HITOPADESHA IN INDONESIAN

NASEHAT YANG BERGUNA
 
Aslinya ditulis dalam bahasa Sansekerta oleh
Sri Narayana Pandit pada tahun 1675 Masehi.
Sekarang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia
 
India adalah rumah dari cerita-cerita fabel yang biasanya dalam dunia Barat selalu diasosiasikan dengan budak Yunani yang disebutkan oleh Herodotus.
Seni bercerita di India dapat dirunut kembali ke masa Rigveda dan Upanishad (dari tahun 1500 sebelum Masehi sampai dengan 500 Sebelum Masehi).

Semenjak itu, Panchatantra dan Hitopadesha serta beberapa koleksi cerita-cerita lainnya yang ditulis dalam bahasa Sansekerta menjadi populer tidak hanya di India namun juga di luar negeri melalui penterjemahan kedalam berbagai bahasa seperti Arab, Persia, Turki, Yunani, Jerman, Perancis dan Inggris karena daya tarik universal dari cerita-cerita tersebut dalam bentuk fabel.
Cerita-cerita fabel dalam Hitopadesha didasarkan pada karakter-karakter yang diambil dari dunia binatang yang mana mereka berpikir, berbicara dan bertindak seperti layaknya manusia.

Kecerdikan, tingkah laku moral dan filsafat mengenai binatang-binatang ini akan memberi inspirasi bagi pemikiran untuk menggali lebih jauh literatur Sansekerta dan penerjemahan-penerjemahannya.
Cerita dirangkai dalam bentuk hikayat seorang raja yang meminta seorang Brahmana untuk mendidik pangeran-panegrannya dan memberikan pencerahan terhadap pikiran-pikiran mereka.

Si pencerita membuat cerita dalam cerita dengan menggunakangaya baik artistik dan elegan. Hikayat diceritakan dalam bentuk prosa sementara penjelasan dari suatu tema filsafat dan moral ditempatkan dalam bentuk syair.
Peribahasa-peribahasa atau perkataan-perkataan berguna juga diekspresikan dalam bentuk syair yang merangkum cerita tersebut atau memperkenalkan hikayat berikutnya.

Hitopadesha adalah turunan dari Panchatantra dan sebuah pengulangan tentang nasehat yang baik. Setiap fabel dapat diaplikasikan ke dalam ciri-ciri pembawaan manusia, seperti cinta, benci, iri, cemburu dan seterusnya.
Setiap fabel memiliki sebuah tema moral dan filsafat yang tidak hilang daya tariknya bahkan di jaman modern - sebuah jaman ketakutan dan kegilaan akan atom.

Hitopadesha sangat berkaitan erat dengan 'Nitishastra' yang dalam bahasa Sansekerta berarti 'Sebuah buku tentang tingkah laku yang bijaksana dalam hidup'.
Buku tersebut berfungsi sebagai sebuah pedoman dan memberikan kepada kita sebuah pengetahuan yang dalam mengenai sifat manusia, ia mengajarkan kepada kita bagaimana memilih teman atas dasar kelayakan dan sifat dapat dipercaya dari mereka, bagaimana menyelesaikan hambatan-hambatan dalam kehidupan secara bijaksana dan penuh perhitungan serta bagaimana mencapai tujuan hidup berupa kedamaian dan harmoni berhadapan dengan kemunafikan dan kebohongan.

Singkatnya, Hitopadesha membimbing kita mencapai sukses dalam hidup melalui pemahaman mengenai sifat manusia.
Terdapat gemerlap kecerdikan dan humor dalam hikayat-hikayat ini dan juga sebuah pengaruh yang menggerakkan pemikiran dewasa. Anak-anak diperlihatkan dengan suguhan yang berbeda-beda. Mereka terpikat dengan keberadaan binatang-binatang juga membangun perasaan sayang yang kuat terhadap karakter-karakter dari cerita-cerita tersebut.

Jadi, Hitopadseha adalah sebuah karya antik yang tinggi dan memiliki popularitas yang lama serta berisi sumber filsafat kebijaksanaan India - sebuah sumber madu.

