BAGIAN I

Mitralabha – Memperoleh Teman


  1. Kisah Seorang Pemburu, Seekor Burung Gagak, Merpati dan Seekor Tikus
  2. Kisah Seekor Macan Tua dan Pelancong yang Tamak
  3. Kisah Seekor Burung Gagak, Kijang dan Serigala
  4. Kisah Seekor Burung Nasar yang Buta, Burung – Burung dan Seekor Kucing
  5. Kisah Seekor Tikus yang Kaya dan Seorang Pertapa
  6. Kisah Seorang Suami Tua yang Kaya dan Istrinya yang Masih Muda
  7. Kisah Seorang Pemburu, Seekor Kijang, Babi, Ular dan Serigala
  8. Kisah Seorang Pangeran, Wanita Cantik dan Suaminya
  9. Kisah Seekor Gajah dan Serigala yang Licik


BAGIAN II

Suhridbheda – Perpisahan Diantara Sahabat


  1. Kisah Saudagar Kaya, Sapi Jantan, Singa dan Serigala
  2. Kisah Seekor Monyet yang Menarik Baji
  3. Kisah Tukang Cuci, Seekor Keledai dan Anjing
  4. Kisah Seekor Singa, Tikus dan Kucing
  5. Kisah Seekor Monyet, Lonceng dan Wanita Pemberani
  6. Kisah Pertapa, Seorang Pelacur dan Saudagar
  7. Kisah Gembala Sapi Wanita dan Kedua Kekasihnya
  8. Kisah Keluarga Burung Gagak dan Ular yang Licik
  9. Kisah Seekor Singa dan Seekor Kelinci Hutan
  10. Kisah Burung Tittibha dan Samudera


BAGIAN III

Vigraha – Peperangan


  1. Kisah Raja Angsa dan Raja Burung Merak
  2. Kisah Seklumpulan Burung dan Kera – Kera yang Menggigil
  3. Kisah Seorang Tukang Cuci dan Seekor Keledai yang Malang
  4. Kisah Sekawanan Gajah dan Kelinci Tua
  5. Kisah Burung Bangau yang Baik Hati dan Burung Gagak yang Licik
  6. Kisah Burung Gagak yang Licik dan Burung Puyuh yang Bodoh
  7. Kisah Seorang Pembuat Kereta, Istrinya dan Kekasih Gelap Istrinya
  8. Kisah Seekor Serigala yang Jatuh Ke Dalam Tong Nila
  9. Kisah Pengorbanan Veeravara
  10. Kisah Seorang Penyembah, Pendeta dan Tukang Cukur


BAGIAN IV

Sandhi – Perdamaian


  1. Kisah Seekor Angsa dan Burung Merak
  2. Kisah Dua Angsa dan Kura – Kura
  3. Kisah Tiga Ekor Ikan
  4. Kisah Seorang Saudagar, Istri dan Kekasih Gelap Istrinya
  5. Kisah Bangau Bodoh, Ular Hitam dan Seekor Mongoose
  6. Kisah Seorang Pertapa dan Seekor Tikus
  7. Kisah Bangau Tamak dan Kepiting yang Cerdik
  8. Kisah Seorang Brahmin yang Suka Berkhayal
  9. Kisah Dua Orang Raksasa – Sunda dan Upasunda
  10. Kisah Brahmin yang Lugu dan Tiga Orang Penjahat
  11. Kisah Seekor Singa, Burung Gagak, Harimau, Serigala dan Unta
  12. Kisah Ular yang Licik dan Raja Katak yang Bodoh
  13. Kisah Seorang Brahmin yang Gegabah dan Mongoose yang Setia


HITOPADESHA

Sembah Sujud Kepada Dewa Ganesha


Biarlah orang bijak mencapai tujuannya
Atas kemurahan hati Dewa Shiwa
Yang kepalanya dihiasi bulan sabit
Bak alur buih sungai Gangga


Ketika mendengar Hitopadesha ini
Berikan keahlian dalam ungkapan Sansekerta
Beraneka ragam ungkapan bahasa
Dan pengetahuan tentang ilmu etika


Seperti kelestarian dan keabadian
Hendaknya orang bijaksana memikirkan pengetahuan dan kekayaan
Seperti kematian yang siap merampas helai rambutnya
Hendaknya ia menjalankan perintah agamanya


Diantara kekayaan, pengetahuan adalah yang utama
Kekayaan yang tiada tandingannya
Dengan satu keunggulannya
Yang tidak bisa dirampas, diukur atau habis


Pengetahuan, sekalipun dimiliki oleh orang hina
Bisa mengantarnya pada Raja
Selanjutnya pada kemakmuran
Seperti sungai yang sekalipun mengalir ke bawah
Mengantarnya jua pada lautan


Pengetahuan berikan kerendahan hati
Dari kerendahan hati seseorang mendapat pahala
Pahala mengantarkannya ke kekayaan
Dari kekayaan, seseorang memulai norma Agama
Dan dari sanalah seseorang mendapatkan kebahagiaan


Pelajaran tentang senjata atau sastra
Pengetahuan tentang keduanya mengantarkan kita ke arah ketenaran
Yang pertama mendatangkan cemoohan di hari tua
Sedang yang kedua akan selalu dihormati


Ibarat gambar yang dicetak pada kendi yang masih basah
Akan selalu membekas
Begitu pun lewat cerita dongeng
Ilmu etika mulai diajarkan pada anak – anak


Memperoleh teman, kehilangan pertemanan, peperangan dan juga perdamaian
Semuanya ditulis setelah merangkumnya
Dari Panchatantra dan lainnya


Di tepi sungai Bhagirati ada sebuah kota bernama Pataliputra. Kota ini diperintah oleh seorang raja yang memiliki segala kualitas seorang penguasa.
Suatu ketika Sang Raja mendengarkan syair yang dinyanyikan oleh seseorang :

Menghilangkan keraguan dengan menunjukkan sesuatu yang tidak terlihat
Kitab suci adalah mata dari segalanya
Orang yang tidak memilikinya adalah buta
Keremajaan, kekayaan yang melimpah, kekuasaan dan keakuan
Salah satunya saja membawa malapetaka
Bagaimana jika digabungkan keempat-empatnya?

Mendengar ini, Raja yang telah dikecewakan oleh sikap buruk anaknya yang tidak pernah mempelajari kitab suci, berpikir:

Apa gunanya seorang anak dilahirkan
Bila tidak terpelajar ataupun beriman?
Apa gunanya punya mata yang cacat?
Hanya menyakitkan saja

Anak tidak lahir, meninggal atau bodoh
Pertama dan kedua masih lebih baik
Tidak yang terakhir (bodoh)
Karena yang pertama dan kedua membuat kita sedih hanya sekali
Tapi yang terakhir, dalam setiap langkah kita


Juga :

Seorang anak lahir, dan dengan kelahirannya
Membawa keluarga pada kemuliaan
Di dunia yang selalu berubah – ubah
Bukankah hidup dan mati saling mengikuti?


Terlebih lagi :

Pada permulaan menghitung dengan jari jumlah orang – orang bijak
Kelingking amat jarang jadi perhitungan


Juga :

Satu anak yang berbudi
Dan seratus anak-anak bodoh
Ibarat satu bulan yang menerangi kegelapan
Bukannya bintang yang tak terhitung jumlahnya
Di tempat suci, orang – orang melakukan pertapaan
Memperoleh putra yang penurut, berbudi lihur, murah rejeki dan terpelajar

Seperti disebutkan :

Di dunia yang fana ini, wahai Baginda
Ada enam kesenangan
Memperoleh kekayaan, jauh dari penyakit,
Istri yang setia, orang yang bicaranya manis, anak yang penurut
Dan pengetahuan yang mencerdaskan

Ayah terlibat hutang
Ibu yang terlantar
Istri yang sangat cantik dan anak yang bodoh
Semua ini ibarat musuh

Dan juga :

Pengetahuan tanpa praktik adalah racun
Makan saat pencernaan terganggu adalah racun
Bagi orang miskin, perkumpulan adalah racun
Dan bagi lelaki tua, istri yang muda adalah racun

Dimana pun seseorang lahir
Dia yang berbudi luhur adalah dihormati
Apalah artinya busur yang terbuat dari bambu pilihan
Jika tanpa senar?

Wahai anakku, engkau tidak belajar di masa lalu
Hingga nasibmu diantara orang – orang terpelajar
Bagaikan sapi di dalam kubangan.

Raja selanjutnya berkata,”Jadi bagaimana caranya agar anak – anak saya bisa memiliki sifat – sifat mulia?”

Karena :

Makan, tidur, rasa takut dan seks
Semuanya hal biasa bagi binatang maupun manusia
Hanya kesadaran akan kewajiban yang menonjol pada manusia
Dan tanpa itu manusia tidak lebih dari binatang

Juga :

Kewajiban rohani, perolehan kekayaan
Seks dan pembebasan akhir (Moksa)
Yang tidak berhasil dalam salah satunya
Kelahirannya adalah sia – sia

Seperti dikatakan :

Apapun yang ditakdirkan terjadi
Akan terjadi, pada orang hebat sekalipun
Seperti Dewa Shiwa yang telanjang
Dan Shri Hari yang rebah di atas ular besar

Apa yang tidak ditakdirkan, tidak akan terjadi
Jika ditakdirkan, tidak akan meleset
Jadi kenapa obat penawar, yang menghilangkan racun kecemasan tidak diminum?
Ini adalah contoh kesia – siaan
Dari orang yang tidak melakukan kewajiban

Menyerah pada takdir
Orang hendaknya tidak berhenti berusaha
Kita tidak akan mendapatkan minyak dari biji wijen Tanpa usaha

Juga :

Keberuntungan mendekati orang yang bekerja keras seperti seekor singa
Orang bodoh berkata, mendapatkan keberuntungan,
Tanpa menghiraukan takdir, berusaha dengan keras
Tetap saja tidak berhasil
Lalu dimana letak kesalahannya?

Lebih jauh :

Keseluruhan perbuatan
Dilakukan pada kelahiran terdahulu
Dikatakan sebagai takdir di dunia ini
Jadi seseorang harus berusaha sungguh – sungguh
Tidak hanya bermalas – malasan.


Seperti dari sebongkah tanah liat
Orang bisa membuat berbagai bentuk kerajinan
Jadi dari perbuatan yang dilakukan oleh seseorang
Ia akan mendapatkan hasilnya


Sekalipun tanpa disengaja
Seseorang melihat harta karun dihadapannya
Takdir tidak datang dengan sendirinya
Tapi perlu usaha

Memperoleh keberhasilan dengan usaha
Dan tidak hanya berharap
Seekor kijang tidak akan dengan sendirinya masuk,
Ke dalam mulut singa yang sedang tidur

Seorang anak akan berbudi bila dididik oleh orang tuanya
Seorang anak tidak bisa menjadi pandai hanya dengan dilahirkan

Ibu adalah lawan, ayah adalah musuh
Oleh anak – anak yang tidak dididik;
Ia tidak akan menonjol dimanapun
Seperti seekor burung bangau diantara angsa – angsa

Seseorang dikaruniai ketampanan, keremajan,
Dan latar belakang yang mulia tapi tanpa pengetahuan
Tidak akan bersinar seperti bunga ‘ Kimshuka’ yang tidak berbau/harum
Orang bodoh, yang berpakaian mewah
Akan menonjol dalam suatu perkumpulan
Tapi hanya jika ia tetap tutup mulut

Setelah berpikir, Raja menggelar perkumpulan orang – orang terpelajar. Raja berkata,”Oh Pandit, tolong dengarkan. Apakah ada seorang sarjana hebat yang bisa memberikan anak saya,- yang selalu terdampar di jalan yang menyimpang dan tidak pernah mempelajari kitab suci-, kehidupan baru, dengan mengikuti aturan ilmu etika?”

Karena :

Kaca yang didekatkan pada emas
Akan menghasilkan kilauan bak permata
Begitupun dengan bergaul dengan orang – orang terpelajar
Orang bodoh bisa berguna

Seperti dikatakan :

Kecerdasan, wahai tuan, akan dilemahkan
Dalam pergaulan dengan orang – orang bodoh
Akan tidak berubah dengan orang – orang yang sama cerdas
Dan akan menjadi unggul dengan orang – orang terbaik


Sementara itu, seorang sarjana hebat seperti Brihaspati yang bernama Vishnusharma, bercakap-cakap dengan semua pembesar dari semua ilmu etika, berkata:” Tuan, Pangeran ini lahir dari keluarga yang mulia. Jadi saya bisa mengajarkan mereka tentang Nitishastra.

Karena :

Tidak ada perbuatan yang dilakukan pada hal – hal yang tidak berguna
Dapat membuahkan hasil,
Seekor bangau tidak akan bisa diajarkan untuk bicara seperti seekor beo
Sekalipun dengan usaha yang tak terhitung


Dan kedua :

Dalam keluarga kerajaan ini,
Anak yang bodoh tidak akan lahir
Dalam tambang permata
Tidak mungkin didapatkan kaca


“Untuk itu saya akan membuat anak-anak Anda ahli dalam ilmu etika dalam waktu enam bulan.”

Dengan kerendahan hati Raja berkata :

Bahkan serangga pun bersentuhan dengan bunga
Menghiasi kepala orang – orang bijak
Bahkan batu pun disembah sebagai Tuhan
Bila disucikan oleh orang suci


Terlebih lagi :

Seperti saat mentari terbit,
Benda – benda di atas gunung berkilauan.
Begitu pun pergaulan dengan orang bijak
Bahkan orang dari kasta rendah pun bersinar

Dalam pergaulan dengan orang bijak
Kebaikan dikenal dengan kebaikan
Dalam pergaulan dengan orang jahat
Kebaikan yang sama bisa berubah jadi kesalahan
Ibarat air yang manis dari sungai
Berubah jadi asin saat tiba di lautan


“Jadi sepertinya Anda mampu untuk mengajarkan Nitishastra kepada anak-anak saya”. Setelah berkata demikian, Raja menyerahkan anak-anaknya kepada Vishnusharma dengan penuh hormat. Selanjutnya, saat para pangeran sedang duduk dengan nyaman di teras istana, seorang sarjana besar berkata dengan perkenalan:

Bagi orang bijaksana waktu berjalan dengan menyenangkan
Lewat puisi dan sastra suci
Dan bagi orang bodoh, sebaliknya, dengan tidur atau bertengkar.

“ Jadi demi kesenangan kalian, saya akan menceritakan sebuah cerita yang sangat bagus tentang seekor burung gagak, kura-kura dan yang lainnya”.

Serentak para pangeran berkata,” Orang bijak, tolong ceritakan pada kami!” Vishnusharma berkata,” Sekarang dengarkanlah tentang ‘Memperoleh Teman’ inilah syair pertamanya”

HITOPADESHA – BAGIAN I

Mitralabha Memperoleh Teman


Sekalipun tidak memiliki segala fasilitas ataupun kekayaan
Tetapi memiliki kecerdasan
Sahabat yang baik akan dengan cepat mencapai tujuannya
Seperti burung gagak, kura-kura, kijang dan tikus.

Mereka bertanya,”Bagaimana caranya?”

Dan Vishnusharma bercerita :

Kisah Seorang Pemburu, Seekor Burung Gagak, Merpati dan Seekor Tikus


Di tepi sungai Godawari terdapatlah sebatang pohon kapas sutera yang sangat besar. Burung-burung dari berbagai daerah datang ke sana dan tidur di pohon itu.
Satu ketika, saat malam hampir berakhir dan rembulan – dewa malam – tepat berada di atas pegunungan sebelah barat, seekor burung Gagak yang bernama Laghupatanaka, yang kebetulan terjaga, melihat seorang pemburu mendekat seperti Dewa Maut yang kedua. Melihat itu, dia berpikir,” Bagaimana bisa di pagi-pagi buta saya melihat kejahatan! Entah firasat apa ini.” Berkata demikian sambil penasaran, ia mengikuti arah pemburu ini.


Karena :

Ribuan penyebab kesedihan
Dan ratusan penyebab ketakutan
Hari demi hari menguasai orang bodoh
Tetapi tidak bagi orang bijaksana

Nyatanya orang duniawi melakukan ini :

Begitu terjaga di pagi hari, seseorang harus berpikir
Bahwa bencana akan menimpa
Kematian, penyakit atau kesedihan
Yang mana akan menimpaku hari ini?

Selanjutnya pemburu itu menebarkan beras, membuka perangkapnya dan bersembunyi. Saat itu juga raja dari burung merpati, yang bernama Chitragreeva yang sedang hilir mudik di angkasa dengan para pengawalnya, melihat tebaran beras itu. Sang raja berkata pada merpati yang lain yang tergoda oleh tebaran beras itu,” Bagaimana mungkin ada beras bertebaran di hutan yang tak berpenduduk ini? Pikirkanlah lagi baik-baik.saya tidak melihat kebaikan dari semua ini. Bisa jadi, hanya karena keserakahan akan beras-beras ini, kita akan bernasib sama seperti pelancong itu.”

Seperti :

Karena keserakahan akan gelang emas
Pelancong terbenam dalam lumpur
Diterkam oleh macan tua dan terbunuh

“Bagaimana bisa begitu?” tanya para merpati.

Ia pun bercerita :

Kisah Seekor Macan Tua dan Pelancong yang Tamak



Pada suatu ketika, saat berkelana di hutan sebelah selatan, aku melihat macan yang sudah tua, setelah mandi, memegang rumput Kusha di tangannya di tepi sebuah danau. Ia berkata,”Wahai pelancong! Ambillah gelang emas ini.”
Pelancong yang sudah dikuasai oleh ketamakan berpikir,” Ini terjadi karena nasib baikku. Tapi aku tidak akan mencoba apapun yang membuatku dalam bahaya.”

Karena :

Sekalipun mendapatkan benda yang diinginkan
Tetapi dengan jalan yang tidak baik
Hasilnya akan tidak baik;
Bahkan madu pun bisa mematikan
Kalau dicampur dengan racun

“Tetapi dalam mendapatkan kekayaan, selalu diiringi oleh bahaya.”
Seperti dikatakan;
Tanpa melewati bahaya
Orang tidak akan melihat keberuntungan
Tapi dengan melewati bahaya
Ia dapat melihatnya

“Karena itu biarlah aku meyakinkannya lagi.” Ia bertanya dengan suara keras,” Di manakah gelang itu?” Pelancong berkata,” Bagaimana aku bisa percaya pada binatang pemangsa seperti kau?”

Sang macan menjawab,” Dengarlah, wahai pelancong! Saat muda, aku memang jahat. Sekarang, karena telah banyak membunuh sapi dan manusia, aku kehilangan anak dan istriku. Aku sekarang tidak berniat apa-apa. Suatu hari ada seorang pendeta yang menasihatiku untuk melakukan sedekah dan berbuat baik. Sesuai dengan nasihat itu, aku bersedekah setelah selesai mandi. Aku sudah sangat tua hingga cakar dan gigiku sudah tanggal. Apakah sekarang aku masih tidak bisa dipercaya?

Karena :

Jalan kebaikan dibentuk oleh delapan hal
Korban suci, mempelajari Veda, bersedekah,
Pertapaan, kejujuran, kesabaran, pengampunan,
Dan tidak adanya sifat tamak.

Diantara kesemuanya, empat yang pertama
Dipraktikkan juga hanya untuk pamer
Tetapi empat terakhir
Hanya ada pada orang mulia

”Sekarang ini aku telah terbebas dari keserakahan, bahwa aku ingin memberikan gelang emas yang ada di tanganku ini pada seseorang. Akan tetapi pendapat umum,’Macan selalu makan manusia’, sangat susah untuk diabaikan.

Karena :

Orang-orang yang mengikuti tradisi
Tidak akan menganggap pelacur yang memberikan ceramah
Mengenai kerohanian, sebagai orang yang pantas
Seperti Brahmin yang sekalipun pembunuh sapi

“Aku juga mempelajari kitab suci. Dengarlah :

Dikatakan bahwa,
Seperti hujan di gurun pasir
Dan memberikan makanan pada yang lapar, sangatlah berguna
Begitupun sedekah pada yang miskin
Wahai putera Pandu

Sama halnya :

Seperti seseorang menyayangi hidupnya
Demikian pula semua mahluk
Dengan perbandingan diri
Yang baik menunjukkan belas kasih, pada mahluk lain.

Juga :

Menolak atau memberi sedekah
Kebahagiaan atau kesedihan, suka atau tidak suka
Seseorang membuat standar dengan perbandingan diri

Juga :

Istri orang lain bagai ibu
Kekayaan orang lain bagai bongkahan tanah
Orang lain bagai diri sendiri
Orang yang beranggapan demikian
Adalah orang bijaksana

“Engkau sangat membutuhkan, jadi aku ingin memberikannya padamu.”

Seperti dikatakan :

Perkayalah orang miskin, wahai putra Kunti
Jangan berikan kekayaan pada orang kaya
Untuk orang sakit, obat sangatlah berguna
Apalah gunanya obat bagi mereka yang tidak sakit?


Dan lagi :

Sedekah yang diberikan pada seseorang
Yang tidak dapat membalasnya,
Pada tempat dan waktu yang tepat,
Dan pada seseorang yang pantas,
Dikatakan sebagai yang terbaik

“Jadi mandilah di danau ini dan ambillah gelang ini.”

Selang beberapa lama, dengan keyakinan pada kata-kata manis itu, sang pelancong masuk ke danau untuk mandi, lalu ia terjebak ke lumpur yang dalam dan tidak bisa membebaskan dirinya.
Melihat ia terjebak di lumpur yang dalam, sang macan berkata,” Wahai pelancong! Engkau terperangkap dalam lumpur. Aku akan menyelamatkanmu.”
Setelah demikian, sang macan mendekatinya perlahan. Dipegang oleh macan, Pelancong itu berpikir:


Ia telah belajar
Kitab suci dan Veda
Bukanlah alasan untuk mempercayai orang jahat
Karakter selalu berperan penting dalam segala hal
Seperti secara alami, air susu sapi terasa manis


Juga :

Perbuatan seseorang,
Yang tidak menghiraukan kata hati dan pikiran
Adalah seperti mandinya gajah
Pengetahuan tanpa perbuatan adalah beban
Seperti hiasan pada wanita yang mandul

“Aku telah salah mempercayai pembunuh ini.”

Karena :

Berikut ini hendaknya jangan dipercaya
Sungai, orang bersenjata, yang mempunyai cakar dan tanduk,
Wanita dan keluarga kerajaan

Dalam tiap manusia, sifat dasarnya dinilai
Dan bukan sifat lain
Karena setelah melewati semua sifat
Sifat dasar akan selalu menonjol

Juga :

Bulan, yang mengelilingi angkasa
Menghilangkan kegelapan, mempunyai ribuan sinar,
Dan bergerak diantara bintang-bintang
Ditelan jua oleh Rahu karena perintah takdir
Siapakah yang bisa menghapus
Apa yang telah tertulis pada kening kita?

Sembari berpikir demikian, ia dibunuh dan dimakan oleh sang macan.

“Karena itu aku katakan,” lanjut Chitragreeva,” karena keserakahan akan gelang emas, dan lain-lain, tidak ada pekerjaan yang dilakukan tanpa pertimbangan yang matang.”

Seperti dikatakan :

Meskipun setelah sekian lama,
Yang dibawah ini tidak akan memberikan hasil yang buruk:
Makanan yang dimasak dengan baik, anak yang terpelajar,
Istri yang terlatih, Raja yang dilayani dengan baik,
Perkataan yang diucapkan dengan pemikiran,
Dan pekerjaan yang dilakukan dengan pertimbangan,

Mendengar itu, salah satu burung merpati berkata,” Ah, mengapa semuanya ‘seperti dikatakan’?”

Nasihat orang tua harus dipatuhi
Hanya pada saat bencana datang
Tapi dengan mendengarkannya terus menerus
Orang tidak akan bisa memulai makan

Karena :

Semua makanan dan minuman di permukaan bumi
Dipenuhi oleh ketidakpastian
Dimana seharusnya kita berusaha
Dan bagaimana seharusnya seseorang menunjang hidupnya?

Seperti dikatakan :

Berikut adalah enam gudang kesedihan
Iri hati, pelecehan, ketidakpuasan, amarah, kecurigaan,
Dan hidup dari kekayaan orang lain

Mendengar itu, semua merpati terbang merendah.

Karena :

Sekalipun mereka yang ahli dalam ilmu pengetahuan
Yang sangat terpelajar
Yang dapat menghilangkan keraguan
Tergoda ketika dikuasai oleh keserakahan

Lagi :

Dari keserakahan timbul kemarahan
Dari keserakahan timbul birahi
Dari keserakahan timbul keterikatan dan kehancuran
Keserakahan adalah akar segala dosa

Dan lagi :

Keberadaan kijang emas adalah mustahil
Akan tetapi Rama menginginkan kijang itu
Umumnya saat bencana akan tiba
Kecerdasan manusia gampang terpengaruh

Selang beberapa lama, semua merpati terjerat dalam perangkap. Pada saat demikian mereka mulai menyalahkan ia yang nasihatnya mereka ikuti.

Seperti dikatakan :

Seseorang hendaknya menghindari posisi pemimpin
Karena saat pekerjaan selesai
Penghargan yang diterima sepadan
Jika pekerjaan gagal
Pemimpin dibunuh

Mendengar gugatan itu, Chitragreeva berkata,” Ini bukan kesalahannya.”
Karena :

Ketika bencana datang
Sahabat pun bisa dijadikan penyebab
Seperti kaki seorang ibu
Menjadi tempat untuk mengikat anak sapi

Terlebih lagi :

Dia yang menjadi sahabat orang yang dalam kesedihan
Yang dapat menyelamatkannya dari bencana,
Tapi bukan dia yang pandai mengkritik
Kesalahan yang dibuatnya
Atau cara untuk melindunginya dari kesedihan

“ Pada saat bencana menimpa, memanas-manasi adalah tanda dari kepengecutan. Karena itu dengan kesabaran, mari kita pikirkan jalan keluarnya.”

Karena :

Berikut adalah kelebihan yang bersifat bawaan
Dari orang mulia :
Kesabaran pada saat bencana, kerendahan hati dalam kemakmuran
Kemahiran berbicara dalam perkumpulan
Keberanian dalam peperangan
Kesenangan pada keagungan
Dan keyakinan penuh pada pengetahuan suci.
Tidak senang dalam kemewahan, tidak sedih dalam kesengsaraan
Tetap tegar dalam peperangan
Sangat jarang seorang ibu melahirkan anak demikian
Yang menghiasi ketiga dunia

Terlebih lagi :

Enam kecacatan yang harus dihindari,
Oleh manusia di dunia ini
Keinginan untuk kemewahan diri sendiri
Mengantuk, kemalasan, rasa takut, marah,
Berdiam diri, dan menunda-nunda waktu


“Dalam masalah ini mari kita selesaikan seperti ini. Mari kita bersatu dan terbang bawa jaring yang menjerat kita ini.”

Karena :

Bahkan persatuan dari hal-hal sepele,
Dapat menyelesaikan pekerjaan.
Ibarat gajah sedang birahi
Dapat diikat dengan tali terbuat dari rumput

Persatuan dari semua anggota keluarga
Sangatlah berguna bagi mereka
Beras yang dipisahkan dari kulitnya
Tidak akan tumbuh


Berpikir demikian, semua burung memegang jaring dengan kuat dan terbang. Ketika pemburu melihat mereka terbang sambil membawa jaringnya, ia berlari mengejar mereka dan berpikir:

Bersama-sama burung itu membawa pergi jaringku
Tapi saat mereka hinggap,
Mereka ada dalam kekuasaanku.

Akan tetapi ketika burung-burung itu terbang sangat jauh dan tidak terlihat lagi oleh pemburu, ia pun berbalik.
Melihat sang pemburu pergi, para merpati berkata,”Apa yang harus kita lakukan sekarang?”

Chitragreeva berkata :

Ibu, sahabat dan ayah,
Ketiganya ini dapat disatukan dengan baik secara alami
Yang lainnya dapat disatukan
Karena alasan tertentu

“ Jadi sekarang teman kita Hiranyaka, si Raja Tikus yang tinggal di tepi sungai Gandaki akan menggigit putus ikatan kita.” Berpikir demikian, mereka terbang ke kediaman Hiranyaka. Hiranyaka, kerena rasa takut akan marabahaya, membuat ratusan lubang menuju sarangnya. Merasa terancam dengan keriuhan suara burung merpati, ia diam tak berani bersuara. Chitragreeva berkata,” Sahabatku Hiranyaka, tak maukah kau bicara pada kami?

Hiranyaka mengenali suaranya, bergegas keluar dan berkata,” Oh, aku beruntung! Sahabatku Chitragreeva telah datang padaku.”

Karena :

Seseorang yang berbicara, hidup dan mengobrol dengan seorang sahabat
Tidak ada yang lebih beruntung darinya.

Tetapi melihat mereka terjebak dalam jaring perangkap, ia terdiam sejenak karena terkejut lalu berkata,” Sahabatku, ada apa ini?” Chitragreeva berkata,” Sahabat! Apalagi kalau bukan hasil dari perbuatan buruk kami di kelahiran terdahulu.”

Karena :

Dengan alasan, alat, cara, waktu, jenis, ukuran atau di tempat apapun
Seseorang berbuat baik atau sebaliknya
Ia mendapatkan hasil perbuatannya lewat kekuatan takdir
Dari alasan, alat, cara, waktu, jenis, ukuran dan tempat tersebut

Juga :

Penyakit, kesedihan, dukacita, penawanan dan musibah
Adalah buah dari pohon kejahatan
Yang diperbuat oleh manusia

Mendengar hal itu, Hiranyaka bergegas mendekat dan menggigit jeratan dari Chitragreeva.
Melihat itu, Chitragreeva berkata,” Sahabatku, bukan begitu caranya. Pertama-tama, gigitlah jeratan pengikutku kemudian barulah ikatanku.”
Hiranyaka berkata,” Aku tidak cukup kuat dan gigi-gigiku juga rapuh. Bagaimana aku bisa melepas semua jeratan ini? Selama gigiku belum patah aku akan menggigit jeratan mereka juga.”
Chitragreeva berkata,” Baiklah, tapi pertama-tama gigitlah jeratan mereka sekuat tenagamu.”
Hiranyaka berkata,” Perlindungan terhadap pengikut lewat pengorbanan jiwa, tidaklah diakui oleh mereka yang fasih dalam tata susila.”

Karena :

Seseorang hendaknya menyelamatkan uang untuk melawan bencana,
Menyelamatkan istri, sekalipun harus mempertaruhkan uang,
Dan menyelamatkan diri sendiri, sekalipun mempertaruhkan uang dan istri
Dharma Agama, kekayaan,
Kesenangan seksual dan pembebasan akhir
Hidup adalah tujuan dari terjaganya semua itu;
Orang yang telah menghancurkan hidup
Menghancurkan segalanya
Orang yang menjaga hidup
Menjaga segalanya

Chitragreeva berkata,”Sahabat, engkau benar adanya. Tetapi aku tidak kuasa melihat kesedihan pengikut-pengikutku. Jadi aku berkata seperti itu.

Lagipula :

Orang bijaksana hendaknya merelakan kekayaan dan hidup
Untuk kepentingan orang lain
Dan pengorbanan keduanya sangatlah mulia
Ketika kehancuran mereka tidak terelakkan
Dan alasan pengorbanan itu sungguh tepat


”Juga, ada satu alasan khusus.”

Bagiku kebaikan, kekayaan dan kecakapan adalah sama
Katakan padaku, kapan dan apakah hasilnya
Jika aku memuliakan mereka?

Juga :

Sekalipun tanpa upah
Mereka tak akan pergi dari sisiku
Jadi sekalipun dengan mempertaruhkan nyawaku
Bebaskanlah pengikut-pengikutku

Dan juga :

Abaikanlah badan yang tidak kekal ini
Yang terbuat dari daging, urin, kotoran dan tulang,
Dan selamatkanlah nama baikku, wahai sahabat.

Lihatlah :

Jika dari badan tak kekal yang membawa kotoran ini,
Kemasyuran yang kekal dan murni dapat dicapai,
Apalagi yang tidak aku dapatkan?

Karena :

Antara badan dan sifat
Ada perbedaan yang sangat besar
Badan dapat rusak/musnah dalam sesaat,
Tapi sifat bertahan sampai akhir dunia

Ketika Hiranyaka mendengar ini, ia sangat bahagia, bulu romanya berdiri dan ia berkata,” Hebat, sahabatku! Luar biasa! Dengan kasih terhadap pengikutmu, pemujaan dari tiga dunia pantas untukmu.”
Setelah berkata demikian ia menggigit ikatan semuanya.
Hiranyaka memberi hormat pada semuanya dan berkata,” Sahabat-sahabat Chitragreeva, hendaknya kalian tidak berpikir bahwa kalian terperangkap dalam jaring ini adalah akibat kesalahan kalian.”

Karena :
Seekor burung,
Yang dari ratusan Yojana
Dapat melihat makanannya
Tapi tidak melihat perangkap
Saat waktunya tiba.

Dan selanjutnya :

Melihat penderitaan bulan dan matahari,
Pada waktu gerhana.
Penangkapan gajah dan ular kobra,
Dan kemiskinan orang-orang terpelajar
Aku percaya bahwa takdir sangatlah kuat.

Lagipula :

Sekalipun sedang terbang di langit yang lengang,
Burung bisa terkena musibah
Sekalipun dari lautan yang tak terukur dalamnya,
Ikan tertangkap jua
Jadi dalam dunia ini
Apakah sebenarnya perbuatan baik dan buruk itu ?
Apakah keuntungan dari kedudukan yang tinggi ?

Hanya waktu yang dengan tangannya,
Dalam bentuk bencana,
Meraih kita sekalipun dari tempat yang jauh

Setelah mendapat pengetahuan seperti itu, Hiranyaka memperlakukannya dengan penuh hormat, memeluknya dan mengantarkannya pergi. Selanjutnya Chitragreeva pergi ke negerinya bersama kelompoknya. Hiranyaka pun kembali ke lubangnya.

Karena :

Seseorang hendaknya memiliki ratusan sahabat
Siapapun adanya mereka
Lihatlah : burung merpati dibebaskan dari perangkap
Oleh sahabat mereka, seekor tikus


Kini, si burung gagak Laghupatanaka, yang memperhatikan kejadian itu berkata dengan penuh takjub,” Wahai Hiranyaka, engkau patut mendapat penghargaan. Sekarang, akupun ingin menjadi sahabatmu. Jadi terimalah aku sebagai sahabatmu.”
Mendengar itu, Hiranyaka bertanya dari dalam lubangnya,” Siapakah engkau?”
Ia menjawab,” Aku adalah seekor burung gagak, namaku Laghupatanaka.”
Hiranyaka tertawa dan berkata,” Persahabatan seperti apakah yang engkau inginkan?”

Karena :

Apapun yang yang bisa disatukan
Hendaknya disatukan oleh yang bijaksana
Aku adalah makanan dan engkau adalah pemakan
Bagaimana mungkin ada kasih sayang diantara kita?

Lagipula :

Kasih sayang antara makanan dan pemakannya adalah penyebab musibah
Kijang yang terperangkap oleh seekor serigala,
Diselamatkan oleh seekor sapi.

Burung gagak berkata,” Bagaimana kejadiannya?”
Dan sang tikus bercerita:

Kisah Seekor Burung Gagak, Kijang dan Serigala

Di Madhyadesha, ada sebuah hutan yang luas bernama Champakavati, dimana sejak lama, seekor kijang dan seekor burung gagak hidup bersama dengan penuh kasih sayang. Sang kijang, sangat sehat dan gemuk, mendapat perhatian dari seekor serigala, yang sedang berkelana di hutan itu.

Serigala berpikir,” Oh, bagaimana caranya aku bisa memakan dagingnya yang lezat? Baiklah, pertama-tama aku harus membuatnya percaya padaku.”

Dengan berpikir begitu, ia mendekati sang kijang,” Sahabat, apakah engkau baik-baik saja?” Kijang bertanya,” Siapakah gerangan dirimu?”

Serigala menjawab,” Aku adalah serigala yang bernama Kshudrabuddhi dan aku tinggal di hutan ini, sebatang kara, tanpa semangat hidup. Sekarang, setelah mendapatkan seorang sahabat sepertimu, aku seakan mendapatkan hidupku kembali. Aku akan selalu menemanimu.”

Kijang berkata,” Baiklah.”
Setelah itu, ketika Dewa Matahari, yang berkalungkan cahaya telah tenggelam di ufuk barat, keduanya pergi ke kediaman Sang Kijang.

Di salah satu dahan pohon Cempaka, tinggallah Subuddhi, Sang Burung gagak, sahabat lama sang Kijang. Melihat keduanya bersama-sama, Gagak berkata,” Sahabatku Chitragreeva, siapakah dia?” Kijang menjawab,” Ia adalah seekor serigala yang ingin bersahabat dengan kita.” Gagak berkata,” Sahabatku, persahabatan dengan ia yang datang dengan tib-tiba adalah tidak baik.”

Karena :

Ia yang keluarga dan karakternya tidak diketahui
Hendaknya jangan diberi perlindungan
Karena kejahatan seekor kucing,
Seekor burung Nasar terbunuh.

Keduanya bertanya,” Bagaimana kejadiannya?” Sang Gagak bercerita:

Kisah Burung Nasar yang Buta, Burung-Burung dan Seekor Kucing



Di tepi sungai Bhagirathi, terdapat sebuah bukit yang bernama Gridhrakuta. Di atas bukit itu tumbuh sebatang pohon Parkati yang besar. Pada sebuah lubang di pohon itu, hiduplah seekor burung nasar yang bernama Jaradgava, yang telah kehilangan cakar dan pengelihatannya, karena nasib yang buruk.

Burung-burung yang hidup di pohon itu seringkali memberinya makan dari apa yang mereka dapat, karena kasihan. Hanya itulah yang membuatnya bertahan hidup.

Suatu hari, seekor kucing yang bernama Deerghakarna datang untuk memakan anak-anak burung. Melihatnya datang, anak-anak burung menjerit ketakutan.

Mendengar itu, Jaradgava berkata, Siapakah yang datang?”
Deerghakarna, melihat Jaradgava berpikir,” Habislah aku sekarang!”


Karena :

Seseorang takut akan bahaya
Selama bahaya itu tidak datang
Tetapi melihat bahaya yang benar-benar datang
Seseorang hendaknya melakukan apa yang seharusnya

”Berada dalam jarak yang sangat dekat, aku tak akan bisa melarikan diri. Jadi apapun yang akan terjadi, terjadilah. Pertama-tama, aku akan membuatnya percaya padaku kemudian aku akan berusaha mendekatinya.”

