dan
mengirimkan seekor binatang setiap hari ke raja singa.
Suatu hari, giliran jatuh pada seekor kelinci tua. Biar pun dia sama sekali tidak menghendaki,
namun akhirnya dia berjalan juga secara perlahan-lahan menuju gua si singa.
Di tengah jalan dia berpikir tentang sebuah rencana untuk membunuh singa.
Sebagai bagian dari rencananya, dengan sengaja kelinci itu tiba terlambat sekali di gua singa.
“Kenapa kamu datang begitu terlambat?” raung singa sambil menjilat bibirnya dengan perasaan lapar.
“Yang mulia,” kata kelinci, ”ini bukan salah saya. Di tengah perjalanan saya ke sini, saya dipaksa
berhenti oleh singa lain yang ingin makan saya. Dia biarkan saya pergi, setelah saya bersumpah akan
kembali setelah menemui anda.”
“Tunjukkanlah bajingan itu dan saya akan membunuhnya,” raung singa, geram dengan kemarahan yang meluap-luap
karena ada yang lain yang menentang kekuasaannya.
Si kelinci membawa sang singa ke sebuah sumur dan dengan licik memperlihatkan bayangan
Singa itu sendiri di air lalu berkata, ”Tuan, di sana, lihatlah sendiri!”
Sambil berpikir bahwa itu adalah musuhnya, singa itu melompat ke dalam sumur untuk berkelahi dengan singa yang
lain, namun singa tersebut tenggelam.
Kelinci kembali ke rumah dengan keyakinan bahwa kepintaran otak lebih kuat daripada kekuatan tenaga.
|
|||
| Di tepi sebuah samudera, hidup sepasang burung Tittibha. |
|||
![]() |
|||
Pada waktunya, ketika burung Tittibha betina sedang hamil, dia
berkata kepada suaminya, ”Sayangku, tolong carikan saya satu tempat yang pantas dan tenang di mana
saya bisa bertelur.” “Istri tersayang! Ini tempat yang pantas!” jawab suaminya.
“Aduh tidak!” katanya, ”Kalau air pasang menjadi tinggi, tempat ini akan banjir!”
”Apa? Apakah kamu kira saya sama sekali tidak mempunyai kekuatan, sehingga samudera berani melakukan
sesuatu seperti ini?” suaminya berteriak.“Sayangku,” kata isterinya dengan senyuman manis. ”Ada perbedaan
yang sangat besar antara kamu dan samudera. Kamu harus mengenali kelemahanmu. Kamu mungkin harus membayar
untuk menjadi begitu besar kepala.”
Tetapi burung Tittibha jantan sangat teguh dengan pendiriannya dan akhirnya Tittibha betina yang malang harus
bertelur di tepi samudera.
Samudera terhibur sekali mendengar pembicaraan mereka dan begitu ia melihat ada kesempatan , ia membawa pergi
telur – telur burung Tittibha
“Suamiku!” jerit Tittibha betina, ”sesuatu yang buruk telah terjadi. Telur-telur kita hilang.”
“Isteriku tersayang,” kata Tittibha jantan, ”jangan khawatir, saya akan membawa telur-telur itu kembali.”
Kemudian Tittibha jantan mengumpulkan semua burung-burung.
Mereka semua pergi bersama-sama menghadap raja mereka, Garuda, (di kumpulan cerita agama Hindu, Garuda adalah
Dewa burung yang ditunggangi Dewa Wishnu) dan Tittibha berkata kepadanya, ”Tuan, kita hidup dengan tenang di rumah,
tidak menyakiti siapa pun. Namun demikian, Samudera telah menyiksa saya dan isteri saya dan membuat kami sangat sedih
karena mengambil telur-telur kami. ”Kemudian, Garuda menceritakan kepada Dewa Wishnu, pelindung alam, tentang semua yang
terjadi.
Dewa Wishnu langsung memberi perintah kepada Samudera untuk mengembalikan telur-telur kepada Tittibha.
Samudera penuh rasa takut , segara mematuhi perintah Dewa Wishnu dan mengembalikan telur-telur kepada burung
Tittibha Dengan demikian, burung kecil yang bertekad telah membuktikan bahwa dia sanggup sebanding
dengan Samudera yang kuat.
|
|||
Di tepi sungai Godavari, berdiri sebuah pohon yang besar.
Beberapa ekor burung telah mendirikan sebuah sarang di lubang pohon ini dan tinggal di sana dengan bahagia.
Pada suatu hari ketika musim hujan, ketika langit berawan tebal, turun hujan dengan keras.
Beberapa ekor monyet yang berada di sekitarnya menjadi basah kuyup dan lari mencari perlindungan di bawah sebuah pohon.
|
|||
![]() |
|||
Mereka menggigil dan merasa sengsara karena kedinginan.
Pada waktu burung-burung melihat ini, mereka merasa sedih terhadap monyet-monyet itu. Untuk memberi
semangat kepada mereka dan untuk membuat mereka merasa lebih baik, burung-burung berkata, ”Dengar
monyet-monyet! Kami membuat sarang-sarang kami dengan ranting-ranting dan potongan-potongan rumput
yang kami ambil dengan paruh kami. Kalian mempunyai tangan dan kaki, jadi kenapa kamu harus duduk
dengan sedih di luar dibawah hujan? Kenapa kalian tidak membuat satu tempat berteduh yang bagus?’