Amolak L. Chandiramani




Isi

Bagian I

Mitralaba - Pemerolehan Teman-Teman

1. Cerita tentang seorang pemburu, seekor burung gagak, Beberapa burung merpati dan seekor tikus.

2. Cerita tentang seekor harimau tua Dan seorang pengembara yang serakah

3. Cerita tentang seekor burung gagak, Seekor kijang dan seekor serigala.

4. Cerita tentang seekor burung hering buta, Beberapa burung dan seekor kucing.

5. Cerita tentang seekor tikus kaya Dan seorang pertapa.

6. Cerita tentang seorang suami tua yang kaya Dan isterinya yang muda.

7. Cerita tentang seorang pemburu, seekor kijang, Seekor babi, Seekor ular dan seekor serigala.

8. Cerita tentang seorang pangeran, Seorang wanita cantik dan suaminya.

9. Cerita tentang seekor gajah Dan seekor serigala yang licik.



Hitopadesha

Penghormatan kepada Dewa Ganesha

Biarkanlah orang-orang saleh
Mencapai cita-cita mereka,
Melalui berkah-berkah Dewa Siwa,
Yang kepalanya dihiasi oleh bagian dari sang bulan,
Seperti selintas buih dari sungai Gangga.

Ketika diperdengarkan Hitopadesha ini,
Memberikan kemahiran ekspresi-ekspresi
Dalam bahasa Sansekerta,
Keseluruhan macam dalam pidato,
Dan pengetahuan tentang ilmu etika.

Seolah-olah tetap muda dan tidak pernah mati,
Seorang bijak harus memikirkan
Tentang pengetahuan dan kekayaan
Seolah-olah rambutnya dicengkeram kematian,
Dia harus melakukan perbuatan-perbuatan saleh.

Diantara semua kekayaan,
Pengetahuan sendiri disebut sebagaiL
Kekayaan yang tidak ada bandingannya,
Karena ia tidaklah mungkin,
Dicuri, ditaksirkan atau habis.

Pengetahuan sendiri meski dimiliki
Oleh seorang yang berkasta rendah,
Akan membawa dia memiliki kontak
Dengan seorang raja yang tidak dapat ditemui,
Dan kemudian dengan keberuntungan yang besar;
Seperti sebuah sungai meskipun mengalir kebawah,
Akan membawa seseorang ke laut
Yang tidak dapat dicapai.

Pengetahuan memberikan kerendahan hati bagi seseorang
Dari kerendahan hati
Seseorang memperoleh kebaikan-kebaikan,
Kebaikan-kebaikan membawa kepada kekayaan,
Dari kekayaan seseorang menuju
Kepada nilai-nilai religius,
Dan dari situ,
Seseorang memperoleh kebahagiaan.

Mempelajari tentang persenjataan
Dan ayat-ayat kitab,
Pengetahuan tentang kedua hal ini
(Membawa) kepada nama harum:,
Yang pertama (membawa) kepada cemoohan
Pada masa lampau.

Sementara yang kedua selalu dihormati.
Sama seperti kesan
Yang dibuat pada sebuah kendi baru, After telling the stories to the children.
Tidak akan menjadi seperti sebaliknya made the impression on their
Jadi dengan menyamar sebagai fabel-fabel, minds cannot be eraseed
Ilmu etika diceritakan disini kepada anak-anak.

Pemerolehan teman-teman,
Retaknya persahabatan,Perang, Berpisahnya Teman -Teman
Dan juga Perdamaian,
Hal-hal ini ditulis setelah menyarikan mereka,
Dari Panchatantra dan karya-karya lainnya.

Di tepi sungai Bhagirathi terdapat sebuah kota bernama Patalipura. Kota tersebut diperintah oleh seorang raja bernama Sudarshana yang diberkati dengan keseluruhan sifat-sifat dari seorang Raja.

Suatu ketika, sang raja mendengar sepasang ayat dideklamasikan oleh seseorang:

Menghilangkan segala keraguan
Sementara memperlihatkan hal-hal yang tak terlihat,
Ayat-ayat kitab suci adalah mata dari segalanya,
Seseorang yang tidak memilikinya,
Tentulah ia buta:

Kemudaan, berlimpahnya kekayaan,
Kewenangan dan kesembronoan;
Satu dari hal-hal ini (membawa) kepada malapetaka,
Bagaimana bila terdapat suatu kombinasi antara keempatnya?