Berpikir demikian, ia mendekat dan berkata,” Tuan, aku memberi hormat!”
Burung nasar berkata,” Siapakah dirimu?”
Ia menjawab,” Aku seekor kucing.”
Burung Nasar berkata,” Pergilah atau aku akan membunuhmu.”
Kucing berkata,” Pertama-tama dengarlah kata-kataku. Setelah itu, jika aku pantas untuk kau bunuh, bunuhlah aku.”


Karena :

Hanya karena berasal dari golongan tertentu,
Apakah seseorang dihormati atau sebaliknya?
Hanya karena perilakunya,
Apakah seseorang dihormati atau sebaliknya?

Burung Nasar berkata,” Jelaskan padaku, kenapa kau berada di sini?” Sang kucing melanjutkan, aku tinggal di tepi sungai Gangga ini, aku mandi setiap hari, aku tidak makan daging, aku hidup membujang dan aku mempraktikkan sumpah Chandrayana. Engkau telah mempelajari ilmu keagamaandan patut dihormati. Burung-burung selalu memujimu . Engkau telah maju dalam pengetahuan dan pengalaman. Jadi aku datang untuk belajar etika agama darimu. Sedangkan engkau, sekalipun berilmu, tetap saja bersiap untuk membunuhku- seorang tamu! Akan tetapi, itu adalah tugas dari orang biasa.”

Sekalipun terhadap musuh
Sopan santun hendaknya ditunjukkan
Ketika ia berkunjung ke rumah seseorang
Ibarat pohon yang tidak menarik bayangannya pada penebang kayu
Sekalipun tidak kaya
Seorang tamu patut dihormati
Paling tidak dengan kata-kata manis

Seperti dikatakan :

Di rumah orang mulia
Berikut ini selalu tersedia:
Tikar rumput, tempat, air,
Dan yang keempat, kata-kata yang ramah.

Terlebih lagi :

Sekalipun kepada orang yang jahat
Orang bijak memperlihatkan kasihnya
Bulan tidak pernah menarik cahayanya
Dari rumah seorang Chandala

Jika seorang tamu meningggalkan rumah kita
Dengan perasaan kecewa
Ia membuat kita berdosa
Dn membawa pergi karma baik kita

Juga :

Sekalipun ketika seseorang berkasta rendah
Berkunjung ke rumah ia yang berkasta tinggi
Seharusnya dihormati
Karena para Dewa terdapat dalam tamu kita

Burung Nasar berkata,” Kucing sangat gemar makan daging dan anak burung, makanya aku berkata demikian.” Ketika kucing mendengar ini, ia bersujud sambil memegang kedua telinganya tanda bersumpah dan berkata,” Setelah mendengarkan Dharmashastra dan menghilangkan segala keinginan, aku telah mengikuti sumpah Chandrayana. Karena meskipun banyak kitab suci bertentangan dalam banyak hal akan tetapi tetap sepaham dalam satu hal, yaitu tidak menyakiti adalah agama yang tertinggi.”

Karena :

Manusia yang tidak membunuh
Yang menjalani segalanya
Dan yang telah menjadi perlindungan semua orang
Akan pergi ke surga

Terlebih lagi :

Satu-satunya sahabat adalah agama
Yang menemani kita sampai akhir hayat
Yang lainnya akan hancur
Bersama badan ini.

Juga :

Ketika seseorang memakan daging yang lain
Lihatlah perbedaan keduanya
Untuk yang satu, kenikmatan yang sementara
Dan yang lain, kehilangan hidup

Terlebih :

Aku akan mati; ketika perasaan itu muncul di hati seseorang
Orang lain tidak akan bisa menggambarkannya dengan menerka-nerka

Dengarlah lagi :

Perut seseorang bisa kenyang
Bahkan dengan sayuran
Yang tumbuh dengan sendirinya di hutan
Jadi demi orang yang hina ini
Siapa yang rela berbuat dosa?

Setelah meyakinkan sang burung nasar, kucing pun tinggal di sebuah lubang pada pohon itu. Lalu seiring berjalannya waktu, ia menyerang satu demi satu anak burung di sana, membawa ke lubangnya dan memakannya di sana. Kini, mereka yang kehilangan anak-anaknya dirudung kesedihan yang mendalam, menangis dan berusaha mencari mereka di sekeliling pohon itu. Melihat itu, kucing menyelinap keluar dan lari menjauh. Setelah mencari kesana-kemari, burung-burung menemukan tulang belulang anak-anak mereka dalm sebuah lubang pohon. Sambil berkata,” Burung ini telah memakan anak-anak kita.” Mereka membunuh burung nasar yang malang.

“Karena itu aku berkata,” lanjut burung gagak,” mereka yang keluarga dan karakternya tidak diketahui, hendaknya tidak diberi perlindungan.”
Mendengar itu Serigala berkata dengan geram,” Saat pertama kali bertemu dengan Kijang, keluarga dan karaktermu pun tidk diketahuinya. Lalu, kenapa ia semakin hari semakin baik terhadapmu?”

Juga :

Dimana tidak ada orang terpelajar
Bahkan orang bodoh pun dihormati
Di negeri dimana pohon tidak tumbuh
Bahkan sawi pun disangka pohon

Terlebih lagi :

Ini punyaku dan ini punya mereka,
Hanya orang picik yang berpikir demikian
Tapi bagi yang murah hati
Seluruh dunia adalah keluarga

“Maka dari itu, kijang ini adalah sahabatku, dan juga sahabatmu.” Kijang berkata,” Apa gunanya perdebatan ini? Mari kita hidup bersama-sama dengan bahagia, berbincang-bincang dengan penuh kepercayaan.”

Karena :

Tidak ada teman dari siapapun
Tidak ada musuh dari siapapun
Adalah kelakuan seseorang
Yang membuat pertemanan atau permusuhan

Burung gagak berkata,” Baiklah.” Dan pada pagi harinya mereka pergi ke tempat yang mereka inginkan. Suatu hari Serigala berkata kepada kepada kijang dengan sangat meyakinkan,” Sahabatku, di salah satu tempat di hutan ini ada sebuah ladang yang penuh dengan tanaman jagung, mari aku tunjukkan padamu.”

Setelah itu, maka kijang datang ke tempat itu setiap hari untuk makan. Suatu hari, si pemilik ladang melihatnya, iapun memasang perangkap. Tak lama, Sang Kijang datang ke tempat itu lagi untuk merumput. Ia terkena perangkap, lalu ia berpikir,” Siapa lagi kalau bukan sahabatku yang bisa melepaskan aku dari perangkap pemburu ini, yang seperti jerat kematian?”

Tak lama, Serigala tiba di tempat itu. Ia berpikir,” Akal licikku telah berhasil. Setelah ia disembelih, aku yakin aku akan mendapat bagian tulang belulangnya yang terbungkus daging dan darah yang lezat, aku akan makan sepuasnya.” Melihat Serigala datang, Kijang merasa gembita dan berkata,” Wahai sahabatku, lepaskanlah ikatanku ini dan selamatkanlah aku sekarang juga.”

Karena :

Seorang sahabat diuji saat bencana tiba
Seorang prajurit dalam peperangan,
Orang jujur dalam berhutang,
Seorang istri saat kekayaan menipis
Dan keluarga saat masa-masa sulit

Juga :

Dalam kegembiraan dan bencana
Dalam keadaan wabah dan ketika kerajaan hancur
Di gerbang kerajaan atau di gerbang makam
Ia yang selalu ada di sisi kita adalah sahabat sejati

Serigala mengamati jerat itu dan berpikir,” Jerat ini benar-benar kuat.” Kemudian ia menjawab,” Sahabat, jerat ini terbuat dari otot/urat. Lagipula ini hari Minggu, aku sedang berpantang. Bagaimana mungkin aku menyentuhnya dengan gigiku? Sahabat, semoga engkau tidak salah paham, besok pagi-pagi aku akan dating dan aku berjanji akan membebaskanmu.”

Setelah berkata demikian, ia bersembunyi di kejauhan sambil menungggu. Selepas sore hari, Burung gagak yang tidak melihat Kijang sahabatnya, pergi mencarinya berkeliling hutan. Setelah menemukan temannya dalam keadaan demikian, ia bertanya,” Sahabatku, apa yang telah terjadi?”

Kijang berkata,” Ini adalah hasilnya karena aku tidak mendengar nasihat seorang sahabat.”

Seperti dikatakan :

Ia yang tidak mengindahkan nasihat seorang sahabat,
Yang selalu menginginkan kebaikannya
Bencana menunggunya
Dan orang yang demikian adalah makanan empuk musuhnya

Burung gagak bertanya,” Dimanakah penipu itu?” Kijang menjawab,” Ia menunggu di dekat tempat ini, sambil menginginkan dagingku.”

Burung gagak berkata,” Sahabatku, bukankah aku sudah katakan bahwa:”
Aku tidak bersalah
Ini bukalah alasan kita untuk mempercayai seseorang
Karena bahaya selalu mengancam
Bahkan orang bijak sekalipun

Seseorang yang tidak dapat mengenali
Bau dari lampu yang dipadamkan
Tidak mendengar nasihat seorang sahabat
Tidak melihat bintang Arundhati
Hidup tidak berarti baginya

Seseorang yang menghancurkan pekerjaan orang lain
Saat ia tidak ada
Tapi berkata-kata manis saat ia ada,
Teman seperti itu hendaknya dihindari
Seperti sebuah pot racun
Yang dituangkan susu dipermukaannya

Dengan menghela napas panjang, ia berkata,” Penipu! Bagaimana bisa engkau berbuat sekejam ini?”

Karena :

Mereka yang dikalahkan
Karena kata-kata manis dan perhatian yang palsu
Mereka yang penuh harap
Dan mereka yang telah percaya penuh pada orang lain
Apakah hasilnya
Dari menipu orang-orang ini?

Dan lagi :

Ia yang murah hati
Ia yang menaruh percaya
Ia yang berhati bersih
Ketika seseorang menipu orang yang demikian
Wahai dunia!
Bagaimana engkau bisa menghadapi orang seperti itu?

Seseorang hendaknya tidak bersahabat
Dan memberikan kasih sayang terhadap orang jahat
Arang, saat membara bisa membakar tangan
Dan ketika dingin, mengotori tangan

“Begitulah sifat dari orang jahat”

Pertama-tama ia bersujud di kaki kita
Lalu ia memakan daging kita dari belakang
Di telinga ia menggumamkan kata-kata manis
Setelah melihat peluang
Tiba-tiba datang tanpa rasa takut
Seperti yang dilakukan seekor nyamuk
Begitulah perbuatan orang jahat

Orang jahat berbicara manis

Seharusnya bukan alasan untuk mempercayainya
Ada madu di ujung lidahnya
Dan racun mematikan di dalam hatinya

Setelah fajar tiba, pemilik kebun tiba dengan membawa tongkat di tangannya. Melihat itu, burung Gagak berkata,” Sahabatku, berbaringlah, berpura-puralah mati dengan perut yang kembung oleh angin dan kaki yang kaku. Saat aku beri kode, segeralah lari sekencang-kencangnya!”

Kijangpun menuruti perkatan Burung Gagak
Ketika pemilik kebun melihat keadaannya seperti itu, ia terbelalak karena senang. Sambil berkata,” Oh. Ia telah mati!” Ia melepas jeratannya dan sibuk merapikan tali-tali jerat itu. Lalu, setelah mendengar kode dari burung Gagak, Kijang tiba-tiba bangun dan berlari sekencang-kencangnya.

Si pemilik kebun melemparinya dengan tongkat, akan tetapi mengenai Serigala dan ia pun mati.

Seperti dikatakan :

Dalam tiga tahun, tiga bulan,
Tiga malam dan tiga hari
Untuk perbuatan baik ataupun dosa yang sangat besar
Seseorang akan mendapat pahalanya saat itu juga


“Oleh karena itu aku katakan,” Lanjut sang tikus,” mengenai hubungan antara makanan dan pemakannya.”

Burung gagak berkata lagi,
Sekalipun dengan memakanmu
Makanan pokokpun tidak aku dapatkan
Tapi saat engkau hidup
Aku akan hidup seperti Chitragreeva, wahai yang tak berdosa!


Lagipula :

Sekalipun pada binatang kelas rendah
Yang kelakuannya mulia
Saling percaya itu perlu
Tingkah laku orang mulia itu tidak berubah
Karena itulah sifat mendasarnya

Dan juga :

Pemikiran dari orang mulia, sekalipun dihasut,
Tidak akan terpengaruh
Mustahil adanya memanaskan air lautan
Dengan sebuah obor


Hiranyaka berkata,” Engkau orang yang plin-plan, pikiranmu berubah-ubah. Persahabatan dengan orang yang seperti itu hendaknya dihindari.”

Seperti dikatakan :

Kucing, kerbau, kelinci,
Gagak dan juga orang jahat
Jika kita percayai, mereka akan menguasai
Jadi tidaklah tepat untuk mempercayai mereka

“Juga pikirkanlah ini. Engkau ada di pihak musuh kami.”

Seperti dikatakan :

Dengan musuh, hendaknya kita tidak berdamai
Sekalipun setelah kesepakatan yang diatur dengan baik
Ibarat iur mendidihpun
Bisa memadamkan api


Juga :

Orang jahat sekalipun terpelajar seharusnya dihindari
Karena sekalipun ular kobra yang bermahkota
Masih tetap menakutkan
Yang tak mungkin, tak akan menjadi mungkin
Yang mungkin sudah pasti memungkinkan
Kereta tidak bisa berjalan di atas air
Tidak juga kapal di daratan

Lagipula :

Sekalipun dengan kekayaan berlimpah
Ia yang percaya pada musuh
Atau pada istri yang asing
Hidupnya sudah berakhir

Laghupatanaka berkata,”Aku sudah mendengar semuanya. Tapi aku tetap teguh pada pendirianku bahwa aku akan bersahabat denganmu, kalau tidak aku akan bunuh diri dengan berpuasa.”

Karena :

Persahabatan dengan orang jahat ibarat teko yang terbuat dari tanah liat
Gampang pecah tapi sukar untuk diperbiki/ disatukan
Sedangkan dengan orang bijak ibarat teko yang terbuat dari emas
Sukar dipecahkan tetapi gampang diperbaiki

Dan lagi :

Menyatunya logam adalah karena sifatnya yang dapat meleleh
Menyatunya binatang dan burung-burung
Adalah karena sebab bawaan
Menyatunya orang-orang bodoh adalah karena ketamakan dan rasa takut
Dan orang bijak hanya dengan melihat


Juga :

Persahabatan itu seperti buah kelapa
Sedangkan yang lain seperti buah Badari

Karena :

Bahkan setelah persahabatan putus
Sifat orang yang mulia tidak akan berubah
Karena sekalipun tangkai bunga lotus patah
Serabutnya tetap menyatu

Juga :

Kemurnian, kedermawanan, keberanian
Senang dalam kesedihan dan kebahagiaan
Kesopanan, kasih sayang dan kejujuran
Ini adalah kualitas dari seorang sahabat

“ Pada siapa lagi selain padamu aku bisa dapatkan sifat-sifat mulia itu?” Setelah mendengar itu, Hiranyaka keluar dan berkata,”Aku puas mendengar kata-kata indah darimu.”

Seperti dikatakan :

Untuk seseorang yang kepanasan, yang dibutuhkan
Bukannya mandi dengan air dingin
Bukan pula kalung mutiara
Bukan olesan pasta cendana pada seluruh badan;
Kesenangan tertinggi adalah kata-kata orang baik
Yang diucapkan dengan penuh kasih
Dan didasari dengan alasan yang masuk akal
Yang menyerupai sihir yang menarik hati orang bijak

Lagipula :

Berikut adalah kelemahan yang harus dihindari dari seorang sahabat
Membeberkan rahasia, mengemis, kekejaman,
Kelicikan, kebencian, kebohongan dan judi

“ dari kata-katamu satupun sifat buruk itu tidak aku temukan.”

Karena :

Kepandaian dan kejujuran
Dapat diketahui lewat kata-kata
Sedangkan kedewasaan dan ketetapan hati
Dapat diketahui lewat pengalaman hidup

Dan lagi :

Satu jenis persahabatan
oleh orang yang berhati bersih
sedangkan satu jenis lainnya adalah oleh ia
yang kata-katanya didasari oleh pikiran yang tidak jujur

Ada perbedaan antara pikiran, perkataan dan perbuatan dari orang jahat
Sedangkan pikiran, perkataan dan perbuatan orang bijak
Adalah sama/ tidak ada bedanya

“ jadi marilah kita bersahabat seperti yang engkau inginkan.”
Setelah itu Hiranyaka menjalin persahabatan dengan burung gagak, menjamunya dengan aneka hidangan dan kemidian kembali ke lubangnya. Burung gagakpun kembali ke sarangnya.
Waktu berjalan dengan sangat menyenangkan, saling bertukar makanan, peduli dengan kesehatan masing-masing dan percakapan-percakapan rahasia.
Suatu hari Laghupatanaka berkata pada Hiranyaka,” Sahabatku, sangat sulit untuk mendapatkan makanan di tempat ini, aku berkeinginan untuk pergi ke tempat lain yang lebih menjanjikan.”
Hiranyaka berkata,” Sahabatku, kemana engkau akan pergi?”

Seperti dikatakan :

Orang bijak berjalan dengan satu kaki
Dan berhenti dengan kaki yang satunya
Tanpa melihat tempat yang baru
Seseorang hendaknya tidak meninggalkan tempat lamanya

Burung gagak menjawab,” Aku sudah melihat dengan baik satu tempat.”
Hiranyaka bertanya,” Dimanakah tempat itu?”
Burung gagak menjawab,” Di hutan Dandaka, ada sebuah danau yang bernama Karpuragaura. Di sana hidup seekor kura-kura yang bijaksana bernama Manthara.

Karena :

Kepandaian menasihati seseorang
Adalah mudah bagi siapapun
Tetapi perbuatan yang sesuai dengan ajaran agama
Hanya dilakukan oleh orang terpilih

“ Ia akan menyambutku dengan hidangan yang berbeda.” Hiranyaka berkata,” Lalu apa yang aku akan lakukan dengan berdiam diri di sini?”

Karena :

Tempat dimana tidak ada kehormatan,
Tidak ada sumber penghidupan, tidak ada keluarga,
Dan tidak ada kesempatan untuk menuntut ilmu
Harus segera ditinggalkan

Lagipula :

Penghidupan, rasa takut, rasa malu,
Kesopanan dan kedermawanan.
Dimana kelimanya tidak ada,
Orang hendaknya tidak tingggal di sana

Juga :

Pemberi pinjaman, petugas kesehatan
Brahmin yang ahli dalam Veda
Dan sungai yang penuh air
Dimana keempatnya tidak ada, wahai sahabat
Seseorang hendaknya tidak tinggal di sana

“ jadi bawalah aku bersamamu.”
Lalu burung gagak dan tikus pun tiba di tempat itu sambil berbincang-bincang tentang banyak hal. Manthara melihat mereka, lalu menyambut kedatangan mereka dengan baik karena mereka adalah tamu.

Karena :

Anak kecil, orang tua ataupun anak muda
Siapa yang dating ke rumah kita
Harus dihormati
Seorang tamu hendaknya dihormati semua orang

Api dipuja oleh Brahmin
Brahmin dipuja oleh keempat kasta
Suami dipuja oleh istri
Dan tamu dipuja oleh semuanya

Burung gagak berkata,” Sahabatku Manthara, berilah penghormatan padanya, karena dia adalah Hiranyaka, raja para tikus, pemimpin dari mereka yang selalu melakukan kebajikan dan adalah lautan pengampunan. Sekalipun raja ular dengan dua ribu lidahnya, tidak akan bisa memuji kebaikannya.”

Setelah berkata demikian ia menceritakan kisah tentang Chitragreeva. Manthara memberi penghormatan pada Hiranyaka dan berkata,” Wahai sahabat, katakan padaku kenapa engkau bisa datang ke tempat ini?”

Hiranyaka berkata,” Aku akan ceritakan, dengarkanlah!”

KisahTentang Seekor Tikus yang Kaya dan Seorang Pertapa


Di sebuah kota bernama Champaka, ada sebuah tempat dimana para pendeta tinggal. Seorang pendeta bernama Chudakarna tinggl di tempat itu. Setelah memakan makanan yang didapatnya dengan mengemis, ia biasanya meninggalkan sedikit sisa makanan dalam mangkuknya yang ditopang dengan sebuah pasak dan pergi tidur. Aku [tikus] sering melompat lagi dan lagi untuk memakan makanan itu.

Setelah beberapa lama, sahabat terkasihnya yang juga adalah seorang pendeta bernama Vinakarna tiba di tempat itu. Saat sedang berbincang-bincang dengannya tentang berbagai hal, Chudakarna sering memukul lantai dengan sebuah tongkat bambu untuk menakut-nakutiku.

Melihatnya, Vinakarna berkata,” Sahabatku, kenapa engkau mengacuhkanku dan sepertinya sedang memikirkan sesuatu?” Chudakarna berkata,” Sahabat, bukannya aku mengacuhkanmu. Tapi lihatlah tikus ini, benar-benar menggangguku, yang selalu melompat dan memakan makananku, yang aku dapatkan dengan mengemis.

Vinakarna mengamati pasak itu dan berkata,” Bagaimana bisa seekor tikus yang lemah itu melompat sampai setinggi ini? Pastilah ada alasan tertentu.

Seperti dikatakan :

Dengan tiba-tiba, seorang wanita muda
Menarik rambut suaminya yang sudah tua
Memeluknya dengan penuh nafsu dan menciumnya
Pastilah ada alasan di balik itu

Chudakarna bertanya,” Bagaimana bisa demikian?”
Dan Vinakarna bercerita:

Kisah Tentang Suami Tua yang Kaya dan Istrinya yang Masih Muda


Di negeri Gauda, terdapat sebuah kota bernama Kausambi. Seorang saudagar kaya raya bernama Chandandas tinggal di sana. Ia sudah sangat tua tetapi karena nafsu yang besar dan keangkuhannya, ia menikahi seorang gadis puteri dari seorang saudagar, bernama Lilavati.

Istrinya yang masih itu remaja itu mekar begitu sempurna. Suaminya yang sudah tua tidak mampu memuaskan keinginannya.

Karena :

Seperti mereka yang menggigil kedinginan
Tidak akan bisa menikmati indahnya bulan
Juga yang sedang kepanasan,
Tidak akan bisa menikmati matahari
Begitupun hati seorang wanita
Tidak akan terpuaskan oleh seorang suami
Yang tubuhnya dilemahkan oleh usia


Lagipula :

Bagaimana bisa seorang laki-laki yang rambutnya sudah memutih
Memiliki kekuatan seks?
Wanita yang tertarik pada laki-laki lain,
Menganggap mereka adalah obat


Akan tetapi lelaki tua itu sangat kaya

Karena :

Keinginan akan kekayaan dan kehidupan
Penting bagi manusia
Tapi bagi lelaki tua, istri yang masih muda,
Lebih penting dari hidupnya sendiri

Lagipula :

Lelaki tua tidak akan bisa menikmati
Ataupun meninggalkan kesenangan seksualnya
Ia seperti anjing yang sudah ompong
Yang hanya bisa menjilat tulang dengan lidahnya


Selang beberapa lama, Lilavati yang sedang dimabukkan oleh keremajaan, mengkhianati kehormatan keluarganya dan jatuh cinta lagi pada seorang pemuda, putera seorang saudagar.

Karena :

Berikut adalah penyebab kehancuran wanita:
Kemandirian, tinggal di rumah ayahnya,
Teman dalam pesta, berbincang dengan laki-laki,
Tidak menepati etika pergaulan, tinggal merantau,
Berteman dengan perempuan yang tidak berkarakter,
Berkali-kali kehilangan kehormatan, suami yang berangsur tua,
Kecemburuan, atau tinggal di negara asing.

Dan lagi :

Keenam berikut ini menghancurkan seorang wanita:
Minum minuman keras, berteman dengan orang jahat,
Berpisah dengan suami, berpindah-pindah,
Tidur atau tinggal di rumah orng lain.

Dan juga :

Tidak ada tempat, tidak ada kesempatan,
Tidak ada orang yang menginginkannya,
Hanya karena alasan ini, wahai Narada
Seorang perempuan tetap suci.

Lagipula :

Wanita seperti sebotol minyak ghee
Dan laki-laki seperti arang yang membara,
Jadi orang bijak hendaknya tidak meletakkannya bersama-sama

Juga :

Ayah melindunginya dari kecil sampai remaja
Suami melindunginya setelah menikah
Anak lelaki saat ia tua,
Seorang wanita hendaknya tidak dibiarkan sendiri

Suatu hari, Lilavati sedang duduk berduaan dengan anak saudagar yang berkilauan karena perhiasan yang begitu banyak, sambil bercakap-cakap. Tiba-tiba ia melihat suaminya mendekati mereka. Ia segera berdiri, menarik rambutnya, memeluknya dengan erat dan kemudian menciumnya. Ketika itulah kekasihnya melarikan diri.

Seperti dikatakan :

Pengetahuan yang hanya diketahui oleh Usana dan Brihaspati,
Ada pada pikiran/ kecerdasan perempuan.

Ketika seorang prostitut melihat kejadian itu ia bertanya-tanya dalam hati,” Kenapa tiba-tiba ia memeluk suaminya?” Saat ia mengetahui alasannya, diam-diam ia mengutuk Lilavati.
“Karena itulah aku katakan,’ tiba-tiba seorang wanita muda menarik suami tuanya’ dan seterusnya.” Vinakarna melanjutkan,” Kekuatan tikus itu pastilah karena suatu alasan tertentu.”
Ia berpikir sejenak dan kemudian berkata,” Satu-satunya alasannya adalah karena kekayaan yang berlimpah.”

Karena :

Di dunia ini, dimana-mana dan setiap saat
Seseorang menjadi kuat karena kekayaan.
Kekuasaan bahkan seorang raja
Hanya didasari oleh kekayaannya saja.

Ia kemudian mengambil sebuah sekop/cangkul, menggali lubangku dan mengambil semua harta yang telah aku kumpulkan. Setelah itu, tanpa kekuatan dan tanpa vitalitas dan energi, aku tak bisa bahkan untuk mencari makan untuk diriku sendiri, Chudakarna melihatku merangkak pelan dalam ketakutan.

Dan ia berkata :

Di dunia ini, karena kekayaan seseorang bisa kuat/berkuasa
Juga karena kekayaan seseorang dianggap berilmu
Lihatlah kucing jahat ini
Ia terlihat sama seperti tikus-tikus biasa yang menyedihkan

Juga :

Semua kerja keras dari orang bodoh
Yang juga miskin,
Mengering seperti got kecil saat musim panas

Dan juga :

Ia yang punya kekayaan, punya teman
Ia yang punya kekayaan, punya keluarga
Ia yang punya uang, adalah manusia sejati di dunia ini
Ia yang punya uang, adalah terpelajar

Lagipula :

Rumah yang tidak memiliki anak laki-laki, menjadi sepi
Begitu juga seseorang yang tidak punya sahabat baik
Bagi orang bodoh, semua tempat adalah sepi
Dan dalam kemiskinan, semuanya sepi

Dan :

Diantara kemiskinan dan kematian
Kematian adalah lebih baik
Karena kematian itu menyakitkan hanya untuk sementara
Tetapi kemiskinan itu menyakiti selamanya

Dan :

Organ tubuh yang sama, nama yang sama,
Kecerdasan yang sama, perkataan yang sama,
Akan tetapi ketika dibedakan oleh kehangatan kekayaan,
Ia menjadi berbeda untuk beberapa waktu
Ini adalah sangat aneh

Mendengar semua ini, aku berpikir,” Tidak pantas untukku tinggl di tempat ini. Untuk menceritakan kejadian ini kepada orang lain juga tidak pantas.

Karena :

Kehilangan kekayaan, hati yang berdukacita,
Kesalahan yang diperbuat di rumah,
Penipuan dan pelecehan terhadap diri,
Seharusnya tidak diungkap oleh orang bijaksana.


Ketika takdir menjadi sangat kejam,
Dan usaha menjadi sia-sia
Bagi seseorng yang cerdas namun tidak mempunyai harta benda
Dimana lagi ada kebahagiaan
Kecuali di dalam hutan?

Lagipula :

Orang terhormat rela mati
Tapi tidak akan memperlihatkan ketidakberdayaannya
Api bisa saja mati
Tapi tidak pernah bisa menjadi dingin.

Dan juga :

Seperti seikat bunga
Orang bijak memperlakukannya dengan dua cara,
Menghiasi kepala semua orang dengan bunga itu,
Atau membiarkannya layu di hutan.

Untuk bertahan di sini dengan mengemis akan sangat hina.
Karena :

Lebih baik bagi orang yang dilanda kemiskinan,
Untuk memuskan api dengan badannya,
Daripada mengorbankan harga diri
Dan memohon pada orang kikir

Lagipula :

Karena kemiskinannya, seseorang menjadi malu
Dikuasai oleh rasa malu, ia menyimpang dari moralitas
Tanpa moralitas, ia dilecehkan
Karena dilecehkan, ia menjadi tidak menentu
Karena ketidakmenentuan itu, ia menjadi sangat sedih
Terjebak dalam kesediahan, ia kehilangan kecerdasan
Tanpa kecerdasan ia memasuki kehancuran
Oh! Kemiskinan adalah rumah segala bencana.

Dan juga :

Lebih baik tidak berbicara
Daripada berkata bohong
Lebih baik impoten
Daripada berhubungan dengan istri orang lain
Lebih baik mengorbankan hidup
Daripada mengikuti kata-kata orang jahat
Lebih baik hidup dengan sedekah
Daripada menikmati kekayaan orang lain

Dan lebih jauh :

Seperti perbudakan, seluruh harga diri;
Seperti cahaya bulan, kegelapan;
Seperti usia tua, kecantikan;
Seperti pembicaraan tentang Vishnu dan Shiva, dosa;
Begitupula mengemis menghancurkan bahkan ratusan kebaikan.

Aku kemudian berpikir,” Haruskah aku bertahan hidup dengan makanan orang lain? Oh, betapa sulitnya! Itu pun pintu kematian yang kedua.”

Karena :

Tiga hal yang menjatuhkan seseorang:
Belajar sesuatu dengan mendalam,
Kesenangan seksual dengan membayar,
Dan bergantung pada orang lain.

Lagipula :

Seseorang yang sakit,
Orang yang merantau sejak lama,
Ia yang memakan makanan orang lain
Dan ia yang tidur di rumah orang lain;
Yang hidup demikian, sama seperti mati
Kematiannya adalah peristirahatan terakhirnya


Meski berpikir demikian, akan tetapi karena keserakahan, aku sekali lagi ingin menguasai makanannya.

Seperti dikatakan :

Kecerdasan dapat dipengaruhi oleh keserakahan
Keserakahan menimbulkan keinginan
Dikendalikan oleh keinginan, seseorang menjadi sedih
Di dunia ini dan di dunia yang lain.


Saat aku berjalan perlahan, Vunakarna memukulku dengan tongkat bambu. Lalu aku berpikir,

Keserakahan akan kekayaan membawa kita pada ketidakpuasan,
Pikiran yang goyah dan kehilangan kendali.
Segala bencana akan datang,
Pada mereka yang selalu merasa tidak puas.

Dan juga :

Semua kekayaan adalah milik mereka
Yang selalu merasa puas.
Bagi ia yang memakai sepatu
Tidakkah seolah seluruh permukaan bumi
Terbungkus oleh kulit?

Lagipula :

Dipuaskan oleh madu kesenangan,
Kesenangan yang dimiliki oleh hati yang puas.
Dari manakah datangnya kesenangan itu,
Bagi mereka yang serakah akan kekayaan,
Berlari kian kemari mengejarnya (kekayaan)?

Dan juga :

Dipelajari dari mereka,
Didengar dari mereka,
Segala sesuatu dilakukan;
Yang telah meninggalkan segala keinginan
Dan tinggal dalam ketidakinginan.

Lagipula :

Terberkatilah mereka,
Yang tidak menunggu di pintu rumah orang kaya,
Yang tidak mengalami sedihnya perpisahan,
Yang tidak mendapat kata hinaan dari sebuah perbudakan.

Dan juga :

Seratus Yojana tidaklah jauh dari seseorang,
Yang dihanyutkan oleh keinginan
Bagi mereka yang berpuas hati,
Sekalipun ketika kekayaan datang di genggamannya,
Dia tidak akan menganggapnya berlebihan

Karena itulah keputusan apapun dalam keadaan seperti itu adalah jauh lebih baik.

Dan seperti dikatkan :

Apakah agama itu? Kasih sayang terhadap sesama mahluk
Apakah kebahagiaan itu? Bebas dari segala penyakit
Apakah belas kasih itu? Rasa senang pada semua orang
Apakah belajar itu? Membedakan.

Juga :

Kebijaksanaan ada pada pengambilan keputusan,
Saat bencana menimpa;
Ketika seseorang tidak mengambil keputusan
Bencana datang di setiap langkah

Begitu pula :

Seseorang harus meninggalkan orang lain
Demi keluarganya,
Meninggalkan keluarga
Demi desanya,
Meninggalkan desanya
Demi negaranya,
Dan meninggalkan seisi dunia demi diri dirinya sendiri.


Juga :

Air yang didapat dengan mudah
Atau makanan lezat tetapi tidak baik
Setelah mempertimbangkan keduanya,
Aku merasa kebahagiaan ada
Ketika perasaan kita damai

“ Setelah berpikir demikian, aku datang ke hutan tak berpenghuni ini.”

Karena :

Lebih baik tinggal di hutan yang penuh dengan harimau dan gajah,
Dimana di bawah sebuah pohon,
Ia bisa mendapatkan buah yang matang dan juga air,
Rumput sebagai kasur dan dedaunan sebagai pakaian,
Tetapi tanpa kekayaan diantara keluarga.

“ Lalu karena karma baikku, sahabatku ini datang padaku dengan penuh cinta kasih. Sekarang, masih karena karma baikku, aku bisa bertemu denganmu, yang benar-benar bagaikan mendapat surga bagiku.”

Karena :

Di antara pohon beracun dari alam material
Hanya ada dua buahnya yang terasa manis;
Puisi yang manis bagaikan madu
Dan pertemanan dengan orang baik

Manthara berkata :

Kekayaan bagaikan debu kaki,
Keremajaan bagai aliran sungai pegunungan,
Umur bagaikan tetesan air yang cepat,
Hidup bagaikan buih;
Karena itu, orang bodoh
Yang tidak menjalankan aturan agama
Yang membuka pintu surga
Menyesal di hari tua
Dan terbakar dalam api kesedihan

“Kamu telah mngumpulkan terlalu banyak. Itulah akibat berbahaya dari tindakanmu.”

Karena :

Dari uang yang dihasilkan, sedekahlah pelindungnya
Seperti air dalam danau akan tetap bersih
Karena selalu mengalir ke luar.


Juga :

Orang kikir, yang mengubur kekayaannya dalam tanah,
Telah membuat jalannya sendiri,
Untuk pergi ke bawah tanah


Lagipula :

Dengan menjauhi kenyamanan,
Ia yang menginginkan kekayaan
Seperti memikul kesusahan orang lain
Ia adalah penerima segala kesusahan


Lagipula :

Jika seeorang dianggap kaya karena kekayaannya
Yang tidak dipakai untuk bersedekah atau bersenang-senang
Dengan kekayaan yang sama
Apakah ia tidak hanya’dianggap’ kaya?


Ia yang menghabiskan hari-harinya
Dengan tidak bersedekah
Atau bersenang-senang dengan uangnya
Seperti pompa angin dari pandai besi
Yang bernafas tetapi tidak hidup

Apalah nilainya uang
Yang tidak diberikan sebagai sedekah
Atau keberanian
Yang tidak membuat musuh takut
Atau mendengarkan ajaran suci
Tetapi tidak mengikutinya
Atau mereka yang tidak mengendalikan indria-indria?


Juga :

Kedermawanan, kesenangan dan kehancuran:
Ini adalah tiga kemungkinan
Ia yang tidak memberi ataupun menikmati,
Kemungkinan yang ketiga akan menimpanya.

Dengan tidak menikmati, kekayaan orang kikir,
Menganggap itu kekayaan orang lain
“ ini punya dia”
semuanya itu disadari
dengan kesedihannya pada saat kehilangan semuanya.


Seperti dikatakan :

Hadiah dengan kata-kata manis
Pengetahuan tanpa kesombongan
Keberanian yang diikuti oleh pengampunan
Kekayaan yang diberikan lewat bersedekah;
Keempat hal itu sangat jarang di dunia ini.


Juga dikatakan :

Seseorang hendaknya mengumpulkan,
Tetapi tidak melewati batas.


Lihatlah :

Serigala yang berusaha mengumpulkan terlalu banyak,
Terbunuh oleh anak panah.


Keduanya bertanya,” Bagaimana itu bisa terjadi?”

Manthara bercerita :

Kisah Tentang Seorang Pemburu, Seekor Kijang, Babi, Ular dan Seekor Serigala


Hiduplah seorang pemburu bernama Bhairava, ia tinggal di Kalyanakta. Suatu hari ia pergi ke hutan Vidhya untuk berburu Kijang. Setelah memperoleh seekor kijang, ketika ia sedang membawa buruannya itu, ia melihat seekor babi yang menyeramkan. Ia pun menaruh kijang buruannya di tanah dan bersiap membidik babi itu dengan anak panahnya. Babi itu pun meraung bagaikan petir dan menyerang si pemburu tepat di daerah selangkangannya, si pemburu tumbang bak pohon yang ditebang.

Karena :

Air, api, racun, senjata,
Kelaparan, penyakit, terjatuh dari gunung,
Akibat kejadian itu,
Seseorang bisa kehilangan nyawa.


Saat itu juga, seekor ular meregang nyawa karena tertimpa keduanya. Sementara, seekor serigala yang bernama Deergharava yang sedang melintas di tempat itu mencari mangsa, melihat pemburu, kijang, babi dan ular tersebut. Kemudian ia berpikir,” Oh, hidangan lezat telah menungguku.”

Karena :

Seperti kesedihan yang datang tak terduga,
Begitu pula kegembiraan;
Aku percaya takdir adalah di belakang semua ini.