Pada waktu monyet-monyet mendengar ini, mereka merasa sangat marah dan berkata serentak, ”Burung-burung
ini tidak takut hujan atau angin yang keras. Sambil hidup dengan tenang, mereka mengira bahwa mereka
bisa mengkritik kita. Tunggu saja! Kalau hujan , berhenti, kita akan menghukum mereka!”.
Tidak lama kemudian, hujan berhenti dan monyet-monyet memanjat pohon itu. Mereka memecahkan telur
burung-burung itu dan menghacurkan sarang mereka. Burung-burung yang malang itu menyesali atas perkataan
mereka dan merasa bahwa mereka seharusnya tidak memberi nasihat kalau tidak diminta.
BAGAIAN II |
|||
Di kota Hastinapura, hidup seorang tukang cuci bernama Vilasa. Vilasa mempunyai seekor
keledai yang karena mengangkat muatan yang sangat berat, ia akhirnya menjadi lemah dan makin lemah setiap hari.
|
|||
![]() |
|||
Kelihatannya keledai itu akan cepat mati, kalau dia tidak
mendapat makanan yang bagus. Untuk memberi makan kepada keledai tanpa harus membayar, tukang cuci
menutupi tubuh keledainya dengan kulit harimau dan membiarkan dia berjalan bebas di ladang jagung
di dekat sana. Pada saat pemilik ladang jagung melihat binatang tersebut, dia mengira bahwa binatang
itu benar-benar seekor harimau dan karena takut langsung lari. Hal ini dia ceritakan kepada penjaganya
dan orang-orang lain tentang apa yang terjadi. Beberapa hari kemudian, penjaga yang menjaga ladang jagung
menutupi dirinya dengan selimut abu-abu. Kemudian ia mengambil busur dan panahnya, lalu bersembunyi serta
merangkak-merangkak menunggu harimau itu. Pada waktu keledai yang memakai kulit harimau yang sekarang sudah
menjadi kuat dengan memakan jagung sepuas-puasnya melihat sosok tubuh berwarna abu-abu dari jauh, dia
mengira bahwa itu adalah seekor keledai betina. Sambil meringkik dengan keras, dia berlari ke arah keledai
betina itu.Penjaga dengan cepat menyadari bahwa ini adalah keledai dan bukan harimau dan kemudian membunuhnya
tanpa kerepotan. Dengan senyum puas si penjaga berkata, "Inilah yang terjadi, kalau orang
berpura-pura untuk menjadi sesuatu yang palsu.”
|
|||
|
|
|||
| Pada satu hari, di sebuah hutan hidup sekawanan gajah.
Mereka suka pergi ke kolam di dekat sana untuk menghilangkan rasa haus dan untuk mandi.
|
|||
![]() |
|||
Namun suatu ketika, selama satu tahun tidak ada hujan yang turun.
Bahkan tidak juga pada musim hujan dan kolam pun akhirnya menjadi kering.Gajah-gajah mulai merasa sangat haus.
Jadi mereka pergi kepada raja dan berkata ”Tuan! Kami merasa sangat haus. Mana bisa kami hidup tanpa air? Apa
yang akan kita lakukan? Kemana kita akan pergi?” Raja gajah membawa mereka ke satu kolam yang bersih dan dalam,
tidak begitu jauh dari tempat mereka tinggal. Hari-hari berlalu, setiap kali gajah-gajah pergi ke kolam,
beberapa kelinci terinjak di bawah kaki mereka. Pada saat salah satu kelinci melihat apa yang terjadi, dia berpikir,
”Jika beberapa kelinci mati terinjak setiap kali gajah-gajah mengunjungi kolam, seluruh keturunan kami akan musnah.”
Seekor kelinci tua bernama Vijay berkata, ”Jangan khawatir! Saya akan memikirkan sebuah rencana untuk membebaskan
diri dari mereka. ”Dengan janji ini, dia pergi untuk berjalan-jalan. Di tengah perjalanannya, dia berpikir, ”Apa
yang akan saya katakan kepada gajah-gajah pada waktu saya bertemu mereka? Saya tidak boleh terlalu dekat dengan mereka,
atau saya akan dibunuh. Jadi saya akan naik ke atas bukit dan menyampaikan pesan kepada raja gajah dari sini.”
Dan demikianlah yang dilakukannya.“Kamu siapa?” dan kamu datang dari mana?” Tanya raja gajah.“
“Saya adalah pesuruh yang dikirim kepada Tuan oleh Dewa Bulan” jawab kelinci.
“Tolong katakanlah kepada kami kenapa kamu datang ke tempat ini ,” k ata raja gajah.
“Seorang pesuruh tidak berbicara apa pun selain kebenaran, bahkan pada saat bahaya pun”, kata kelinci. Inilah apa
yang Dewa Bulan katakan kepada kamu, “Kelinci-kelinci ini adalah penjaga danau saya dan mereka diusir atau diinjak-injak
sampai mati oleh gajah-gajahmu. Mereka telah dilindungi oleh saya untuk waktu yang lama. Dengan membunuh mereka, engkau
membuat saya marah. Jadi, awas! dan pergi dari situ! ”Setelah Vijay sang kelinci tua mengatakan ini, raja gajah yang sekarang
menjadi takut berkata “Ah, ini terjadi tanpa disadari. Hal ini tidak akan terjadi lagi, saya berjanji.”