Mendengar hal ini, sang raja yang hatinya kesal karena tingkah laku yang kurang baik dari anak-anaknya yang tidak pernah belajar kitab-kitab suci berpikir:

Apa gunanya seorang anak yang terlahir,
Yang mana tidak terpelajar atau pula saleh?
Apa gunanya sebuah mata yang cacat?
Ia hanyalah kesakitan.

Dari anak-anak yang belum lahir,
Meninggal atau bodoh:
Dua yang pertama lebih disukai
Dan bukan yang paling akhir,
Karena dua yang pertama
Menyebabkan kesedihan hanya sekali,
Sementara yang paling akhir pada setiap langkah.



Dan juga:

Ia benar-benar telah terlahir
Yang dengan kelahiran mana,
Keluarga mencapai kenaikan,
Kalau tidak, di dunia yang terus berputar ini,
Bukankah kematian dan kelahiran
Saling mengikuti satu sama lain?



Lebih pula

Pada saat dimulainya penghitungan
Jumlah orang-orang yang saleh,
Untuk yang mana jari kecil        Foot note In India the counting is
Tidak turun ke bawah dengan cepat :       done by bending the fingers starting
Jika dengannya,        from the smallest fimger first and then
Seorang ibu disebutkan        onwards
Memperoleh seorang anak laki-laki,
Katakanlah kepadaku,
Bukankah ibu tersebut dalam kenyataan
Seperti seorang wanita yang mandul?



Juga

Seorang anak yang saleh lebih disukai
Ketimbang seratus anak yang bodoh,
Sama ketika sebuah bulan menghapus kegelapan,
Bukan bintang-bintang yang tak terhitung;

Di suatu tempat ziarah yang suci,
Seseorang yang telah melaksanakan
Sebuah penebusaan yang sulit,
Memperoleh seoarang anak
Yang patuh, kaya, saleh dan terpelajar



Sebagaimana disebutkan:

Di dunia yang fana ini, Oh paduka,
Inilah keenam hal kesenangan:
Pemerolehan kekayaan:
Selalu terbebas dari kesakitan,
Seorang isteri yang tercinta,
Seorang yang berkata manis
Seorang anak yang patuh
Dan sebuah pengetahuan yang selalu memperkaya.

Seorang ayah yang berhutang,
Seorang ibu yang pergi tersesat,
Seorang isteri yang sangat cantik
Dan seorang anak yang bodoh;
Kesemua hal ini adalah seperti musuh.



Dan juga:

Pengetahuan tanpa latihan,
Adalah racun:,
Selama salah mencerna,
Memakan makanan adalah racun:
Bagi seorang yang miskin,
Suatu majelis adalah racun,
Dan bagi seorang yang tua,
Seorang isteri muda adalah racun.

Tanpa melihat dari keluarga mana seseorang terlahir,
Siapa yang diberkahi dengan kebajikan-kebajikan,
Akan dihormati:

Apa gunanya sebuah busur
Yang terbuat dari bambu yang bagus
Bila ia tanpa senar?

Aduh,anak-anakku!
Kalian tidak belajar pada malam-malam
Yang telah lewat,
Jadi nasib kalian diantara para terpelajar,
Akan menjadi seperti seekor sapi di dalam lumpur.

Sang raja melanjutkan, "Jadi bagaimana sampai anak-anakku diberkahi dengan kualitas-kualitas yang baik?"



Untuk:

Makanan, tidur, ketakutan dan seks;
Hal-hal ini adalah umum bagi binatang dan manusia,
Hanya perasaan akan tanggung jawab
Menonjol dalam diri manusia
Dan tanpa itu,
Seorang manusia hanyalah
Sama seperti seekor binatang.



Juga:

Kewajiban-kewajiban agama, pemerolehan kekayaan,
Seks dan pembebasan dari kesengsaraan dunia;
Siapa yang belum pernah.
Mencapai salah satu dari hal-hal ini;
Kelahirannya sama seperti tidak ada gunanya,
Seperti sebuah puting pada leher seekor kambing.