Dengan daging dari kesemuanya ini, aku akan hidup bahagia selama tiga bulan. Daging manusia ini akan aku habiskan dalam satu bulan, kijang dan babi ini dalam dua bulan sedangkan ular ini dalam sehari. Hari ini aku akan memakan senar busur ini. Setelah menahan rasa lapar sekian lama, aku akan menggigit senar yang tidak enak ini yang masih terikat dengan busurnya.”

Ketika ia menggigit dan memutuskan senar itu, sekonyong-konyong busur pun terpental dan membelah tepat pada dada Deergharava dan mengenai hatinya.

“ Karena itu aku katakan,”
Seseorang hendaknya mengumpulkan kekayaan,
Tetapi tidak melewati batas.
Apa yang ia berikan atau dapatkan,
Itulah kekayaan dari segala kekayaan,
Karena ketika ia meninggal,
Orang lain yang akan menikmati kekayaan dan juga istrinya.


Juga :

Sesuatu yang bisa diberikan atau dihabiskan oleh orang kaya,
Itulah kekayaannya,
Selebihnya ia jaga untuk orang lain.


“ Tidak usah memikirkan semua itu, apalah gunanya membicarakan masa lalu?”

Karena :

Apa yang tidak mungkin tercapai, mereka tidak menginginkannya.
Apa yang telah hilang, mereka tidak menyesalkannya.
Sekalipun dalam bencana,
Orang cerdas tidak akan kebingungan.


“ Jadi sahabatku, engkau harus penuh dengan semangat hidup.”

Karena :

Sekalipun telah mempelajari ajaran rahasia kitab suci,
Banyak orang tetap saja bodoh,
Tetapi ia yang cerdas dalam bekerja,
Ialah sesungguhnya terpelajar.

Obat yang sekalipun telah dipilih dengan pertimbangan matang,
Bagi mereka yang sedang sakit,
Tidak akan bisa sembuh,
Hanya dengan mengucapkan nama obat tersebut.


Terlebih lagi :

Sesungguhnya pengetahuan teori,
Tidak ada gunanya sedikitpun
Bagi mereka yang takut berusaha;
Apakah lampu yang diletakkan
Di telapak tangan orang buta
Bisa menerangkan pandangannya?


“ Karena itu sahabatku, dalam situasi yang tidak biasa di tempat ini, engkau hendaknya tidak stress dan engkau hendaknya tidak menganggap ini terlalu sulit untuk dilewati.”

Karena :

Seorang raja, perempuan rumahan, pertapa,
Seorang menteri dan buah dada,
Ketika dipindahkan dari tempat yang semestinya,
Tidak akan terlihat menarik.


Begitu pula :

Gigi, kuku dan laki-laki;
Mengetahui ini semua, orang yang cerdas,
Hendaknya tidak meningggalkan tempat yang semestinya.
“ akan tetapi ini adalah pendapat orang pengecut.”


Karena :

Yang berikut ini meninggalkan kediamannya:
Singa, orang bijaksana dan gajah;
Ditempat ini yang berikut ini musnah:
Burung gagak, pengecut dan kijang.


Juga :

Bagi mereka yang penuh semangat,
Yang mana negaranya dan yang mana bukan?
Ke negara manapun ia pergi,
Ia akan mengalahkan negara tersebut,
Dengan kekuatan lengannya;
Hutan manapun yang dimasuki oleh seekor singa,
Ia membunuh dengan taring, cakar dan ekornya,
Lalu menghilangkan rasa hausnya
Dengan darah para gajah.


Lagipula :

Seperti katak yang datang ke kubangan air,
Burung datang ke danau yang penuh air,
Begitu pula kekayaan pada mereka yang bekerja keras.


Dan juga :

Seseorang hendaknya bisa menyesuaikan diri
Dengan kemalangan dan keberuntungan;
Kemalangan dan keberuntungan berputar bak roda.


Terlebih lagi :

Ia yang penuh semangat dan bertindak cepat,
Ia yang tahu peraturan bekerja,
Yang tidak terikat dengan kejahatan,
Ia yang berani dan bersyukur,
Dan ia yang teguh dalam persahabatan;
Dewi keberuntungan akan datang sendiri padanya.


Dan istimewanya :

Sekalipun tanpa kekayaan,
Seorang pemberani mendapatkan posisi terhormat,
Sedangkan dengan kekayaan berlimpah, Orang kikir dipandang sebelah mata.

Seekor singa secara alami memiliki banyak kelebihan,
Bisakah seekor anjing memiliki penghormatan seperti itu,
Sekalipun dipakaikan kalung emas?
Mengapa aku merasa bangga ketika aku menjadi kaya?
Mengapa aku bersedih ketika kehilangan hartaku?
Seperti bola yang dipantulkan dengan tangan di atas tanah,
Adalah jatuh bangunnya seseorang.


Juga :

Naungan bayangan awan, cinta dari orang licik,
Jagung yang segar dan wanita;
Adalah untuk dinikmati sesaat saja,
Begitupun keremajaan dan kekayaan.

Demi kelangsungan hidup,
Seseorang hendaknya tidak berusaha terlalu keras,
Karena semua telah diputuskan oleh Sang Pencipta
Semenjak dalam kandungan hingga ia dilahirkan,
Air susu ibu tetap mengalir.


Terlebih lagi sahabatku :

Ia yang membuat angsa berwarna putih,
Dan burung kakatua berwarna hijau,
Ia yang membuat burung merak
Memamerkan keindahan bulunya,
Ia pula yang akan menyediakan kebutuhan hidupmu.


“Dan juga sahabatku, dengarlah rahasia dari orang bijak :

Dalam perolehan ia menyebabkan kesedihan,
Dalam kehilangan ia menyiksa,
Dalam kemakmuran ia melenakan,
Bagaimana bisa kekayaan seperti itu
Bisa membahagiakan kita?


Terlebih lagi :

Ia yang menginginkan kekayaan,
Demi menunaikan ibadah agama,
Sebaiknya ia melupakan keinginannya itu.
Karena daripada mencuci noda lumpur,
Menghindarinya adalah lebih baik.


Juga :

Seperti burung yang memangsa di angkasa,
Binatang di daratan,
Dan buaya di air,
Begitu pun orang kaya diincar oleh segala hal,
Oleh raja, air, api, pencuri, dan juga keluarga
Orang kaya selalu dihantui ketakutan,
Seperti mahluk hidup yang takut akan kematian.


Begitu pun :

Dalam hidup ini yang penuh penderitaan,
Kemalangan apa yang lebih besar
Dari ketidakterpenuhannya keinginan,
Terlebih, keinginan itu tidak terhilangkan.


“ Sekali lagi, dengarkanlah aku, saudaraku :”

Pertama-tama, kekayaan itu sulit untuk didapatkan,
Kehilangan apa yang telah kita peroleh rasanya seperti mati
Jadi seseorang hendaknya tidak terlalu memikirkannya.

Jika tidak ada keinginan di dunia ini,
Lalu siapakah yang miskin dan siapa yang kaya?
Jika kebebasan diberikan kepadanya,
Para budak pun duduk di atas kepala.


Terlebih lagi :

Apapun yang diinginkan seseorang,
Dari sana, keinginan berkembang;
Dari mana keinginan kita berhenti,
Ia hendaknya menganggap seolah keinginan telah tercapai.


“ Apalah gunanya semua pembicaraan ini? Tinggallah di sini bersamakau.”

Karena :

Kasih sayang hingga akhir hayat,
Kemarahan yang hilang dalam sekejap,
Ketidakterikatan terhadap apapun,
Begitulah orang bijaksana.


Mendengar semua ini, Laghupatanaka berkata,” Wahai Manthara, terberkatilah engkau. Kemuliaanmu pantas mendapat pujian.”
Karena :

Hanya orang hebat yang bisa,
Menyelamatkan orang hebat dari bahaya,
Ketika gajah terjebak dalam lumpur,
Hanya gajah yang bisa menyelamatkannya.


Juga :

Diantara manusia, hanya dia yang terpuji di dunia ini:
Yang berbudi luhur, saleh dan terberkahi,
Dari mana mereka yang datang dengan permohonan,
Atau yang mencari perlindungan,
Tidak akan pergi dengan kecewa,
Karena dihancurkan harapannya.


Lalu mereka tinggal dengan tenang dan bahagia, makan dan bermain sesuka hati.

Lalu suatu hari, seekor kijang yang bernama Chitrangga yang sedang ketakutan datang dan bergabung dengan mereka. Karena mencium marabahaya, Manthara masuk ke air, tikus pun masuk ke lubangnya.

Burung gagak terbang dan hinggap di pucuk pepohonan. Laghupatanaka mengamati sekeliling dengan seksama, berkata kalau ia tidak melihat tanda-tanda bahaya. Lalu karena yakin akan perkataannya, mereka semua keluar dari tempat persembuanyiannya dan duduk berkumpul.

Manthara berkata,” Apakah engkau baik – baik saja, wahai kijang? Engkaupun diterima di sini. Silahkan menikmati makanan dan minuman sesuka hatimu. Tinggallah di sini dan jadikan hutan ini tempat tinggalmu.”

Chittranga berkata,” Karena takut pada pemburu, aku datang padamu dan aku mohon perlindungan darimu.”

Hiranyaka berkata,” Engkau telah aku jadikan sahabatku.”

Karena :

Persahabatan datang dengan empat cara:
Hubungan darah,
Hubungan akibat pernikahan,
Pertemanan turun temurun,
Dan dengan menyelamatkan seseorang dari bahaya.


“ Jadi tinggallah di sini, berbahagialah dan anggap ini rumahmu.”

Mendengar semua itu, Sang kijang merasa bahagia, memakan makanan sesuka hati dan setelah minum air ia pun duduk di bawah naungan sebuah pohon di tepi danau.

Selang beberapa lama Manthara bertanya,” Sahabatku Kijang, siapakah yang telah menakutimu di hutan terpencil ini? Apakah kadang-kadang pemburu berkeliaran di tempat ini?”

Kijang berkata,” Di negeri Kalinga hidup seorang raja bernama Rukmangada. Dalam perjalanannya memperluas kekuasaan ia dan para prajuritnya berkemah di tepi sungai Chandrabhaga. Ia akan datang ke tempat ini besok pagi dan tinggal di tepi danau Karpuragaurava. Berita ini aku dengar dari para pemburu, jadi berbahaya untuk tinggal di tempat ini sekalipun sampai besok. Kita harus memikirkan tindakan yang harus kita lakukan dalam kondisi seperti ini.”

Kura-kura berkata dengan nada ketakutan,” Aku akan pindah ke danau yang lain.”

Burung gagak dan kijang juga berkata,” Sebaiknya memang begitu.”

Lalu Hiranyaka berkata sambil tersenyum,” Tentu saja Manthara akan lebih aman di danau yang lain, tapi apa yang akan melindunginya saat ia merangkak di tanah?”

Karena :

Air adalah untuk mahluk air,
Benteng adalah untuk mereka yang tinggal di dalam benteng,
Wilayah pribadi bagi binatang dan mahluk lainnya,
Begitupun para menteri adalah kekuatan dari raja.


“ Sahabatku Laghupatanaka, lewat nasihat ini, hasilnya akan sama seperti ini :”

Seperti melihat dengan mata kepala sendiri,
Istrinya dicumbu,
Anak saudagar menjadi sedih,
Engkaupun akan begitu.
Mereka bertanya,” Bagaimana itu bisa terjadi?”
Hiranyaka bercerita:


Kisah Tentang Seorang Pangeran, Wanita Cantik dan Suaminya.


Di negeri Kanyakubja hiduplah seorang raja yang bernama Veerasena. Ia menobatkan pangeran Tungabala, gubernur dari sebuah kota bernama Veerapura. Suatu hari ketika sedang berjalan – jalan, pemuda yang kaya raya itu melihat istri dari seorang anak saudagar yang bernama Lavanyavati. Iapun jatuh cinta pada Lavanyavati yang ibarat bunga sedang mekarnya. Sesampainya di istana ia segera mengirim utusan perempuannya:

Hanya selama seseorang berada di jalan kebaikan,
Bisa mengendalikan indria-indrianya,
Memiliki rasa malu dan rendah hati;
Sampai ketika anak panah dalam bentuk lirikan,
Dari wanita cantik dengan bulu mata lentik,
Terhujam setelah terlepas,
Dari busur alis matanya,
Membentang hingga ke sekitar telinganya,
Menembus keberanian laki-laki dan menyentuh hatinya.


Lavanyavati pun jatuh cinta setelah melihat Sang Pangeran. Dewa asmara telah menghujamkan panah cintnya, dan sejak saat itu Lavanyavati tidak pernah berhenti memikirkannya.

Seperti dikatakan :

Ada beberapa sifat buruk perempuan:
Tidak jujur, jiwa petualang,
Tipu muslihat, cemburu, tamak,
Sifat jelek dan ketidaksucian hati.


Setelah mendengarkan kata – kata sang utusan, Lavanyavati berkata,” Aku adalah istri yang berbakti. Bagaimana mungkin aku melakukan tindakan asusila ini dengan mengkhianati suamiku sendiri?”

Karena :

Seorang istri adalah ia yang mengatur rumah dengan baik,
Seorang istri adalah ia yang melahirkan anak – anak untuk suaminya,
Seorang istri adalah ia yang memandang suami sebagai hidupnya,
Seorang istri adalah ia yang berbakti pada suaminya.

Ia seharusnya tidak diangggap istri,
Jika suami tidak bahagia hidup dengannya,
Ketika suami bahagia,
Para Dewa akan terpuaskan oleh wanita itu.


“ Karena itu, apapun perintah suami, aku akan menjalankannya tanpa berpikir dua kali.”

Utusan itu berkata,” Benarkah begitu?”

Lavanyavati berkata,” Itulah yang sebenarnya.”

Ketika utusan itu kembali iapun menceritakan semua ini kepada Tungabala.

Setelah mendengar itu, ia berkata,” Aku terlanjur jatuh cinta padanya. Bagaimana aku bisa hidup tanpanya?”

Utusan itu berkata,” Suaminya sendiri yang akan menyerahkannya padamu.”

Ia bertanya,” Bagaimana mungkin?”

Utusan kembali berkata,” Cari akal.”

Seperti dikatakan :

Apa yang memungkinkan dilakukan dengan akal,
Tidak mungkin dilakukan dengan keberanian,
Ketika hendak melewati jalanan berlumpur,
Seekor serigala membunuh gajah.


Pangeran bertanya,” Bagaimana itu bisa terjadi?”

Utusan wanita itu bercerita:

Kisah Tentang Seekor Gajah dan Seekor Serigala yang Licik

Di negeri Brahmaranya hiduplah seekor gajah bernama Karpurtilaka. Melihatnya, semua serigala akan berpikir,” Dengan membunuh gajah ini dengan cara apapun, kita semua akan cukup makan dalam berbulan – bulan.”
Seekor Serigala tua memutuskan,” Aku akan membunuhnya dengan kekuatan pikiranku.”
Lalu, Serigala licik itu datang mendekati Karpuratilaka dan bersujud dihadapannya sambil berkata,” Wahai Dewa, lihatlah aku.” Gajah bertanya,” Siapakah engkau? Engkau berasal darimana?”
Ia menjawab,” Aku adalah seekor serigala. Semua binatang yang tinggal di hutan telah mengirim aku untuk menghadapmu, mereka sepakat bahwa tidaklah baik jika kami tidak memiliki raja. Jadi engkau yang memiliki banyak kelebihan dan kualitas seorang raja, telah dinobatkan sebagai raja di hutan ini.”


Karena :

Ia yang dianggap mulia karena asal – usulnya,
Ras dan tingkah laku,
Sangat berani, baik budi,
Dan fasih dalam etika kebangsawanan;
Adalah pantas untuk menjadi raja di bumi ini.


Perhatikan :

Seseorang hendaknya pertama-tama mendapatkan seorang raja,
Lalu seorang istri, lalu kekayaan,
Jika tidak ada raja di dunia ini,
Dari manakah seseorang mendapatkan istri atau kekayaan?


Terlebih lagi :

Seperti halnya hujan,
Raja adalah sumber kehidupan
Dari semua mahluk hidup.
Sekalipun tidak ada hujan, seseorang dapat hidup,
Tetapi tidak jika tanpa seorang raja!


Dan juga :

Seseorang menjalani aturan moralitas,
Hanya karena takut akan hukuman;
Di dunia yang saling ketergantungan ini,
Sangat sulit mencari orang yang baik

Seorang wanita baik - baik akan menanggung
Seorang suami yang lemah, buntung, sakit-sakitan dan miskin,
Karena takut akan hukuman.


“Oleh karena itu, agar kesempatan yang baik ini tidak lewat begitu saja, ayolah segera!”

Setelah berkata demikian, serigala bangun dan beranjak pergi. Lalu Karpuratilaka yang tergoda oleh keserakahan akan kerajaan berjalan mengikuti Serigala dan kemudian terjebak dalam kubangan Lumpur yang dalam. Dalam keadaan demikian ia berkata,” Sahabatku Serigala, apa yang harus aku lakukan? Aku tenggelam dalam lumpur ini, aku pasti akan mati. Berbaliklah dan lihatlah keadaanku.”

Serigala tersenyum dan berkata, “ Dewa, raihlah ekorku dan keluarlah dari lumpur itu. Engkau telah mempercayai orang sepertiku, maka nikmatilah penderitaanmu yang tidak ada obatnya.”

Seperti dikatakan :

Jika engkau tidak memiliki pergaulan baik – baik,
Engkau pastinya akan jatuh ke pergaulan yang jahat.


Lalu serigala itu memakan gajah yang tidak berdaya terjebak di lumpur yang dalam.

Oleh karena itu aku katakan,” Apa yang sudah tidak mungkin tercapai, gunakanlah alat, dan sebagainya.”

Sesuai nasihat sang duta, Pangeran menunjuk anak saudagar yang bernama Charudatta itu sebagai pelayannya dan mempercayakannya atas segala sesuatu yang penting dan rahasia.

Suatu hari, seperti biasa setelah mandi sang pangeran mengenakan perhiasan emas permata dan mengoleskan parfum dari Cendana. Beliau berkata,” Wahai Charudatta, aku akan melaksanakan ritual Gaurivrata selama sebulan. Jadi mulai hari ini bawakan aku seorang wanita dari keluarga baik-baik setiap malam. Aku akan memujanya sesuai persyaratan ritual.”

Sesuai perintah, Charudatta setiap malam menyerahkan seorang wanita kepada sang Pangeran. Ia lalu bersembunyi dan diam-diam mengawasi apa yang dilakukan oleh Pangeran. Tunggabala pun, tanpa menyentuh perempuan itu akan memujanya dari kejauhan, menghadiahinya pakaian, perhiasan dan wewangian. Lalu, ia akan mengirim perempuan tersebut ke rumah masing – masing dengan diantar oleh pengawal.

Ketika Charudatta melihat semua itu, tumbuh kepercayaan dalam dirinya. Karena tergoda oleh keserakahan, ia mengantar dan menyerahkan istrinya Lavanyavati kepada Tunggabala.

Ketika pangeran Tunggabala mengenali Lavanyavati, ia bergegas berdiri dan memeluknya dengan mata terpejam karena sukacita lalu bercinta dengannya di atas ranjang. Ketika sang anak saudagar melihat pemandangan ini, ia seakan berubah menjadi sebuah lukisan yang tidak dapat berbuat apa-apa, ia pun amat sangat kecewa.

Hiranyaka berkata,” Karena itu aku katakan ‘Seperti melihat dengan mata kepala sendiri, dan seterusnya’. Sahabatku Manthara, hal yang sama bisa terjadi padamu juga.”

Akan tetapi tanpa mengindahkan perkataan sahabatnya, Manthara, kebingungan dan dikuasai oleh ketakutan lalu beranjak pergi dan meningggalkan danau itu. Hiranyaka dan yang lainnya pun mengikutinya karena rasa kasih sayang dan rasa takut akan sesuatu yang buruk akan terjadi.

Selang beberapa lama, seorang pemburu yng sedang mengembara di hutan itu melihat Manthara merangkak pelan di atas tanah. Iapun meraihnya dan mengikat Manthara di busurnya. Karena rasa haus, lapar dan lelah berkelana ia bergegas pergi menuju rumahnya.

Sang kijang, burung gagak dan tikus merasa sangat sedih dan lalu mengikutinya.

Hiranyaka meratap :

Tak lama setelah aku melewati satu musibah,
Bak memotong samudra dengan sebuah garis,
Lalu yang lainnya datang,
Karena dalam keadaan lemah,
Musibah tak pernah datang sendirian.


Juga :

Seorang sahabat yang penuh kasih,
Kita dapatkan karena karma baik,
Karena ia tidak akan meningggalkan sahabatnya
Sekalipun dalam bencana.
Bukan pada seorang ibu, bukan pada istri,
Bukan pada saudara atau anak,
Seseorang menaruh kepercayaan,
Seperti pada seorang sahabat sejati.


Ia memikirkannya lagi dan lagi,” Oh, betapa malangnya!”

Hasil dari perbuatan kita,
Baik atau buruk di masa lalu,
Akan datang jika waktunya tiba,
Di dunia ini aku telah saksikan,
Berbagai peristiwa silih berganti.


“Mungkin benar adanya :”

Badan ini selalu dalam bahaya,
Kekayaan adalah sumber malapetaka,
Pertemuan selalu identik dengan perpisahan,
Dan apapun yang diciptakan pastilah akan hancur.


Ia berpikir sejenak dan berkata :

Ia yang melindungimu dari rasa takut,
Yang timbul dari kesedihan atau permusuhan,
Dan kau simpan kepercayaan dan cinta padanya,
Ia yang menciptakan permata persahabatan (Mitra)
Terdiri dari dua kata.


Dan juga :

Ia yang memberi kesejukan pada mata yang melihat,
Menyenangkan hati,
Tempat berbagi kebahagian dan kesedihan,
Sangat sulit didapat.
Tapi ia yang menjadi temanmu,
Pada saat engkau makmur,
Karena keserakahannya akan uang,
Dapat kita temukan dimana-mana.
Malapetaka adalah akibat dari karakternya.


Setelah meratap demikian, Hiranyaka berkata kepada Chitrangga dan Laghupatanaka,” Semasih pemburu itu belum keluar dari hutan ini, kita harus berusaha membebaskan Manthara.”

Keduanya menjawab,” Mohon cepat beritahu kami apa yang harus dilakukan?”

Hiranyaka berkata,” Biar Chitrangga pergi ke dekat danau dan berpura-pura mati. Burung Gagak hinggap di atas tubuhnya dan mematuknya sedikit. Karena tergiur oleh daging kijang, pemburu itu pasti akan meninggalkan si kura-kura dan bergegas mendekati kijang. Sementara aku akan menggigit ikatan Manthara. Ketika pemburu itu mendekatimu, kamu cepatlah lari dari sana.”

Chitrangga dan Laghupatanaka pergi dan melakukan semua perintah Hiranyaka. Sementara itu, si pemburu merasa lelah dan beristirahat di bawah sebuah pohon setelah minum air dan ia pun melihat sosok kijang dalam keadaan demikian. Dengan gembira ia mengambil pisaunya dan berjalan ke arah kijang itu.

Hiranyaka tidak buang-buang waktu, ia cepat-cepat menggigit tali yang mengikat si kura-kura yang bergegas masuk ke danau. Kijang pun cepat-cepat melarikan diri melihat si pemburu mendekat.

Saat kembali ke bawah pohon si pemburu tidak melihat kura-kura di sana. Ia berpikir,” Orang yang tidak hati-hati seperti aku memang pantas menerima kemalangan ini.”

Karena :

Ia yang meninggalkan kepastian,
Dan mencari ketidakpastian,
Kehilangan sesuatu yang pasti,
Sementara sesuatu yang belum pasti pun ia akan kehilngan.


Setelah kejadian itu, ia pulang ke rumah menyesal dan menyalahkan dirinya atas semua kemalangan itu. Sementara Manthara dan yang lainnya, pulang ke tempat masing-masing dan hidup bahagia.

Kini para Pangeran bersuka cita dan berkata,” Kami telah mendengar semuanya dan bahagia karenanya. Keinginan kami telah terpenuhi.”

Vishnusharma berkata,” Sampai saat ini segala keinginanmu telah terkabulkan. Semoga ada banyak lagi..”

Semoga orang bijak memperoleh teman,
Semoga para penduduk negeri ini mendapatkan kekayaan,
Semoga Raja menjaga bumi ini, sesuai kewajibnnya;
Semoga kebijakan orang bijak ini,
Ibarat gadis muda yang baru menikah,
Dapat memuashan hatimu,
Semoga Dewa yang berhiaskan bulan sabit di kepalaNYA,
Memberkati kita dengan kemakmuran.


Sampai di sini berakhir bagian pertama kumpulan cerita tentang “Memperoleh Teman” dalam Hitopadesha.

Semoga berbahagia!



Bagian II

Suhridbheda

Pisahnya Teman - Teman

Para pangeran berkata, “Arya, kami telah mendengar ‘Pemerolehan Teman-teman’. Sekarang, kami ingin mendengar ‘Pisahnya Teman - Teman’”

Vishnusharma berkata, “Dengarkan ‘Pisahnya Teman - Teman yang mana syair yang pertama sebagai berikut:”

Pertemanan besar yang telah tumbuh,
Antara sang raja binatang-binatang,
Dan seekor sapi jantan di sebuah hutan,
Dirusak oleh seekor serigala yang lihay dan serakah.


Para pangeran bertanya, “Bagaimana hal itu terjadi?”

Vishnusharma pun bercerita:



Cerita Tentang Seorang Pedagang Kaya, Sapi Jantannya,
Seekor Singa dan Seekor Serigala

Di bagian Selatan negeri terdapat sebuah kota yang bernama Suvarnavati. Di dalamnya hidup seorang pedagang kaya yang bernama Vardhamana. Dia memiliki kekayaan yang berlimpah. Meskipun demikian bila dia melihat keluarganya yang lain jauh lebih makmur, maka keinginannya untuk meningkatkan kekayaan lebih bertambah.

Untuk:

Melihat ke orang-orang yang lebih rendah dari kita,
Nilai siapa yang tidak naik?
Melihat ke orang-orang yang lebih tinggi dari kita,
Maka semuanya menilai diri mereka miskin.


Lebih pula:

Bahkan seorang pembunuh Brahmana dihormati,
Jika dia memiliki kekayaan yang berlimpah.
Sementara seorang yang meski berasal dari keluarga baik-baik,
Serupa dengan bulan.
Siapa yang tidak memiliki uang terhina.


Lebih pula:

Siapa yang tidak rajin,
Siapa yang malas,
Siapa yang hanya mengharapkan keberuntungan,
Dan siapa yang kurang dalam usaha -usahnya
Tentulah Lakshmi tidak akan,memekulnya
Seperti seorang wanita muda terhadap suaminya yang tua.


Dan:

Kemalasan, penghambaan terhadap seorang wanita,
Keadaan sakit,
Kedekatan terhadap tempat lahir,
Kepuasan hati dan sifat malu-malu;
Inilah keenam hal yang menghalangi kebesaran.


Untuk:

Siapa yang menganggap dirinya cukup,
Meski hanya dengan sedikit kekayaan,
Nasib percaya bahwa dia teleh melakukan tugasnya
Maka dia tidak akan bertambah kekayaannya.


Lebih pula:

Semoga tidak ada wanita yang melahirkan seorang anak laki-laki,
Yang mana tidak memiliki tenaga, kegembiraan, keberanian,
Dan senang terhadap musuh-musuhnya.


Juga disebutkan bahwa:

Seseorang harus memiliki keinginan terhadap sesuatu,
Yang mana belum pernah dia peroleh,
Pada waktu diperoleh
Orang tersebut harus melindunginya,
Setelah melindunginya,
Orang tersebut harus meningkatkannya,
Dan setelah meningkatkannya,
Menggunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat.


Untuk:

Ketika seseorang semata-mata menginginkan sesuatu
Yang mana tidak dia punyai,
Dia memperolehnya hanya dengan upaya keras
Dan setelah dia memperolehnya,
Jika dia tidak melindunginya,
Maka hal tersebut akan hancur dengan sendirinya,
Tinggallah dia menjadi harta karun yang melimpah.


Lagi:

Kekayaan yang tidak ditingkatkan,
Akan berkurang menjadi nol nantinya,
Meskipun digunakan sedikit-demi sedikit seperti collyrium,
Atau ketika tidak dinikmati,
Maka ia sesungguhnya tidak berguna.


Sebagaimana disebutkan:

Apa gunanya kekayaan bagi seseorang,
Yang tidak memberikan kepada orang lain atau menikmatnya?
Dan apa gunanya kekuatan bagi seseorang?
Yang tidak menyaiksa musuh-musuhnya?
Apa gunanya pengetahuan agama bagi yang beriman
Apa gunanya jiwa bagi seseorang,
Yang tidak menaklukkan perasaannya?


Lebih pula:

Ketika melihat habisnya collyrium,
Dan peningkatan dari bukit semut,
Seseorang harus membuat setiap harinya berguna,
Dengan pemberian dan ibadah, dan lain-lain.


Untuk:

Dengan jatuhnya tetesan air,
Sebuah botol kecil akan terisi penuh;
Itulah prinsip dari seluruh pengetahuan,
Kebajikan-kebajikan agama dan kekayaan.

Seseorang yang menghabiskan harinya,
Tanpa pemberian dan kesenangan,
Sesungguhnya dia tidaklah hidup, meskipun dia bernapas,
Seperti layaknya hembusan napas dari seorang tukang besi.


Berpikir demikian, dia pasangkan dua lembu yang bernama Nandaka dan Sanjeevaka ke keretanya, mengisinya dengan berbagai barang dan kemudian mulai berangkat menuju Kashmir untuk berdagang.

Untuk:

Apakah artinya beban yang berat bagi mereka yang kuat?
Apakah artinya jarak bagi mereka yang suka bekerja keras?
Apakah artinya negeri asing bagi mereka yang terpelajar?
Dan siapakah yang dimaksud dengan seorang asing bagi mereka yang berkata-kata manis?


Tak lama kemudian, ketika melalui sebuah hutan yang bernama Sudarga, tungkai Sanjeevaka retak dan iapun jatuh. Melihat hal ini, Vardhamana berpikir:

Seseorang bisa saja ahli dalam hal ilmu etika,
Melakukan upaya disana-sini,
Namun hasilnya tetap jelas yakni,
Siapa yang ditakdirkan memiliki kemauan.


Dan juga:

Kekhawatiran seharusnyalah dengan cara apapun harus disingkirkan,
Karena ia adalah sesuatu yang menghancurkan segala tindakan,
Oleh karenanya dengan meninggalkan kekhawatiran,
Seseorang akan mencapai kesuksesan atas tujuannya.


Berpikir demikian, Vardhamana meninggalkan Sanjeevaka disana, kemudian pergi ke sebuah kota yang bernama Dharmapura dengan membawa lembu lainnya yang penuh dengan barang, memasangkannya ke kereta dan kemudian melanjutkan perjalanannya. Entah bagaimana Sanjeevaka berhasil mengangkat tubuhnya bertumpu pada ketiga kakinya dan kemudian bangun.

Untuk:

Barang siapa yang tenggelam dalam air yang dalam,
Atau jatuh dari sebuah gunung,
Atau bahkan digigit oleh ular Taksha yang berbisa,
Lamanya hidup seperti yang telah ditakdirkan,
Akan melindungi bagian-bagian tubuhnya yang penting.

Manakala waktu belum datang juga,
Seseorang tidak akan mati,
Bahkanpun bila dicabik-cabik,
Dengan ratusan panah,
Namun ketika waktu telah datang,
Seseorang tidak akan hidup,
Ketika dicabik dengan hanya sebuah irisan alang-alang Kusha.

Meskipun tidak terlindungi,
Seseorang tetaplah hidup karena dilindungi oleh nasib,
Dan meskipun terlindungi dengan baik,
Seseorang akan mati jika dirasuki oleh nasib;
Seseorang yang tertinggal di hutan tanpa terlindungi tetap hidup,
Sementara seseorang tidak dapat bertahan hidup meskipun dia di dalam rumah,
Meskipun upaya-upaya dilakukan untuk menyelamatkannya.


Dan dengan waktu yang berlalu, Sanjeevaka makan dan hidup menurut sesuka hatinya di dalam hutan, menjadi sehat dan berhati baik serta mulai melenguhkan suaranya dengan keras.

Di dalam hutan yang sama, tinggallah seekor harimau yang bernama Pingalaka yang menikmati kesenangan dari kerajaaannya yang dia peroleh dengan kekuatan.

Seperti disebutkan bahwa:

Bukanlah penobatan bukan pula acara perayaan lainnya,
Dilakukan oleh binatang-binatang terhadap sang harimau,
Yang dengan kemampuannya,
Memperoleh kerajaan tersebut
Dan kekuasaaan atas binatang-binatang,
Datang dengan sendirinya.


Suatu ketika harimau ini dikuasai oleh rasa haus. Dia kemudian pergi ke tepi sungai Yamuna untuk minum air dan disana dia mendengar lenguhan Sanjeevaka seperti suara guruh awan yang muncul bukan pada musimnya, sesuatu yang belum pernah didengar oleh dia sebelumnya.

Ketika mendengar ini, dia tidak meminum air tetapi berbalik ke belakang dan kembali ke tempat tinggalnya sambil berpikir keheranan apa sesuangguhnya suara tersebut dan kemudian dia duduk dengan diam.

Dalam kondisi demikian, dia diamati oleh oleh dua ekor serigala yang bernama Karataka dan Damanaka yang mana adalah anak-anak dari bekas Perdana Menteri-nya.

Melihat keadaannya seperti itu, Damanaka bertanya kepada Karataka, “Saudarakau Karataka! Bagaimana keadaan pemimpin kita, meskipun haus dia tidak meminum air tersebut tetapi bahkan kembali secara perlahan karena takut dan duduk diam?”

Karataka menjawab, “Saudaraku Damanaka! Manurutku, dia tidaklah pantas sama sekali untuk disembah. Jika demikian, apa gunanya mengamati gerakan-gerakannya? Semenjak raja ini memandang kita rendah meski tanpa kita berbuat kesalahan, kita sesungguhnya telah mengalami kesedihan yang amat dalam.”

Untuk:

Lihatlah apa yang telah dilakukan oleh mereka,
Yang berkeinginan memiliki kekayaan melalui jasa;
Meskipun kebebasan diri,
Telah hilang dengan adanya kebodohan-kebodohan ini.


Lebih pula:

Penderitaan karena dingin, angin dan panas,
Diperpanjang oleh mereka yang tergantung oleh yang lain;
Seorang bijaksana dapat menjadi bahagia dengan cara,
Meskipun sedikit mengambil bagian dari penderitaan tersebut dalam menjalankan penebusan dosa.


Lagi:

Kesukesesan dalam hidup adalah tentunya,
Berada dalam kemerdekaan hidup;
Jika mereka yang kemerdekaannya dikurangi,
Disebut hidup, lalu siapa yang mati?

Datang, pergi, duduk, berdiri,
Bicara dan tetap diam;
Dalam tindakan ini, golongan kaya menghibur diri mereka,
Dengan para pemohon,
Yang dikuasai oleh keinginan iblis.

Sama seperti seorang wanita asusila yang menghiasi tubuhnya,
Lagi dan lagi,
Untuk kepentingan jasa bagi orang lain;
Begitu pula dengan seorang yang bodoh dalam upayanya memperoleh kekayaan,
Membuat dirinya rendah dihadapan orang lain,
Atas kehendak dirinya sendiri.


Lagi:

Mereka yang secara alamiah tidak berpendirian tetap,17
Dan terpikat bahkan pada benda-benda yang kotor,
Bahkan pandangan sekilas dari sang majikan,
Dihormati oleh para jongos.


Lebih pula:

Ketika diam, seorang dianggap bodoh,
Dianggap pintar ketika pintar dalam berbicara, gila atau banyak bicara,
Ketika sabar, malu-malu,
Jika dia put up dengan lembut/sifat penurut, berarti dari golongan rendah,
Jika dia dekat dengannya, berarti kurangajar,
Jika dia berdiri pada jarak yang jauh, berarti tidak tegas;
Tugas-tugas pengabdian adalah benar-benar sulit,
Bahkan oleh para yogis tidak diketahui sulitnya sampai dimana.


Lebih khusus:

Dia membungkuk, supaya dia meninggi (dalam hidup),
Mengorbankan hidupnya, supaya dia dapat hidup,
Menderita kesengsaraan supaya dia berbahagia,
Siapa lagi yang lebih bodoh ketimbang seorang jongos?


Damanaka berkata, “Teman, manusia tidak boleh pernah memiliki pikiran-pikiran seperti itu dalam pikirannya.”

Untuk:

Mengapa harusnya orang-orang kaya,
Tidak diabdi dengan penuh kerajinan,
Yang ketika merasa puas,
Memenuhi keinginan-keinginan dengan serta-merta.


Lebih pula, coba lihat:

Bagi mereka yang tidak diabdi lagi,
Dari mana lagi terdapat kekayaan,
Dengan Chamaras dilambaikan di atas kepala mereka,
Sebuah payung putih dengan seorang pengawal tinggi,
Dan sebuah tentara dengan kuda-kuda dan gajah-gajah?


Karataka berkata, “Tapi apa yang dapat kita lakukan dengan masalah ini? Karena seseorang harus selalu menghindari urusan yang mana tidak terdapat kepentingan sama sekali di dalamnya.”

Lihatlah:

Ketika seorang manusia memikirkan dirinya sendiri,
Tentang sesuatu yang sebenarnya bukan urusan dirinya,
Dia mati di atas tanah,
Seperti seekor kera yang menarik sebuah pasak.


Damanaka bertanya, “Bagaimana hal itu terjadi?”
Karataka pun bercerita:



Cerita tentang Kera yang Menarik sebuah Pasak

Di negeri Magadha, di sebuah tempat dekat dengan Dharmaranya, seorang Kayastha bernama Shubhadatta telah memulai untuk membuat sebuah kuil. Disana terdapat kumpulan kayu yang dipotong panjang dengan sebuah gergaji. Di situ terdapat sebuah pasak yang ditempatkan diantara bagian yang digergaji. Sekelompok kera datang mendekat kesana untuk bermain. Seekor kera diantara mereka, seolah-olah didorong oleh kematian duduk disana sambil memegang pasak tersebut dengan tangannya. Dua pelir kemaluannya tergantung kebawah masuk diantara belahan kayu. Karena sifatnya yang nakal, alamiah bagi seekor kera, dia kemudian menarik pasak tersebut dengan kuat. Ketika pasaknya tercabut keluar, belahan kayu menutup. Pelir kemaluannya terhimpit dan si kera sendiri terpecah menjadi lima bagian.