“Baik kalau begitu”, kata kelinci tua, “kamu boleh pergi dengan tenang, tetapi sesudah kamu memberi hormat kepada Dewa Bulan
yang hidup di danau itu dan sekarang dia sedang geram dengan kemarahan yang meluap-luap.”
Pada malam hari, kelinci tua membawa raja gajah ke danau. Raja memandang ke dalam air dan melihat bayangan bulan yang bergoyang.
Melihat ini, dia berpikir bahwa Dewa Bulan memang sangat marah dengannya. Dia menunduk ke Dewa Bulan dengan rasa takut.
Vijay, si kelinci tua dengan penuh siasat berkata, “Oh Dewa, Dewa Bulan! Raja Gajah tanpa menyadari telah berbuat salah dengan
membawa kawan-kawan dia ke danau ini. Maafkanlah dia. Dia akan membawa pergi semua gajah-gajah dengannya dan dia tidak akan pernah
kembali lagi.”Setelah kelinci selesai berbicara maka raja gajah membawa kawan-kawannya dari sana.
Jadi, seperti yang kalian lihat bahwa si Vijay yang lemah tetapi
dengan sedikit kecerdasan, sanggup mengalahkan musuh yang paling kuat.
Kelinci-kelinci itu pun hidup dengan bahagia untuk selama-lamanya.
|
|||
Di satu pohon ara yang besar di luar kota Ujjain, hidup
seekor burung bangau yang baik hati dan seekor burung gagak yang jahat. Pada suatu hari di musim
panas, seorang musafir yang lelah karena berjalan di bawah matahari berhenti untuk beristirahat di
tempat teduh di bawah pohon ara tersebut.
|
|||
![]() |
|||
Dia menaruh busur dan panahnya di dekatnya dan kemudian tidur.
Setelah beberapa waktu, bayangan pohon berpindah, meningalkan muka musafir terbuka ke
matahari. Pada waktu burung bangau yang baik hati melihat ini, dia m elebarkan sayapnya
untuk melindungi musafir dari matahari. Burung gagak yang jahat melihat semua ini.
Dia merasa kesal melihat musafir itu tidur dengan tenang. Oleh karenanya, pada waktu dia
melihat musafir bangun dan menguap, burung gagak tidak bisa lagi mengendalikan kejengkelannya.
Dia membuang kotorannya langsung ke dalam mulut si musafir dan kemudian terbang.
Dengan perasaan marah, musafir langsung bangun. Sambil melihat ke atas untuk mencari siapa yang
melakukan perbuatan itu, secara kebetulan dia melihat burung bangau.
Dia mengambil busur dan panahnya kemudian membunuh burung bangau. itu
Jika saja burung bangau malang itu mengetahui bahwa teman yang jahat, kerap bisa mendatangkan
gangguan dan kesedihan kepada yang baik, maka pasti dia sampai sekarang masih hidup.
|
|||
| Pada suatu hari yang bersamaan dengan hari besar Dewa Garuda, raja burung dan semua burung-burung pergi melakukan satu perjalanan ziarah ke tepi pantai.
|
|||
![]() |
|||
Dalam rombongan ini ikut pula seekor burung gagak dan
burung puyuh yang telah lama berteman. Di tengah perjalanan, kedua burung itu melihat seorang
gembala sapi berjalan di depan mereka dengan sebuah pot penuh dengan dadih yang terbuat
dari susu di atas kepalanya. Burung gagak yang jahat, memang sudah begitu sifatnya, mengikuti
orang itu dari belakang dan terus-menerus menaik-turunkan paruhnya ke dalam pot itu dan memakan
dadih tersebut. Pada waktu si gembala sapi menyadari apa yang sedang terjadi, dia berhenti dan
menaruh potnya di atas tanah dan kemudian memandang sekelilingnya Dia melihat seekor burung gagak
dan seekor burung puyuh di dekatnya. Ketika burung gagak melihat ini, dia merasa takut dan langsung
terbang jauh. Burung puyuh yang lambat bereaksi ditangkap oleh gembala sapi dan kemudian dibunuh.
Burung puyuh seharusnya tahu bahwa yang paling baik adalah menghindari teman-teman yang buruk sifatnya
atau seseorang yang mungkin dapat menyebabkan kesengsaraan.
|
|||
Dahulu kala, seekor serigala yang sedang mengembara mencari makan di pinggir kota terjatuh ke dalam sebuah tangki kayu yang besar berisi celupan berwarna biru tua.
Semua usahanya untuk keluar dari tangki itu gagal.
|
|||
![]() |
|||
Pada pagi berikutnya, pada waktu serigala mendengar langkah tukang celup, ia berbaring tanpa
bergerak dan berpura-pura seperti mati. Ketika tukang celup melihat serigala itu, dia benar-benar berpikir
bahwa bintang itu sudah mati. Jadi dia mengangkat serigala itu dan melemparnya ke luar di bawah tanah.
Segera setelahnya, binatang itu tiba-tiba berdiri dan berlari ke sebuah hutan demi keselamatannya.
Pada waktu serigala melihat warna biru tuanya yang baru, dia berpikir,”Saya mempunyai warna yang hebat.