Sebagaimana disebutkan:

Hidup, tindakan, kekayaan, pengetahuan dan kematian;
Inilah kelima hal yang ditakdirkan kepada manusia,
Pada saat dia masih berada dalam kandugan. //??????Ketika - Not pada saat



Dan juga:

Apapun yang ditakdirkan akan terjadi,
Terjadi bahkan kepada yang mulia,
Seperti telanjangnya Dewa Siva( God of death)
Dan postur Dewa Vishnu ( The preserver of the world),,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Yang bersandar pada ular besar.



Dan lebih lanjut:

Apa yang tidak ditakdirkan,
Tidak akan pernah terjadi,
Jika sesuatu hal sudah ditakdirkan sebelumnya,
Tidak akan pernah terjadi sebaliknya;
Jadi kenapa penangkal racun ini,
Yang menghilangkan racun kegelisahan tidak diminum?:
Inilah ekspresi dari orang-orang yang malas,
Yang tidak mampu menjalankan kewajiban mereka.

M enyerahkan kepada takdir,
Seseorang tidak boleh menyerah dari berusaha,
Seseorang tidak akan mendapatkan minyak
Dari benih wijen
Bila tanpa ada usaha.



Juga:

Keberuntungan mendekati kepada orang
Yang bekerja keras seperti Singa.
Keberuntungan memberi,
Demikian disebut oleh orang-orang
Yang berpikiran lemah:

Lupakanlah nasib,
Lakukan yang terbaik dalam usaha-usahamu,
Jika kesuksesan masih belum tercapai,
Lalu dimanakah kesalahan terletak?

Sama seperti dengan hanya satu roda,
Tidak akan pernah ada gerakan maju oleh kereta,
Sama pula bila tanpa ada usaha-usaha yang tertinggi,
Nasib tidak akan berhasil baik.



Dan lebih lanjut:

Jumlah seluruhnya dari tindakan
Yang dilakukan pada kelahiran-kelahiran sebelumnya,
Disebut sebagai nasib di dunia ini,
Jadi seseorang harus melakukan usaha-usaha
Yang tertinggi
Tanpa bermalas-malas.

Sama seperti yang berasal dari segumpal tanah liat,
Si pembuat barang-barang tembikar
Membuat sesuai keinginannya,
Jadi dari perbuatan-perbuatan
Yang dilakukan oleh dirinya sendiri,
Seseorang berhasil baik.

Bahkanpun jika secara kebetulan,
Seseorang melihat sebuah harta karun
Muncul di depannya,
Nasib tidak akan menangkapnya,
Akan tetapi mengharap usaha-usaha darinya.

Upaya menjadi berhasil melalui usaha,
Dan tidak melalui harapan-harapan semata,
Si kijang tidak akan masuk dengan sendirinya
Ke mulut singa yang sedang tidur.

Seorang anak akan menjadi berbudi jujur
Jika diajar oleh orang tuanya.
Seorang anak tidak langsung
Menjadi terpelajar pada saat dilahirkan.

Si ibu adalah seorang lawan,
Si ayah adalah seorang musuh,
Oleh siapa anaknya tidak diajar:

Dia tidak akan berkilau dalam majelis,
Seperti seekor burung bangau diantara angsa-angsa.

Orang-orang yang diberkahi
Dengan kecantikan, kemudaan,
Latar belakang yang mulia        ????Foornote:Kimshuka flower is very nice to
Tetapi tanpa pengetahunan        look at but has no fragrance
Tidak akan bernilai seperti bunga-bunga Kimshuka
Yang tidak harum.

Bahkan seorang yang bodoh,
Dengan pakaian buatan pabrik yang sangat bagus,
Berkilau dalam suatu majelis,
Namun hanya sampai ketika dia membuka mulutnya.

Mempertimbangkan hal ini, sang raja mengadakan satu pertemuan dewan para orang terpelajar.

Sang raja berkata, "Oh para pandit, dengarlah. Apakah ada sarjana yang sangat kaliber yang akan memberikan kepada anak-anak saya, yang mana mereka terus-menerus tersesat ke arah yang salah dan mereka tidak pernah belajar ayat-ayat dari kitab suci, kelahiran kedua sekarang, melalui instruksi-instruksi dari pengetahuan etika?

Untuk:

Kaca yang berhubungan dengan emas,
Akan menerima kecemerlangan
Yang dimiliki oleh sebuah zamrud:
Demikian pula bila berhubungan
Dengan orang yang saleh
Seorang yang bodoh akan mencapai daya guna.