Oleh karenanya aku berkata, “Ketika seorang manusia yang berkeinginan untuk memikirkan dirinya sendiri, dan seterusnya.”

Damanaka berkata, “Bahkanpun seorang jongos harus memperhatikan tindakan-tindakan majikannya.”

Karataka berkata, “Biarkan si Perdana Menteri yang mana berkuasa atas segala urusan mengerjakannya. Karena seorang jongos bahkan tidak boleh membicarakan tugas-tugas dari orang lain.”

Lihatlah:

Seseorang yang membicarakan tugas-tugas orang lain,
Dengan maksud untuk berbuat baik kepada tuannya,
Mati dalam kesedihan seperti contohnya seekor keledai
, Yang dipukul sampai mati karena meringkik.


Damanaka berkata: “Bagaimana hal tersebut terjadi?”

Karataka pun bercerita:



Cerita tentang Seorang Tukang Sapu, Seekor Keledai dan Seekor Anjing

Di Varanasi hidup seorang tukang sapu yang bernama Karpurapataka. Suatu ketika setelah lama menghibur dirinya dengan isterinya yang berjiwa muda, dia tidur dengan pulas.

Kemudian, seorang pencuri masuk ke dalam rumah untuk mencuri kekayaannya. Seekor keledai yang terikat tinggal di halaman. Seekor anjing duduk di dekatnya.

Si keledai berkata kepada si anjing, “Teman! Ini adalah tugasmu, jadi kenapa kamu tidak menggonggong keras and membangunkan tuan kita?

Si anjing menjawab, “Kamu seharusnya tidak boleh ikut campur dalam urusan saya. Tidakkah kamu tahu aku menjaga rumahnya siang dan malam? Semenjak lama dia selalu bebas dari bahaya, dia tidak menyadari kegunaan saya sehingga dia kurang merawat saya dengan memberi makanan yang sedikit. Karena tidak melihat adanya bahaya, para majikan kurang memperhatikan pembantu-pembantunya.”

Si keledai berkata: “Dengarlah wahai pengoceh!”

Siapa yang memohon pada saat waktunya diambil tindakan,
Adalah pembantu yang buruk dan seorang teman yang kikir.


Si anjing menjawab:

Siapa yang berbicara manis kepada para pembantu
Hanaya pada saat kerja,
Dia adalah majikan yang keji.


Untuk:

Pengganti tidaklah cukup,
Bagi kesejahteraan si yang bergantung,
Dalam hal pengabdian kepada seorang majikan,
Dalam hal melaksanakan perintah-perintah agama,
Dan dalam hal melahirkan seorang anak laki-laki.


Si keledai berkata dengan marah, “Wahai engkau mahluk berpikiran keji! Engkau berdosa karena mengabaikan pekerjaan majikan pada saat malapetaka terjadi. Biarlah begitu. Aku akan bertindak susuatu sehingga akan membangunkan majikanku.”

Untuk:

Seseorang harus menghadapi matahari di belakang,
Api dengan perut,
Sang majikan dengan penuh pengabdian,
Dan dunia selanjutnya dengan tanpa kecurangan.


Berkata demikian, dia meringkik dengan keras. Si tukang sapu yang terbangun dengan ringkikan sehingga tidurnya terganggu, bangun dengan marah dan memukul si keledai dengan tongkat sampai dia tewa menjadi lima bagian.

“Oleh karenanya aku berkata, ‘Seseorang yang membicarakan tugas-tugas orang lain, dan seterusnya.’ Lihatlah, tugas kita adalah mencari binatang-binatang. Jadi tetaplah pada pekerjaanmu.”

Setelah berpikir: “Tapi hari ini kita tidak terkait dengan hal tersebut. Karena masih ada makanan yang cukup banyak tersisa setelah kita selesai makan.”

Damanaka berkata dengan marah, “Apakah engkau mengabdi kepada raja hanya demi makanan? Apa yang kamu katakan adalah salah!”

Untuk:

Dalam upaya untuk membantu teman-teman mereka,
Dan juga mengancam musuh-musuh mereka,
Orang-orang yang bijaksana menginginkan perlindungan dari raja,
Kalau tidak/sebaliknya siapa yang tidak semata-mata mengisi perutnya?
Kehidupan siapa,
Brahmana, teman-teman dan saudara hidup,
Kehidupannya adalah berguna,
Kalau tidak/sebaliknya siapa yang tidak hidup untuk dirinya sendiri?


Lebih pula:

Siapa yang dengan hidupnya banyak yang hidup, amat banyak,
Sebaliknya bukankah seekor burung gagak juga mengisi perut dengan paruhnya?


Lihatlah:

Beberapa laki-laki bekerja hanya demi untuk lima cowry
Beberapa laki-laki bekerja untuk satu lakh18 rupees,
Dan bagi seseorang tidak tersedia,
Bahkan untuk sati lakh


Lagi:

Ketika semuanya adalah sama bagi seluruh umat manusia,
Jasa tentunya dikritik;
Tapi bagi siapa yang tidak berada di sana pertama kali,
Adalah dia yang akan dihitung diantara yang hidup?


Dan disebutkan bahwa:

Diantara kuda-kuda, gakah-gakah dan besi-besi,
Diantara kayu-kayu, batu-batu dan pakaian-pakaian,
Diantara wanita-wanita, pria-pria dan air,
Perbedaannya adalah sangat besar
Bahkan diantara yang sama jenisnya.


“Seperti ini; Bahkan yang sedikit dianggap sebagai sangat banyak.”

Seperti contoh:

Seekor anjing mungkin merasa puas bila memperoleh,
Sebuah tulang yang penuh berisi
Dengan urat dan daging,
Tapi hal itu tidak dapat memuaskan rasa laparnya.

Di sisi lain, seekor harimau meninggalkan seekor serigala,
Yang jatuh tersungkur, dan justru membunuh seekor gajah;
Setiap manusia meskipun terjatuh dalam masa-masa sulit,
Menginginkan hasiln sesuai upayanya.


Lebih pula:

“Lihatlah perbedaan antara si jongos dan si tuan.”
Mengibas-ngibaskan ekornya, kakinya terjatuh,
Berbaring di atas tanah,
Dan memperlihatkan muka dan perutnya,
Seekor anjing melakukan hal ini bagi si pemberi makanan;
Namun gajah yang penuh keagungan memperhatikan dengan sabar,
Dan makan setelah ratusan kata-kata bujukan.

Itulah hidup,
Yang mana seorang manusia sungguh-sungguh hidup meski hanya untuk sekejap,
Ditemani oleh pengetahuan, keberanian dan ketenaran,
Begitulah disebutkan oleh orang-orang bijaksana,
Di lain sisi, bahkan seekor burung gagak hidup lama,
Dan mempertahankan dirinya dari pemberian.


Lebih pula:

Seseorang yang tidak merasa kasihan terhadap anaknya,
Guru, pembantu, orang-orang miskin dan keluarganya;
Apa gunanya kehidupan orang tersebut di dunia ini?
Begitu juga sama bahkan seekor burung gagak hidup lama,
Dan mempertahankan dirinya dari pemberian.


Juga:

Seorang yang tidak memiliki intelektualitas sama sekali,
Dari kekuasaan d diskriminasi
Antara baik dan buruk

Siapa yang tidak mengikuti
Aturan-aturan tata krama Shruti,
Dan siapa yang keinginannya hanya memenuhi isi perutnya;
Kalau begitu apa perbedaannya
Antara seekor binatang buas dan seorang manusia?


Karataka berkata, "Kita bukanlah mentri - menteri- mentsekarang. Jadi apa gunanya diskusi ini?"

Damanaka berkata, "Setelah kapan seorang menteri mencapai posisi penting atau sebaliknya?"

Untuk:

Tidak seorangpun di dunia ini secara alamiah,
Menjadi mulia, terhormat atau jahat,
Tindakan seorang manusialah yang menuntun dia,
Kepada kebesaran atau sebaliknya.

Sama seperti sebuah batu yang diangkat
Ke atas puncak sebuah gunung
Dengan upaya yang keras,
Tapi terlempar ke bawah dalam waktu singkat;
Begitu juga dengan jiwa yang terangkat atau terhempas,
Melalui budi jasa atau kesalahankesalahan.

Melalui upayanya sendiri,
Seorang manusia hidupnya semakin turun dan terus turun,
Seperti seorang penggali sumur;

Atau semakin tinggi dan terus tinggi,
Seperti seorang pembangun dinding.


"Oleh karenanya teman! Posisi seseorang tergantung kepada usaha sendiri orang tersebut."

Karataka bertanya “ Sekarang yang akan kamu katakan ?”

Damanaka menjawab, "Tentunya, tuan kita Pingalaka , telah dikejutkan oleh sesuatu sehingga dia kembali dan duduk."

Karataka bertanya, "Apa sebenarnya yang engkau tahu?"

Damanaka menjawab, "Apa yang tidak diketahui disini?"

Disebutkan bahwa:

Sebuah keinginan apabila diekspresikan dengan kata-kata,
Dimengerti bahkan oleh seekor binatang buas
Kuda-kuda dan gajah-gajah mengangkut beban ketika diperintah,

Seorang manusia yang bijak mengerti sebuah pikiran,
Meski tidak diucapkan;
Belajar tentu memiliki hasil,
Pengetahuan tentang pemikiran-pemikiran dalam diri orang lain.
Melalui bentuk seseorang, gerakan-gerakan tubuh,
Pergerakan-pergerakan,
Tindakan-tindakan, ucapan, gerakan mata dan wajah;
Pikiranpikiran bathinnya yang paling dalam terukur.


"Jadi disini, pada situasi ketakutan ini, aku akan menanginya Dengan kekuatan intelektualitasku."

Untuk:

Ucapan yang cocok pada sebuah acara,
Kebaikan yang cocok terhadap seorang teman,
Kemarahan yang cocok dalam kekuasaan seseorang;
Siapa yang tahu akan hal ini,
Adalah seorang yang bijaksana.


Karataka berkata, "Teman, engkau tidak tahu bagaimana untuk melayani."

Lihatlah:

Siapa yang mengunjungi seseorang tanpa diundang,
Berbicara banyak tanpa ditanya,
Dan menganggap dirinya sendiri adalah seorang favorit raja,
Tentulah benar benar bodoh.


Damanaka berkata, "Teman, bagaimana mungkin aku menyepelekan pelayanan?"

Lihatlah:

Apakah ada sesuatu yang bagus,
Atau jelek secara alamiah?

Apapun yang disukai seseorang,
Akan terlihat bagus baginya.


Untuk:

Apapun pendapat seseorang,
Bila telah teradaptasi dalam dirinya mengenai hal itu,
Seorang yang pintar harus segera
Membawa dia dibawah kekuasaannya.


Lebih pula:

Untuk:

"Siapa disini?", seseorang harus menjawab,
"Aku disini. Silahkan perintah,"
Dan dia harus menjalankan perintah raja,
Dengan sebaik-baiknya menurut kemampuan dia.


Lebih pula:

Siapa yang menginginkan sedikit,
Siapa yang sabar dan bijaksana,
Mengikutinya seperti sebuah bayangan disepanjang waktu,
Dan ketika diperintah tidak terragu ragu
Hanya orang seperti itulah yang dapat bertahan di istana raja.


Karataka berkata, "Barangkali si tuan mungkin menghinamu untuk datang mengunjunginya pada waktu yang tidak tepat."

Dia berkata, "Biarkanlah demikian, bahkan pun seorang pelayan harus hadir dihadapan tuannya."

Untuk:

Tidak melakukan sesuatu karena takut akan kegagalan,
Adalah sebuah tanda seorang pengecut;
Wahai saudara! Yang berhenti makan makanan,
Karena ketakutan akan salah cerna?


Lihatlah:

Seorang raja menghormati hanya orang yang dekat dengan dia,
Meskipun dia tidak memiliki pendidikan,
Lahir dari kasta rendah
Atau tidak pantas untuk bergaul dengan orang lain.nya
Secara umum, raja-raja, wanita-wanita dan para penjilat,
Berpegang pada apapun yang dekat dengan mereka.


Karataka bertanya, " Setalah tiba di sana,apakah kamu akan berkata ?”

Damanaka menjawab, "Dengarkan! Pertama-tama aku akan mengetahui apakah sang tuan senang dengan saya ataukah tidak."

Karataka bertanya, "Apa tanda-tanda untuk mengetahui hal tersebut?"

Damanaka berkata:

Terdapat beberapa tanda dari seorang tuan
Yang memiliki perhatian;
Mengenali dari jauh, senyuman,
Penghormatan yang tinggi bahkan
Pada saat melakukan penyelidikan,
Memuji kebaikan seseorang
Meskipun tanpa kehadiran orang tersebut,
Mengingat akan seseorang diantara hal-hal
Yang paling disukai,
Perasaan dekat terhadap seseorang
Mmeskipun dia tidak lagi bekerja padanya,
Memberikan penghargaan dengan kata-kata yang manis,
Dan hanya mempertimbangkan jasa-jasa kebaikan,
Meskipun terdapat kesalahan-kesalahan di dalamnya.


Lagi:

Yang menunda-nunda ,mengtinggikan harapan-harapan
Tapi kecewa dalam pencapaian atas m ereka,
Seorang manusia yang pintar harus mengetahui hal-hal ini,
Sebagai geja
la-gejala dari seorang tuan yang acuh tak acuh.


"Setelah mengetahui hal ini, aku akan bertindak yang membuat dia berada dibawah kekuasaanku."

Untuk:

Manusia yang bijak menu njukkan giat seperti dalam sekejap,
Kesengsaraan muncul dari perbuatan-perbuatan buruk,
Keberhasilan muncul melalui tindakan-tindakan yang benar,
Menurut hukum-hukum etika.


Karataka berkata, "Bagaimanapun, engkau harusnya tidak berbicara pada saat yang tidak menguntungkan."

Untuk:

Seorang jongos yang mengharapkan sejahteran nya tuannya,
Harus berkata terus terang.
Bahkan ketika tidak ditanyakan pendapatnya,
Ketika sebuah malapetaka akan menimpa,
Ketika si tuan sedang tersesat
Atau waktu untuk bertindak akan berlalu.


"Dan jika aku tidak memberikan pendapatku bahkan pada saat dibutuhkan, maka aku tentunya tidak cocok menjadi seorang menteri."

Untuk:

Karena mana seseorang memperoleh kehidupan,
Dan dipuji di dunia ini oleh orang-orang saleh,,
Seorang manusia yang bijak harus mempertahankan,
Dan meningkatkan kualitas tersebut.


"Oleh karenanya teman, ijinkanlah saya. Aku akan berangkat kesana."

Karataka berkata, "Semoga engkau baik-baik saja!" Semoga jalanmu menguntungkan. Lakukan sesuai keinginanmu."

Setelah demikian, Damanaka pergi dehadapan Pingala seolah-olah tersona.

Sang raja mempersilahkan dia dari kejauhan.

Damanaka membungkuk hormat dihadapannya, menyentuh tanah dengan 8 bagian tubuh dan kemudian duduk.

Sang raja berkata, "Aku melihatmu setelah waktu yang sangat lama."

Damanaka berkata, "Meskipun kemakmuran bagianda tidak ada hubungannya dengan seorang jongos seperti saya ini, namun pada saat yang tepat, seorang jongos tentunya harus hadir dihadapan tuannya. Oleh karenanya aku datang."

Tapi:

Pekerjaan dari yang terbesar telah selesai, wahai raja,
Bahkan oleh sebuah pedang dari rerumputan,
Yang digunakan baik untuk menusuk gigi
Atau menggores telinga,
Lalu kemudian mengapa tidak oleh seorang manusia,
Yang diberkahi dengan kata-kata dan tangan-tangan?


"Tuan yang terhormat curiga bahwa aku telah kehilangan kekuatan intelektualku karena aku dipandang rendah dalam waktu yang lama. Engkau seharusnya tidak percaya kekhawatiran seperti itu."

Untuk:

Seseorang harusnya tidak khawatir kehilangan intelijensia,
Dalam diri seseorang yang tidak labil,
Meskipun dia dipandang rendah:
Meskipun nyala api mengarah ke bawah,
Kapanpun tidak akan punah.


"Oh dewa, si tuan pastilah sedang mendiskriminasi."

Untuk:

Sebuah batu permata bergulir di kaki,
Sebuah gelas ditaruh di atas kepala,
Biarkanlah demikian,
Ge las adalah gelas,batu permata adalah batu permata.


Untuk:

Ketika seorang raja bertindak sama dengan yang lain,
Tanpa ada diskriminasi,
Maka entusiame dari mereka,
Yang dapat bekerja keras disepelekan.

Ada tiga macam manusia. Wahai raja!
Yang terbaik, terburuk dan yang ditengah-tengah,
Seorang harus menunjuk mereka dengan sesuai,
Hanya dalam tiga macam pekerjaan.


Untuk:

Para jongos dan ornamen,
Harus ditaruh ditempat yang pantas bagi mereka,
Sebuah mahkota permata tidaklah dipakai di kaki,
Atau sebuah gelang kaki tidak di kepala.


Dan juga::

Jika sebuah permata dibentuk pada timah,
Ketika ia akan dipasangkan pada sebuah ornamen emas,
Ia tidak berkeluh kesah atau tidak berkilau,
Ia hanya akan menuju pada celaan si pemasang.


Lebih pula:

Jika sebuah gelas dipasangkan pada sebuah mahkota,
Dan sebuah batu permata pada sebuah ornamen kaki,
Bukanlah kesalahan dari si batu permata,
Tetapi kurangnya pengetahuan dari si pemasang.


Lihatlah:

Yang satu ini pintar,
Yang satu ini setia,
Yang satu ini berani,
Yang satu ini berbahaya;
Seorang raja yang mengetahui
Bagaimana harus mendikriminasi,
Antara para pembantunya,
Memiliki banyak dari mereka yang hadir.

Seekor kuda, sebuah kitab suci,
Sebuah senjata, sebuah kecapi,
Perkataan, seorang laki-laki dan seorang wanita;
Setelah saling berhubungan
Dengan seorang yang berguna atau tidak berguna,
Mereka menjadi cocok atau tidak cocok.


Lebih pula:

Apa gunanya dari seorang yang setia,
Yang tidak berkompeten?
Apa gunanya dari seorang yang mampu,
Yang melakukan kejahatan?


"Aku adalah seorang yang setia dan mampu, Wahay raja! Jadi tidaklah cocok bagimu untuk menganggap rendah diriku

Untuk:

Karena melecehkan raja,
Para jongos kehilangan intelijensia mereka,
Yang kemudian karena segi keutamaannya,
Tidak ada orang bijak yang datang mendekatinya (si raja);
Ketika orang bijak meninggalkan kerajaan,
Pemerintahan tidak menjadi efektif,
Ketika pemerintahan telah gagal,
Seluruh duniA binasa tanpa dapat ditolong.


Lebih pula:

Orang-orang selalu memuji si manusia,
Yang dipuji oleh sang raja,
Tapi siapa yang dianggap rendah oleh sang raja,
Dianggap rendah pula oleh semuanya.


Dan juga:

Orang yang bijak harus menerima perkataan yang masuk diakal,
Dilontarkan meski oleh seorang anak kecil,
Tanpa kehadiran matahari,
Apakah tidak ada cahaya dari sebuah lampu?


Pingalaka berkata, "Teman Damanaka, apakah ini? Engkau, anak dari ketua menteri kami, tidak datang kepadaku sampai sekarang karena anjuran beberapa orang jahat. Sekarang tolonglah bicara sesuai yang engkau mau."

Damanaka berkata, "Dewa, aku akan bertanya kepadamu sesuatu. Tolong jawab. Baginda waktu itu haus. Namun demikian baginda tidak minum air dan sekarang duduk bingung disini?"

Sang raja berkata, "Pertanyaan yang bagus. Tapi tidak ada seorangpun yang dapat dipercaya untuk diceritakan rahasia tersebut. Namun demikian aku akan mengatakannya kepadamu. Dengarkan! Hutan ini sekarang telah dikuasai oleh mahluk yang luar biasa, jadi aku akan meninggalkan tempat ini Aku bingung mendengar sura keras yang aneh ini. Sesuai dengan suara tersebut yang berarti binatang itu tentu memiliki kekuatan yang besar pula."

Damanaka berkata, "Ini tentu merupakan alasan yang kuat bagi ketakutanmu. Sayapun bahkan pernah mendengar suara tersebut. Tapi adalah menteri yang buruk jika langsung menasehati sang raja untuk meninggalkan tanah airnya dan pergi berperang. Dalam krisis ini, ketika dalam keadaan sulit untuk memutuskan tindakan apa yang akan diambil, seseorang harus mengerti bagaimana memanfaatkan para jongos."

Karena:

Seorang laki-laki menguji saudara-saudara, isteri dan pembantu-pembantunya,
Intelijensia dan vitalitasnya,
Pada batu ujian kemalangan.

Sang singa berkata, "Teman, ketakutan yang besar menyiksa saya."


Damanaka berkata kepada dirinya sendiri, "Kalau tidak bagaimana engkau bisa berkata kepadaku tentang meninggalkan kesenangan kerajaan dan pergi ke tempat yang lain?"

Dengan nyaring dia berkata, "Dewa, selama saya masih hidup, engkau tidak perlu takut. Tapi kepercayaan diri harus ada dalam diri Karataka dan lainnya pada saat menghadapi malapetaka, sulit untuk memperoleh sebuah kesatuan manusia yang banyak."

Kemudian sang raja memuji Karataka dan Damanaka dalam segala hal dan merekapun pergi setelah menjanjikan sebuah jalan keluar terhadap bahaya tersebut.

Saat berangkat Karataka berkata kepada Damanaka, "Teman! Tanpa mengetahui apakah mungkin menghilangkan penyebab dari ketakutan atau tidak, bagaimana engkau menerima kemurahan hati yang besar ini dan sebagai gantinya janji untuk menghilangkan ketakutan? Seseorang tidak boleh menerima pemberian hadiah dari orang lain, dalam hal tidak ada jasa yang dilakukan dan tentu bukan dari seorang raja."

Untuk:

Dia seorang yang brilian,
Atas kemurahan hati yang mana, terdapat kekayaan,
Atas keberanian yang mana, terdapat kemenangan,
Dan atas kemurkaan mana terdapat kematian.


Sebagai contoh:

Bahkan saat sang raja adalah seorang anak kecil,
Dia tidak boleh dianggap rendah,
Karena dia adalah seorang laki-laki,
Yang ada sebagai seorang dewa besar,
Dalam bentuk seorang manusia.


Damanaka tertawa dan berkata, "Teman, tetaplah diam. Saya telah memperoleh penyebab ketakutan. Itu adalah suara lenguhan. Sapi-sapi jantan adalah makanan kita, jadi berapa banyak lagi bagi seekor harimau?"

Karataka berkata, "Jika demikian jadi kenapa engkau tidak menghilangkan ketakutan si tuan pada saat disana dengan sendirinya?"

Damanaka berkata, "Jika aku telah menghilangkan ketakutan tuan disana dengan sendirinya, apakah ada keuntungan yang diperoleh bagi orang-orang yang hadir saat itu?"

Lebih pula:

Seorang tuan tidak boleh dibuat bebas dari keinginan,
Oleh para jongos pada waktu kapanpun;
Dengan membuat sang tuan bebas dari keinginan,
Kematiannya akan seperti Dadhikarna.

Karataka bertanya, "Bagaimana hal itu terjadi?"


Damanakapun bercerita:



Cerita Tentang Seekor Harimau, Seekor Tikus dan Seekor Kucing

Di sebuah pegunungan yang bernama Arbudashikhara yang mana terletak di bagian utara, terdapat seekor harimau yang sangat kuat bernama Mahavikrama. Kapanpun dia mau tidur di dalam guanya, seekor tikus akan menggigit ujung-ujung bulu tengkuknya.

Ketika dia melihat ujung-ujung buku tengkuknya digigit, diapun menjadi marah tetapi tidak bisa menangkap tikus tersebut yang akan dengan cepat masuk ke sebuah lubang persembunyian. Menyadari hal ini, Mahavikrama berpikir:

Ketika sang musuh tidaklah begitu penting,
Dan tidak dapat ditaklukkan dengan kegagahan,
Maka seorang penjaga yang dapat membunuhnya,
Haruslah digunakan.


Berpikir demikian, dia berangkat ke sebuah desa, membuat seekor kucing bernama Dadhikarna percaya kepadanya, memberinya makan daging yang segar dan dengan upaya berhasil membawa kucing tersebut ke gua miliknya serta membuat si kucing tinggal di sana.

Karena takut dengan sang kucing, si tikus tidak berani keluar dari lubang persembunyiannya.

Semenjak itu, sang harimau yang bulu tekngkuknya tidak digigit lagi pun bisa tidur dengan nyenyak. Kapanpun dia mendengar suara si tikus, dia akan membuat si kucing senang dengan memberinya daging untuk makan saat itu.

Suatu ketika, si tikus yang diserang kelaparan pun keluar yang akhirnya tertangkap dan dibunuh oleh si kucing.

Setelah itu, dalam jangka waktu yang lama, sang harimau tidak lagi melihat atau mendengar suara si tikus, dia pun menyadari bahwa si kucing tidak lagi berguna baginya dan oleh karenanya dia mulai bertindak sepele dalam memberi makanan kepada si kucing. Setelah itu, karena alasan makanan, Dadhikarna menjadi lemah dan mati.

"Oleh karenanya aku berkata, 'Seorang tuan tidaklah boleh terbebas dari keinginan, dan sebagainya.'"

Setelah itu Damanaka dan Karataka pergi ke tempat di dekat Sanjeevaka, sang kerbau. Disana Karataka duduk dengan agungnya di bawah sebuah pohon.

Damanaka pergi ke Sanjeevaka dan berkata, "Wahai kerbau, raga Pingalaka telah menunjuk saya demi melindungi hutan ini. Jenderal Karataka memerintahkan kamu, 'Datanglah dengan segera atau pergilah jauh-jauh dari hutan ini, kalau tidak konsekuensinya tidak akan baik terhadap kamu. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh si tuan ketika dia menjadi marah.'"

Mendengar hal ini Sanjeevaka menemani dia.

Setelah itu, Sanjeevaka yang tidak mengetahui kebiasaan-kebiasaan dari negara yang bersangkutan, mendekati Karataka dengan rasa takut dan membungkukkan diri dengan rendah di hadapannya.

Seperti disebutkan:

Intelektualitas tentu lebih berkuasa daripada kekuatan,
Ketidak beradaannya merendahkan status dari gajah,
Hal ini diindikasikan melalui suara dari sebuah genderang,
Yang dipukul oleh pengemudi si gajah.


Kemudian dalam ketakutan Sanjeevaka bertanya, "Jenderal, apa yang harus aku lakukan? Katakan padaku."

Karataka berkata, "Wahai kerbau! Jika engkau memiliki keinginan untuk tinggal di hutan ini, maka berilah penghormatan kepada kaki sang Baginda yang bentuknya seperti lotus."

Sanjeevaka berkata, "Kalau begitu berikan aku janji keamanan dan aku akan ikut."

Karataka berkata. "Janganlah ragu atas hal ini, wahai kerbau!"

Untuk:

Keshava tidak menjawab kepada raja Chedi,
Yang bertindak tidak baik terhadapnya;
Sang harimau mengaum sebagai jawaban atas gemuruh awan hitam,
Tapi bukan atas lolongan para serigala.


Untuk:

Sebuah angin ribut tidak menyungkurkan ilalang kita,
Lembut dan dengan rendah menundukkan diri di semua bagian,
Ia menghancurkan hanya pohon-pohon yang tinggi saja;
Yang kuat menggunakan kekuatannya
Hanya terhadap yang kuat saja.


Kemudian keduanya tetap menjada Sanjeevaka dekat dengtan mereka dan kemudian berangkat ke Pingala. Sang raja menerima mereka dengan rasa hormat. Mereka memberi penghormatan kepada raja dan duduk.

Sang raja berkata, "Sudahkah kalian melihat binatang buas itu?"

Damanaka berkata, "Dewa, kami telah melihatnya. Memang benar apa yang paduka pikirkan benarlah adanya. Namun demikian, dia berkeinginan untuk mengunjungi paduka. Namun karena dia benar-benar kuat, paduka harus duduk dalam siap sedia dan mengamati dia. Tapi paduka tidak usah takut atas suara semata."

Seperti disebutkan:

Seseorang tidak boleh takut atas suara semata,
Tanpa mengetahui apa penyebabnya,
Mengetahui penyebab dari suara tersebut,
Seorang germo memperoleh penghormatan besar.


Sang raja bertanya, "Bagaimana hal itu terjadi?"

Damanaka pun bercerita:



Cerita tentang Seekor Kera, Sebuah Bel dan Seorang Wanita Pemberani

Di tengah pegunungan Shriparvata, terdapat sebuah kota yang bernama Brahmapura. Terdapat isu bahwa sebuah mahluk jahat bernama Ghantakarna tinggal di atas gunung tersebut.

Suatu ketika, seorang pencuri yang sedang melarikan diri setelah mencuri sebuah bel dibunuh oleh seekor harimau. Bel tersebut jatuh dari tangannya dan diambil oleh kelompok kera. Kera-kera tersebut gemar membunyikan bel tersebut sepanjang waktu.

Beberapa waktu kemudian, orang-orang yang tinggal di kota menemukan jasad si pencuri. Dan suara dari bel tersebut terus–menerus terdengar. Disebutkan bahwa, "Ketika Ghantakarna sedang marah, dia memakan seorang manusia dan membunyikan bel tersebut," semua orang pun melarikan diri dari kota tersebut.

Seorang germo yang bernama Karala berpikir, "Suara bel ini bunyinya tidak tepat waktu. Apakah mungkin kera-kera tersebut yang membunyikannya?" Setelah mengetahui bahwa hal tersebut memang demikian, dia meminta kepada raja, "Dewa, jika engkau memberi sejumlah uang, maka aku akan mengalahkan mahluk jahat Ghantakarna ini."

Sang raja pun memberi uang yang banyak kepadanya.

Sang germo menggambar sebuah bulatan mantera, memperlihatkan penghormatannya kepada Ganesha dan dewa-dewa lainnya, dan seterusnya. Kemudian, dia mengambil banyak buah yang disukai para kera, kemudian dia masuk ke hutan dan menebarkan buah-buahan tersebut di atas tanah. Setelah kemudian para kera meninggalkan bel dan mulai memakan buah-buahan tersebut. Sang germo kemudian mengambil bel tersebut dan kembali ke kota. Seluruh penghuni kota pun memperlihatkan rasa hormat kepadanya.

Oleh karenanya aku bilang, 'seseorang tidak perlu takut akan suara semata, dan seterusnya.'"

Kemudian, Sanjeevaka diangkut ke depan singa. Setelah itu dia mulai tinggal di sana dengan penuh kasih sayang.

Suatu hari saudara dari singa yang bernama Stabdhakarna tiba disana. Dia diterima dengan sopan dan kemudian duduk. Lalu Pingalaka mulai membunuh seekor binatang untuk makanannya.

Tak lama setelah itu, Sanjeevaka bertanya, "Dewa, dimana daging kijang yang dibunuh hari ini?"

Sang raja menjawab, "Damanaka dan Karataka mengetahui hal tersebut."

Sanjeevaka berkata, "Tolong dicari tahu apakah disana atau tidak."

Sang singa berpikir kembali dan berkata, "Tentu tidak disana."

Lalu Sanjeevaka bertanya, "Bagaimana mungkin mereka makan daging yang sangat banyak?"

Sanjeevaka berkata, "Bagaimana hal ini dilakukan tanpa sepengetahuan rajamu?"

Sang raja menjawab, "Tentu hal ini dilakukan dengan sepengetahuanku."

Lalu Sanjeevaka berkata, "Hal ini tidaklah pantas."

Karena disebutkan:

Tanpa memberitahukan si tuan,
Seseorang tidak boleh melakukan pekerjaan apapun secara sendiri,
Kecuali untuk melindungi dari sebuah bahaya,
Yang akan menimpa raja.


Lebih pula:

Seorang menteri adalah sama seperti buah labu,
Yang memberi sedikit tapi mengambil banyak;
Wahai raja! Apa artinya sebuah waktu?
Siapa yang berkata demikian adalah seorang yang bodoh,
Apakah artinya a cowrie?
Siapa yang berkata demikian, akan tetap miskin.

Menteri seperti ini adalah yang terbaik,
Yaitu dia yang meningkatkan perbendaharaan kekayaan setiap hari,
Bahkan oleh a Kakini,
Karena perbendaharaan kekayaan tersebut adalah kehidupan sejati dari sang raja,
Dan bukanlah kehidupan si menteri.


Lebih pula:

Seorang manusia tidak memperoleh kehormatan,
Karena latar belakang keluarga yang baik,
Dan tingkah laku yang tidak cacat, dan sebagainya,
Karena seseorang tanpa kekayaan,
Akan ditinggalkan bahkan oleh isterinya sendiri,
Berapa banyak lagi kemudian oleh yang lainnya?


"Dan inilah kesalahan utama dalam sebuah kerajaan!"

Pengeluaran yang berlebihan, kelalaian terhadap kekayaan,
Pemerolehan kekayaan dengan cara tidak wajar,
Penjarahan, menyembunyikan kekayaan dari diri sendiri,
Hal-hal ini disebutkan sebagai karakter buruk dari sebuah harta benda.


Untuk:

Tanpa memikirkan tentang pendapatannya,
Seseorang yang menggunakannya tanpa kontrol,
Menurut perkenan hatinya,
Derajatnya tentu turun sampai pada taraf keinginan,
Meskipun dia sekaya Kubera.


Stabdhakarna berkata, "Dengarkan saudara! Kedua orang Damanaka dan Karataka ini adalah pembantu semenjak lama dan menjadi pejabat dalam urusan perang dan damai. Mereka tidak boleh ditunjuk sebagai pejabat untuk urusan keuangan. Lebih pula hal ini aku hubungkan dengan kamu apapun yang telah aku dengar berkaitan dengan masalah penunjukan:"

Seorang Brahmana, seorang Kshatriya dan seorang keluarga,
Tidaklah disetujui untuk sebuah jabatan kewenangan,
Seorang Brahmana tidaklah menyerah pada pemerolehan kekayaan,
Meski berada di bawah tekanan hebat.

Seorang Kshatriya yang ditunjuk menangani urusan harta benda,
Tentu akan menghunus pedang demi mencuri semuanya,
Seorang keluarga menelan seluruh kekayaan,
Setelah menahannya atas nama sanak famili.

Seorang pejabat, yang telah menjadi seorang pegawai semenjak lama,
Tak akan takut bahkan saat sedang salah,
Dia menentang tuannya,
Dan akan bertindak tanpa dicek,

Seseorang yang telah berjanji, ketika ditunjuk menjabat di sebuah kantor,
Tidak mengakui kesalahannya;
Menunjuk pada kewajiban,
Dia menjarah segalanya.

Seorang menteri yang telah bermain dengan raja,
Semenjak kecil,
Bertindak seperti layaknya dirinya adalah raja,
Dia tentunya mengabaikan sang raja,
Karena kedekatan yang terus menerus.

Seseorang yang jahat dalam hatinya,
Tapi dari luar kelihatan mulia,
Sesungguhnya, dia membawa semua malapetaka;
Shakuni dan Shakatara
Adalah contoh dalam hal ini, Wahai raja!

Ketika seorang menteri menjadi sangat kaya,
Dia terlepas dari dibawah kontrol,
Ini adalah nasehat dari para orang bijak,
Kesejahteraan mengkorupsi pikiran.

Hal-hal ini adalah kesalahan dari seorang menteri;
Pengambilan uang yang sembrono, dirusak dengan hal-hal lain,
Pemenuhan dengan mudah, kelalaian,
Kurangnya intelijensi dan kecanduan atas kesenangan.

Cara-cara menahan kekayaan dari para pejabat,
Penelitian yang terus-menerus,
Pelimpahan kemuliaan,
Dan perubahan dalam pekerjaan para pembantu;
Adalah tugas-tugas dari seorang raja.

Kecuali disiksa, para pejabat yang bersangkutan tidak mengambil bagian,
Rahasia harta benda yang menjadi milik raja,
Sama seperti bisul (penuh dengan nanah),
Tidak akan muncrat kecuali dipencet dengan keras.

Wahai raja! Para pejabat dengan kekayaan yang banyak,
Harus disiksa secara rutin:
Akankah sebuah pakaian yang basah dapat dengan cepat mengucurkan
Seluruh airnya,
Saat diremas hanya sekali?


"Seseorang harus mengingat seluruh hal ini dan bertindak sesuai dengan keadaan."

Sang singa berkata kembali, "Tentu benar demikian namun kedua orang ini tidak pernah menuruti perintah-perintahku."

Stabdhakarna berkata, "semua hal ini tidaklah pantas."

Untuk:

Seorang raja bahkan tidak boleh memaafkan anak-anaknya sendiri,
Yang tidak menurutinya,
Kalau tidak, lalu apakah bedanya,
Antara seorang raja dan lukisan dirinya?


Juga:

Nama baik dari seorang yng keras kepala, akan hilang,
Demikian juga dengan persahabatan dari seseorang yang bertingkah laku plin plan,
Keluarga dari seseorang,
Yang perasaannya tidak dibawah kontrol,
Perbuatan baik dari seseorang,
Yang hanya tertarik pada pemerolehan kekayaan,
Manfaat pengetahuan dari seseorang, yang kecanduan atas perbuatan asusila,
Kebahagiaan dari seseorang, yang mana ia adalah seorang yang kikir,
Dan kerajaan dari seorang raja,
Yang menterinya sembrono.


Khususnya:

Dari para pencuri, pejabat, musuh,
Dari kesayangan-kesayangannya,
Dari ketamakannya juga;
Seorang raja jelas harus melindungi,
Masyarakatnya sama seperti seorang ayah.


"Wahai saudara, ikutilah nasehatku dalam setiap kesempatan. Aku juga telah melaksanakan urusanku. Biarkanlah si pemakan rumput Sanjeevaka ini ditunjuk untuk mengurusi harta benda."

Melalui nasehatnya, semenjak saat itu dan seterusnya, Pingalaka dan Sanjeevaka, menghindari semua kerabat mereka, memulai menghabiskan waktu mereka dengan penuh kasih sayang.