Sekarang saya kelihatan lain. Kenapa saya tidak mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya?” Dia mengundang semua
serigala yang lain untuk datang dan berkata kepada mereka, “Dewi hutan ini telah meminyaki badan saya dengan tangannya
sendiri. Lihatlah warna saya! Oleh karenanya, mulai hari ini, saya adalah penguasa hutan dan kamu harus mematuhi perintah
saya!”
Serigala-serigala melihat warnanya yang aneh dan dengan perasaan hormat bercampur takut serta kagum, menunduk dengan
hormat di depannya sambil berkata, ”Kita akan persis melakukan seperti apa yang Mulia perintahkan.”
Waktupun berlalu, binatang-binatang lain yang tinggal di hutan menggangap dia seperti raja mereka juga.
Setelah beberapa lama , singa dan harimau bahkan menjadi pengikutnya.
Hal ini menambah kebanggaan serigala.
Dia menjadi begitu sombong sampai dia menolak untuk mengizinkan serigala-serigala yang bersaudara dengannya untuk menjadi
bagian pengiringnya. Ketika salah seorang saudara serigala yang tua itu menyadari bahwa teman-teman serigala yang lain sedih,
dia berkata kepada mereka, ”Jangan bersedih. Kita sangat pintar namun kita juga dihina oleh serigala yang berpura-pura menjadi
raja ini. Kalian lihat nanti, dia akan bayar untuk ini. Singa, harimau dan binatang lain tidak menyadari bahwa dia hanya seekor
serigala dan jadinya mereka menerima dia sebagai raja mereka. Kita harus bertindak agar mereka mengetahui apa yang benar. Saya
tahu bagaimana caranya untuk melakukan ini. Marilah kita berkumpul sore ini dan mulai berseru pada saat yang sama. Raja pasti
akan ikut dan berseru, karena memang dia adalah seekor serigala biasa.”
Sore itu, serigala berkumpul dan mulai berseru.
Karena itu adalah sifat pembawaannya, serigala yang berwarna biru tua pun ikut berseru dan petualangannya pun berakhir.
Langsung saja, singa, harimau dan binatang-binatang lain menyadari bahwa mereka telah ditipu. Mereka menyambar serigala itu
lalu membunuhnya.
Seekor serigala tua pada saat mendengar tentang berita itu menganggukkan kepalanya dan berkata,“Tidak ada gunanya untuk menipu,
karena sesungguhnya kebenaran itu pada akhirnya akan menang.” |
|||
Dahulu kala, di suatu danau di kota Magdha, hidup seekor kura-kura. Dua ekor angsa undan juga hidup
di dekat sana. Mereka bertiga adalah teman yang sangat akrab. Pada suatu hari, beberapa nelayan tiba di sana dan berkata,
“Kita akan datang ke sini besok pagi dan menangkap ikan dan kura-kura.” |
|||
![]() |
|||
Pada waktu kura-kura mendengarnya, dia berkata kepada angsa-angsa undan, “ Apakah kalian dengar apa yang dikatakan nelayan-nelayan tadi?xxx Apa yang akan kita lakukan sekarang?’
“Kami akan melakukan apa yang terbaik". "Saya sudah pernah melewati waktu yang sangat mengerikan dahulu”, kata kura-kura. “Jadi bisakah engkau membantu saya pergi hari ini ke danau yang lain?”
“Tapi itu tidak aman untuk kamu dengan merangkak ke danau yang lain”, kata angsa-angsa undan.
“Baik, kamu bisa mengangkat saya ke sana dengan menumpang dua di antara kamu” jawab kura-kura sambil merasa bahagia sekali dengan dirinya sendiri .
“Bagaimana kita bisa melakukannya?” Tanya angsa-angsa undan.
“Masing-masing bisa memegang ujung kayu di paruhmu sementara saya memegang kayu tengahnya di mulutku. Kemudian jika kamu terbang, saya bisa ikut dengan kamu”, kata kura-kura.
“Rencana yang bagus sekali”, kata angsa-angsa undan. “Tapi ini juga sangat berbahaya karena kalau kamu membuka mulutmu untuk bicara, kamu akan terjatuh.”
“Apakah kamu mengira saya begitu bodoh?” Tanya kura-kura.
Kemudian pada waktu angsa-angsa undan itu terbang sambil mengangkat temannya si kura-kura di kayu, mereka terlihat oleh beberapa orang penggembala sapi yang berada di bawah.
Karena terkejut, para penggembala itu berkata, “Sesuatu yang aneh, lihatlah! Angsa-angsa undan sedang membawa kura-kura ke suatu tempat.”
“Wah, kalau kura-kura itu jatuh kita akan memanggangnya”, kata salah satu gembala sapi.
“Saya akan memotong dia menjadi bagian-bagian kecil dan memakannya” kata yang lain.
Mendengar kata-kata yang begitu kasar dari para gembala sapi, kura-kura lupa di mana dia sedang berada kemudian berteriak dengan marah, “Kamu akan makan abu."
Pada saat dia membuka mulutnya, ia kehilangan genggamannya dan dia pun jatuh terpelanting ke tanah dan langsung disambar oleh gembala sapi kemudian dibunuh.
Angsa-angsa undan dengan sedih melihat kehancuran teman mereka (si kura-kura) dan dengan putus asa mengharap bahwa dia seharusnya mendengar nasihat mereka untuk tidak membuka mulutnya.