Disebutkan bahwa:

Para intelek, oh tuanku
Adalah benar-benar terusak.
Dalam hubungannya
Dengan orang-orang rendah;
Ia akan tetap sama
Bila dengan orang-orang
Dari derajat yang sama,
Dan menjadi paling unggul
Bila dengan orang-orang yang terbaik.

Dalam pada itu, seorang sarjana besar seperti Brihaspati yang bernama Vishnusharma yang memiliki banyak pengetahuan tentang prinsip-prinsip ilmu etika, berkata: "Dewa, pangeran-pangeran ini terlahir dari keluarga mulia. Jadi, saya dapat mengajarkan mereka Nitishastra."



Untuk:

Tidak melakukan tindakan terhadap hal
Yamg tidak berguna,
Akan menjadi bermanfaat,
Seekor burung bangau tidak dapat dibuat berbicara
Seperti seekor burung beo,
Bahkan setelah diupayakan
Sampai tidak terhitung banyaknya.



Dan yang kedua:

Dalam keluarga kerajaan ini,
Seorang anak tanpa budi baik,
Tidak dapat dilahirkan:
Dalam sebuah tambang batu delima,
Bagaimana mungkin terdapat sepotong kaca?

"Untuk itu saya akan membuat anak-anak anda memiliki pengetahuan tentang ilmu etika dalam waktu enam bulan."

Sang raja berkata kembali dengan rendah hati:

Bahkan seekor serangga
Yang berhubungan dengan bunga,
Duduk atas kepala yang saleh
Bahkan sebuah batu disembahyang sepert Dewa
Pada saat ditahbiskan oleh orang-orang mulia.



Lebih pula:

Sama pula pada saat matahari terbit,
Benda-benda yang berada di gunung-gunung berkilau,
Hal yang sama terjadi pula dalam hal kebersamaan
Dengan orang-orang saleh,
Bahkan seorang yang berkasta rendah akan berkilau.

Dalam kebersamaan dengan orang-orang saleh,
Kebajikan-kebajikan dikenal
Sebagai kebajikan-kebajikan:
Dalam kebersamaan
Dengan orang-orang yang bukan saleh,
Kabajikan-kebajikan yang sama
Akan berubah menjadi kesalahan-kesalahan:
Sama seperti sungai yang berair manis,
Berubah menjadi asin pada saat mencapai laut.

"Jadi engkau benar-benar mampu mengajarkan Nitishastra kepada anak-anakku ini."

Setelah berkata demikian, sang raja menyerahkan anak-anaknya kepada Vishnusharma dengan segala hormat.

Kemudian, sementara para pangeran sedang duduk dengan nyaman di ruang teras istana, sang sarjana besar berkata kepada mereka dengan pembukaan:

Waktu bagi orang-orang bijak
Berlalu dalam kesenangan,
Melalui puisi dan membaca sastra yang suci
Dan bagi mereka yang bodoh,
Dalam tindakan jahat,
Tertidur atau persengketaan

"Jadi untuk kesenangan kalian, aku akan menceritakan kepada kalian sebuah cerita yang bagus tentang seekor burung gagak, penyu dan lain-lain."

Para pangeran berkata dalam satu paduan suara, "Arya, mohon ceritakan kepada kami!"

Vishnusharma berkata, "Sekarang dengarkan tentang 'Pemerolehan Teman-teman', yang mana ini adalah sajak yang pertama."



Hitopadesha - Bagian I

Mitralabha

Pemerolehan Teman-teman



Meskipun tanpa alat dan kekayaan,
Tetapi bila diberkati dengan kecerdasan,
Teman-teman yang baik
Memperoleh tujuan mereka dengan cepat,
Seperti si burung gagak, penyu, kijang dan si tikus.

Mereka bertanya, "Bagaimana ceritanya?"

Dan Vishnusharma bercerita:

Cerita Tentang Seoramg Pemburu,Seekor Burung Gagak, Beberapa Merpati Serta Seekor Tikus.

Di tepi sungai Godavari, berdiri sebuah pohon kapuk sutera yang besar

Pada nalam hari burung -burung dari semua jarusan datang ke pohon ini dan beristirahat di sini.