Tidak lama setelah melihat bahwa terdapat kekurangan dalam pemberian makanan bahkan terhadap mereka yang bergantung kepada keduanya, Damanaka dan Karataka mulai berkonsultasi antar mereka berdua.

Kemudian Damanaka berkata, "Apa yang harus dilakukan sekarang? Ini adalah kesalahan yang dilakukan oleh diri kita sendiri dan ketika sebuah kesalahan dilakukan oleh diri sendiri, tidaklah baik menyesalinya."

Seperti disebutkan:

Diriku yang karena menyentuh Swarnarekha,
Sang germo yang mengikat dirinya sendiri,
Seorang saudagar yang menginginkan mutiara;
Kita semua menjadi sengsara melalui kesalahan-kesalahan kita.

Karataka berkata, "bagaimana hal itu sampai terjadi?"
Damanaka pun bercerita:




Cerita Tentang Seorang Yang Suci, Seorang Germo dan Sang Pedagang

Di sebuah kota bernama Kanchanapura, hiduplah seorang raja yang bernama Veeravikrama.

Suatu ketika, saat pejabat hukumnya sedang membawa seorang tukang cukur ke tempat eksekusi, dia terlihat oleh seorang pertapa yag bernama Kandarpaketu yang ditemani oleh a mendicant.

"Orang ini tidak boleh dibunuh," berkata Kandarpaketu dengan menahan ujung bajunya.

Si pelayan raja berkata, "Mengapa demikian orang ini tidak boleh dibunuh?"

Dia berkata, "Tolong dengarkan; Diriku yang karena menyentuh Swarnarekha, dan seterusnya."

Mereka bertanya, "Bagaimana hal tersebut terjadi?"

Sang pertapa pun bercerita: "Namaku adalah Kandarpaketu, anak dari Jeemutaketu, raja dari Sinhaladweepa. Suatu saat ketika aku sedang beristirahat di taman, aku mendengar dari mulut seorang pedagang yang berlayar dari laut bahwa disini di tengah laut, Kalpataru muncul pada hari keempat belas dari bulan. Pada setinggi kaki ini, seorang perawan berbaring di atas bantal dengan diwarnai oleh sinar cahaya yang terus-menerus dan dihiasi oleh berbagai ornamen, terlihat seperti Lakshmi yang bermain Veena. Tak lama kemudian, bersama-sama dengan si pedagang dari laut, say naik ke kapal, pergi ke sana dan menemukannya, benar-benar sama seperti yang digambarkan , di atas sofa, muncul setengah. Aku sungguh terpukau dengan kecantikannya sehingga membuat aku menyelam untuk mengejarnya.

"Tak lama kemudian, aku sampai di Kanakapattana dan melihat dia di dalam sebuah istana emas sedang beristirahat di atas bantal dengan gaya yang sama dan ditemani oleh Vidyadharis.

"Dia juga melihatku dari jauh dan mengirim seorang pembantu untuk menyambutku. Ketika kutanyakan pembantunya, dia berkata: 'Dia adalah Ratnamanjari, anak perempuan dari pemnguasa Kandarpakeli darei Vidhyadharas. Dia telah bersumpah bahwa siapapun yang datang ke Kanakapattana dan melihatnya dengan matanya sendiri maka akan menjadi suaminya bahkan tanpa persetujuan ayahnya. Demikianlah keptusuan dia. Jadi kawin dengannya menurut ritual Gandharva.' Jadi setelah perkawinan Gandharva dilaksanakan, saya tinggal disana menemani dia dalam kesenangan.

"Suatu hari, dia berkata kepadaku dengan yakin, 'Tuan, Anda bisa menikmati apapun yang ada disini sesuai keinginan anda namun jangan sekali-kali anda menyentuh wanita Vidyadhari yang bernama Suvarnarekha yang terlukis disini.'

"Suatu hari, karena penasaran, aku menyentuh Suvarnarekha dengan tanganku. Meskipun itu hanyalah semata-mata sebuah lukisan, dia menendangku dengan kakinya yang bentuknya seperti bunga lotus, sehingga demikianlah aku akhirnya tiba dan mendarat di negeriku.

"Ditimpa oleh kesedihan, aku akhirnya menjadi seorang pertapa dan dalam perjalanan keliling dunia aku tiba di kota ini. Ketika sementara berbaring di rumah seorang pengembala sapi pada malamhari, aku melihat dia kembali dari toko tuak milik temannya. Dia berkesempatan melihat istrinya melakukan konsultasi dengan seorang germo.

"Dan diapun memukul si wanita penggembala sapi, mengikatnya ke sebuah tiang dan pergi tidur.

Pada tengah malam, si germo (istri dari si tukang cukur), kembali mendekati si wanita penggembala sapi dan berkata, 'Laki-laki itu, yang terbakar oleh perpisahan denganmu dan terluka oleh panah Kamadeva, sedang menuju pada kamtian.'

Sebagaimana disebutkan:

Pada malam hari ketika bulan menghapus kegelapan,
Kamadeva dengan rajin menyiksa,
Hati dari para orang muda.


"Dengan melihat dia dalam keadaan begini, aku datang kemari untuk membujukmu dengan kesedihan dalam hatiku. Aku akan menunggu disini setelah mengikat diriku ke tiang. Engkau pergilah kesana, senangkan dia dan kembalilah segera."

"Dan hal tersebut terjadi. Sementara itu si penggembala sapi bangun dan berkata, 'Sekarang aku akan membawamu wahai pendosa kepada kekasihmu.'

"Sekarang, ketika dia tidak menjawab, dia berkata, 'Karena harga diri engkau bahkan tidak menjawabku.'

"Tak lama kemudian, dalam kemarahan dia mengambil sebuah pisau dan memotong hidungnya. Kemudian si penggembala sapi berbaring dan pergi tidur.

"Ketika si wanita penggembala sapi kembali, dia bertanya kepada si germo, 'Apa beritanya sekarang?'

"Si germo menjawab, 'Lihatlah, wajahku sendiri yang akan menerangkan beritanya.'

"Kemudian si wanita penggembala mengikat dirinya sekali lagi dan menunggu. Dan si germo ini, istri dari tukang cukur mengambil hidungnya yang terpotong, masuk ke dalam rumahnya dan berbaring.

"Kemudian saat pagi buta, si tukang cukur bertanya kepadanya mengenai kotak cukurnya tapi istrinya memberikan kepadanya hanya cukur saja. Hal ini membuat si tukang cukur kaget karena tidak memperoleh kotak cukur lengkap, dan membuang cukur tersebut ke dalam rumahnya dari beberapa jarak.

"Dengan hal ini istrinya menangis kesakitan, 'Yang satu ini telah memotong hidungku tanpa kesalahan apapun dariku.'

"Berkata demikian, dia membujuknya untuk ke pengadilan.

"Sementara itu si wanita penggembala sapi saat ditanya oleh suaminya berkata, 'Engkau celaka, siapa yang salah tangkap terhadap seorang wanita yang suci seperti aku? Bahkan kedelapan penjaga duniapun tahu perilaku diriku yang tanpa dosa.

Untuk:

Matahari dan bulan, angin dan api,
Langit dan bumi, air, hati dan Yama,
Siang dan malam dan kedua temaram,
Dan agama: tahu akan perilaku seseorang.


"Jadi, jika aku benar-benar suci dan tidak pernah berpikir ke lain orang selain kamu, bahkan di dalam mimpiku, biarkanlah hidungku terbebas dari luka melalui kebaikan dari kesucianku. Aku dapat membakarmu namun engkau adalah suamiku. Jadi karena takut akan dunia setelah ini, aku meminta belas kasihanmu. Sekarang, lihatlah wajahku.'

"Kemudian ketika si penggembala sapi ini menyalakan lampu dan melihat wajahnya, dia merasa wajah yang tidak terluka dengan hidungnya lengkap. Dia jatuh di kakinya dan berkata 'Aku diberkati yang mana istriku sangat berbudi luhur.'

"Terakhir, mohon dengarkan kisah dari pedagang ini, yang saat ini berada disini.

"Dia telah meninggalkan rumahnya dan setelah dua belas tahun datang ke kota ini dari negeri tetangga Malaya. Disini dia tidur di rumah seorang pelacur. Sebuah patung kayu telah diberi roh ditempatkan di pintunya si germo dan sebuah permata terdapat di kepalanya. Terbujuk dengan permata itu, si pedagang bangun pada malam hari dan mencoba untuk mengambil permata tersebut. Seketika itu pula dia ditekan oleh tangan si patung yang digerakkan oleh kawat dan si pedagang pun berteriak sakit. Kemudian si pelacur bangun dan berkata, 'Anakku, engkau telah datang dari negeri tetangga Malaya. Jadi, berikanlah kepadanya seluruh permata, kalau tidak dia tidak akan membiarkan kamu pergi. Pembantu ini seperti hal demikian.'

"Kemudian dia menyerahkan seluruh permata kepadanya. Akibat hal ini dia kehilangan seluruhnya dan datang serta bergabung dengan kelompok kita."

Ketika pembantu-pembantu raja telah mendengar semuanya ini, mereka meminta sang hakim untuk memutuskan hukum. Setelah itu si germo dan penggembala sapi diperintahkan untuk meninggalkan desa itu dan si tukang cukur pulang ke rumah.

"Oleh karenanya aku berkata, 'Aku, karena menyentuh Suvarnarekha, dan seterusnya.' Sekarang kita telah melakukan kesalahan-kesalahan ini. Jadi, menangis terhadap mereka tidaklah benar."

Dia berpikir sejenak dan kemudian berkata, "Teman, bersabarlah. Sama seperti telah aku buatkan persahabatan antara kedua orang ini, begitu juga akan aku buatkan sebuah perpecahan dalam persahabatan yang sama ini."

Untuk:

Tampilan yang cekatan meski tidak benar akan terlihat benar,
Seperti orang-orang yang mengetahui seni lukisan,
Memperlihatkan garis-garis turun dan naik,
Pada sebuah permukaan yang datar.


Lebih pula:

Bahkan berada dalam masalah-masalah yang terjadinya selalu berulang,
Siapa yang memiliki kepintaran tidak gagal,
Menanggulangi masalah-masalah,
Sama seperti seorang wanita penggembala sapi dengan dua kekasihnya.


Karataka bertanya, "Bagaimana kejadiannya?"

Damanaka pun bercerita:



Cerita Tentang Seorang Yang Suci, Seorang Germo dan Sang Pedagang

Di sebuah kota bernama Kanchanapura, hiduplah seorang raja yang bernama Veeravikrama.

Suatu ketika, saat pejabat hukumnya sedang membawa seorang tukang cukur ke tempat eksekusi, dia terlihat oleh seorang pertapa yag bernama Kandarpaketu yang ditemani oleh a mendicant.

"Orang ini tidak boleh dibunuh," berkata Kandarpaketu dengan menahan ujung bajunya.

Si pelayan raja berkata, "Mengapa demikian orang ini tidak boleh dibunuh?"

Dia berkata, "Tolong dengarkan; Diriku yang karena menyentuh Swarnarekha, dan seterusnya."

Mereka bertanya, "Bagaimana hal tersebut terjadi?"

Sang pertapa pun bercerita: "Namaku adalah Kandarpaketu, anak dari Jeemutaketu, raja dari Sinhaladweepa. Suatu saat ketika aku sedang beristirahat di taman, aku mendengar dari mulut seorang pedagang yang berlayar dari laut bahwa disini di tengah laut, Kalpataru muncul pada hari keempat belas dari bulan. Pada setinggi kaki ini, seorang perawan berbaring di atas bantal dengan diwarnai oleh sinar cahaya yang terus-menerus dan dihiasi oleh berbagai ornamen, terlihat seperti Lakshmi yang bermain Veena. Tak lama kemudian, bersama-sama dengan si pedagang dari laut, say naik ke kapal, pergi ke sana dan menemukannya, benar-benar sama seperti yang digambarkan , di atas sofa, muncul setengah. Aku sungguh terpukau dengan kecantikannya sehingga membuat aku menyelam untuk mengejarnya.

"Tak lama kemudian, aku sampai di Kanakapattana dan melihat dia di dalam sebuah istana emas sedang beristirahat di atas bantal dengan gaya yang sama dan ditemani oleh Vidyadharis.

"Dia juga melihatku dari jauh dan mengirim seorang pembantu untuk menyambutku. Ketika kutanyakan pembantunya, dia berkata: 'Dia adalah Ratnamanjari, anak perempuan dari pemnguasa Kandarpakeli darei Vidhyadharas. Dia telah bersumpah bahwa siapapun yang datang ke Kanakapattana dan melihatnya dengan matanya sendiri maka akan menjadi suaminya bahkan tanpa persetujuan ayahnya. Demikianlah keptusuan dia. Jadi kawin dengannya menurut ritual Gandharva.' Jadi setelah perkawinan Gandharva dilaksanakan, saya tinggal disana menemani dia dalam kesenangan.

"Suatu hari, dia berkata kepadaku dengan yakin, 'Tuan, Anda bisa menikmati apapun yang ada disini sesuai keinginan anda namun jangan sekali-kali anda menyentuh wanita Vidyadhari yang bernama Suvarnarekha yang terlukis disini.'

"Suatu hari, karena penasaran, aku menyentuh Suvarnarekha dengan tanganku. Meskipun itu hanyalah semata-mata sebuah lukisan, dia menendangku dengan kakinya yang bentuknya seperti bunga lotus, sehingga demikianlah aku akhirnya tiba dan mendarat di negeriku.

"Ditimpa oleh kesedihan, aku akhirnya menjadi seorang pertapa dan dalam perjalanan keliling dunia aku tiba di kota ini. Ketika sementara berbaring di rumah seorang pengembala sapi pada malamhari, aku melihat dia kembali dari toko tuak milik temannya. Dia berkesempatan melihat istrinya melakukan konsultasi dengan seorang germo.

"Dan diapun memukul si wanita penggembala sapi, mengikatnya ke sebuah tiang dan pergi tidur.

Pada tengah malam, si germo (istri dari si tukang cukur), kembali mendekati si wanita penggembala sapi dan berkata, 'Laki-laki itu, yang terbakar oleh perpisahan denganmu dan terluka oleh panah Kamadeva, sedang menuju pada kematian.'

Sebagaimana disebutkan:

Pada malam hari ketika bulan menghapus kegelapan,
Kamadeva dengan rajin menyiksa,
Hati dari para orang muda.


"Dengan melihat dia dalam keadaan begini, aku datang kemari untuk membujukmu dengan kesedihan dalam hatiku. Aku akan menunggu disini setelah mengikat diriku ke tiang. Engkau pergilah kesana, senangkan dia dan kembalilah segera."

"Dan hal tersebut terjadi. Sementara itu si penggembala sapi bangun dan berkata, 'Sekarang aku akan membawamu wahai pendosa kepada kekasihmu.'

"Sekarang, ketika dia tidak menjawab, dia berkata, 'Karena harga diri engkau bahkan tidak menjawabku.'

"Tak lama kemudian, dalam kemarahan dia mengambil sebuah pisau dan memotong hidungnya. Kemudian si penggembala sapi berbaring dan pergi tidur.

"Ketika si wanita penggembala sapi kembali, dia bertanya kepada si germo, 'Apa beritanya sekarang?'

"Si germo menjawab, 'Lihatlah, wajahku sendiri yang akan menerangkan beritanya.'

"Kemudian si wanita penggembala mengikat dirinya sekali lagi dan menunggu. Dan si germo ini, istri dari tukang cukur mengambil hidungnya yang terpotong, masuk ke dalam rumahnya dan berbaring.

"Kemudian saat pagi buta, si tukang cukur bertanya kepadanya mengenai kotak cukurnya tapi istrinya memberikan kepadanya hanya cukur saja. Hal ini membuat si tukang cukur kaget karena tidak memperoleh kotak cukur lengkap, dan membuang cukur tersebut ke dalam rumahnya dari beberapa jarak.

"Dengan hal ini istrinya menangis kesakitan, 'Yang satu ini telah memotong hidungku tanpa kesalahan apapun dariku.'

"Berkata demikian, dia membujuknya untuk ke pengadilan.

"Sementara itu si wanita penggembala sapi saat ditanya oleh suaminya berkata, 'Engkau celaka, siapa yang salah tangkap terhadap seorang wanita yang suci seperti aku? Bahkan kedelapan penjaga duniapun tahu perilaku diriku yang tanpa dosa.

Untuk:

Matahari dan bulan, angin dan api,
Langit dan bumi, air, hati dan Yama,
Siang dan malam dan kedua temaram,
Dan agama: tahu akan perilaku seseorang.


"Jadi, jika aku benar-benar suci dan tidak pernah berpikir ke lain orang selain kamu, bahkan di dalam mimpiku, biarkanlah hidungku terbebas dari luka melalui kebaikan dari kesucianku. Aku dapat membakarmu namun engkau adalah suamiku. Jadi karena takut akan dunia setelah ini, aku meminta belas kasihanmu. Sekarang, lihatlah wajahku.'

"Kemudian ketika si penggembala sapi ini menyalakan lampu dan melihat wajahnya, dia merasa wajah yang tidak terluka dengan hidungnya lengkap. Dia jatuh di kakinya dan berkata 'Aku diberkati yang mana istriku sangat berbudi luhur.'

"Terakhir, mohon dengarkan kisah dari pedagang ini, yang saat ini berada disini.

"Dia telah meninggalkan rumahnya dan setelah dua belas tahun datang ke kota ini dari negeri tetangga Malaya. Disini dia tidur di rumah seorang pelacur. Sebuah patung kayu telah diberi roh ditempatkan di pintunya si germo dan sebuah permata terdapat di kepalanya. Terbujuk dengan permata itu, si pedagang bangun pada malam hari dan mencoba untuk mengambil permata tersebut. Seketika itu pula dia ditekan oleh tangan si patung yang digerakkan oleh kawat dan si pedagang pun berteriak sakit. Kemudian si pelacur bangun dan berkata, 'Anakku, engkau telah datang dari negeri tetangga Malaya. Jadi, berikanlah kepadanya seluruh permata, kalau tidak dia tidak akan membiarkan kamu pergi. Pembantu ini seperti hal demikian.'

"Kemudian dia menyerahkan seluruh permata kepadanya. Akibat hal ini dia kehilangan seluruhnya dan datang serta bergabung dengan kelompok kita."

Ketika pembantu-pembantu raja telah mendengar semuanya ini, mereka meminta sang hakim untuk memutuskan hukum. Setelah itu si germo dan penggembala sapi diperintahkan untuk meninggalkan desa itu dan si tukang cukur pulang ke rumah.

"Oleh karenanya aku berkata, 'Aku, karena menyentuh Suvarnarekha, dan seterusnya.' Sekarang kita telah melakukan kesalahan-kesalahan ini. Jadi, menangis terhadap mereka tidaklah benar."

Dia berpikir sejenak dan kemudian berkata, "Teman, bersabarlah. Sama seperti telah aku buatkan persahabatan antara kedua orang ini, begitu juga akan aku buatkan sebuah perpecahan dalam persahabatan yang sama ini."

Untuk:

Tampilan yang cekatan meski tidak benar akan terlihat benar,
Seperti orang-orang yang mengetahui seni lukisan,
Memperlihatkan garis-garis turun dan naik,
Pada sebuah permukaan yang datar.


Lebih pula:

Bahkan berada dalam masalah-masalah yang terjadinya selalu berulang,
Siapa yang memiliki kepintaran tidaklah gagal,
Menanggulangi masalah-masalah,
Sama seperti seorang wanita penggembala sapi dengan dua kekasihnya.

Karataka bertanya, "Bagaimana kejadiannya?"


Damanaka pun bercerita:



Cerita Tentang Seorang Wanita Pengembala dan Dua Kekasihnya

Di kota Dwaravati, terdapat isteri dari seorang pengembala yang memiliki sifat buruk. Dia menghibur dirinya dengan si Hakim kota serta dengan anak laki-laki si Hakim.

Sebagaimana disebutkan:

Api tidak dipuaskan dengan kayu,
Atau laut dengan sungai,
Atau dewa kematian dengan seluruh mahluk,
Dan atau seorang wanita yang memiliki mata yang jahat, dengan laki-laki.


Lebih pula:

Tidak dengan sebuah pemberian, tidak melalui kehormatan,
Tidak melalui keterusterangan, tidak melalui jasa,
Tidak melalui senjata, tidak melalui ayat-ayat;
Seorang wanita dapat dikontrol,
Untuk melakukan demikian adalah sulit.


Untuk:

Penuh dengan kebaikan, ketenaran, sifat yang baik,
Baik dalam hal seks, kaya dan muda;
Wanita meninggalkan suami yang memiki hal-hal di atas,
Dan dengan cepat beralih ke laki-laki lain,
Yang tidak memiliki karakter dan kebaikan.


Sekarang, suatu ketika si wanita sedang menghibur dirinya dengan anak si Hakim sementara si Hakim juga muncul di tempat yang sama untuk bertemu dengan si wanita. Ketika si wanita melihat si Hakim datang, dia menyembunyikan anak si hakim di gudang dan kemudian dia menghibur dirinya dengan si Hakim.

Tak lama kemudian, suami si wanita yang pengembala juga muncul dari kandang.

Saat melihatnya, si wanita pengembala berkata, "Oh Hakim, ambillah tongkat, perlihatkanlah kemarahan dan pergilah cepat."

Ketika hal ini selesai dilakukan, si pengembala saat tiba di rumahnya bertanya kepada isterinya, "Mengapa Hakim tersebut datang kesini?"

Dia menjawab, "Karena beberapa alasan tertentu, dia marah dengan anaknya yang kabur kesini dan masuk ke rumah kita. Aku melindunginya dengan menyembunyikannya di dalam ruang penyimpanan. Ayahnya mencarinya namun tidak menemukan dia disini. Jadi si Hakim pergi keluar dengan marah."

Tak lama kemudian, dia membawa anak si Hakim dari ruang penyimpanan dan memunculkannya.

Dan oleh karena itu disebutkan:

Makanan wanita dianggap memiliki dua kali banyaknya,
Inteletualitas mereka empat banyaknya,
Tekad mereka enam kali besarnya,
Dan birahi mereka delapan kali besarnya.


"Oleh karenanya aku berkata demikian, "Bahkan dalam masalah yang berulang-ulang, dan seterusnya."

Karataka berkata, "Biarkanlah hal tersebut terjadi demikian. Tapi bagaimana mungkin untuk memutuskan persahabatan yang telah tumbuh antara keduanya karena ciri alamiah yang sama?"

Damanaka berkata, "Seseorang harus menemukan obatnya."

Sebagaimana disebutkan:

Apa yang sebenarnya mungkin melalui obat,
Tidaklah mungkin melalui keberanian,
Seekor burung gagak membunuh seekor ular hitam,
Dengan bantuan sebuah kalung emas.

Karataka bertanya, "Bagaimana ceritanya?"


Dan Damanaka pun bercerita:



Cerita tentang Sebuah Keluarga Burung Gagak dan Seekor Ular yang Jahat

Pada sebuah pohon tertentu disana hiduplah sepasang burung gagak. Seekor ular hitam juga tinggal disana di lubang pohon tersebut yang biasanya memakan anak-anak burung gagak tersebut.

Suatu ketika si burung gagak betina sedang menuju ke sarang, dia berkata, "Oh Tuhan! Ayo kita tinggalkan pohon ini. Si ular hitam yang tinggal di dalam lubang pohon ini selalu memakan anak-anak kita."

Untuk:

Seorang isteri yang jahat, seorang teman yang penipu,
Seorang pelayan yang tidak sopan,
Dan tinggal di sebuah rumah yang ditempati oleh ular-ular;
Jelas akan menuju pada kematian.


Si burung gagak berkata, "Jangan khawatir, aku telah berkali-kali bersabar dengan perbuatan kejinya, namun sekarang aku tidak akan mentolerirnya lagi."

Si gagak betina berkata, "Bagaimana engkau bisa bertarung dengan ular yang sangat kuat ini?"

So gagak jantan berkata, "Jangan pikirkan keraguan apapun."

Untuk:

Seseorang yang memiliki intelektualitas memiliki kekuatan,
Bagaimana sesorang memiliki kekuatan tanpa intelektualitas?
Lihatlah, seekor harimau yang sombong dihancurkan oleh seekor kelinci.

Si gagak betina bertanya, "Bagaimana ceritanya?"


Dia pun bercerita:



Cerita Tentang Seekor Harimau dan Seekor Kelinci

Di gunung bernama Mandara, disana hidup seekor harimau bernama Durdanta yang dulunya selalu membunuh binatang.

Oleh karenanya, para binatang berkumpul dan meminta kepada sang harimau, "Raja para binatang! Mengapa engkau membunuh banyak binatang pada saat yang sama? Jika hal demikian menyenangkan bagimu, kami akan mengirim satu binatang setiap hari untuk makananmu."

Sang harimau berkata "Jika itu yang kalian mau, baiklah."

Lalu kemudian, dia mulai makan binatang yang dikirim kepadanya setiap hari.

Sekarang tiba giliran seekor kelinci tua. Dia mulai berpikir:

Pada sumber teror,
Seseorang memperlihatkan kerendahan hati
Dengan harapan menyelamatkan diri sendiri,
Tapi jika aku akan dipecahkan menjadi lima bagian,
Apalah gunanya sopan santun di hadapan si harimau?


"Jadi aku akan pergi dengan sangat lambat."

Sang harimau yang disiksa oleh rasa lapar yang sangat, berkata kepadanya dengan marah, "Mengapa kamu datang terlambat?"

Dia menjawab, "Dewa, saya tidak bersalah. Di perjalanan, saya ditahan paksa oleh harimau yang lain. Saya bersumpah untuk kembali padanya dan datang untuk memberitahukan kepadamu."

Sang harimau menjawab dengan marah, "Datanglah bersamaku dengan cepat dan tunjukkan padaku bajingan itu. Dimana bajingan itu tinggal?"

Kemudian si kelinci tua membawa si harimau bersamanya dan merencanakan untuk menunjukkan kepadanya sebuah sumur yang dalam.

Ketika tiba di tempat itu, di aberkata, "Engkau dapat melihat ke dalam."

Berkata demikian, dia menunjukkan kepada si harimau refleksi dirinya sendiri di air sumur yang dalam itu.

Dengan penampakan ini, sang harimau dikuasai oleh amarah, mendorong dirinya sendiri dengan congkak ke dalam air sumur tersebut dan terpecah menadi 5 bagian.

"Oleh karenanya, aku berkata demikian, 'Seseorang yang memiliki kepintaran memiliki kekuatan, dan seterusnya.'"

Si gagak betina berkata, "Aku telah mendengar semuanya. Sekarang ceritakan padaku apa yang harus dilakukan."

Si gagak menjawab, "Di sungai dekat sini, seorang pangeran datang setiap hari untuk mandi. Pada saat mandi, dia mengeluarkan sebuah kalung emas dari badannya dan menaruhnya pada tangga batu. Engkau ambil kalung itu dengan paruhmu dan taruh ia di dalam lubang pohon ini."

Sekarang, pada suatu hari ketika si pangeran telah masuk ke air untuk mandi, si gagak betina melakukan hal hal yang diperintahkan. Para pelayan raja yang mengejar kalung emas sampai pada lubang pohon itu melihat si ular hitam dan membunuhnya.

"Oleh karenanya, aku berkata, "Apa yang sebenarnya bisa melalui obat, dan seterusnya.'"

Karataka berkata, "Jika hal itu memang demikian adanya, maka kamu boleh pergi. Semoga perjalananmu bermanfaat."

Setelah itu Damanaka pergi mendekat ke Pingalaka, membungkuk dan berkata, "Dewa! Aku telah datang kemari karena terbayang malapetaka."

Untuk:

Dalam malapetaka, dalam keadaan tersesat,
Dan dalam kehilangan wktu terbaik untuk mengambil tindakan,
Seorang manusia yang menjadi teman, harus berbicara,
Apa yang bermanfaat, meskipun tidak ditanya.


Lebih pula:

Seorang raja adalah wadah kesenangan,
Raja bukanlah seorang penerima pekerjaan apapun,
Seorang menteri yang mengacaukan urusan negara,
Bertanggung jawab atas kesalahan tersebut.


Sebagai contohnya, lihatlah bahwa inilah tugas dari para menteri:

Lebih baik berhenti hidup,
Atau bahkan memancung kepala sendiri,
Tapi tidak memaafkan seseorang,
Yang melakukan dosa hawa nafsu,
Untuk memperoleh jabatan si tuan.


Pingalaka berkata dengan penuh hormat, "Sekarang apa yang ingin engkau katakan?"

Damanaka berkata, "Dewa! Sanjeevaka ini tampaknya betingkahlaku yang tidak semestinya terhadap anda. Juga di tengah kehadiran kita, dia mencela tiga kekuatan konstitusional19 dari anda dan memiliki keinginan atas jabatan anda."

Mendengar hal ini, Pingalaka berdiri tegak dalam kekhawatiran dan keterkejutan.

Damanaka berkata lagi, "Dewa! Engkau membuang semua menteri dan menunjuk yang satu ini sebagai ketua dari seluruh urusan. Ini adalah sebuah kesalahan besar."

Untuk:

Ketika si menteri sangat bangga,
Dan juga si raja,
Lakshmi berdiri tegak pada dua kakinya,
Namun karena ciri kewanitaannya,
Dia tidak dapat menerima beban,
Dan meninggalkan salah satu dari keduanya.


Lebih pula:

Ketika seorang raja membuat seorang menteri,
Otoritas tunggal dalam kerajaan,
Arogansi menguasai dirinya
Melalui angan-angan,
Dia mengasingkan dirinya melalui pengabaian
Yang diakibatkan oleh arogansi,
Sekali ketika terasing,
Sebuah keinginan atas kemerdekaan
Tumbuh dalam pikirannya
Dan kemudian karena keingin atas kemerdekaan,
Dia bertindak khianat terhadap sang raja,
Bahkan sampai untuk membunuhnya.


Lebih pula:

Bijian yang dicampur dengan racun,
Sebuah gigi yang hampir tanggal,
Seorang menteri yang jahat;
Penghapusan dari akar membawa kepada kebahagiaan.


Dan juga:

Ketika malapetaka menimpa seorang menteri,
Kepada siapa si raja telah mempercayakan kekayaannya,
Raja tersebut akan menderita seperti seorang yang buta,
Yang tidak memiliki pemandu.


"dan dia, dalam semua urusan, bertindak sesuai keinginannya. Namun demikian tuanku adalah otoritas yang terakhir."

Dan engkau tahu ini:

Apakah ada seseorang di dunia,
Yang tidak berkeinginan atas kekayaan,
Atau siapa yang tidak memandang dengan keinginan,
Pada istri orang lain yang muda dan manis?


Sang harimau berpikir atas hal itu dan berkata, "Teman! Meskipun hal tersebut demikian, aku tetap memilki kasih sayang yang besar terhadap Sanjeevaka."

Lihatlah:

Meskipun seseorang melakukan perbuatan salah,
Seorang yang favorit tetaplah menjadi favorit;
Meskipun penuh dengan banyak cacat,
Kepada siapa tubuhnya tidak disayangi?


Lebih pula:

Meskipun seseorang marah dengan banyak hal,
Namun bila dia sayang dia selalu tetap sayang;
Meski pada saat sebuah kuil bagus terbakar,
Siapa yang tidak memiliki rasa hormat terhadap kebakaran itu?


Damanaka berkata kembali, "Itulah kesalahan yang utama."

Untuk:

Pada saat seorang raja memberi perhatian khusus,
Kepada seorang anak laki-laki, seorang menteri atau bahkan seorang tak dikenal,
Lakshmi melayani orang tersebut.


"Dengarlah, Dewa:"

Meskipun tidak menyenangkan akan tetapi sehat,
Konsekuensinya mendatangkan kebahagiaan;
Dimana ada seorang pembicara dan seorang pendengar,
Kekayaan memperoleh kesenangan disana.


"Dan anda telah meninggalkan pembantu-pembantu lamamu dan menaikkan pendatang baru ini. Ini benar-benar suatu tindakan yang tidak sesuai."

Untuk:

Seseorang tidak boleh menyingkirkan pembantu-pembantu lama,
Dan memberi kehormatan kepada seorang pendatang baru,
Tidak ada kesalahan yang lebih besar daripada ini,
Karena ia menghancurkan kerajaan.


Sang harimau berkata, "Benar-benar suatu yang menakjubkan! Aku berikan padanya keyakinan akan keselamatan, membawanya kemari dan memeliharanya. Bagaimana bisa dia memusuhi saya?"

Damanaka berkata "Dewa,"

Seorang yang jahat kembali kepada tabiat alamiahnya,
Meskipun diberikan kasih sayang setiap hari;
Seperti ekor dari seekor anjing,
Kembali kepada posisi alamiahnya,
Bahkan setelah dilakukan upaya-upaya meminyaki, menguruti, dan sebagainya.


Lagi:

Ekor dari seekor anjing dibuat basah,
Digosok-gosok dan diikat dengan tali,
Kembali kepada posisinya semula
Ketika dibebaskan setelah dua belas tahun;

Bagaimana bisa promosi dan juga kehormatan,
Memuaskan hati orang yang jahat?
Pohon yang beracun tidak berbuah buah-buahan yang sehat,
Meski diberi air minuman para dewa.


Oleh karenanya aku berkata:"

Meskipun tidak ditanya,
Seseorang harus berkata apa yang bermanfaat baginya,
Kepada siapa kehancurannya tidak dia inginkan,
Hal demikian adalah tugas dari orang-orang baik,
Bertentangan dengan hal ini adalah tindakan orang-orang jahat.


Sebagaimana disebutkan:

Dia yang setia;
Adalah siapa yang melindungi orang dari kejahatan.

Adalah sebuah tindakan,
Yang terbebas dari dosa

Adalah seorang isteri,
Bila ia patuh.

Adalah seorang itu terpelajar,
Bila ia dihormati oleh orang-orang baik.

Adalah suatu kekayaan,
Bila tidak menghasilkan arogansi.

Dia adalah bahagia,
Bila ia bebas dari keinginan.

Dia adalah seorang teman,
Bila ia tidak hanya berpura-pura.

Dia adalah seorang manusia,
Bila ia tidak ditundukkan oleh perasaannya.


"Jadi, bahkan setelah diperingati akan adanya malapetaka melalui Sanjeevaka, jika tuanku tidak menjauh, maka ini bukanlah kesalahan si pembantu."

Dan juga:

Seorang raja yang gemar akan kesenangan seksual,
Tidak memberi perhatian kepada pekerjaannya dan kesejahteraan,
Tindakan-tindakan yang tidak terkontrol menurut khayalannya,
Seperti seekor gajah dalam masa kawin;
Tak lama kemudian, menjadi congkak dalam kebanggan,
Ketika dia tiba pada dukacita yang dalam,
Dia menyalahkan pada pembantu-pembantunya,
Tapi tidak mengakui tindakan tidak senonoh yang dilakukannya.


Pingalaka berkata kepada dirinya:

Atas dasar keluhan dari yang lain,
Seseorang tidak boleh membagikan hukuman kepada siapa saja,
Tapi hanya setelah memperoleh fakta-fakta oleh dirinya sendiri,
Maka seseorang menghukum atau memberi pujian bagi orang lain.


Sebagaimana disebutkan:

Tanpa memperoleh
Jasa-jasa dan kesalahan-kesalahan dari seseorang
Untuk dipuji atau dihukum bukanlah kebijakan yang benar,
Sama seperti karena arogansi,
Tangan yang ditaruh di mulut ular,
Membawa kepada kehancuran seseorang.


Kemudian Pingalaka bertanya dengan suara keras, "Jika hal itu memang demikian, apakah Sanjeevaka tidak diberi sebuah peringatan tentang hal itu?'

Damanaka berkata dalam kebingungan, "Dewa! Tidak demikian. Hal tersebut akan membuka nasehat rahasia."

Sebagaimana disebutkan:

Bibit nasehat ini,
Harus dilindungi dengan cara Apapun juga,
Bahkan hal kecilpun darinya tak boleh dibuka,
Karena bila saat terbuka, ianya tidak berkembang
Pada saat mengambil, memberi,
Atau ketika pekerjaan tidak dilaksanakan dengan segera,
Waktu menghisap habis jus mereka
Oleh karenanya apapun yang telah dimulai,
Tentunya harus diselesaikan,
Dengan upaya yang besar.


Dan juga:

Nasehat, sama seperti seorang prajurit yang takut-takut yang,
Meskipun seluruh badannya tertutupi dengan baik,
Tidak dapat berdiri untuk waktu yang lama,
Karena takut akan luka dari musuh.


"Jika bahkan setelah mengetahui kesalahannya, dia dibebaskan dari mereka dan rekonsiliasi diperlukan untuknya, maka hal tersebut benar-benar tidak patut."

Untuk:

Seorang yang menginginkan persahabatan dengan seorang teman,
Yang dijauhkan darinya,
Menemui kematian seperti seekor keledai betina
Yang melahirkan anaknya.


Si harimau berkata, "Biarkan diperoleh kejelasan dulu apa yang dapat diperbuat orang ini terhadap kita."

Damanaka berkata: "Dewa:"

Tanpa diperoleh kaitannya,
Antara yang utama dan subordinat,
Bagaimana mungkin kekuatan seseorang dapat diketahui?
Burung yang tidak penting seperti seekor Tittibha,
Mengejutkan sang laut.


Si harimau bertanya, "Bagaimana ceritanya?"

Damanaka pun bercerita:



Cerita tentang Burung-burung Tittibha dan sang Laut

Di tepian laut samudera selatan, disana hidup sepasang burung Tittibha. Ketika tiba waktu melahirkan, si burung Tittibha betina berkata kepada suaminya, "Raja! Tolong carikan tempat lain yang tenang yang cocok untuk persalinanku."

Si burung Tittibha jantan berkata, "Isteriku tercinta! Tentu, ini adalah tempat yang baik untuk menetaskan telur-telur."

Dia berkata, "Gelombang air laut sampai ke tempat ini."

Si burung Tittibha tersenyum dan berkata, "Raja! Terdapat perbedaan yang besar antara Engkau dan laut."

Adalah sulit untuk sampai pada kesimpulan yang benar,
Apakah seseorang bisa atau tidak;
Dia yang memiliki pengetahuan tentang hal itu,
Tidak mengalami penderitaan bahkan dalam keadaan sulit.

Terdapat empat pintu menuju kematian:
Mulainya suatu tindakan yang tidak sesuai,
Permusuhan terhadap warganya sendiri,
Pertentangan dengan pihak yang lebih kuat
Dan keyakinan atas wanita.