Oleh karenanya, nasehat yang baik itu tidaklah ternilai harganya. |
|||
Dahulu kala, hidup tiga ekor ikan di sebuah kolam.
Pada suatu hari, beberapa nelayan melewati kolam itu. Mereka saling berkata, ”Kita akan datang ke sini besok
pagi dan menangkap semua ikan.”
Pada waktu mendengar hal ini, salah seekor ikan berkata, ”Saya akan segera pergi ke kolam lain dan berenang
dari sana melalui sebuah terusan ke kolam yang lain.” |
|||
![]() |
|||
Ikan yang lain berkata, ”Bagaimana saya tahu apa yang akan
terjadi besok? Kalau saya melihat bahaya, saya akan menghadapinya.”
“Kenapa harus repot!” kata ikan yang ketiga. ”Apa yang akan terjadi terjadilah.”
Pagi berikutnya, nelayan-nelayan sampai di sana dan melempar jala mereka.
Ikan kedua tertangkap di jala itu dan berpura-pura seakan-akan sudah mati.
Pada waktu dia baru diambil dari jala, dia mengumpul semua kekuatannya dan melompat kembali ke dalam
air dan berenang ke tempat yang aman.
Ikan ketiga tertangkap di jala ini dan dibunuh oleh nelayan-nelayan.
Ketika para nelayan sudah pergi , ikan kedua yang selamat, walau sedih tentang temannya, merasa bahagia
untuk hidup dan berpikir, “Adalah kesalahan yang besar untuk menyerahkan masalah kepada nasib. Pada tanda
bahaya yang pertama, seorang harus bertindak cepat-cepat.” |
|||
Di dekat pegunungan disebelah utara, di sebuah pohon ara di tepi sungai Amravati hidup sepasang burung bangau.
Di sebuah lubang di kaki pohon, hidup seekor ular hitam. Dia suka menggelincir ke atas pohon dan memakan anak-anak burung bangau.
|
|||
![]() |
|||
Suatu kali, pada waktu burung bangau betina meratap karena kehilangan anak-anaknya,
burung bangau yang lain yang tinggal di sebuah pohon dekat sana menyarankan, “Lakukan seperti yang saya katakan. Taburkan
beberapa potongan ikan kecil dari lubang luwak ke lubang ular hitam itu. Luwak sangat rakus dengan ikan. Ketika sedang
mengikuti jejak untuk makan ikan, luwak pasti akan sampai pada lubang itu. Dan ketika dia melihat musuhnya si ular hitam,
dia pasti akan membunuhnya.”
Seperti yang sudah diramalkan, luwak mengikuti jejak ikan, dan dengan kebetulan melihat ular tersebut lalu membunuhnya.
Bagaimanapun, luwak juga mendengar teriakan anak-anak bangau yang baru lahir. Dia cepat-cepat dengan susah payah menaiki pohon
dan memakan mereka semua.
Burung bangau yang berdekatan merasa sedih dan merasa bersalah karena memberi petunjuk tanpa berpikir matang. Dia berkata pada dirinya sendiri,
“Kalau orang berpikir tentang sebuah rencana, seharusnya dia juga berpikir tentang akibatnya.”
|
|||
Dahulu kala, di suatu tempat pertapaan, hidup seorang pertapa yang besar.
Pada suatu hari, pada waktu dia sedang duduk untuk makan siang, seekor tikus jatuh dari paruh burung gagak ke tanah dekat dia.
Dia mengangkat tikus itu lalu membawanya ke dalam pertapaannya dan memberi dia sedikit nasi.
|
|||
![]() |
|||
Pada satu hari, pertapa itu melihat seekor kucing mengejar tikus itu di luar pertapaan.
Dia takut bahwa tikus kesayangannya akan dibunuh oleh kucing itu.
Karena penebusan dosa, yang dilakukannya, pertapa itu dapat mengubah tikus menjadi seekor kucing agar tikus ini bisa
mempertahankan diri melawan kucing-kucing lain.
Tidak lama kemudian, seekor anjing muncul dan mulai mengonggong dan mengejar si kucing.
Waktu pertapa melihat ini, dia mengubah kucingnya menjadi seekor anjing.
Satu hari, anjingnya merasa takut oleh seekor harimau. Pertapa langsung mengubah anjingnya menjadi seekor harimau dengan
kekuatan penebusan dosanya.
Bagaimanapun pertapa itu selalu memperlakukan harimau, seakan-akan ia masih tikus kecilnya.
Tiap kali orang-orang desa yang melewati pertapaan melihat harimau, mereka berkata, ”Hai, itu bukan seekor harimau. Ini hanyalah
seekor tikus yang si pertapa ubah menjadi seekor harimau. Dia tidak akan memakan kita ataupun menakuti kita.”
Waktu harimau mendengar itu, dia merasa sangat marah.
Dia berpikir, “Selama pertapa itu hidup, kebenaran tentang sifat saya yang nyata tidak akan pernah mati. Saya harus membunuhnya
dan membebaskan diri dari dia untuk selama-lamanya.”
Maka harimau memutuskan untuk membunuh si pertapa. Tapi pada saat pertapa melihatnya mendekati dia, dia tahu apa yang ada di pikirannya.