Suatu kali ketika fajar, pada saat bulan sementara terbenam di balik pegunungan di sebelah barat, seekor burung gagak yang bernama Laghupatanaka terbangun dan melihat seorang pemburu mendekat yang kelihatan seperti Dewa Kematian kedua.

Melihat pemburu itu, burung gagak berpikir, "Subuh hari ini, saya telah melihat suatu pertanda buruk! Aku tidak tahu pertanda buruk apa yang akan muncul."

Setelah berkata demikian dan hatinya merasa gelisah, dia akhirnya mengikuti jejak pemburu tersebut.



Untuk:

Ribuan sebab dukacita,
Dan ratusan sebab ketakutan,
Hari demi hari menguasai orang yang bodoh,
Tapi tidak bagi seorang yang bijaksana.

Tentunya seorang yang hidup di dunia harus melakukan hal ini:

Pada waktu bangun setiap pagi,
Seseorang harus berpikir
Bahwa sebuah bencana akan segera menimpa.
Entah itu kematian, penyakit atau dukacita,
Yang mana yang akan menimpa hari ini3?

Tidak lama kemudian, si pemburu mengeluarkan beberapa butir nasi, merentangkan jaringnya dan bersembunyikan diri.

Pada saat yang sama, raja merpati bernama Chitragreeva bersama pengikutnya sedang terbang mengembara di udara, melihat butiran-butiran nasi tersebut.

Sang raja merpati berkata kepada merpati lain yang terpesona dengan butiran-butiran nasi tersebut, "Bagaimana mungkin terdapat butiran-butiran nasi disini di dalam hutan yang tidak berpenghuni? Pikirkan hal ini secara hati-hati. Aku tidak melihat sesuatu yang baik dari hal ini. Kemungkinan besar, karena serakah atas butiran-butiran nasi ini, nasib yang sama akan menimpa pada diri kita, seperti yang menimpa pada seorang pengembara."



Sebagaimana:

Karena serakah atas sebuah gelang emas,
Si pengembara terbenam ke dalam lumpur yang dalam,
Dia ditawan dan dimakan oleh seekor harimau tua

"Bagaimana terjadinya?" tanya burung-burung merpati.

Diapun kemudian bercerita:



Cerita Tentang Seekor Harimau Tua dan Seorang Musafir yang Serakah

Pada suatu hari, ketika sedang mengembara di bagian selatan hutan, aku melihat seekor harimau tua di tepi sebuah sungai yang setelah mandi dia memegang rumput Kusha pada cakarnya.

Dia berkata, "Oh musafir! Mari silahkan ambil gelang emas ini."

Sang musafir yang tertarik karena serakah berpikir, "Hal ini terjadi hanya karena nasib baik. Tapi aku tidak boleh mencoba sesuatu yang di dalamnya terdapat resiko sendiri."



Untuk:

Bahkanpun jika keuntungan dari suatu benda yang diinginkan,
Diperoleh melalui suatu sumber yang tidak diinginkan,
Hasil akhirnya tidak akan menjadi baik,
Bahkan madu bisa mengantar pada kematian,
Bila ia dicampur dengan racun.

"Namun demikian usaha untuk mendapatkan kekayaan selalu disertai dengan resiko."



Seperti disebutkan:

Tanpa menguasai bahaya-bahaya,
Seseorang tidak merasakan nasib baik,
Tapi dengan menghalau bahaya-bahaya,
Dia merasakannya.

"Oleh karenanya aku akan membuktikannya."

Dia bertanya dengan suara keras, "Dimana kalung tersebut?"

Sang harimau membentangkan keluar cakarnya dan memperlihatkan gelang emas tersebut.

Si musafir berkata, "Bagaimana bisa aku menaruh kepercayaan pada binatang pemakan daging seperti kamu?"

Si harimau menjawab, "Dengarkan, wahai musafir! Dalam masa mudaku, dulunya aku benar-benar kejam. Namun aku kehilangan anak dan isteriku setelah membunuh banyak sapi dan manusia. Sekarang aku tidak mempunyai keturunan sama sekali. Suatu hari seorang suci menasehati saya untuk berderma dan berbuat kebajikan-kebajikan agama. Menurut nasehatnya, aku akan memberi derma setelah mandi. Aku sudah menjadi begitu tua yang membuat cakar-cakar dan gigi-gigiku telah berjatuhan. Apakah aku sekarang masih tidak dapat dipercaya?"