Tak lama kemudian, berdasarkan atas nasehat suaminya, dia menetaskan telur-telurnya disana dengan perasaan enggan yang sangat.

Mendengar hal ini, sang laut, untuk menguji kekuatan mereka membawa pergi telur-telur tersebut.

Si burung Tittibha betina, dihinggapi oleh kesedihan berkata kepada suaminya, "Raja! Malapetaka besar telah menimpa kita. Telur-telur milikku telah musnah."

Si Tittibha berkata, "Oh kekasihku! Janganlah takut."

Berkata demikian, dia menyerukan pertemuan para burung dan pergi ke hadapan Garuda, raja dari segala burung.

Setelah sampai disana, burung Tittibha jantan menjelaskan semua fakta dihadapan raja Garuda dan berkata, "Dewa! Laut telah menyiksa saya tanpa ada kesalahan dari saya, pada saat saya berada di rumah."

Setelah mendengarkan perkataannya, Garuda mengaitkan semua ini ke dewa Narayana 'penyebab ciptaan, pemeliharaan dan penghancuran alam', yang memerintahkan laut untuk mengembalikan telur-telur tersebut. Menaati perintah tersebut dengan penuh ketaan, sang laut mengembalikan telur-telur tersebut ke burung Tittibha.

"Oleh karenanya aku berkata, "Tanpa diperoleh kaitannya antara yang utama dan subordinat, dan seterusnya.'"

Sang raja berkata, "Bagaimana dapat diketahui bahwa yang ini memiliki rencana-rencana jahat?"

Damanaka berkata, "Ketika dia dengan sombongnya mendekati engkau, seperti orang yang dalam keadaan bingung, siap untuk menyerangmu dengan ujung dari tanduknya, maka tuanmu akan mengetahui."

Berkata demikian, Damanaka mendekat ke Sanjeevaka. Ketika tiba ditempat tersebut, dia mendekatinya dengan perlahan dan memperlihatkan dirinya, seolah-olah dalam keadaan terpesona.

Saat melihatnya, Sanjeevaka berkata dengan penuh rasa hormat, "Teman! Apakah engkau baik-baik saja?"

Damanaka berkata, "Bagaimana mungkin ada kebahagiaan bagi para pembantu?"

Untuk:

Kesejahteraan mereka tergantung kepada yang lain,
Pikiran mereka selalu tidak tenang,
Bahkan berkaitan dengan keselamatan diri mereka sendiri,
Tidak ada jaminan,
Bagi mereka yang mengabdi pada raja.


Lebih pula:

Siapa yang setelah memperoleh kekayaan,
Tidak menjadi bangga?
Apakah penderitaan dari sensualis manapun,
Pernah berakhir?
Pikiran siapa yang tidak terganggu oleh wanita?
Siapa sebenarnya yang menjadi seorang favorit sang raja?

Siapa yang tidak jatuh ke dalam genggaman kematian?
Pemohon yang manakah yang telah memperoleh rasa hormat?
Manusia yang mana, terjatuh ke dalam perangkap yang jahat,
Berhasil keluar dengan selamat?


Sanjeevaka berkata, "Teman, katakan padaku; apa sebenarnya hal tersebut?"

Damanaka berkata, "Apa yang dapat dikatakan oleh seorang yang tidak beruntung seperti saya ini?"

Untuk:

Seperti seseorang yang tenggelam di laut,
Dalam mendapai seekor ular sebagai bantuan,
Tidak hanya ia membiarkan atau menangkapnya,
Demikian sama pula bingungnya saya saat ini.


Untuk:

Dengan satu tangan,
Keyakinan sang raja dihancurkan
Dan dengan tangan yang lainnya, itulah temanku;
Apa yang akan saya lakukan? Kemana saya akan pergi?
Aku telah jatuh ke dalam lautan penderitaan.


Setelah berkata demikian, dia mendesah dengan dalam dan duduk.

Sanjeevaka berkata, "Oh teman! Tolong katakan padamu secara detail, apapun yang ada di dalam pikiranmu."

Damanak berkata dengan keyakinan yang besar, "Meskipun rahasia seorang raja tidak boleh dibuka, namun kamu telah datang kesini dan percaya kepada kami.Jad, Karena saya berkeinginan dengan dunia berikutnya, aku harus menceritakan apa yang baik bagimu. Dengarkan: Pikiran si penguasa telah mengalami perubahan terhadap kamu. Dia berkata secara rahasia, 'Aku akan membunuh Sanjeevaka dan menawarkan posisimu kepada pengiringku.'"

Ketika Sanjeevaka mendengar hal ini, dia merasa sangat dikecewakan.

Damanaka berkata kembali, "Cukup sudah dengan penderitaan. Ambil tindakan pada waktu yang tepat."

Sanjeevaka berpikir mengenai hal itu sejenak dan bicara, "Memang benar apa yang disebutkan:"

Wanita mencari teman dari yang jahat,
Sang raja mendukung mereka yang tidak pantas,
Kekayaan mengejar seorang yang kikir,
Dan Tuhan menjatuhkan air ke gunung-gunung dan lautan.


Bagi dirinya, "Tidaklah mungkin untuk membedakan dari kelakuannya, apakah ini perbuatannya ataukah bukan."

Untuk:

Beberapa orang yang jahat memperlihatkan kepandaian,
Melalui asosiasi para pembina,
Seperti collyrium hitam,
Yang ditaruh di mata wanita-wanita cantik.


Dia berpikir mengenai hal itu sejenak dan berkata, "Malapetaka apakah yang menimpa saya!"

Meskipun mengabdi dengan usaha, dia tidak disenangi.
Apa yang mengejutkan disini?
Bukan main anehnya gambar Dewa ini,
Yang diabdi, menjadi seorang musuh.

"Jadi seseorang tidak bisa mengerti apa arti masalah ini."

Seseorang yang menjadi marah karena sesuatu alasan,
Tentunya menjadi senang bila alasan tersebut hilang,
Tapi seseorang yang pikirannya penuh dengan kebencian,
Tanpa alasan apapun.
Bagaimana bisa seseorang bisa memuaskannya?


Kemudian dia berkata, "Kesalahan apa yang telah aku lakukan terhadap raja? Atau mungkin para raja melakukan kejahatan tanpa alasan apapun."

Damanaka berkata, Tampaknya demikian. Dengarkan:"

Meski suatu bantuan dilakukan oleh mereka yang bijaksana,
Dan oleh mereka yang penuh suka,
Menjadi sesuatu yang dibenci,
Sementara bahkan suatu perbuatan yang mencelakakan,
Membawa kepada perasaan suka.

Kelakuan mereka, yang pikirannya tidak tetap,
Sangatlah sukar untuk dimengerti,
Kewajiban mengabdi sangatlah sulit,
Dan tidak dapat dimengerti, bahkan oleh para Yogis.

Ratusan kewajiban hilang pada mereka yang jahat,
Ratusan perkataan yang baik pada mereka yang bodoh,
Ratusan perintah pada ,mereka yang tidak patuh,
Dan ratusan ide pada merek yang tolol.


Lebih pula:

Terdapat ular-ular di pohon kayu cendana,
Bunga-bunga lotus di air dan juga buaya-buaya,
Disana terdapat mereka yang jahat,
Yang menghancurkan kesenangan dalam kenikmatan,
Kesenangan-kesenangan tentu tidaklah ada tanpa kesusahan-kesusahan.

Akarnya ditempati oleh ular-ular,
Bunganya oleh lebah-lebah hitam,
Dahannya oleh kera-kera,
Dan atasnya oleh beruang-beruang;
Jadi tidak ada lagi bagian yang tersisa bagi si kayu cendana,
Yang tidak ditempati,
Oleh binatang-binatang yang jahat dan pembunuh.


Damanaka berkata, Aku telah mengerti benar bahwa dia manis dalam berbicara namun memiliki racun dalam hatinya."

Untuk:

Siapa yang mengangkat tangan dari kejauhan,
Yang matanya basah,
Siapa yang melepaskan separuh tempat duduknya,
Siapa yang bermaksud dengan dekapan dekat,
Memperlihatkan rasa hormat dalam upaya mencari kekayaan,
Namun tetap memiliki racun dalam hatinya;
Dari luar dia terlihat penuh dengan madu,
Tetapi sangat terampil dalam penipuan,
Apakah sebenarnya tindakan drama yang aneh ini,
Yang mana dipelajari oleh orang yang jahat?


Sebagaimana contoh:

Sebuah kapal adalah digunakan untuk melewati lautan yang sulit,
Sebuah lampu, adalah untuk menentang datangnya kegelapan,
Sebuah kipas, ketika tidak ada angin,
Sebuah tongkat untuk mengontrol kesombongan gajah-gajah,
Siapa yang menjadi buta karena rut;
Sehingga tidak ada di dunia,
Untuk siapa si pencipta tidak menjaga,
Untuk menyediakan sebuah pengobatan,
Tetapi dalam menghancurkan kecenderungan jahat,
Dari pikiran mereka yang jahat,
Si pencipta juga, terus gagal dalam upaya-upayanya.


Sanjeevaka mendesah kembali dan berkata, "Waduh, ah! Ini adalah malapetaka! Bagaimana bisa aku,seorang pemakan rumput, dibunuh olehnya?"

Diantara dua hal ini,
Yang mempunyai kekayaan dan kekuasaan adalah sama,
Namun tidak antara yang tertinggi dan terendah.


Dia berpikir mengenai hal itu kembali, "Aku tidak tahu, siapa yang telah mengubah raja ini sehingga berseberangan denganku. Seseorang harus selalu merawa takut akan seorang raja yang perasaannya telah mengalami perubahan."

Ketika pikiran seorang raja,
Dibuat terasing dari seorang menteri,
Yang benar-benar mampu untuk mempersatukannya,
Seperti sebuah gelang kristal suatu ketika rusak?


Lebih pula:

Halilintar dan kekuasaan raja,
Pasangan tersebut benar-benar berbahaya,
Yang pertama jatuh ke satu tempat,
Yang kedua jatuh keseluruhan.


"Oleh karenanya akan lebih disukai untuk mati dalam sebuah perang dan tidak akan tepat untuk mengikuti perintahnya."

Untuk:

Jika seseorang mati, dia menuju ke surga,
Atau jika ia membunuh musuh, dia memperoleh kebahagiaan;
Sangatlah sulit untuk menemukan hal yang selain
Dua akhir keberanian ini.

"Dan inilah waktunya untuk bertarung:"

Ketika kematian sudah nampak tanpa pertarungan,
Dan terdapat bahaya bagi hidup dalam pertarungan,
Hal itu sendiri sudah menjadi waktunya perang,
Jadi pertimbangkanlah kebijaksanaan ini.


Untuk:

Ketika seorang bijaksana tidak melihat keuntungan bagi dirinya
Dalam menghindari sebuah pertarungan,
Dia mati bertarung terhadap musuhnya.

Jika menang, dia memperoleh kekayaan,
Dan jika mati, seorang gadis di surga,
Ketika tubuh mati dalam waktu singkat,
Kenapa harus ragu-ragu untuk mati dalam sebuah perang?


Dengan merenungkan demikian, Sanjeevaka bertanya, "Teman! Bagaimana saya dapat mengetahui bahwa ia ingin membunuh saya?"

Damanaka menjawab, "Ketiak dia melihatmu dengan ekornya naik, cakar muncul ke atas dan rahangnya terbuka, maka kamu pun harus memperlihatkan kemampuanmu."

Untuk:

Seseorang yang kuat, namun tanpa semangat,
Siapa yang tidak memandang ia sebagai obyek yang rendah?


Lihatlah:

Orang menempatkan kaki mereka,
Pada tumpukan debu tanpa ragu-ragu.


"Namun demikian semuanya ini harus dilakukan dengan sangat rahasia. Kalau tidak, bukan engkau atau aku yang akan selamat."

Berkata demikian, Damanaka pergi ke Karataka.

Karataka bertanya kepadanya, "Apa yang telah engkau capai?"

Damanaka menjawab, "Sebuah perpecahan telah tercipta antara dua."

Karataka berkata, "Kesangsian apakah yang ada disana?"

Untuk:

Siapa yang benar-benar seorang teman dari yang jahat?
Yang tidak merasa senang
Ketika ditanya untuk akan sesuatu?
Yang tidak memperoleh kebanggaan dalam pemerolehan kekayaan?
Dan siapa yang tidak pintar dalam melakukan perbuatan jahat?


Lebih pula:

Orang-orang yang licik menuntun seseorang menjadi kaya,
Cenderung jahat untuk kepentingan kesejahteraannya,
Apa sebenarnya teman dari mereka yang jahat?
Tidak melakukan hal seperti api?


Kemudian Damanaka pergi ke Pingalaka, dan berkata, "Dewa, pikiran yang jhat telah tiba. Oleh karenanya, bersiaplah dan duduk."

Berkata demikian dia mengambil posisi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Sanjeevaka juga tiba, melihat sang harimau dalam posisi yang berubah dan dia juga memperlihatkan rasa keberanian pada dirinya.

Tak lama kemudian, dalam pertarungan yang besar itu, yang berlangsung di temopat antara yang dua, Sanjeevaka terbunuh oleh si harimau.

Setelah Pingalaka telah membunuh pembantunya Sanjeevaka, dia beristirahat. Dia duduk dalam kesedihan dan berkata, "Benar-benar sebuah kekejaman telah aku lakukan."

Untuk:

Ketika seorang raja melewati tugasnya,
Kerajaan tersebut dinikmati oleh orang lain,
Sementara ianya sendiri adalah penerima dosa,
Seperti seekor harimau yang membunuh seekor gajah.


Lebih pula:

Ketiak terdapat sebuah kehilangan dari sebuah bagian negara,
Atau dari seorang pembantu, yang penuh dengan jasa,
Dan diberkati dengan intelektualitas;
Kematian dari pembantu tersebut,
Adalah kematian dari si raja,
Karena kehilangan tanah adalah mudah untuk diperoleh kembali,
Tapi tidak pembantunya.


Sampai bagian ini Damanaka berkata, "Tuan! Apa pula tingkah penyesalanmu yang aneh setelah membunuh seorang musuh?"

Sebagaimana disebutkan:

Seorang raja yang berkeinginan atas kesejahteraannya sendiri harus membunuh mereka,
Yang berkeinginan untuk membunuhnya,
Apakah itu ayahnya, saudaranya, anak atau seorang teman.


Selanjutnya:

Siapa yang mengetahui hakekat dari agama,
Kekayaan dan sex;
Tidak boleh bermurah hati kelewat batas,
Karena siapa yang memberi maaf,
Bahkan tidak bisa makan makanan yang ditaruh di tangannya.


Juga:

Memberi maaf seorang musuh dan juga seorang teman,
Adalah hanya ornamen dari estetika,
Sementara yang sama berubah menjadi sebuah kesalahan,
Ketika diperlihatkan oleh raja-raja kepada para pelanggar.


Lebih pula:

Siapa yang karena serakah akan kerajaan,
Dengan congkak menginginkan jabatan tuannya,
Kematian adalah satu-satunya kompensasi baginya,
Tidak ada lain.

Seorang raja yang baik,
Seorang brahmana yang makan apa saja,
Seorang isteri yang tidak berada dibawah kontrol,
Seorang teman yang sifat dasarnya adalah jahat,
Seorang pembantu yang tidak patuh,
Seorang pekerja yang sembrono,
Dan seseorang yang tidak tahu berterima kasih;
Mereka harus ditinggalkan.


Dan secara khusus:

Kebenaran juga ketidakbenaran,
Perkataan kasar juga perkataan yang manis,
Kekejaman juga kebaikan,
Iri hati dan bebas,
Secara tetap mengeluarkan,
Sebagaimana sama dengan memperoleh kekayaan yang banyak;
Sebuah kebijakan raja memiliki bentuk yang berbeda-beda,
Sama seperti seorang pelacur.


Dihibur demikian oleh Damanaka, Pingalaka kembali memperoleh postur alaminya dan duduk di atas tahta.

Damanaka dengan senang hati berkata, "Biarlah baginda menang. Biarlah ada kebaikan bagi seluruh dunia."

Berkata demikian, dia pun mulai hidup bahagia.

Kemudian Vishnusharma berkata: "Engkau telah mendengar 'Berpisahnya Persahabatan.'"

Para pangeran menjawab, 'Kami telah mendengarnya dengan gaya ceritamu dan kami menjadi bahagia."

Vishnusharma berkata: "Biarlah hal ini pula menjadi:"

Biarlah Berpisahnya Persahabatan benar-benar terdapat,
Dalam rumah musuh-musuhmu,
Biarlah yang jahat disukai oleh kematian,
Menemui kehancuran hari demi hari;
Biarlah orang-orang terus-menerus menjadi tempat kediaman
Dari kebahagiaan dan kesejahteraan semua.
Dan biarlah anak-anak juga menjadi senang,
Dalam cerita-verita yang menyenangkan.


Disini akhir dari koleksi kedua dari cerita-cerita yang bernama 'Berpisahnya Persahabatan', dalam Hitopadesha.



BAGIAN III

Vigraha

Peperangan

Sekali lagi pada awal kisah ini, Putri Raja berkata,”Arya! Kami adalah putri raja. Kami ingin sekali mendengar kisah mengenai perang.”

Vishnusharma berkata,”Saya akan menceritakan tentang apapun yang Tuan Putri inginkan. Dengarkanlah kisah tentang ‘Peperangan’ berikut ini yang merupakan ayat pertama.”

Di tengah peperangan antara angsa dan burung merak,
Yang merupakan perpaduan penuh keberanian,
Para burung gagak menciptakan suatu keyakinan,
Kepada para musuh angsa,
Tinggal di sarang mereka dan mengelabuinya.


Tuan Putri bertanya,”Bagaimanakah itu mungkin terjadi?

Vishnusharma menceritakan :

Kisah Tentang Raja Angsa dan Raja Burung Merak


Di negeri Karpura terdapat sebuah danau bernama Padmakeli. Angsa kerajaan, Hiranyagarbha, hidup disana.

Pada suatu ketika berkumpullah burung-burung air dan menobatkan angsa sebagai raja, di kerajaan burung tersebut.

Jika tidak ada raja untuk memimpin rakyatnya dengan baik,
Kami akan musnah,
Bagaikan kapal di laut tanpa nakhoda.27


Terlebih lagi :

Raja melindungi rakyatnya,
Dan rakyat memperkaya sang raja,
Perlindungan lebih baik daripada kekayaan,
Karena tanpanya apapun dapat tumbuh,
Namun tidak benar-benar tumbuh.


Ketika angsa kerajaan sedang bersantai diatas teratai dikelilingi oleh pengawalnya, seekor bangau bernama Deerghamuka, yang baru saja tiba dari negeri lain, menghadap Raja dan berlutut.

Raja berkata,”Deerghamuka! Anda baru saja tiba dari negeri jauh. Kabarkanlah berita kepada kami.”

Bangau menjawab,”Dewa! Ada berita penting! Untuk itulah saya segera kesini. Mari dengarkan:

“Di Jambudweepa, di pegunungan Vindhya, hiduplah raja burung, seekor burung merak bernama Chitravarna.

“Suatu saat, ketika sedang berkeliling di tengah Dadharanya, burung-burung pengikutnya menemukan saya sedang merumput. Mereka bertanya,”Siapakah Anda? Darimana Anda berasal?. ”

“Saya menjawab,’Saya adalah pengikut dari angsa bernama Hiranyagarbha, penakluk dari Karpuradweepa. Saya datang untuk melihat-lihat negeri lain.’

Sesudah mendengar jawaban saya, burung bertanya,’Dari keduanya, negeri manakah yang lebih baik dan raja manakah yang lebih bijaksana?’

“Lalu saya berkata,’Oh, mengapakah Anda bertanya demikian? Perbedaannya sungguh sangat besar. Karena Karpuradweepa adalah surga itu sendiri dan raja kami merupakan dewa dari surga. Apa yang Anda lakukan di tanah tandus seperti ini? Mari datang ke negeri kami.”

Seperti disebutkan :

Memberikan susu kepada ular,
Hanya akan meningkatkan racun-racunnya,
Demikian, memberikan nasehat kepada orang bodoh,
Hanya akan meningkatkan kemarahan mereka
Dan tidak akan menentramkan mereka.


Selanjutnya :

Mereka yang berpendidikan yang seharusnya diberi nasehat,
Dan bukan kepada yang tidak berpendidikan,
Sesudah menasehati kera,
Burung yang bodoh akan pergi dari sarangnya.


Raja bertanya,”Bagaimanakah kisahnya itu?”

Maka Bangau pun bercerita tentang:

Kisah Sekumpulan Burung dan Kera yang Menggigil


Di tepian sungai Narmada, berdiri kokoh pohon besar Shalamali. Sekawanan burung tinggal di sarang yang mereka buat dari cekungan lubang pohon Shalamali.

Pada suatu hari, saat musim hujan tiba ketika langit mendung dan menutupi awan biru, bumi pun diguyur hujan yang sangat lebat. Burung melihat beberapa kera duduk di kaki pohon, sedang menggigil kedinginan, berkatalah burung dengan khawatirnya,”Oh kera! Dengarlah:

Kami telah membangun sarang-sarang kami dari rumput,
Yang kami bawa dengan hanya paruh kami,
Sementara kalian diberkahi dengan tangan dan kaki,
Lalu mengapa harus menderita seperti itu?


Mendengar hal itu, kera-kera menjadi marah dan berseru,”Oh! Burung-burung yang tinggal dengan nyamannya di sarang dan bebas dari angin dingin ini ternyata asyik mencela kami. Tunggulah hingga hujan berhenti.”

Segera ketika hujan usai mengguyur bumi, kera-kera tersebut pun memanjat pohon dan merusak sarang sehingga membuat telur-telur burung berjatuhan.

“Untuk itulah aku berkata,’Mereka yang berpendidikanlah yang seharusnya diberikan nasihat, dst.,’”

Raja bertanya,”Apa yang mereka lakukan setelah itu?”

Jawab Burung Bangau,”Lalu burung-burung itu berseru dengan marahnya,’Siapakah yang telah membuat angsa ini menjadi raja?’ Serta merta saya terkejut dan balik bertanya,’Siapa pula yang membuat burung merak ini menjadi raja?’

“Mendengar ini, mereka langsung bersiap untuk membunuh saya. Saya pun segera memperlihatkan keberanian saya.”

Pada situasi-situasi yang tertentu,
Permintaan maaf merupakan ornamen bagi seorang pria,
Bagaikan kesederhanaan pada seorang wanita,
Namun ketika direndahkan,
Keberanian haruslah merupakan ornamen dari seorang pria,
Seperti halnya keberanian oleh seorang wanita dalam perpaduan sifat
kewanitaannya.


Raja tertawa dan berkata :

Setelah menguji kekuatan dan kelemahan,
Pada dirinya sendiri dan pada yang lain,
Mereka yang tidak mengetahui perbedaannya,
Adalah dilecehkan oleh musuhnya.


Selanjutnya :

Merumput di ladang jagung untuk waktu yang lama,
Seekor keledai yang sama sekali tanpa kecerdasan,
Dan ditutupi oleh kulit harimau,
Terbunuh bukan karena kesalahannya,
Ketika ia sedang meringkik.


Burung Bangau bertanya,”Bagaimanakah kisahnya itu? Dan Raja pun menceritakan:

Kisah Sekawanan Gajah dan Seekor Kelinci Tua


Alkisah akibat musim kemarau berkepanjangan, sekawanan gajah tertekan dalam kehausan dan berkata kepada pemimpinnya,”Tuan! Apakah jalan keluar bagi kami untuk bertahan hidup? Disini tidak ada tempat untuk mandi bahkan bagi hewan yang lemah sekalipun. Kami sangat membutuhkan tempat untuk membersihkan badan dan melanjutkan hidup. Apa yang harus kami perbuat? Kemanakah kami harus pergi?”

Maka raja dari gajah, pemimpinnya, menunjukkan kepada mereka air bersih pada danau yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat mereka berada. Hari berganti ketika pada suatu hari kaki-kaki gajah menginjak hingga hancur rumah-rumah kelinci yang ada di tepi danau.

Seekor kelinci Shileemukha berpikir,”Karena para gajah ini didera kehausan dan tidak ada tempat lain selain disini bagi mereka, pastilah mereka akan datang kesini setiap hari. Pastilah juga kelompok kami akan hancur.”

Lalu seekor kelinci tua yang bernama Vijaya berkata,”Janganlah putus asa. Saya akan mencari jalan keluar untuk masalah ini.”

Karena sudah berjanji, kelinci tua pun lantas berpikir keras,”Bagaimanakah aku harus berbicara di hadapan sekelompok gajah?”

Karena :

Seekor gajah dapat membunuh dengan hanya sentuhan,
Seekor ular dengan desisannya,
Seorang raja bahkan saat memberikan perlindungan,
Dan seorang yang licik bahkan dengan tawanya.


“Jadi, aku akan mendaki ke puncak bukit dan menyampaikannya pada Tuan pemimpin kawanan gajah ini.”

Ketika telah sampai di puncak bukit, pemimpin kawanan gajah bertanya,”Siapakah kamu? Darimana kamu datang?”

Ia menjawab,”Saya seekor kelinci dan saya diutus oleh Dewa Bulan untuk menemuimu.”

“Silakan sebutkan apa kepentinganmu menemuiku,”ujar Raja Gajah.

Vijaya berkata :

Bahkan ketika senjata telah siap dihunus untuk melawannya,
Seorang pembawa pesan tidak akan berkata tidak jujur,
Karena ia akan selalu menikmati kekebalan akan terbunuh,
Dan untuk berkata yang sejujurnya.


“Maka saya akan menyampaikan padamu perintah Dewa Bulan. Dengarkan,’Kelinci-kelinci ini yang merupakan penjaga dari danau bulan, telah terusir olehmu. Kamu telah berlaku salah, karena kelinci-kelinci ini ada dalam pengawasanku sejak lama. Untuk tugas ini, saya dikenal sebagai Shashanka.’”

Ketika sang kurir telah selesai menyampaikan pesannya, pemimpin gajah menjawab dalam ketakutan,”Hal ini terjadi karena ketidaktahuan kami. Ini tidak akan terjadi lagi.”

Sang kurir melanjutkan,”Jika demikian, berikanlah penghormatan pada Dewa Bulan, yang bergetar dalam kemarahan akan apa yang terjadi di danau, tenangkanlah Ia dan segeralah tinggalkan danau.”

Sesudah itu pada malam harinya, pemimpin gajah pergi ke danau dalam ketakutannya dan memberikan salam hormat pada Dewi Bulan.

Kelinci berkata,”Dewa! Gajah ini bertindak salah diluar ketidaktahuannya. Jadi ampunilah ia. Ia berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”

“Maka dari itulah aku berkata,”
Ketika seorang raja sangatlah berkuasa,
Ada keberhasilan meski melalui muslihat, dst.


“Lalu saya berkata,’Angsa kerajaan, Tuan kami itu sangatlah pemberani dan kuat. Ia bahkan layak sebagai pemimpin dari tiga dunia. Jadi apalah arti sebuah kerajaan disini?’

“Semua burung pun berseru,’Dasar kau Bangau! Mengapa kamu berkelana ke negeri kami?’ Maka mereka pun membawa saya kehadapan Raja Chitravarna.

“Mereka akhirnya membawa saya kehadapan raja, mereka berlutut dan berkata,’Dewa! Dengarlah baik-baik. Bangau licik ini, meskipun sedang berkelana ke negeri kita, ia mengkritik Tuanku.’

“Raja bertanya,’Siapakah ia? Darimanakah ia berasal?’

“Burung menjawab,’Ia adalah pengikut dari seekor angsa bernama Hiranyagarbha. Ia berasal dari Karpuradweepa.’

“Sesudah itu, menteri mereka, seekor Burung Hering bertanya padaku,’Siapakah perdana menteri di negerimu?’

“Saya menjawab,’Seekor angsa berwarna kemerahan yang bernama Chakravaka, yang mengetahui semua Sastra.’

“Burung Hering berkata,”Itu sudah tepat. Ia berasal dari negeri yang sama.’

Karena :

Seorang raja haruslah menunjuk dengan tepat,
Seorang sebagai menteri,
Yang berasal dari negeri yang sama,
Yang mengetahui tradisi keluarga,
Yang saleh dan memahami kitab suci,
Yang tidak ketagihan akan sifat buruk,
Yang menghindari tindakan tidak terpuji,
Yang telah mengetahui seluk-beluk duniawi,
Yang merupakan seorang pekerja turun temurun,
Yang terkenal, terpelajar,
Yang juga mampu untuk meningkatkan penghasilan.


“Sementara itu, Burung Beo berkata,’Dewa! Karpuradweepa dan pulau-pulau kecil lain sudah termasuk dalam kekuasaan Jambudweepa. Jadi kedaulatan Tuanku juga hingga disana.’

“Raja menjawab,’Bisa jadi demikian, karena :’

Ketika seorang raja, seorang pemabuk, dan seorang anak kecil,
Menginginkan sesuatu yang tidak dapat dipenuhi,
Lalu bagaimana dengan sesuatu yang dapat dipenuhi?


“Lalu saya berkata,’Jika kedaulatan didasarkan atas ucapan semata maka Tuanku Raja Hiranyagarbha memiliki supremasi kedaulatan terhadap Jambudweepa juga.’

“Selanjutnya, Burung Beo bertanya,’Bagaimanakah ini dapat diputuskan?’

’Melalui peperangan’, jawab saya.

“Lantas raja pun tertawa dan berkata,’Pergi dan persiapkanlah Tuanmu.’

“Saya melanjutkan,”Tolong juga siapkan seorang pembawa pesan Tuan.’

“Raja berkata,’Siapa yang akan bertugas sebagai kurir? Namun kurir yang akan ditunjuk haruslah memiliki kriteria ini :’

Seorang yang setia,
Penuh pengabdian, alim, pekerja keras,
Pemberani, tidak ketagihan pada sifat buruk,
Memiliki sifat memaafkan,
Seorang yang berjiwa Brahmin30,
Seorang yang mengetahui kelemahan pihak lain,
Dan seorang yang cerdas,
Orang seperti itulah yang harus menjadi seorang pembawa pesan [kurir].


“Ada banyak pembawa pesan. Namun hanya seorang Brahmin yang pantas dipilih.’

Karena :

Ia menyenangkan tuannya,
Dan tidak memiliki keinginan akan kekayaan,
Kegelapan Kalakutta tidak akan hilang,
Bahkan melalui kontak dengan Shiva.


“Raja berkata,’Jadi biarkanlah Burung Beo yang akan melaksanakan tugas ini.’

“Menoleh kepada Beo, Raja pun berkata,’Beo, pergilah engkau bersamanya dan sampaikan keinginan kita.’

“Burung Beo berkata,’Siap Tuanku, sesuai dengan perintah Tuan! Namun Bangau ini seorang yang jahat, jadi saya tidak akan pergi dengannya. Karena disebutkan:’

Orang yang jahat mengaitkan dirinya selalu pada perbuatan jahat,
Sementara memang konsekwensinya akan menimpa pada yang baik,
Dashanana31 membawa Sita pergi,
Sementara ada goresan luka pada laut32.


Selanjutnya :

Janganlah orang pernah tinggal,
Atau pergi dengan orang yang jahat,
Karena persahabatan mereka dengan burung gagak,
Seekor angsa yang tinggal dengannya,
Dan burung puyuh yang sedang menemaninya, Juga terbunuh.


“Raja berkata,’Bagaimanakah itu terjadi?”

Burung Beo pun menuturkan kisahnya :

Kisah Bangau yang Baik Hati dan Gagak yang Culas


Terdapat pohon ara di perjalanan menuju Ujjayini dimana seekor angsa dan gagak biasa tinggal.

Suatu hari di musim panas, seorang pengembara yang kelelahan meletakkan busur dan anak panahnya di bawah pohon ara dan tertidur disana.

Tak lama berselang, bayangan pohon berpindah dari wajahnya.

Melihat wajah sang pengembara yang berada di bawah terik sinar matahari, burung bangau pun langsung bertengger di pohon itu, mengembangkan sayapnya, dan membiarkannya menutupi wajah sang pengembara.

Setelah cukup beristirahat, pengembara pun terbangun dengan segarnya sehabis tidur lelap dan menguap lega. Karena tidak tahan melihat kebahagiaan orang lain, burung gagak yang pada dasarnya memang jahat itupun mengeluarkan kotorannya pada mulut sang pengembara yang sedang terbuka lebar dan lalu segera terbang.

Saat melihat ke atas, sang pengembara melihat burung bangau dan langsung membunuhnya dengan anak panahnya.

“Maka dari itulah aku berkata,’Janganlah pernah tinggal atau pergi dengan orang yang jahat.’ Kini aku pun akan menceritakan sebuah kisah tentang burung puyuh:”

Kisah Gagak Licik dan Burung Puyuh yang Bodoh


Alkisah semua burung menuju ke tepi pantai untuk berziarah mengunjungi Lord Garuda. Diantara mereka adalah burung puyuh yang menemani burung gagak.

Di sepanjang jalan menuju ke tempat ziarah, burung gagak berulangkali memakan dadih dari ember yang dijunjung di atas kepala pengembala sapi.

Suatu ketika pengembala itu meletakkan ember dadih ke tanah dan mendongak ke atas, ia melihat kedua burung itu. Burung gagak langsung terbang ketakutan dan pergi menjauh. Sementara burung puyuh, yang merasa tidak berbuat salah, terbang lambat sehingga akhirnya tertangkap dan mati terbunuh.

“Untuk itulah saya berkata,’Janganlah orang pernah tinggal atau pergi dengan orang yang jahat.’

’Saudaraku! Mengapa kamu berkata demikian? Bagiku, kamu sama halnya seperti raja yang termashyur.

“Burung Beo menjawab,’Biarkanlah demikian. Namun:’
Bahkan yang sangat ramah dan memabukkan,
Ucapan-ucapan dari seorang yang jahat,
Menciptakan alarm seperti bunga,
Yang bermekaran diluar musimnya.


“Saya menyadari kejahatanmu melalui kata-katamu sendiri, karena akibat ucapanmu bertanggung jawab atas terjadinya perang dari dua raja.’”

Lihatlah :

Bahkan ketika kejahatan dilakukan,
Di depan matanya sendiri,
Seorang bodoh terpuaskan hanya dengan ucapan manis;
Seorang pembuat kereta kuda mengangkut istrinya,
Bersama-sama diatas kepalanya beserta kekasih gelap istrinya.


Raja bertanya,”Bagaimanakah kisahnya?”

Burung Beo pun bercerita :

Kisah Seorang Pembuat Kereta Kuda, Istri, dan Kekasih Gelapnya


Di kota Yauvanashree hiduplah seorang pembuat kereta kuda bernama Mandamati. Ia mencurigai bahwa istrinya tidak jujur. Namun ia belum melihat dengan mata kepalanya sendiri istrinya berselingkuh dengan kekasih gelapnya itu.

Pada suatu hari sang pembuat kereta kuda ini pamit pada istrinya,”Saya mau pergi ke luar kota.” Segeralah ia berangkat, namun baru tiba di suatu kampung terdekat, ia mengurungkan niatnya untuk melanjutkan perjalanan, kembali pulang ke rumah, dan bersembunyi di bawah tempat tidur.

Dengan keyakinan bahwa si pembuat kereta sedang tidak di rumah untuk pergi ke luar kota, kekasih gelap segera muncul di malam hari.

Selanjutnya, ketika si istri sedang bercengkerama diatas tempat tidur dengan kekasih gelapnya, ia tak sengaja menyentuh lembut tubuh suaminya yang sedang membungkukkan badannya di bawah tempat tidur. Mengetahui dengan pasti bahwa yang ada di bawah tempat tidur itu adalah suaminya yang cerdik, ia pun berpura-pura menjadi sedih.

Kekasih gelap yang merasa diacuhkan berkata,”Mengapa kamu tidak bermesraan denganku seperti biasanya hari ini? Kamu terlihat sangat mempesona hari ini.”

Ia pun menjawab,”Tidak kah kamu menyadari? Tuan dalam hidupku, kekasihku sejak kecil, sekarang sedang pergi ke luar kota. Meskipun kampung ini penuh orang namun rasanya sepi seperti hutan bagiku. Bagaimanakah ia bertahan disana? Sudahkah ia makan? Nyenyakkah tidurnya? Hatiku sungguh gelisah memikirkan ini semua.” Kekasih gelapnya bertanya,”Apakah pembuat kereta itu benar-benar kekasih sejatimu?”

Wanita tak jujur itu berkata,”Dasar tolol! Apakah yang kamu katakan? Dengarlah : “

Ketika seorang istri tetap berwajah ceria,
Bahkan ketika suaminya berbicara kepadanya,
Dengan ucapan-ucapan kasar,
Dan memandangnya dengan mata marah,
Wanita seperti itu merupakan rumah kediaman sebenarnya
Dari norma-norma agama.


Dan yang kedua :

Seorang yang tinggal di kota atau di hutan,
Seorang yang pendosa atau yang jujur,
Ketika seorang seperti itu mencintai suaminya,
Kebahagiaan berlimpah padanya di dunia ini.


Terlebih lagi :

Suami memanglah ornamen terbaik,
Dari seorang wanita,
Meskipun wanita itu mungkin tanpa ornamen,
Karena tanpa seorang suami,
Bahkan wanita cantik tidak terlihat cantik.


“Dasar kamu berpikiran negatif. Karena kekacauan pikiran, aku kadang-kadang menikmatimu, seperti halnya aku memakan kacang betel dan memakai kembang. Namun hanya suamiku yang mampu menjual atau memberikanku sepenuhnya pada Tuhan dan Brahmin. Tidak diragukan lagi mengenai hal itu. Aku hidup sepanjang ia hidup dan ketika ia mati, aku harus mati dengannya. Itulah resolusiku.”

Karena :

Tiga setengah juta,
Adalah jumlah rambut pada tubuh manusia,
Jumlah yang sama dalam tahun ia akan tinggal di surga,
Ketika ia selalu dalam sentuhan suaminya.

Seperti seekor ular yang memikat dengan paksa,
Yang membawa ular keluar dari lubangnya,
Seperti halnya membawa suaminya ke surga,
Ia pun menikmati kebahagiaan.

Seorang yang memeluk tubuh suaminya saat api suci pemakaman,
Dan menyerahkan tubuhnya,
Wanita itu pergi ke surga,
Meskipun ia telah melakukan banyak tindakan dosa.