Dia menjerit, ”Kembalilah kepada bentukmu yang dulu, yaitu seekor tikus .”
Ketika dia mengucapkan kata-kata itu, binatang itu menyusut menjadi seekor tikus yang kecil kembali.
Pertapa itu memandang dia dengan perasaan kasihan, lalu berkata,“Betapapun seseorang itu besar atau kecil, adalah bijak untuk
selalu merendahkan hatinya.” |
|||
Dahulu kala, seekor burung jenjang tua hidup di dekat sebuah danau di kota Malwa.
Dia menjadi begitu lemah sehingga dia tidak mempunyai kekuatan lagi untuk menangkap ikan.
Dia kemudian memikirkan tentang sebuah rencana untuk mendapatkan makanan ikan dan kepiting tanpa harus berusaha untuk menangkapnya.
|
|||
![]() |
|||
Dia pergi ke tepi danau dan berdiri seolah–olah mati diliputi rasa sedih. Seekor kepiting yang
melihat burung jenjang berdiri dengan sedih di sana bertanya, “Kenapa kamu berdiri di sana dan tidak berbuat
apapun tentang menangkap ikan?”
“Temanku tersayang, seperti kamu tahu saya hidup dengan makan ikan, “Besok pagi seorang nelayan akan datang ke
sini untuk menangkap semua ikan di danau ini. Saya mendengar berita itu di perbatasan kota. Tanpa ikan saya pasti
akan mati. Berita ini sangat menganggu saya sehingga saya tidak ingin makan apapun dari itu.”
Pada waktu ikan mendengar berita yang mengejutkan ini, mereka mulai membicarakan masalah itu sambil berkata, ”Burung
jenjang ini adalah musuh kita, tapi pada saat kita memerlukan bantuan, mungkin dia bisa membantu kita. Mari kita bertanya
kepada dia apa yang harus kita lakukan”
Ikan-ikan itu berenang menuju burung jenjang dan bertanya, ”Bagaimana kita bisa terus hidup? Apa yang harus kita lakukan?
Bisakah anda memberi kami nasihat?”
Berpura-pura seperti berpikir tentang masalah ini serta merasa bahagia bahwa rencananya berjalan dengan baik, burung jenjang
menjawab, ”Pasti ada satu cara untuk keluar dari masalah ini! ”Saya akan membawa kamu satu per satu ke danau yang lain tidak
jauh dari sini!”
Ikan merasa lega dan menerima rencana burung jenjang.
Setiap hari, burung jenjang membawa beberapa ikan satu per satu di atas punggungnya ke tempat yang tidak begitu jauh dari danau
itu lalu memakan mereka semua.
Burung jenjang hidup dengan tenang untuk beberapa hari tanpa harus mempergunakan kekuatan dia untuk menangkap ikan.
Pada suatu hari, seekor kepiting berkata, ”Oh burung jenjang! Tolong bawa saya juga ke tempat yang aman!”
Burung jenjang langsung setuju sambil berpikir, ”Wah! Wah! Saya akan makan kepiting yang berbeda.”
Pagi berikutnya, burung jenjang mengangkat kepiting di punggungnya ke tempat dia membawa ikan-ikan lain yang telah dimakannya.
Kepiting melihat tumpukan tulang ikan-ikan mati.
Dalam sekejap, dia menyadari apa yang dilakukan burung jenjang dari dulu.
Dia mengeluh dan berpikir, ”Aduh! Ini benar-benar nasib buruk! Kelihatannya saya akan mati tetapi saya tetap akan
memberanikan diri selama saya bisa dan melihat apa yang bisa dilakukan.”
Kepiting meletakkan cakarnya pada leher burung jenjang lalu menceceknya.
Burung jenjang jatuh ke tanah dalam keadaan sudah mati, ”Wah!Wah!” kata kepiting. “Kamu tidak bisa lari dari perbuatanmu yang
jelek. Satu hari mereka pasti akan mengejarmu!”
|
|||
Pada suatu masa, hidup seorang Brahmin yang mempunyai cara berpikir yang sederhana.
Suatu hari, dia membeli seekor kambing yang gemuk dari desanya untuk dipersembahkan sebagai korban kepada para Dewa. |
|||
![]() |
|||
Dia meletakkan kambing itu di pundaknya lalu berangkat ke rumahnya melalui sebuah hutan.
Di tengah perjalanannya, dia terlihat oleh tiga orang penipu.
Pada waktu mereka melihat kambing yang gemuk di pundaknya, mereka saling berkata, ”Bagaimana kita bisa mengambil kambing itu
dari dia? Kambing itu bisa menjadi santapan yang lezat.”
Maka mereka berpikir dan secara kebetulan menemukan sebuah rencana.
Si Brahmin yang memiliki cara berpikir sederhana tidak melihat mereka berlari melalui hutan dan menunggu di beberapa titik
tertentu di jalan menuju rumah Brahmin.
Ketika Brahmin sampai pada penipu pertama, orang itu menunduk di depan Brahmin berpura-pura memberi hormat lalu berkata, ”Oh
manusia suci! Kenapa Anda membawa seekor anjing di pundakmu?”
“Anjing?” kata Brahmin kelihatan terkejut ”Bagaimana mungkin saya membawa seekor anjing ke rumah saya untuk dipersembahkan
sebagai korban kepada Dewa-dewa saya?”