Untuk:

Jalan menuju agama telah dibentuk,
Melalui delapan elemen beriku:
Pengorbanan, belaja Vedas, Derma,
Penebusan dosa, Kebenaran, Kesabaran, memberi Maaf,
Dan terbebas dari siefat tamak.

Diantara mereka, empat kelompok pertama,
Dilakukan hanya untuk diperlihatkan,
Sedangkan empat kelompok terakhir terdapat hanya,
Pada pikiran orang-orang mulia.

"Saat ini saya terbebas dari sifat tamak sehingga saya berkeinginan untuk memberikan kepada seseorang gelang emas yang ada di cakar saya ini. Namun memang rahasia umum bahwa, 'Harimau selalu memakan manusia', sungguh sukar bagi saya untuk menyangkalnya."



Karena:

Masyarakat yang mengikuti tradisi,
Tidak akan menganggap seorang wanita asusila
Yang berkhotba,
Sebagai suatu wibawa dalam urusan agama,
Seperti yang dipercaya oleh mereka
Kepada seorang Brahmana,
Padahal dia adalah seorang pembunuh sapi.

"Aku juga telah belajar buku-buku agama. Dengarkan:



Disebutkan bahwa

Seperti hujan yang jatuh di padang tandus,
Dan memberi makanan kepada mereka yang lapar,
Hal tersebut adalah bermanfaat:
Begitu juga dengan memberi derma
Kepada orang-orang miskin,
Wahai anak Pandu.



Sebaliknya:

Jika hidup begitu berharga bagi diri sendiri,
Begitu juga dengan seluruh makhluk hidup:
Dengan membandingkan pada dirinya sendiri
Maka orang-orang yang baik
Akan memperlihatkan perasaan kasihan
Terhadap makhluk hidup lain.



Juga:

Dalam hal menolak atau memberikan derma,
Kebahagiaan atau kesedihan,
Suka atau tidak suka,
Setiap orang men-set standar
Dengan membandingkan pada dirinya sendiri.



Juga:

Isteri orang lain dianggap sama seperti ibu,
Kekayaan orang lain dianggap
Sama seperti segumpal tanah,
Lainnya dianggap sebagai dirinya sendiri,
Barangsiapa yang memiliki pertimbangan seperti ini,
Maka dia adalah benar-benar seorang yang bijaksana.

"Engkau benar-benar dalam keadaan membutuhkan, jadi aku akan memberikannya kepadamu.

Seperti disebutkan:

Sejahterakanlah orang-orang miskin,
Wahai anak Kunti:
Jangan berikan kekayaan kepada orang-orang kaya;
Bagi mereka yang sakit,
Obat adalah benda yang bermanfaat,
Apa gunanya obat bagi seseorang,
Yang mana dia bebas dari penyakit



Dan lagi:

Derma yang diberikan kepada seseorang,
Yang tidak dapat membalas jasa tersebut,
Pada waktu dan tempat yang tepat,
Dan kepada siapa yang memang pantas menerima,
Maka hal ini dianggap sebagai yang terbaik.

"Jadi, mandilah di danau ini dan terimalah gelang emas ini."

Setelah itu, dengan keyakinan atas kata-kata manis tersebut, tak lama setelah si pengembara masuk ke dalam danau untuk mandi, dia terperangkap di lumpur yang dalam dan tidak dapat keluar.

Melihatnya terperangkap di lumpur yang dalam, si harimau berkata, "Aduh, kamu terperangkap di lumpur yang dalam. Jadi, aku akan mengeluarkan kamu."

Berkata demikian, perlahan-lahan sang harimau mendekati si pengembara. Ditangkap oleh si harimau, si pengembara berpikir:

Bahwa meski dia telah belajar,
Kitab-kitab suci dan Veda,
Hal ini bukanlah alasan
Mempercayai seorang yang jahat.

Sifat dasar merupakan hal
Yang menentukan dalam setiap hal,
Sama seperti apa yang telah diberikan oleh alam
Bahwa susu sapi rasanya manis.