Ketika pembuat kereta itu mendengar ini semua, ia pun berpikir,”Saya beruntung karena istriku berbicara begitu manisnya dan sangat mencintaiku.”

Sesudah berpikir keras dalam kegalauan, ia pun mengangkat dipan tempat tidurnya dengan bahagianya bersama dengan istri beserta kekasih gelap istrinya berada diatasnya.

“Untuk itulah aku berkata,’Bahkan ketika kejahatan dilakukan benar-benar di depan matanya, dst.’”

Burung bangau melanjutkan,”Sesudahnya Raja menghormatiku sesuai dengan budaya mereka dan menyerahkanku padamu. Burung Beo juga harus mengikutiku. Setelah mengetahui semua ini, lakukanlah apa yang harus dilakukan.”

Chakravaka berkata dengan senyum,”Dewa! Memang, burung bangau pergi ke negeri lain dan bahkan melaksanakan urusan kenegaraan sebaik-baiknya. Namun itulah karakter alami seorang yang bodoh.”

Seorang dapat memberikan banyak hal namun bukan pertengkaran,
Ini adalah nasihat dari orang bijak,
Namun pertengkaran tanpa sebab,
Merupakan karakter dari seorang yang bodoh.


Raja berkata,”Apakah gunanya membicarakan hal yang sudah lewat? Sekarang marilah kita fokuskan pada apa yang harus dilakukan.”

Karena :

Dari warna kulit, roman wajah, tindakan, ucapan,
Dan dari pergerakan mata dan wajah,
Seorang bijak memahami pemikiran orang lain,
Jadi seorang harus menyimpan hal yang pribadi.


Maka Raja dan menteri tetap berada disana sementara yang lain beranjak menuju ke suatu tempat.

Chakravaka berkata,”Dewa, saya tahu bahwa burung bangau telah melakukan ini atas anjuran dari beberapa orang kita.”

Seorang pasien berguna bagi dokternya,
Seorang bermasalah dengan petugas pemerintahan,
Seorang bodoh adalah alat bagi yang terpelajar,
Dan seorang kasta tinggi adalah pendorong ke hal baik.


Raja berkata,”Biarkanlah. Selidikilah penyebabnya sesudah ini. Kini kita harus memutuskan apa yang harus dilakukan.”

Chakravaka berkata,”Dewa! Pertama-tama biarkan mata-mata kita pergi kesana, sehingga kita dapat mengetahui kekuatan dan kelemahannya.”

Dan juga :

Untuk menyelidiki apa yang akan dilakukan,
Dan apa yang tidak dapat dilakukan,
Di negerinya sendiri dan di negeri lain,
Seorang raja memiliki sebuah mata,
Dalam bentuk seorang mata-mata,
Seorang yang tidak memiliki mata-mata, hanyalah seorang yang buta.


“Biarkan ia membawa orang kepercayaan lain, sehingga ia akan merasa mantap disana dan kirimlah orang itu kemari segera sesudah ia mendapatkan rahasianya.”

Seperti dikatakan :

Pada tempat suci, pada tempat pertapaan, pada kuil,
Ia harus membicarakannya dengan mata-matanya sendiri,
Dalam penyamaran seorang pertapa,
Di bawah ajaran pustaka suci yang sakral.


“Seorang mata-mata rahasia adalah mereka yang dapat berpindah pada air dan daratan. Jadi tugaskanlah burung bangau ini. Biarkan burung bangau lain menemaninya dan biarkan anggota keluarga yang lain tinggal di istana. Namun, tuanku harus melakukannya secara rahasia.”
Karena :

Sebuah rahasia didengarkan oleh 6 telinga adalah bocor,
Demikian juga yang didapatkan melalui desas-desus,
Untuk itulah seorang raja haruslah berhati-hati,
Dengan dirinya sendiri dan satu orang lagi saja.


Dengarlah :

Jika melalui bocornya suatu rahasia,
Kejahatan menimpa seorang raja,
Mereka tidak dapat diperbaiki,
Demikianlah pendapat dari para cendekia politik.


Raja memikirkannya kembali dan berkata,”Saya telah benar-benar mendapatkan utusan yang sangat hebat.”

Menteri berkata,”Dewa! Dalam hal ini, pemenang perang sudahlah pasti.”

Penjaga gerbang masuk, berlutut, dan berkata,”Dewa! Burung beo yang baru tiba dari Jambudweepa menunggu di depan gerbang.”

Raja memandang pada Chakravaka.

Chakravaka berkata,”Biarkan ia masuk dulu ke tempat yang telah disediakan untuk bersiap-siap. Setelah itu, biarkan ia menghadap kami.”

Penjaga gerbang membawanya ke ruang yang telah disediakan.

Raja berkata,”Benar, perang akan segera dimulai.”

Chakravaka berkata,”Dewa! Tidak tepat untuk langsung menuju perang.”

Karena :

Ia seorang pembantu dan penasihat yang buruk,
Yang tanpa pertimbangan menasihati raja,
Untuk memilih berperang,
Atau meninggalkan tanahnya.


Selanjutnya :

Diantara dua petarung, pemenangnya tidaklah pernah pasti,
Jadi seorang seharusnya tidak berusaha,
Untuk mengalahkan musuhnya melalui perang.


Terlebih lagi :

Seorang seharusnya berusaha untuk mengalahkan musuhnya,
Melalui jalan damai, pemberian hadiah atau melalui perselisihan paham,
Dengan semua yang berkesinambungan atau yang tidak,
Namun jangan pernah melalui pertempuran.

Lebih Lanjut :

Semua orang adalah pemberani,
Sampai mereka pergi ke medan perang,
Yang tidak berbangga hati,
Hingga ia menyaksikan kekuatan pihak lain?


Selanjutnya :

Sebuah batu tidak akan dapat diangkat dengan mudahnya,
Seperti halnya sebuah galah,
Sama halnya, sukses besar melalui cara yang biasa,
Adalah memang hasil dari nasihat.


“Bagaimana pun, karena perang segera dimulai, mari kita bereskan ini.”
Karena :

Melalui usaha yang dilakukan pada saat yang tepat,
Pertanian akan menjadi berhasil,
Sebagaimana, kebijakan ini, Oh Dewa, akan menghasilkan,
Ketika dilakukan untuk waktu yang lama.


Selanjutnya :

Takut akan bahaya yang jauh,
Menjadi pemberani ketika itu akan dimulai,
Ini adalah kebajikan dari sifat hebat,
Hanya pada saat bencana saja,
Sifat hebat memimpinnya dengan kesabaran.


Juga :

Kegelisahan adalah halangan,
Untuk seluruh pencapaian,
Air meskipun sangat dingin,
Tidakkah itu memecahkan sebuah gunung?

“Secara khusus, Raja Chitravarna sangatlah penuh kekuatan.”
Tidak ada mandat,
Bahwa seorang haruslah bertempur melawan kekuatan,
Karena pertempuran manusia melawan gajah,
Berakhir semata-semata dalam kematian manusia.


Lebih lanjut :

Ia adalah seorang bodoh yang tanpa mendapatkan kesempatan,
Bertindak melawan kekuatan,
Pertempuran melawan kekuatan,
Adalah seperti tenaga dari sayap serangga.


Selanjutnya :

Seperti halnya kura-kura mengerutkan tubuhnya sendiri,
Dan memikul bahkan bertempur,
Demikian pula seorang yang lihai dalam politik,
Dalam mendapatkan kesempatan,
Haruslah muncul seperti ular yang kejam.


Dengarlah :

Seorang yang mengetahui ramuan yang tepat,
Haruslah dapat menangani sesuatu yang besar sebaik yang kecil,
Seperti halnya arus sungai,
Yang dapat mengangkat pohon juga rumput.


“Maka dari itu, biarkan utusan diberikan keyakinan dan tertahan disini, sampai benteng kita diperlengkapi dengan baik.”

Karena :

Pemanah tunggal tinggal di benteng,
Bertempur melawan seratus,
Seratus bertempur melawan seratus ribu,
Untuk itulah benteng pertahanan diperlukan.


Juga :

Ketika kerajaan tanpa benteng pertahanan,
Tidakkah musuh menerimanya sebagai objek celaan?
Seorang raja tanpa dukungan dari benteng pertahanannya,
Adalah seperti seorang lelaki yang jatuh dari kapal.

Seorang harus membangun benteng dengan parit yang dalam,
Benteng tinggi, alat-alat perang, dan air,
Haruslah dikelilingi oleh pegunungan,
Sungai, gurun, dan hutan.

Ketujuh ini adalah harta dari sebuah benteng,
Luasnya area, akses masuk yang sungguh sulit,
Dilengkapi dengan air, gandum, dan bahan bakar,
Pada gerbang masuk dan juga gerbang keluar.


Raja berkata,”Siapa yang seharusnya ditunjuk untuk membangun benteng pertahanan?

Chakravaka berkata :

Dalam pekerjaan apapun seorang memiliki keahlian,
Seorang haruslah ditunjuk,
Seorang yang tidak berpengalaman dalam kerja,
Meskipun paham kitab suci, akan kebingungan.


“Untuk itu, undanglah Sarasa.”

Sarasa pun dipanggil, Raja melihat kepada Sarasa yang datang menghadap dan berkata,”Oh Sarasa! Tolonglah bangun benteng pertahanan segera.”

Sarasa berlutut menghormat dan berkata,”Dewa! Mengenai benteng, ada danau besar disana yang sudah ada sejak dulu. Bagaimana pun persediaan makanan harus disimpan pada pulau, yang berada di tengah-tengah.”

Karena :

Penyimpanan gandum, oh Raja,
Adalah yang terbaik dari semua penyimpanan,
Karena permata yang diletakkan di mulut,
Tidak akan menopang hidup.


Lebih lanjut :

Dari semua rasa,
Asin dikatakan merupakan rasa terbaik,
Karena makanan tanpa rasa itu,
Rasanya seperti kotoran sapi.


Raja berkata,”Pergilah cepat dan bereskan semuanya.”

Penjaga gerbang masuk dan berkata,”Dewa! Burung gagak yang bernama Meghawarna telah tiba dari Pulau Sinhala dan menunggu di depan gerbang bersama pasukannya. Ia bermaksud menemui Tuanku.”

Raja berkata,”Burung Gagak pastilah mengetahui dan mengamati semuanya. Jadi sungguh berguna untuk menerimanya.”

Chakravaka berkata,”Dewa! Mungkin demikian, tapi burung gagak tinggal di darat. Jadi kalau dia ada di sisi musuh, bagaimanakah kita dapat membiarkannya disini?”

Sebagaimana dikatakan :

Seorang yang mengorbankan orangnya sendiri,
Dan lebih memilih orang lain,
Adalah seorang bodoh yang segera dibunuh oleh orang lain,
Seperti serigala dengan warna nila [jingga].


Raja bertanya,”Bagaimanakah kisahnya?”

Menteri pun menceritakan :

Kisah Serigala yang Jatuh pada Tong Berwarna Nila


Alkisah seekor serigala yang sedang dalam perjalanan di pinggiran kota, jatuh pada tong bekas suatu campuran berwarna nila. Ia berusaha keras untuk keluar dari tong, tapi tidak berhasil.

Di suatu pagi, ia berpura-pura mati dan berbaring. Pemilik tong itu pun mengangkat dan membawanya ke suatu tempat dan meninggalkannya disana. Serigala pun segera lari dari tempat itu.

Ketika ia pergi ke hutan dan menyadari warna tubuhnya sudah berubah, ia pun berpikir,”Kini aku punya warna terbaik. Jadi mengapa tidak aku angkat diriku?”

Berpikir demikian, ia pun memanggil semua serigala dan berkata,”Aku telah dinobatkan sebagai raja hutan oleh Bhagawati, Dewi hutan ini yang memberkahiku melalui tangannya sendiri dengan ramuan obat-obatan. Jadi dari sekarang, semua hal di hutan ini haruslah dilaksanakan sesuai dengan perintahku.”

Semua serigala melihatnya diberkahi dengan warna istimewa, mereka pun berlutut dan berkata,”Sesuai dengan perintah Tuanku.”

Serigala itu pun berangsur-angsur membangun kekuasaannya pada semua makhluk hidup di hutan itu, termasuk pada kelompoknya sendiri, yang selalu berada di sekelilingnya. Pada waktu tertentu ketika penghuni hutan terbaik seperti singa, harimau, dll. berkumpul disekelilingnya serta melihat juga kelompoknya yaitu serigala diantara mereka, ia merasa malu karena merasa menghina kelompoknya sendiri.

Ketika kemudian serigala tua melihat kelompoknya yang patah semangat, lalu berkata,”Jangan khawatir. Serigala ini telah meninggalkan kita yang mengetahui tentang semua kebijakan. Jadi kita harus bertindak untuk menyingkirkannya. Karena harimau dan yang lainnya telah diperdaya oleh warna tubuhnya. Mereka tidak mengetahui bahwa itu adalah serigala dan memperlakukannya sebagai raja mereka. Maka mari kita lakukan sesuatu sehingga ia terekspos yaitu dengan cara kita semua berada di sekelilingnya pada malam hari dan bergantian melolong secara terus-menerus. Saat ia mendengar lolongan kita, sesuai dengan sifat alamiah keturunan kita, ia pastilah akan juga ikut melolong.

Ketika sudah dilaksanakan, seperti itulah yang terjadi :

Apapun yang telah menjadi sifat alamiah,
Seorang akan sulit untuk mengubahnya;
Jika seekor anjing dinobatkan sebagai raja,
Bukankah ia masih tetap menggerogoti sepatu?


Mendengar lolongan itu, harimau pun mengenalinya sebagai serigala dan segera membunuhnya.

Seperti dikatakan :

Musuh dari kelompoknya sendiri,
Mengetahui semua kelemahan,
Rahasia, kekuatan, dan yang lainnya,
Sesudah mendapatkan tiket masuk,
Ia pun memusnahkannya seperti pohon kering oleh kobaran api.


“Untuk itulah aku berkata,’Seorang yang memberikan orangnya sendiri.’”

Raja berujar,”Meskipun demikian, marilah kita temui karena ia sudah datang dari jauh. Baru sesudahnya kita putuskan tentang keberadaannya disini.”

Chakravaka berkata,”Dewa, utusan telah dikirimkan. Sementara itu benteng pertahanan telah diperlengkapi. Maka sekarang panggilah si burung Beo.”

Namun :

Chanakya membunuh Nanda,
Melalui penugasan utusan yang cerdas,
Jadi seorang haruslah berhati-hati terhadap pembawa pesan,
Dari jarak yang aman,
Didampingi oleh penasihat yang bijak.


Sidang pun digelar, Beo dan Gagak dipanggil. Burung beo duduk di tempat yang diminta dan mengangkat kepalanya sedikit seraya berseru,”Oh Hiranyagarbha! Raja kami Chitravarna memberikan perintah padamu,’Jika kamu berminat dalam hidup ini dan limpahan harta, maka mendekatlah pada kami segera dan berlututlah di hadapan kami. Jika tidak, maka pikirkanlah tempat lain untuk hidup.’”

Raja berkata dalam kemarahannya,”Oh! Tidak adakah dari kita yang akan menangkap dan melemparnya?”

Burung Gagak Meghawarna, mendengar itu, langsung berdiri dan berkata,”Dewa, perintahkanlah, maka aku akan segera membunuh beo licik ini.”

Menteri yang serba tahu, menenangkan raja dan burung gagak seraya berkata,”Dengarkan terlebih dahulu :”

Bukanlah sidang,
Jika tidak ada orang yang dewasa,
Dan mereka bukanlah orang yang dewasa,
Jika tidak memiliki norma agama.

Bukanlah norma agama,
Jika tidak ada kebenaran,
Dan bukanlah kebenaran,
Jika digabungkan dengan penipuan.


Karena norma agama :

Seorang utusan tidaklah dapat dibunuh,
Meskipun ia berasal dari golongan rendah,
Karena raja berkata melalui utusan,
Bahkan jika senjata siap dihunuskan,
Seorang pembawa pesan tidaklah berkata tidak jujur.


Lebih lanjut :

Siapa yang percaya pada kekurangan orang lain,
Atau pada kekuatan musuh,
Semata-mata melalui ucapan sang utusan?
Melalui pertemuan yang,
Dibebaskan dari kematian,
Seorang pembawa pesan pastilah mengutarakan semuanya.


Raja dan Gagak akhirnya dapat lebih tenang setelah mendengarkan petuah itu.

Burung Beo berdiri dan melangkah pergi. Lalu Chakravarka memanggilnya untuk kembali, menjelaskan semuanya, dan memberinya perhiasan keemasan, dst. Ia pun kemudian diperbolehkan pergi.

Ketika Beo telah tiba pada Raja di pegunungan Vindhya, ia berlutut di hadapan Raja.

Raja bertanya,”Ada berita apakah? Bagaimanakah keadaan negeri itu?”

Burung Beo berkata,”Dewa, secara singkat, inilah beritanya. Biarkan persiapan perang dilakukan, negeri ini Karpuradweepa adalah bagian dari surga dan rajanya adalah Dewa Indra kedua, jadi bagaimanakah menjelaskannya?”

Sesudah itu Raja mengundang semua orang yang berpengaruh, duduk untuk berdiskusi dengan mereka dan berkata,”Sekarang pada perang ini, yang kita harus perjuangkan, tolong berikan saya nasihat, apa yang harus dilakukan. Kita memang harus berperang. “

Seperti dikatakan :

Brahmin ketika sedang bersedih, dihancurkan,
Demikian pula seorang Raja ketika sedang berbahagia,
Seorang prostitut tidak cantik tidaklah laku,
Demikian pula seorang wanita anggun disaat arogan.


Menteri bernama Dooradarshi berkata,”Dewa! Kita tidak seharusnya mengambil jalan untuk berperang, tanpa mengetahui dengan pasti segala sesuatunya.”

Karena :

Ketika teman-teman, para menteri dan yang lainnya,
Bersatu padu,
Dan musuhnya sedang bertengkar,
Hanya ada satu orang yang seharusnya berperang.


Lebih lanjut :

Tanah, sahabat, dan emas,
Merupakan tiga hasil dalam perang,
Ketika ini pasti akan dimenangkan,
Hanya karena itulah seorang memutuskan untuk berperang.


Raja berkata,”Biarkan menteri yang pertama-tama menyelidiki kekuatan pasukan kita. Biarkan ia menilai keefektifannya. Lalu undanglah seorang peramal untuk memutuskan kapan saat yang tepat. “

Menteri berkata,”Meskipun demikian, tidaklah disarankan untuk melakukan penyerangan secara tiba-tiba.”

Karena :

Orang-orang bodoh itu yang tanpa mengetahui
Kekuatan dari musuhnya,
Memasuki perang secara tergesa-gesa,
Secara pasti mendapatkan penghubung
Dari tepi mata pedangnya.


Raja berkata,”Menteri! Janganlah menurunkan semangatku seperti itu. Bagaimana seorang ingin menaklukkan tanah musuhnya?”

Menteri menjawab,”Saya akan menceritakannya padamu namun itu hanyalah akan berguna, jika dilakukan.”

Karena seperti dikatakan :

Apakah gunanya nasihat yang diberikan kepada raja,
Berdasarkan pustaka suci sakral,
Jika itu tidak dilakukan?
Melalui pengetahuan pengobatan semata,
Dapatkah penyakit disembuhkan?


“Namun perintah raja tidak dapat diabaikan. Aku akan menceritakan padamu apa yang telah aku dengarkan.”

Dengarlah :

Pada sungai, gunung, hutan, dan tempat-tempat yang sulit,
Dimanapun ada bahaya, Oh raja;
Seorang jenderal haruslah berangkat kesana bersama pasukannya,
Melebur dengan kesatuan tempur.

Komandan pasukan haruslah berada di barisan depan,
Ditemani oleh orang-orang pilihannya yang pemberani,
Di tengah-tengah seharusnya ada para wanita, raja,
Harta karun dan bagian lemah pasukan.

Haruslah terdapat kuda pada kedua bagian,
Kereta pertempuran di samping kuda,
Gajah di samping kereta,
Dan pasukan di samping gajah.

Jenderal seharusnya berjalan pelan di belakang,
Memberikan semangat pada mereka yang hilang semangat,
Dan raja seharusnya berada di depan,
Beriringan dengan para menterinya,
Prajurit terbaik, dan pasukan terbaik.

Seorang haruslah mengetahui tempat,
Tempat tak datar, penuh dengan air,
Dan berbukit, dengan gajah-gajah,
Bahkan tempat dengan banyak kuda,
Air dengan perahu-perahu,
Bahkan setiap tempat dengan infanteri.

Berbaris dengan gajah-gajah,
Lebih baik dilakukan pada musim penghujan,
Dengan kuda pada musim yang lain,
Dan dengan infanteri, tentu saja setiap saat.

Perlindungan haruslah diberikan pada raja,
Di gunung dan di tempat sulit,
Meskipun dilindungi oleh prajuritnya,
Ia seharusnya tidur seperti seorang Yogi.

Seorang haruslah mengalahkan dan mengatasi musuh-musuhnya,
Dengan menghancurkan rintangan dari benteng-benteng pertahanan,
Ketika memasuki negeri asing,
Seorang haruslah menempati hutan berpenghuni di depannya.

Dimana ada seorang raja, disana juga terdapat harta karun,
Tanpa harta karun tidak akan terdapat kekuasaan kerajaan,
Kemudian ia harus memberikannya pada para pembantunya,
Bagi mereka yang tidak bertempur karena uang?


Karena :

Manusia bukanlah pelayan dari manusia,
Namun pelayan dari kekayaan, Oh Raja!
Kekuatan dan kelemahan,
Adalah tergantung pada kekayaan,
Atau kekurangan dari kekayaan.

Orang seharusnya bertempur dalam kebulatan suara,
Dan membela satu sama lain,
Dan apapun yang menjadi bagian lemah dari pasukan,
Seorang haruslah menempatkannya di tengah,
Dari formasi pasukan.

Seorang raja hendaklah menyebarkan tentara pasukan.
Di bagian depan barisan,
Sesudah mengepung musuhnya, ia harusnya tetap berada disana,
Dan menyerang musuhnya.

Ia hendaknya bertempur pada tempat yang datar,
Dengan kereta dan kuda-kudanya,
Dan pada tempat yang basah, dengan sampan dan gajah-gajah;
Pada tempat yang ditutupi pohon dan semak-semak,
Dengan panah dan busurnya,
Dan tanah terbuka dengan pedang,
Perisai, dan senjata-senjata lainnya.

Ia seharusnya secara terus-menerus mencemarkan,
Tempat makanan musuhnya, makanan, air dan bahan bakar,
Ia seharusnya juga menghancurkan,
Danau, benteng, saluran air.

Tidak ada satupun melainkan gajah lah sebagai faktor yang utama,
Pada pasukan raja,
Karena dikatakan ia memiliki 8 senjata,
Pada anggota tubuhnya sendiri.

Kavaleri adalah kekuatan dari pasukan,
Seolah-olah itu adalah benteng yang bergerak,
Untuk itu seorang raja yang kuat dalam kavaleri,
Adalah pemenang dari pertempuran.


Seperti dikatakan :

Sementara bertempur diatas punggung kuda,
Mereka tidak dapat dikalahkan bahkan oleh para dewa;
Meskipun musuh mereka ada di kejauhan,
Namun mereka seperti ada di genggamannya.

Tindakan pertama saat bertempur,
Adalah perlindungan terhadap seluruh pasukan,
Mengamankan jalan pada semua arah,
Merupakan tugas dari infanteri.

Dikatakan, pasukan adalah sangat hebat,
Yang sebagian besar terdiri dari ksatria terkenal,
Yang merupakan orang-orang pemberani,
Sangat lihai mengenai pengetahuan senjata,
Tunduk pada gurunya dan kebal akan rasa lelah.

Di dunia ini, manusia bertempur,
Hanya demi kehormatan,
Dianugrahi oleh tuannya,
Lebih daripada kekayaan berlimpah yang diberikan pada mereka, Oh raja!

Pasukan kecil namun digjaya adalah yang terbaik,
Bukan pada jumlah yang besar,
Karena serangan dari yang lemah akan dengan pasti,
Menghasilkan serangan pada yang kuat.

Hilangnya bantuan, hilangnya kepemimpinan,
Pudarnya rasa berbagi pada tiap orang,
Waktu terbuang percuma, tidak mampu mencari jalan keluar,
Inilah penyebab dari ketidakbahagiaan pasukan.

Tujuan dari pertarungan haruslah menyerang musuh.
Tanpa menyiksa pasukannya sendiri,
Pasukan musuh dengan mudah dapat dikalahkan,
Ketika kelelahan akibat perjalanan panjang.

Tidak ada kebijakan yang tiada bandingannya,
Tanpa menggunakan saudara musuh untuk memusnahkannya,
Karena itu seorang harus berusaha keras,
Saudara dari musuh untuk melawannya.

Setelah membuat persekutuan dengan raja,
Atau dengan perdana menteri,
Seorang akan melaksanakan pertikaian internal,
Pada barisan penyerbu tegas.

Seorang hendaknya menghilangkan kemampuan bersekutu dalam pertempuran,
Bahkan dengan terpaksa mengambil jalan kecurangan;
Atau hanya seperti seukuran sapi,
Jadi seorang haruslah menangkap pemimpinnya.

Seorang raja haruslah mengatur orang-orangnya,
Di negerinya sendiri,
Sesudah memindahkan mereka secara paksa dari negeri lain,
Atau lebih baik dengan memberikan hadiah dan kehormatan,
Ketika diduduki,
Negeri itu menjadi makmur.

Raja berkata,”Oh! Apakah gunanya berbicara banyak?’

Naiknya seorang dan turunnya musuh,
Itulah kebijakan rangkap dua;
Sesudah mengambil jalan itu,
Orang bijak mengikuti langkah Vachaspati.


Menteri pun tertawa dan berkata,”Kamu telah mengungkapkan pernyataan terbaik selama ini.”

Namun :

Dari satu hal adalah vitalitas yang tidak dapat dikendalikan,
Yang lainnya dikontrol oleh ajaran suci,
Karena bagaimanakah cahaya dan kegelapan,
Ada pada tempat yang sama?


Sesudah itu raja pun bangkit dan mengatur saat terbaik yang telah ditentukan oleh peramal.

Selanjutnya, mata-mata yang dikirimkan oleh Raja Hiranyagarbha datang dan berkata,”Dewa! Raja Chitravarna telah hampir tiba. Saat ini, ia tinggal berkemah dengan pasukannya pada tempat tinggi di pegunungan Malaya. Untuk itu, istana ini haruslah diperiksa dengan cermat setiap waktu. Selain itu menteri ini adalah seorang penasihat ulung. Sejauh percakapan rahasianya dengan seseorang, saya menduga dari isyaratnya bahwa ia telah menghubungi seseorang pada benteng kita.”

Menteri Chakravaka berkata,”Pastilah itu burung gagak.”

Raja berkata,”Tidak mungkin. Namun jika memang benar, lalu bagaimana ia berusaha untuk mempermalukan burung beo? Lebih jauh, sesudah kepergian beo, akan ada kecenderungan terhadap perang. Selain itu ia telah tinggal disini sejak lama.”

Menteri berkata,”Selanjutnya siapa pun yang datang kemari haruslah dicurigai.”

Raja berkata,”Bahkan seorang pendatang baru dapat menjadi seorang dermawan.”

Dengarlah :

Bahkan seorang asing berbuat baik, adalah saudara,
Dan bahkan saudara tidak berbuat baik, adalah orang asing,
Penyakit hadir pada tubuh seseorang adalah menakutkan,
Namun tanaman obat yang tumbuh di hutan adalah bermanfaat.


Lebih lanjut :

Ada seorang pelayan bernama Veeravara,
Dari seorang Raja Shoodraka,
Yang pada waktu singkat,
Menawarkan anak lelakinya sendiri.

Menteri bertanya,”Bagaimanakah hal itu?”

Raja pun mengisahkan :


Kisah Pengorbanan Veeravara



Dahulu kala, pada danau di daerah kekuasaan Raja Shoodraka, saya mengenal Karpuramanjari seorang putri angsa kerajaan bernama Karpurakeli. Seorang pangeran bernama Veeravara tiba di gerbang kerajaan dan berkata kepada penjaga gerbang,”Saya seorang pangeran dan saya ingin melakukan pelayanan. Tolong diatur pertemuan dengan raja untuk saya.”

Ketika pertemuan dengan raja telah disiapkan, Pangeran berkata,”Dewa! Jika Tuan memerlukan pelayan, saya ingin melakukannya.”

Shoodraka bertanya,”Berapakah gaji yang kau harapkan?”

Veeravara menjawab,”Lima ratus emas koin setiap harinya.”

Raja bertanya,”Senjata apakah yang kau miliki?”

Veeravara berkata,”Dua lengan dan yang ketiga – sebuah pedang.”

Raja menjawab,”Tidak mungkin.”

Mendengar ini, Veeravara berlutut dan berlalu pergi.

Menteri berkata,”Tolong berikan ia gaji untuk empat hari dan pastikan dari tugasnya apakah ia layak mendapatkan gaji sebanyak itu atau tidak.”

Sesuai nasihat menteri, Veeravara dipanggil kembali dan diberikan daun kacang betel beserta 500 koin emas.

Raja secara diam-diam mengamati tugasnya.

Veeravara mempersembahkan sebagian uang itu kepada Dewa dan Brahmin dan sebagian sisanya kepada orang miskin.

Berapa pun yang tersisa sesudahnya, ia menggunakannya untuk makan dan keperluan lain.

Ia melakukan tugas hariannya dengan cara ini dan menjaga gerbang istana siang dan malam dengan hanya pedang di tangannya. Ia hanya akan pulang jika raja memerintahkannya demikian.

Maka di malam ke-14 pada hari yang gelap, raja mendengar suara tangisan yang menyedihkan.

Shoodraka bertanya,”Siapakah diluar sana?”

Ia pun menjawab,”Dewa! Saya, Veeravara.”

Raja berkata,”Coba cari tahu tentang isakan tangis itu.”

Veeravara berkata,”Sesuai dengan perintah Dewa,” dan berlalu pergi.

Lalu Raja berpikir,”Tidaklah tepat jika aku mengirimkan pangeran ini sendiri pada malam gelap gulita ini. Maka dari itu saya harus juga pergi kesana dan mencari tahu.”

Raja pun mengambil pedangnya, mengikuti langkah Veeravara untuk mencari tahu asal isakan tangis.

Sesudah tiba disana, Veeravara melihat seorang wanita diberkahi dengan kecantikan dan perhiasan menghiasi tubuhnya, sedang menangis.

Ia bertanya,”Siapakah kamu? Mengapa kamu menangis?”

Wanita itu berkata,”Saya adalah Dewi dari kerajaan Raja Shoodraka. Saya telah tinggal disini dalam waktu yang lama di bawah perlindungan dan kebahagiaan Raja. Namun sekarang saya akan pergi ke tempat lain.”

Veeravara berkata,”Dimana terdapat kemungkinan terjadinya kerusakan, penawarnya juga ada disana, jadi bagaimanakah caranya agar Dewi tetap tinggal?”

Dewi berkata,”Jika kamu menawarkan anak laki-lakimu Shaktidhara yang diberkahi dengan 32 tanda keberuntungan kepada Dewi Sarvamangala, maka sekali lagi, saya dapat tinggal disini dalam kebahagiaan untuk waktu yang lama.”

Sesudah mengatakan demikian, ia pun menghilang.

Lalu Veeravara pulang ke rumah, membangunkan istrinya yang telah terlelap dalam tidur dan juga putranya Shaktidhara.

Ketika keduanya telah bangun, Veeravara menceritakan semua pembicaraannya dengan Dewi.

Mendengar hal itu, putranya Shaktidhara berkata dengan sukacita:”Saya diberkahi menjadi berguna akan kejayaan kerajaan. Untuk itulah ayah, apakah alasan untuk menundanya? Bahwa pengorbanan tubuh ini pada tugas itu adalah sangat terpuji.”

Karena :

Manusia bijak haruslah berkorban,
Akan kekayaan dan hidupnya untuk orang lain,
Karena ketika kehancuran tidak dapat dielakkan,
Saat itulah pengorbanan untuk kebaikan diperlukan.


Ibu Shaktidhara berkata,”Jika ini tidak dilakukan, lantas melalui perbuatan lain apakah kita dapat membantu Raja?”

Setelah memikirkannya mereka semua kemudian pergi ke kuil Sarvamangala. Sesudah melakukan pemujaan terhadap Dewi Sarvamangala disana, Veeravara berkata,”Oh Dewi yang Maha Pengasih! Semoga Raja Shoodraka selalu berjaya. Terimalah persembahan ini.”

Berkata hal itu, ia pun memotong kepala anaknya.

Lalu Veeravara berpikir,”Benar, uang yang diterima dari raja, telah berhasil baik, namun apalah artinya sekarang hidup tanpa seorang anak.”

Memikirkan ini, ia pun memotong kepalanya sendiri. Istrinya sungguh berduka atas suami dan anaknya, juga akhirnya memotong kepalanya sendiri.

Melihat seluruh kejadian ini, raja menjadi sangat tersentak,

Makhluk lemah dari hidup saya yang indah dan kini tiada,
Namun seorang yang mencerminkan ini,
Tidak pernah ada dan tidak akan ada di dunia ini.


“Jadi tidak ada gunanya bagi saya bahkan juga bagi kerajaan, yang telah menjadi tiada berarti tanpanya.”

Lalu Shoodraka segera menghunus pedang untuk memotong kepalanya.

Saat itu Dewi Sarvamangala menahan raja dengan tangannya dan berkata,”Oh anakku, saya mengasihimu. Hentikan!. Kini, kerajaanmu akan aman bahkan setelah kematianmu.”

Sesudah berlutut dengan kerendahan hati, Raja berkata,”Dewi! Apakah gunanya kerajaan bagiku dan apakah gunanya hidupku? Jika Dewi mengasihiku, biarkanlah Veeravara kembali hidup bersama dengan istri dan anaknya. Jika tidak maka aku akan kembali mengulangi tindakan yang telah menimpaku.”

Dewi berkata,”Putraku! Aku sangat berbahagia atas semua kualitas dirimu dan kasih pada pelayanmu. Semoga kau selalu berbahagia. Dann pangeran juga kembali hidup dengan keluarganya.”

Seusai mengatakan ini, Dewi pun menghilang.

Sesudahnya, Veeravara hidup kembali dengan istri dan anaknya dan pulang ke rumah. Demikian pula Raja, tanpa terlihat oleh mereka kembali ke istana.

Sesudahnya ketika Veeravara kembali bertugas pada pintu gerbang, Raja bertanya padanya tentang kejadian wanita yang menangis itu dan ia menjawab,”Dewa! Ketika wanita yang sedang menangis itu melihat saya, ia segera menghilang. Tidak ada masalah lain.”

Ketika Raja mendengar jawaban ini, ia berpikir,”Bagaimanakah saya memuja orang hebat ini?”

Karena :

Seorang yang baik hati berbicara dengan lembut,
Seorang pemberani seharusnya tidak membual,
Seorang dermawan, sebaiknya tidak menderma,
Kepada orang yang tidak berharga,
Dan seorang yang berpendidikan, seharusnya tidak kejam.


“Semua karakter orang hebat itu ada padanya.”

Lalu keesokan paginya raja mengadakan pertemuan dengan orang-orang terhormat, mengisahkan seluruh kejadian yang dialaminya dan menghadiahkan kepada pangeran kerajaan Karnataka, sebagai tanda penghargaan.

“Jadi, apakah orang asing bersifat jahat semata-mata karena kastanya? Bahkan diantara mereka, terdapat orang baik, buruk, dan yang sedang.”

Chakravaka berkata :

Seorang yang memutuskan tindakan jahat,
Sebagai tindakan yang benar,
Berdasar pada keinginan raja,
Adalah seorang menteri yang buruk.

Lebih baik penderitaan tuan,
Namun bukan keruntuhan melalui tindakan yang tidak berguna;
Seorang raja, seorang dokter, seorang Guru,
Dan menteri adalah lidah madu,
Secara cepat kehilangan kesehatannya,
Norma agama dan harta benda.


“Dengarlah Dewa !”

Apapun yang didapatkan olehnya melalui pujian,
Seharusnya juga didapatkan olehku;
Diluar dari ketamakan berlebihan,
Seorang tukang cukur yang menginginkan kekayaan,
Membunuh pendeta Budha dan kehilangan hidupnya.


Raja bertanya,”Bagaimanakah kisahnya?”

Ia pun mengisahkan :

HITOPADESHA - BAGIAN IV



Sandhi

Perdamaian

Sekali lagi, di awal kisah, Tuan Puteri berkata,”Arya, kami telah mendengar mengenai Peperangan. Kini ceritakanlah mengenai Perdamaian.”

Vishnusharma berkata,”Aku akan menceritakan tentang ‘Perdamaian’ dimana ini adalah ayat yang pertama.”

Pada perang hebat, yang telah berlangsung
Diantara dua raja,
Pasukan mereka hancur,
Namun perdamaian secepat kilat ditimbulkan,
Antara Burung Hering dan Chakravaka,
Yang bertindak sebagai penengah.


Tuan Putri bertanya,”Bagaimanakah itu terjadi?

Dan Vishnusharma melanjutkan dengan :

Kisah Angsa dan Burung Merak


Kemudian Angsa kerajaan bertanya,”Siapakah yang membakar benteng kita?” Apakah dari pihak luar atau orang kita sendiri, yang melakukannya atas perintah musuh kita?”

Chakravaka berkata,”Dewa! Meghavarna, teman Tuan itu, tidak terlihat disini dengan pengikutnya. Jadi saya yakin ini adalah ulahnya.”

Raja mencoba berpikir dan berkata,”Ini benar-benar sangat tidak menguntungkan.”

Seperti dikatakan :

Adalah merupakan kesalahan takdir,
Namun bukan kesalahan para menteri,
Ketika hal yang terencana sangat baik,
Kadangkala berantakan,
Karena campur tangan takdir.


Menteri berkata,”Dikatakan juga seperti ini :”

Seorang manusia menyalahkan takdir,
Ketika ia dirundung kondisi menyedihkan,
Seorang yang tidak bijaksana tidak pernah menyadari,
Kegagalan dari hasil perbuatannya sendiri.


Lebih lanjut :

Seorang yang mengabaikan,
Nasihat dari sahabatnya,
Yang menasihati untuk kebaikannya,
Musnah seperti kura-kura bodoh,
Yang jatuh dari atas pohon.