Sepanjang jalan, Brahmin yang mempunyai cara berpikir sederhana terus-menerus mengomel atas ucapan penipu itu.
Setelah berjalan beberapa jarak, penipu kedua menghentikannya orang itu, menunduk dan Brahmin itu merasa bahwa orang itu
sedang memperlihatkan rasa hormat .
Si penipu berkata, ”Manusia suci! Kenapa Anda membawa seekor anjing di pundakmu?”
Kali ini Brahmin yang mempunyai cara berpikir sederhana merasa begitu heran sehingga dia meletakkan kambing itu di atas tanah
dan mengamati kambing itu dengan hati-hati untuk memastikan yang sebenarnya.
Puas bahwa ini benar-benar adalah seekor kambing, dia meletakkan kambing kembali di atas pundaknya dan berjalan cepat-cepat ke
rumahnya.
Namun begitu, pikirannya tidaklah tenang.
Sambil berjalan cepat-cepat untuk sampai ke rumahnya, dia masih berpikir tentang kejadian ini.
Selang beberapa jarak, Penipu ketiga menyambut dia, ”Manusia suci!”, si penipu berkata. Apakah Anda harus membawa sebuah anjing?,
binatang tidak bersih di pundakmu?!”
Ini yang terakhir. Brahmin itu merasa yakin bahwa dia sedang membuat kesalahan yang besar. Dia langsung membuang kambing dari
pundaknya dan lari secepatnya.
Tiga orang penipu merampas kambing tersebut sambil tertawa dengan mulut tertutup karena perasaan puas sambil berkata satu sama l
ainnya “Tidaklah layak menjadi seorang Brahmin bila dia mudah tertipu. Setiap orang harus percaya diri.”
|
|||
Di sebuah hutan, hidup seekor singa bernama Madotkata. Pengikutnya adalah seekor
burung gagak, harimau dan serigala.
Suatu hari, pada waktu mereka sedang mengembara, mereka melihat seekor unta yang terpisah dari kawannya.
Mereka berteman dengan unta dan membawa dia ke Madotkata, raja mereka. |
|||
![]() |
|||
Sang raja menyakinkan unta bahwa dia bisa hidup dengan aman.
Dia memberi nama kepada unta itu ”Citra Karna” yang berarti “Telinga yang berbintik-bintik” dan mengundang sang unta
untuk tinggal bersama mereka.
Waktu pun berlalu.
Pada suatu hari, singa itu menjadi sakit.
Pada hari itu juga ada hujan deras yang membuat sukar binatang-binatang untuk mendapatkan apapun untuk dimakan. Mereka
sangat cemas akan hal itu.’
Mereka membicarakan masalah ini dan berkata, ”Marilah kita usahakan supaya singa membunuh unta. Apa gunanya unta ini bagi kita?”
"Si singa sudah menjanjikan keselamatan unta. Jadi bagaimana singa bisa membunuh dia?” kata harimau. |
|||
![]() |
|||
“Tuan kita sangat lapar. Dia mungkin tidak keberatan untuk tidak menepati janjinya dan
mungkin membunuh unta itu, biar pun hal itu merupakan perbuatan dosa,” kata burung gagak.
Lalu merekapun pergi ke singa.
“Apakah kamu sudah bisa mendapat makanan?” Tanya singa.
“Yang Mulia!” mereka berkata, ”Meskipun dengan usaha sebaik-sebaiknya, kami belum menemui apapun.”
“Bagaimana kita bisa hidup tanpa makan?” kata singa.
“Anda mempunyai makanan yang tersedia, tapi Anda tidak memakannnya,” kata burung gagak.
“Makanan apa?” Tanya singa.
Burung gagak berbisik di telinga singa, ”Citra Karna, si unta.”
“Tuhan melarang hal ini. Kita sudah meyakinkannya bahwa dia bisa hidup dengan aman,” jawab singa, “Bagaimana kita bisa membunuhnya?”
”Kita tidak perlu membunuhnya. Kita akan merencanakan sebuah cara agar unta tersebut menawarkan dirinya dengan rela hati.”
Pada waktu singa mendengar ini, dia tetap diam.
Burung gagak berpikir tentang hal ini. Dia membuat sebuah rencana rahasia.
Pada waktu yang tepat, si burung gagak, harimau dan serigala pergi ke singa.
“Tuan! Kita belum berhasil dalam usaha kita untuk mendapatkan makanan, dan tuan juga lagi menderita sangat lapar. Jadi makanlah saya “ kata burung gagak.
“Teman, lebih baik mati daripada melaksanakan tindakan yang begitu jahat,” jawab singa.
“Yang mulia! Kenapa Anda tidak memakan daging saya supaya Anda bisa hidup?” mohon serigala.
“ Tidak akan!” jawab singa.
“Oh raja! Berikanlah tenaga kepada diri Anda dengan daging saya”, mohon harimau.
“Tidak pantas bagi saya untuk melakukannya!” jawab singa.
Si unta yang saat itu mendengar pembicaraan mereka, merasa yakin sekali tentang janji raja mengenai keselamatannya.
Dari lubuk hatinya, ia berkata, ”Yang Mulia! Perbolehkan saya untuk menawarkan badan saya!”
Pada saat unta mengatakan hal ini, harimau meloncat ke atas dia, mengoyak badannya dan merobeknya sampai menjadi bagian-bagian kecil.