Juga:

Tindakan yang dilakukan oleh mereka,
Yang tidak mengecek perasaan dan pikiran,
Adalah sama seperti mandinya seekor gajah;4
Pengetahuan tanpa tindakan adalah beban,
Seperti perhiasan pada wanita yang mandul.

"Jadi, salah bagiku mempercayai pembunuh ini."



Untuk:

Hal-hal berikut tidak boleh dipercayai:
Sungai, orang-orang yang memegang senjata,
Makhluk yang memeiliki cakar dan tanduk,
Wanita dan keluarga kerajaan.

Di dalam diri setiap manusia,
Sifat dasarnya diperiksa
Dan bukan kualitas lainnya,
Melebihi seluruh kualitas yang ada,
Sifat dasar tetap yang paling menonjol.

Juga:

Yang satu itu5,
Yang bergerak di langit,
Merusak kegelapan,
Memeiliki ribuan sinar,
Dan bergerak di tengah bintang-bintang;
Meskipun ia ditelanoleh Rahu
Karena putusan nasib,
Siapa yang dapat menyeka
Apa yang dituliskan oleh dahi?
Siapa yang mampu menghapus
Apa yang tertulis di jidat?

Sementara berpikir demikian, si pengembara dibunuh dan kemudian dimakan oleh singa.

"Oleh karenanya aku berkata," lanjut si Chitragreeva, "Karena ketamakan terhadap sebuah gelang emas dan lain-lain. tidak ada pekerjaaan yang harus dilakukan tanpa pertimbangan yang dalam.

Seperti disebutkan:

Bahkan setelah waktu yang lama,
Hal-hal berikut tidak akan memberikan hasil negatif,
Makanan yang dimasak baik,
S eorang anak yang terpelajar,
Seorang isteri yang terlatih baik,
Seorang raja yang diabdi dengan baik,
Apa yang diucapkan setelah melalui pemikiran,
Dan apa yang dilakukan setelah melalui pertimbangan.

Mendengar hal ini, seekor merpati berkata dengan sombong, "Ah! Mengapa dikatakan demikian?"

Nasehat dari yang tua harus diikuti,
Hanya pada waktu malapetaka telah datang,
Tapi dengan mendengar mereka setiap waktu,
Seseorang tidak mungkinv Tidak akan pernah mulai memakan makanan.



Untuk:

Seluruh makanan dan minuman dimuka bumi,
Diliputi dengan ketidaktentuan,
Dimana upaya dilakukan,
Atau bagaimana seharusnya sseorang memperoleh nafkah?



Seperti disebutkan:

Ada enam wadah penderitaan:
Kecemburuan, caci maki, ketidakpuasan,
Sifat murka, kecurigaan,
Dan hidup dari penghasilan orang lain.

Mendengar hal tersebut, seluruh merpati terbang ke bawah.



Untuk:

Bahkan mereka yang telah menguasai
Ilmu-ilmu pengetahuan tinggi,
Yang mana mereka sangatlah terpelajar,
Dan bagi mereka yang selalu menghilangkan
Keraguan yang lain,
Akan sengsara ketika dikuasai oleh keserakahan.



Lagi:

Dari keserakahan timbul kemarahan,
Dari keserakahan timbul keinginan sexual,
Dari keserakahan muncul rasa sayang dan kehancuran,
Keserakahan adalah akar dari dosa.



Dan lagi:

Keberadaan seekor kijang emas adalah tidak mungkin,
Namun, Rama tetap menginginkan seekor kijang seperti itu Rama of epic      Ramayana
Secara umum ketika malapetaka akan menimpa
Intelektualitas seseorang akan terpengaruh.

Kemudian burung-burung merpati terperangkap dalam jaring. Pada saat demikian mereka mulai mengutuk kepada merpati yang karena nasehatnya mereka hinggap.

Seperti disebutkan:

Seseorang tidak boleh memimpin satu kelompok,
Karena kalau suatu pekerjaan terlaksana,
Hasilnya adalah seimbang,
Jika ternyata ada kegagalan dalam suatu pekerjaan itu,
Si pemimpin akan dibunuh.

Mendengar celaan ini, Chitragreeva berkata, "Ini bukanlah kesalahan dia."