Ketiga pengikut dan raja memperoleh sebuah santapan yang besar dan enak, jamuan daging unta yang malang.
Orang bijak berkata, “Orang-orang bodoh memang selalu menjadi permainan orang-orang jahat.”
|
|||
|
Pada suatu hari, di sebuah kebun yang tertutup oleh tanaman dan rumput-rumput liar, hidup seekor ular tua bernama Mandavisa.
Dia sudah menjadi begitu tua sampai dia tidak bisa memburu untuk keperluan makanannya.
Pada suatu hari, ketika dia sedang beristirahat di tepi sebuah danau. seekor kodok yang kebetulan melihat dia bertanya dari
jarak yang aman, |
|||
![]() |
|||
”Kenapa kamu tidak berburu makanan ?”
“Oh teman! ”Tolong tinggalkan saya sendirian. Kenapa menyiksa seorang yang sudah ditinggalkan takdir?” jawab ular.
Keinginan kodok untuk mengetahui hal ini timbul lalu ia berkata, ”Katakanlah kepada saya persoalanmu.”
Ular pun bercerita, ”Teman! Dahulu saya pernah menggigit anak laki-laki seorang Brahmin bernama Kaundinya di
kota Brahmapura. Anak itu adalah anak yang cakap dan berbakat. Pada waktu bapaknya melihat anaknya mati, dia
jatuh pingsan. Keluarganya berusaha untuk mengembalikan keadaannya seperti semula. Ketika Brahmin itu sadar,
dia berkata, ”Saya akan meninggalkan pekerjannku dan semua kesenangan duniawi dan saya akan pergi ke hutan
untuk bermeditasi.” Kemudian dia mengutuk saya sambil mengatakan, ”Mulai hari ini, kodok-kodok akan mengunakan
kamu seperti alat pengangkutan. Jadi terkutuklah saya menunggu kodok-kodok untuk menunggangiku.”
Kodok yang mendengar apa yang dikatakan ular pergi ke Jalapada, raja kodok dan menceritakan tentang ular yang
terkutuk itu .
Raja kodok pergi ke Mandavisa, si ular, dan melompat dengan satu kaki atas punggung ular. Ular itu membawa dia
maju mundur dan hal ini membuat dia bahagia.
Pagi berikutnya, ular berpura-pura seakan-akan dia tidak bisa bergerak,
Raja kodok bertanya, ”kenapa kamu merayap begitu pelan- hari ini?”
“Saya tidak punya makanan”. Jawab ular.
“Wah” saya akan membiarkan kamu memakan kodok-kodok di kerajaanku mulai hari ini,” kata raja.
“Tuan! Saya terima tawaran anda.” Jawab ular dengan rendah hati.
Pada waktunya, ular memakan semua kodok satu per satu dan akhirnya raja kodok juga.
Pada waktu gilirannya tiba, raja kodok berpikir dengan sedih, “Saya begitu bodoh sampai masuk dalam perangkap
bajingan seperti ini!” |
|||
Di kota Ujjain, hidup seorang Brahmin bernama Madhava.
Pada suatu hari, isterinya pergi keluar untuk mandi dan meninggalkan bayi laki-laki mereka untuk dijaga oleh Brahmin.
|
|||
![]() |
|||
Pada saat yang sama, Brahmin ini menerima undangan dari raja supaya hadir di istana untuk menerima hadiah-hadiah karena
hari ini adalah hari perayaan.
Si Brahmin yang sangat miskin berpikir, ”Wah! Kalau aku tidak pergi ke istana raja sekarang juga, mungkin Brahmin lain
akan mendapat hadiah-hadiah itu. Saya lebih baik pergi cepat-cepat ke sana. Tapi tidak ada siapapun disini untuk menjaga
bayi ini. Apa yang harus saya lakukan?”
Dia memperhatikan binatang kesayangannya, si luwak dan berpikir, ”Luwak ini dibesarkan seperti anak laki-laki saya sendiri.
Saya kira saya akan meninggalkan anak saya dalam perlindungannya sementara saya pergi.”
Maka berangkatlah si Brahmin ke istana raja.
Pada saat luwak sedang menjaga sang bayi, dia melihat seekor ular merayap menuju si bayi. Dia meloncat di atas ular itu dan
membunuhnya.
Pada saat si Brahmin kembali, luwak yang setia itu berlari keluar untuk menyambut tuannya lalu berguling-guling
di kaki Brahmin.
Ketika Brahmin melihat muka luwak penuh darah, dia berpikir, ”Aduh Tuhan! Dia telah membunuh anak saya!”
Tanpa berpikir panjang, dia kemudian membunuh si luwak.
Namun ketika Brahmin masuk ke dalam, dia menemukan anaknya masih hidup dan sedang tidur pulas. Di dekat situ, seekor
ular tergeletak di tanah dalam keadaan mati. Kesetiaan luwak yang tidak mementingkan dirinya mulai timbul dalam pikiran
Brahmin dan dia akhirnya merasa sengsara karena perbuatannya.
Dengan penuh penyesalan yang sangat besar, dia berpikir, “Benar juga! “Kalau seorang bertindak dalam
keadaan tergesa-gesa,
dia akan menyesali dosanya untuk selama-lamanya.” |
|||