Raja bertanya,”Bagaimanakah kisahnya?”

Menteri pun menceritakan :

Kisah Dua Angsa dan Seekor Kura-Kura


Di negeri Magadha terdapat danau bernama Phullotpala. Dua angsa bernama Sankata dan Vikata tinggal disana sejak lama. Teman mereka, seekor kura-kura yaitu Kambugriva juga tinggal disana.

Suatu kali seorang nelayan tiba disana dan berkata,”Kita harus tinggal disini hari ini dan besok pagi-pagi kita akan bunuh ikan, kura-kura, dll. yang ada di danau ini.”

Mendengar hal ini, kura-kura berkata pada kedua angsa tersebut,”Teman! Apakah kalian mendengar apa yang nelayan itu katakan tadi? Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?”

Kura-kura menjawab,”Pertama-tama pahami dulu situasinya dan lalu besok pagi, kita lakukan apa yang harus kita lakukan.”

Kura-kura berkata,”Bukan, bukan seperti itu. Karena aku sudah sering melihat bencana disini sebelumnya.”

Seperti dikatakan :

Seorang yang merencanakan untuk masa depan,
Dan juga seorang yang memiliki kesadaran,
Orang seperti ini hidup dengan berbahagia,
Namun seorang yang pesimis, akan musnah.


Angsa bertanya,”Bagaimanakah kisahnya?”

Dan kura-kura pun bercerita :

Kisah Tiga Ikan



Suatu ketika, di danau ini, saat nelayan tiba, 3 ekor ikan sedang bercengkrama untuk memutuskan apa yang akan dilakukan menghadapi bahaya dari nelayan.

Seekor ikan bernama Anagatavidhata berkata,”Memang benar, aku harus pindah ke danau lain.” Berkata demikian, ia pun pergi ke danau lain.

Ikan lain bernama Pratyupannamati berkata,”Karena tidak ada kepastian akan apa yang akan terjadi di masa depan, kemanakah aku harus pergi? Jadi ketika nanti kesempatannya tiba, aku akan lakukan sesuatu.”

Seperti dikatakan :

Ia yang mengatasi bencana disaat bencana itu datang,
Adalah memang seorang pandai,
Seperti istri dari pedagang,
Melindungi keberadaan kekasih gelapnya.


Yadbhavishya bertanya,”Bagaimanakah kisahnya?”

Ia pun menceritakan :

Kisah Saudagar, Istri, dan Kekasih Gelap Istrinya


Di suatu kota bernama Vikramapura, hiduplah seorang saudagar bernama Samudradatta. Istrinya, Ratnaprabha, suka menyenangkan dirinya dengan salah satu pelayannya.

Suatu kali Samudradatta melihat Ratnaprabha mencium wajah pelayan tersebut. Lantas wanita tak jujur itu pun langsung menghampiri suaminya dan berkata,”Tuan! Pelayan ini pastilah menganggap tidak ada masalah setelah ia mencuri camphor [?] dan memakannya. Ini saya ketahui setelah mencium bau mulutnya.”

Seperti disebutkan :

Jumlah makanan yang dimakan wanita, dua kali lipat,
Kepandaiannya adalah 4 kali lipat,
Kekuatannya, 6 kali lipat,
Dan nafsunya, 8 kali lipat.


Ketika pelayan mendengar ini, ia sangat marah dan berkata,”Tuan! Siapa yang dapat hidup di rumah dimana tingkah laku istrinya seperti itu? Seorang tuan rumah mencium mulut pelayannya setiap waktu!”

Sambil mengatakan ini ia pun berdiri dan melangkah pergi. Namun sang saudagar menenangkannya.

“Untuk itulah aku berkata,”
Ia yang mengatasi bencana ketika bencana itu datang,
Adalah benar-benar seorang pandai.

Lalu Yadhabhavishya berkata,
Apa yang tidak ditakdirkan, tidak akan terjadi,
Jika telah ditakdirkan, tidak dapat dipungkiri,
Lalu mengapa penawar ini,
Yang menghilangkan racun kegelisahan, tidak diminum?


Keesokan paginya, ketika Pratyutpannamati ditangkap di jaring nelayan, ia pun pura-pura tewas dan berbaring diam disana. Lalu ketika ia dipindahkan dari jaring, ia langsung lompat dengan sigap masuk kembali ke dalam air. Namun Yadbhavishya tertangkap oleh nelayan dan tewas terbunuh.

“Untuk itulah aku berkata,’Seorang yang merencanakan untuk masa depan, dst.’ Jadi tolong lakukan sesuatu untuk menolong saya pindah ke danau yang lain.”

Para angsa berkata,”Ketika kita sudah tiba di danau lain, kamu akan aman. Namun dimana keamanannya ketika kamu berpindah tempat?”

Kura-kura berkata,”Tolong atur sebagaimana rupa supaya saya bisa juga terbang dengan kalian.”

Kedua angsa bertanya,”Bagaimanakah rencana itu bisa berhasil?”

Kura-kura menjawab,”Bawalah kayu dengan paruhmu dan aku akan berpegangan di kayu itu dengan mulutku. Jadi aku akan dapat dengan mudah pindah ke tempat lain dengan kekuatan pada sayap-sayapmu.”

Angsa berkata,”Rencana ini memungkinkan untuk dilaksanakan, namun :”

Ketika meracik ramuan obat,
Seorang bijak haruslah memikirkan juga bahayanya,
Ketika bangau bodoh sedang menyaksikan,
Bangau-bangau kecil lain yang sedang dimangsa musang.


Kura-kura bertanya,”Bagaimanakah kisahnya?”

Angsa pun menceritakan :

Kisah Bangau Bodoh, Ular Hitam, dan Musang


Di daerah utara, terbentang pegunungan Gridhrakuta. Disana pada pohon ara hiduplah sekawanan bangau. Pada kaki di lubang pohon tinggallah ular, yang biasanya memangsa bangau-bangau kecil disana.

Mendengar rintihan bangau kecil yang sedang sangat berduka akan ancaman ular, bangau dewasa berkata,”Lakukan ini. Tangkaplah ikan mati dan sebarkan potongannya dari lubang musang ke lubang ular. Lalu musang yang rakus akan mengikuti perangkap itu, mendekat pada sarang ular dan langsung memangsa ular sesuai dengan naluri alaminya.”

Hal itulah yang kemudian terjadi. Namun kemudian ketika musang mendengar tangisan dari burung bangau kecil di atas pohon, secepat kilat ia memanjat dan membunuh semua bangau kecil.

“Untuk itulah menurut kami,’Ketika membuat ramuan obat, dst.’ Ketika melihat kami membawamu, mereka akan mengatakan sesuatu. Saat mendengarnya dan ketika kamu akan memberikan jawaban, maka kematianmu akan sangat pasti. Jadi atas semua pertimbangan, urungkanlah rencana itu.”

Kura-kura berkata,”Apakah aku demikian bodoh? Aku tidak akan menjawabnya. Aku tidak akan mengatakan apapun.”

Mereka pun lalu melaksanakan rencananya. Ketika beberapa penggembala melihat kura-kura dengan gaya ini, mereka pun mengejar dan menembakinya.

Salah seorang dari mereka berkata,”Jika kura-kura ini jatuh, kita akan memasaknya dan langsung memakannya.”
Yang lain menimpali,”Kita akan me memanggang dan memakannya.”

Dan yang lain lagi berkata,”Aku akan membawanya pulang dan memasaknya di rumah.”

Kura-kura yang mendengar semua pembicaraan itu, lupa akan janjinya dan menjawab dengan marah,”Kamu hanya akan memakan debu.”

Saat ia mengatakan itu, jatuhlah ia seketika, dan tewas dibunuh oleh mereka.

“Untuk itulah aku berkata,’Seorang yang mengabaikan nasihat dari sahabatnya, dst.”

Sesudahnya bangau mata-mata datang dan berkata,”Dewa! Saya sebelumnya sudah pernah katakan bahwa benteng kita haruslah diperiksa tiap saat namun Anda mengindahkannya. Kini, inilah hasil dari kecerobohanmu. Benteng dibakar oleh gagak bernama Meghawarna atas anjuran burung hering.”

Raja Hiranyagarbha membuang napas dan berkata :

Seorang yang percaya terhadap musuh-musuhnya,
Baik karena perhatian ataupun pertolongan yang dilakukan,
Seperti halnya orang yang tidur di atas pohon,
Yang terbangun sesudah terjatuh.


Burung bangau, sang mata-mata, berkata,”Ketika Mehghawarna kembali sesudah membakar benteng disini, Raja Chitravarna sangat bergembira dan berkata,’Nobatkanlah Meghawarna sebagai Raja Karpuradweepa.’”

Seperti dikatakan :

Seorang seharusnya tidak mengabaikan
Jasa seorang pembantu,
Yang telah melaksanakan tugasnya,
Namun seharusnya bisa membahagiakannya,
Melalui penghargaan terhadap pemikiran, perkataan, dan hasil kerja.


Chakravarka bertanya,”Lalu apakah selanjutnya?”

Mata-mata menjawab,”Burung Hering berkata,’Oh Dewa! Ini tidaklah benar. Mohonlah padanya pertolongan lain.’”

Karena :

Memberikan nasihat kepada seorang yang ceroboh ,
Seperti sedang meniup debu,
Kewajiban dilakukan terhadap orang yang kejam, Oh Raja,
Seperti sedang kencing diatas tanah.


Lebih lanjut :

Seorang yang kejam seharusnya tidak ditunjuk,
Pada tingkatan yang tinggi.


Seperti dikatakan :

Orang yang rendah setelah mendapatkan,
Posisi yang terhormat,
Berhasrat untuk membunuh tuannya,
Seperti halnya seekor tikus sesudah berubah menjadi macan,
Bersiap-siap untuk membunuh seorang pertapa.


Raja Chitravarna bertanya,”Bagaimanakah kisahnya itu?”

Menteri pun mengisahkan :

Kisah Seorang Pertapa dan Seekor Tikus


Di dalam hutan, tempat dimana seorang pertapa hebat Gautama pernah melakukan penebusan dosa, tinggal juga disana seorang pertapa lain bernama Mahatapas.

Pada suatu hari, di sekitar tempat pertapaannya, ia melihat seekor tikus jatuh dari mulut burung gagak. Guru baik hati itu membawanya ke ladang padi Niwara.

Suatu hari, kucing mengejar tikus untuk dimangsa dan tikus segera lari kencang ke arah pertapa guna mencari perlindungan di pangkuannya.

Melihat ini, pertapa berkata,”Oh tikus! Berubahlah kau menjadi seekor kucing.” Suatu saat kucing pun menghindar berlari dalam kejaran anjing. Pertapa lantas berkata,”Kamu takut dengan anjing, kini berubahlah menjadi anjing. Selanjutnya melihat anjing takut dengan macan, Pertapa pun mengubahnya menjadi macan. Namun demikian, Pertapa tetap melihat macan sebagai tikus. Ketika orang-orang melihat Pertapa dan macan, mereka berkata,”Pertapa itu telah mengubah kucing menjadi macan.”

Mendengar hal tersebut macan berpikir,”Selama Pertapa ini hidup, kisah buruk tentang asal muasalku akan terbongkar.”

Dan ia pun merencanakan untuk membunuh Pertapa.

Pada akhirnya Pertapa segera mengubahnya kembali menjadi seekor tikus setelah mengetahui apa yang dipikirkannya.

“Untuk itulah aku berkata,’Seorang yang rendah sesudah memperoleh posisi terhormat, dst.’”

“Lebih jauh lagi, kamu jangan berpikir bahwa tidaklah mudah untuk melakukan ini.”

Dengarlah :

Sesudah melahap banyak ikan,
Dari jenis yang terbaik, terburuk, dan sedang,
Bangau akhirnya tewas pada cengkraman kepiting,
Karena ketamakan berlebihan.


Chitravarna bertanya,”Bagaimanakah kisahnya?”

Dan Menteri pun menceritakan :

Kisah Bangau Tamak dan Kepiting Pintar


Di Negeri Malava, terdapat sebuah danau bernama Padmagarbha. Bangau tua yang sama sekali tanpa tenaga berdiri disana, nampaknya sedang tertimpa kesedihan.

Kepiting yang memperhatikannya bertanya,”Mengapa engkau berdiri disana menolak makanan?”
Bangau menjawab,”Ikan merupakan nutrisi utama bagi hidupku dan nelayan secara pasti akan membunuh mereka. Aku mendengar obrolan ini di dekat kota. Jadi karena kekurangan gizi, kematianku sudah dekat. Mengetahui ini, aku menjadi tidak bernafsu untuk makan.”

Sesudah itu, ikan berpikir,”Saat ini sepertinya ia sendiri dapat membantu kita. Untuk itu, mari kita tanya apa yang harus dilakukan.”

Seperti dikatakan :

Kedamaian mungkin diciptakan oleh musuh,
Yang telah membantu,
Dan bukan dengan teman, yang mencelakaimu,
Karena perbuatan menolong dan mencelakai itu sendiri,
Seharusnya ditanggapi,
Sebagai tanda khusus diantara keduanya.


Lalu ikan bertanya,”Oh bangau! Apakah jalan dari perlindunganmu pada hal ini?”

Bangau menjawab,”Ada caranya. Pergilah ke danau lain! Aku akan membawamu kesana satu persatu.”

Dengan penuh ketakutan ikan menyambut,”Baiklah jika demikian.”

Sesudahnya bangau membawa ikan satu per satu mengungsi ke danau lain dan melahapnya disana.

Suatu kali kepiting berkata,”Oh Bangau! Bawalah aku kesana juga.”

Lalu bangau yang menginginkan daging kepiting yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, juga membawanya ke danau dan menaruhnya di tanah. Ketika kepiting melihat permukaan tanah yang dipenuhi dengan tulang belulang ikan, ia pun berpikir,”Alas! Nasib burukku telah tiba dan siap untuk terbunuh. Baiklah aku akan bertindak sesuai dengan waktu yang tepat.”

Sesudanya, kepiting pun mencekik leher bangau yang seketika itu juga langsung tewas.

Untuk itulah saya berkata,’Sesudah memakan sejumlah ikan, dst.’

Kemudian Raja Chitravarna berkata,”Menteri, dengarlah! Saya sudah memikirkanya. Raja Meghawarna akan menunjukkan kepada kita disini seluruh hal terbaik yang masih ada di Karpuradweepa jadi kita bisa tinggal dalam kemakmuran pada pegunungan Vindhya.”

Dooradashi tertawa dan berkata,”Dewa!”

Seorang yang bersuka cita,
Ketika memikirkan sesuatu,
Yang belum terjadi,
Adalah tercela seperti seorang Brahmin, yang memecahkan kendi.


Raja bertanya,”Bagaimanakah kisahnya?”

Menteri pun mengisahkan :

Kisah Brahmin yang Suka Berkhayal


Di kota Devakota, tinggalah seorang Brahmin yang bernama Devasharma. Pada hari Makarasankranti, ia mendapatkan banyak kendi tanah yang isinya penuh dengan makanan gandum. Lalu ia bawa kendi ini ke lumbung pembuat barang-barang tembikar. Lumbung pun dipenuhi dengan kendi tanah dan menjadikan udara gerah, ia pun jadi jatuh tertidur. Ia membawa tongkat di tangannya untuk melindungi kendi gandum dan berpikir,”Jika saja aku bisa mendapatkan 10 keping uang dengan berjualan kendi gandum ini, maka aku akan membelikannya kendi seperti ini. Menjualnya kembali dan meningkatkan pendapatanku terus dan terus. Aku akan membeli kacang betel, pakaian, dsb. Setelah mengumpulkan kekayaan besar, aku akan menikahi 4 orang wanita. Lalu diantara mereka, aku akan memberikan kasih sayang lebih kepada istriku yang diberkahi dengan kecantikan dan kesegaran. Selanjutnya jika para istri bertengkar diantara mereka, aku akan menjadi marah dan memukul mereka semua dengan tongkat ini.”

Mengkhayalkan ini semua, ia pun tanpa sengaja memukulkan tongkatnya pada kendi gandum dan juga banyak kendi yang lain. Saat pembuat barang-barang tembikar mendengar kegaduhan ini, ia segera beranjak melihat apa yang terjadi. Dan demi melihat banyak kendinya yang hancur, ia pun mengutuk Brahmin dan mengusirnya keluar dari lumbungnya.

“Untuk itulah aku berkata,’Orang yang bersuka cita terhadap sesuatu yang belum terjadi, dst.”

Lalu raja bertanya pada menteri burung hering, secara pribadi,”Tata, berikanlah nasihat apa yang kini harus dilakukan,”

Burung hering berkata :

Nasihat raja,
Dipuja dengan harga diri,
Seperti halnya kebiasaan gajah,
Yang melangkah pada arah yang salah,
Memang patut disalahkan.


“Dengarlah, Deva!” Apakah benteng ini ditaklukkan oleh kita melalui kekuatan yang sama sekali tidak mungkin atau tipu daya yang direncanakan oleh tuanmu?”

Raja menjawab,”Melalui caramu.”

Menteri berkata,”Jadi jika kamu mendengarkan saya, mari kita kembali ke negeri kita secepatnya. Jika tidak, pada awal musim penghujan, perang berlangsung lagi sementara kita masih tinggal di negeri lain, kita akan kesulitan bahkan untuk kembali ke negeri kita sendiri. Jadi, demi kebahagiaan dan kehormatan, biarkan kami membuat persekutuan dengan mereka dan kembali ke negeri sendiri. Benteng telah ditaklukkan dan untuk itulah kemashyuran dicapai. Ini sesungguhnya nasihatku.”

Seorang yang memberikan kesukaan atas tugasnya,
Terlepas dari suka atau tidak suka pada tuannya,
Dan berbicara kenyataan meskipun tidak disetujui,
Benar-benar membantu raja.


Lebih lanjut :

Orang bijak mana yang akan membahayakan temannya,
Pasukan, kerajaan, kemashyuran, dan dirinya sendiri,
Pada perang dimana hasilnya tidak pasti?


Lebih lanjut :

Seorang haruslah mencari sekutu yang sebanding,
Karena kemenangan diragukan pada pertempuran seperti itu,
Bukanlah Sunda dan Upasunda,
Yang sebanding dalam kekuatan,
Dihancurkan satu sama lain?


Raja bertanya,”Bagaimanakah kisahnya?”

Menteri pun menceritakan :

Kisah Dua Orang Raksasa – Sunda dan Upasunda


Alkisah pada jaman dahulu kala, dua orang raksasa bersaudara, Sunda dan Upasunda, yang bermoral, memuja Lord Shiva melalui pengekangan diri yang ketat untuk waktu yang lama dengan keinginan untuk menguasai ketiga dunia. Lord Shiva sangatlah berbahagia dengan keduanya dan berkata,”Mintalah satu hal.” Keduanya, dalam pengaruh Dewi Saraswati, mengatakan sesuatu yang berbeda dari apa yang mereka maksudkan,”Jika Dewa sungguh berbahagia dengan kami, biarkan kami diberikan hadiah shakti Dewa yaitu Parvati.”

Mendengar permintaan ini, meskipun Lord Shiva kesal, namun karena telah menyatakan untuk meluluskan permintaan mereka, Lord Shiva pun menyerahkan Parvati kepada para raksasa ini. Lalu keduanya yang seolah mewakili karakter dosa dan ketidakpedulian, yang menghancurkan dunia, sangatlah terpesona akan kecantikan dan pesona Parvati, dan mereka pun mulai bertengkar satu sama lain. Masing-masing mengklaim Parvati sebagai miliknya. Mereka akhirnya memutuskan untuk menyerahkan hal ini kepada seorang penengah. Lord Shiva pun muncul menampakkan diri di hadapan mereka dalam wujud seorang Brahmin tua. Selanjutnya keduanya bertanya kepadanya,”Kami telah mendapatkan Dewi ini melalui gabungan dari kekuatan kami. Milik siapakah Ia kini?”

Brahmin menjawab :

Seorang Brahmin dihormati karena pelayanannya,
Seorang Ksatrya karena kekuatanya,
Seorang Waisya karena kekayaan berlimpah dan ladangnya,
Dan seorang Sudra karena pelayanannya pada Brahmin.


“Jadi berdasarkan itu, kalian berdua telah menjalankan tugas yang tepat bagi seorang Ksatrya. Jadi pertempuran sangatlah tepat bagi kalian.” Mereka mengangguk setuju,”Beliau ini telah berkata benar.” Keduanya, yang kekuatannya sebanding, lalu saling bertarung dan terbunuhlah keduanya.

“Untuk itulah aku berkata,’Seorang haruslah mencari persekutuan dengan yang sebanding..’”

Raja bertanya,”Lalu mengapa kau tidak mengatakannya sejak kali pertama?”

Menteri berkata,”Saat itu apakah kamu mendengarkan perkataanku hingga selesai? Lebih jauh, perang ini dimulai tanpa persetujuanku. Hiranyagarbha ini yang diberkahi dengan kualitas baik, tidak layak untuk bertempur.”

Seperti dikatakan :

Ketujuh ini cocok untuk diajak berdamai:
Seorang yang jujur, baik hati, saleh, yang perbuatannya tak tercela,
Seorang yang memiliki banyak teman,
Seorang yang kuat,
Dan seorang yang menang dalam berbagai pertempuran.

Seorang yang jujur, selalu berlaku jujur,
Dan tidak melakukan penipuan,
Sesudah membentuk persekutuan,
Bahkan ketika ada bahaya dalam hidupnya,
Seorang yang baik tidak akan menyimpang dari berbuat baik.

Ketika seorang saleh diserang,
Setiap orang akan membelanya,
Demi kasih sayang,
Oleh orang lain atas kesalehannnya,
Memang sulit untuk menaklukkan orang yang saleh.

Ketika pengrusakan segera dimulai,
Seorang haruslah berdamai,
Bahkan dengan orang yang perbuatannya tercela,
Seorang yang baik hati haruslah tidak membuang waktu,
Dalam memperkerjakannya.

Seperti tanaman bambu yang diselimuti duri,
Tidak dapat dihancurkan,
Karena kehadirannya dalam jarak dekat,
Demikian pula halnya orang yang memiliki banyak teman.

Tidak ada aturan,
Bahwa orang haruslah bertarung melawan orang yang kuat,
Karena awan tidak pernah berlalu dari angin,
Melalui kekuatan dari seseorang,
Seperti putra Jamadagni38,
Yang menang dari berbagai pertempuran,
Setiap orang dibuat merendahkan diri,
Pada semua tempat dan sepanjang waktu.

Musuh segera datang di bawah pengawasannya,
Ketika seorang membentuk persekutuan dengan orang lain,
Yang telah menang di banyak pertempuran,
Karena kekuatannya.


“Untuk itu berdamailah dengan raja ini, yang telah diberkahi beragam keahlian.”

Chakravaka berkata,”Oh mata-mata! Kini kami telah mengetahui semuanya. Pergilah lagi, cari tahu semuanya, sesudahnya kembalilah kemari.”

Lantas raja bertanya pada Menteri Chakravaka,”Berapakah yang tidak layak untuk dijadikan sekutu? Saya harap juga mengetahuinya.”

Menteri berkata,”Dewa, saya akan bercerita : Tolong dengarkan!” :

Seorang anak, seorang lelaki tua,
Seorang yang telah menderita sakit berkepanjangan,
Seorang yang telah dikucilkan oleh kelompoknya,
Seorang pengecut, dan yang pelayan-pelayannya pengecut,
Seorang tamak,
Dan yang juga pelayannya tamak,
Seorang yang berpikiran tidak konsisten,
Seorang yang terperangkap dalam kesenangan duniawi,
Seorang yang menerima nasihat dari banyak orang,
Seorang yang mencela Tuhan dan Brahmin,
Seorang yang malang, percaya akan takdir,
Seorang yang diserang oleh bencana kekurangan,
Seorang yang bingung akan masalah pasukannya,
Seorang yang tidak tinggal di negerinya,
Seorang dengan banyak musuh,
Seorang yang tidak bertempur pada waktu yang tepat,
Seorang yang telah pergi,
Dari kebenaran dan keyakinan,
Adalah 20 orang,
Seorang tidak seharusnya diajak berdamai,
Namun seharusnya bertempur dengannya,
Untuk hal-hal ini ketika dalam pertempuran,
Dengan cepat ada dalam pengawasan musuh.

Sesuai dengan kekuatan seorang anak kecil,
Seorang tidak ingin terpaksa bertempur untuknya,
Karena seorang anak tidaklah mengerti,
Konsekwensi dari bertarung atau tidak.

Seorang yang tua atau sakit untuk waktu yang lama,
Kedua ini tanpa ragu,
Direndahkan oleh sanak saudaranya,
Karena keterbatasan semangat dan energi.

Menjadi sangat mudah untuk menghancurkan seseorang,
Yang telah dikucilkan oleh sanak saudaranya,
Karena sanak saudaranya ketika kemenangan telah diraih,
Malah menghancurkannya.

Seorang pencundang, karena meninggalkan perang,
Hanya akan musnah sendiri,
Sama halnya orang yang pengikutnya pengecut,
Ditinggalkan oleh mereka di medan pertempuran.

Pengikut dari raja yang tamak,
Tidak bertempur untuknya,
Karena ia tidaklah membagikan hasil rampasan,
Dan ia terbunuh oleh pengikut tamaknya,
Ketika menang oleh sogokan.

Seorang yang berpikiran tidak konsisten,
Ditinggalkan oleh pengikutnya di medan pertempuran,
Seorang yang terikat pada kesenangan berlebihan,
Dapat dengan mudah dikalahkan.

Seorang yang menerima nasihat dari semua kalangan,
Tidak disukai oleh menterinya,
Dan karena ketidakstabilan pikirannya,
Ditinggalkan oleh mereka dalam krisis.

Agama adalah kekuatan,
Jadi mereka yang menghina Tuhan dan Brahmin,
Menghancurkan dirinya sendiri; demikian juga seorang fatalis [yang bersandar hanya pada takdir].

Takdir adalah penyebab dari kemakmuran dan kesengsaraan,
Seorang fatalis juga berpikir demikian,
Tidak mengikatnya dalam pekerjaan.

Seorang yang didera kelaparan menjadi lemah,
Demikian pula, ia yang pasukannya sedang kacau tidak dapat bertempur.

Ketika seorang pergi dari negerinya,
Ia dapat saja terbunuh oleh musuh yang tidak penting,
Sama halnya dengan buaya yang tinggal di dalam air,
Dapat menarik seekor gajah besar.

Seorang yang punya banyak musuh,
Seperti merpati yang ketakutan di tengah-tengah burung elang,
Pada semua arah yang dituju,
Ia akan terbunuh suatu saat.

Seorang yang bertempur bersama dengan pasukannya,
Pada waktu yang tidak tepat,
Dibunuh oleh seorang, yang bertempur pada waktu yang tepat,
Sama halnya dengan burung gagak yang kehilangan pandangannya pada malam hari,
Terbunuh oleh seekor burung hantu.

Seorang harusnya tidak membuat persekutuan dengan orang yang,
Jauh dari kebenaran dan keyakinan,
Karena bahkan sesudah persekutuan,
Ia dengan cepat berubah hatinya,
Oleh hilangnya nilai kebaikan di dalam dirinya.


Lebih lanjut, saya menceritakan :

Kedamaian, perang, penjelajahan, pengepungan,
Mencari perlindungan dan persetujuan ganda,
Ini merupakan 6 pilihan.

Usaha untuk memulai tanggung jawab,
Manusia dan material dalam jumlah besar,
Pembagian waktu dan tempat,
Menyikapi adanya bencana,
Dan pencapaian sebuah tujuan,
Inilah lima nasihat.

Kedamaian, hadiah, menciptakan konflik dan hukuman,
Inilah empat sarana.

Energi, nasihat, dan kekuatan pasukan,
Inilah kekuatan kerajaan.


“Sesudah mempertimbangkan semua ini, yang hebat selalu meraih sukses.”

Dan seperti dikatakan :

Memang tidak dapat diselamatkan,
Bahkan dari pengorbanan hidup seseorang,
Namun Shri yang sama meskipun tidak stabil,
Berlari menuju mereka yang ahli dalam politik.


Seperti dikatakan :

Seorang yang kekayaannya tidak dipublikasikan,
Yang mata-matanya tidak diketahui,
Yang nasihatnya tidak pernah dibocorkan,
Yang tidak berbicara dengan kasar terhadap semua makhluk,
Ia mengatur dunia yang terikat pada samudera.


“Dewa! Meskipun perdana menteri burung hering telah mengajukan perdamaian, namun raja, hingga kini masih belum setuju akan kebanggaan atas kemenangan ini. Untuk itu, Oh Dewa! Tolong lakukan ini. Raja penyelamat dari Sinhala bernama Mahabala adalah teman kita. Biarkan ia menciptakan kekacauan di Jambudweepa.”

Karena :

Mengamati rahasia besar,
Dan bergerak mendekat pada pasukan sekutu dengan baik,
Seorang prajurit haruslah dapat membuat kacau musuhnya,
Bagi mereka yang sedang kacau
Berdamai dengan yang lain,
Yang juga sedang kacau.


Sambil mengatakan,”Biarkanlah demikian,” Raja memberikan dokumen rahasia kepada bangau bernama Vichitra yang kemudian mengirimkannya ke pulau Sinhala.

Lalu mata-mata datang lagi dan berkata,”Dewa! Tolong dengarkan informasi tentang tempat itu. Menteri telah berkata,’Karena Meghawarna telah tinggal disana untuk waktu yang lama, ia mengetahui apakah Raja Hiranyagarbha ini memiliki kualitas untuk diajak berdamai atau tidak.’”

Meghawarna pun dipanggil menghadap. Raja bertanya padanya,”Oh Bangau! Bagaimanakah karakter raja Hiranyagarbha? Dan bagaimana dengan menteri Chakravarka?”

Meghawarna menjawab,”Dewa! Raja Hiranyagarbha adalah seperti Yudhistira, seorang yang rendah hati. Menteri seperti Chakravarka seperti tidak dapat terlihat.”

Raja bertanya,”Jika demikian, bagaimanakah kamu dapat menipunya?”

Meghawarna tersenyum dan berkata,”

Kepandaian apakah yang diperlukan untuk menipu,
Siapakah yang mempercayaimu?
Kejantanan apakah yang diperlukan dalam membunuh seseorang?
Siapakah yang tidur diatas pangkuanmu?


“Dewa! Menteri itu mendebat saya pada pertemuan pertama itu sendiri. Namun raja sangatlah rendah hati sehingga saya dapat mengelabuinya.”

Seperti dikatakan :

Seorang yang menilai orang yang jahat,
Akan sebaik dirinya,
Ditipu olehnya,
Seperti halnya Brahmin dan seekor kambing.


Raja bertanya,”Bagaimanakah kisahnya?”

Meghawarna pun menceritakan :

Kisah Brahmin Lugu dan Tiga Penjahat


Alkisah di hutan Gautama hiduplah seorang Brahmin yang akan memulai upacara persembahan korban suci. Maka ia pun membeli kambing di kampung sebelah, membawanya di pundaknya, dan ketika sedang dalam perjalanan pulang, 3 orang penjahat mengawasinya.

Para penjahat tersebut berpikir,”Kita harus berusaha keras dalam mendapatkan kambing itu.” Mereka pun menunggu Brahmin di bawah pohon dengan masing-masing berjarak 3 km dari Brahmin berada.

Kini ketika Brahmin hampir tiba pada penjahat pertama, ia pun memanggil,”Oh Brahmin! Mengapa kamu membawa anjing di pundakmu?”

Brahmin menjawab,”Ini bukanlah anjing, ini kambing, untuk persembahan.”

Selanjutnya pada penjahat kedua, penjahat yang menunggu disana menanyakan hal yang sama kepada Brahmin. Mendengar kedua hal yang sama ini, Brahmin menaruh kambing di tanah, mengamatinya berulangkali, kembali menaruhnya di pundaknya dan melanjutkan perjalanan dengan mulai terbersit keraguan di pikirannya.

Seperti dikatakan :

Memang bahkan pikiran baik yang ragu-ragu,
Melalui ucapan dari orang yang jahat,
Seorang yang dipaksa percaya padanya,
Tewas seperti Chitrakarna.


Raja bertanya,”Bagaimanakah kisahnya?”

Ia pun menceritakan :

Kisah Singa, Gagak, Harimau, Serigala, dan Unta



Pada suatu tempat di hutan, hiduplah seekor singa bernama Madokata dengan tiga pelayannya yaitu burung gagak, harimau, dan serigala.

Suatu hari ketika mereka sedang berkeliling di hutan, mereka melihat seekor unta dan bertanya kepadanya,”Darimanakah kamu berasal sehingga terpisah sendiri dari kelompokmu?”

Maka unta pun menceritakan kisahnya hingga dapat terpisah dari kelompoknya.

Mereka pun membawanya kepada singa. Singa menjamin keselamatan hidupnya, memberinya nama Chitrakarna, dan membiarkannya tinggal bersamanya.

Karena kondisi singa yang sedang sakit dan hujan yang turun terus menerus, mereka pun menjadi kekurangan makanan dan terancam kelaparan.

Lalu mereka berpikir,”Mari kita lakukan sesuatu sehingga raja akan membunuh sendiri Chitrakarna. Apakah gunanya pemakan duri ini bagi kita?”

Harimau berkata,”Raja telah berjanji untuk menjamin keamanan dan melindunginya. Bagaimanakah rencana ini akan berhasil?”

Gagak berkata,”Saat ini, raja yang kelaparan akan melakukan perbuatan dosa.”

Karena :

Ketika dilanda kelaparan,
Seorang wanita bahkan meninggalkan putranya,
Ketika dilanda kelaparan,
Seekor ular akan memakan telurnya sendiri,
Dosa apakah yang tidak dilakukan seorang yang kelaparan?
Bahkan yang kurus menjadi kejam.


Lebih lanjut :

Seorang yang teracuni dan seorang yang ceroboh,
Seorang yang gila dan seorang yang lelah,
Seorang yang marah dan seorang yang lapar,
Seorang yang tamak dan seorang yang pemalu,
Seorang yang bodoh dan seorang yang bersemangat,
Merekalah yang tidak tahu etika.


Sesudah memikirkan hal tersebut, mereka pun mendekati singa.

Singa bertanya,”Sudahkah kalian mendapatkan makanan?”

Gagak berkata,”Dewa! Bahkan setelah berusaha dengan kuat, kami tidak mendapatkan apapun.”

Singa bertanya lagi,”Lalu kini bagaimanakah kita bertahan hidup?”

Gagak berkata,”Oh Raja! Dengan menghilangkan persediaan makanan yang ada, kerusakan akan terjadi.”

Singa bertanya lebih lanjut,”Makanan apakah yang ada di persediaan kita?”

Gagak berbisik di telinganya,”Chitrakarna.”

Singa menyentuh tanah, lalu telinganya dan berkata,”Aku telah berjanji akan keamanannya dan melindunginya disini. Bagaimanakah ini mungkin terjadi?”

Karena :

Bukanlah karena hadiah tanah juga bukan karena emas,
Bukan karena sapi bukan karena makanan,
Yang lebih hebat selain sebuah keamanan.


Terlebih lagi :

Ketika seorang melindungi orang lain,
Yang mencari perlindungan,
Ia mendapatkan buah dari kesenangan dari semua keinginan,
Seperti dari persembahan seekor kuda.


Gagak berkata,”Tuan mungkin bukan yang membunuhnya. Tetapi kami yang akan melakukannya sedemikian rupa sehingga unta akan berpikir ini adalah Persembahan.

Mendengar hal tersebut, singa tetap saja diam.

Atas rencana licik ini, gagak mengajak semuanya menemui singa pada suatu kesempatan.

Gagak berkata,”Dewa! Bahkan sesudah usaha yang berat, kami tidak menemukan makanan apapun dan tuanku menderita karena tidak makan selama beberapa hari. Jadi kini nikmatilah dagingku.”

Karena :

Memang raja adalah pendukung dari semua rakyatnya,
Usaha manusia berhasil,
Hanya jika pohon memiliki akar.


Singa menjawab,”Lebih baik mati daripada memenuhi keinginan itu.”

Serigala juga menyampaikan hal yang sama, menyerahkan dirinya untuk singa.

Raja menjawab,”Tidak seperti itu.”

Lalu harimau berkata,”Semoga Tuan dapat hidup atas tubuhku.”

Singa menjawab,”Ini tidaklah benar. “

Selanjutnya Chitrakarna juga memiliki kepercayaan yang sama untuk menyerahkan dirinya.

Sesudahnya harimau segera membunuh dengan menyabik perut unta. Sekejap kemuidan, unta malang itu pun dilahap beramai-ramai.

“Untuk itulah aku berkata,’Bahkan pikiran baik yang ragu-ragu, dst.”

Selanjutnya ketika Brahmin itu mendengar suara dari penjahat ketiga, ia pun percaya bahwa ia benar-benar salah. Lalu dibuanglah kambing itu, membersihkan tubuhnya, dan pulang ke rumahnya.

Para penjahat pun segera membawa kambing itu dan memakannya beramai-ramai.

“Untuk itulah aku berkata,’Seorang yang menilai orang jahat sebaik dirinya, dst.’”

Raja berkata,”Meghawarna! Bagaimanakah kamu dapat tinggal demikian lama di tengah-tengah musuh? Bagaimanakah caranya?”

Meghawarna menjawab,”Dewa! Apa yang seorang tak dapat lakukan, ketika seorang sangat ingin menjalankan tugas tuannya atau menurut minat dari dirinya sendiri?”

Seperti dikatakan :

Oh Raja, janganlah seorang membawa bahan bakar di atas kepalanya,
Yang pasti akan terbakar nantinya?
Arus sungai meskipun menyirami pepohonan,
Pada akhirnya akan mencabut pepohonan.


Seperti juga dikatakan :

Ketika seorang bijak telah memiliki motif,
Ia harus membawa musuh pada pundaknya,
Seperti halnya ular tua yang membinasakan katak.


Raja berkata,”Bagaimanakah kisahnya?”

Dan Meghawarna pun menceritakan :

Kisah Ular Jahat dan Raja Katak Bodoh



Pada taman yang terpencil, hiduplah seekor ular tua bernama Mandavishya. Karena sudah sangat tua, ia pun kesulitan untuk mencari makanan sendiri. Sehari-harinya ia berbaring di pinggir danau dan menunggu makanan disana. Lantas seekor katak melihat tindakannya dari kejauhan dan bertanya,”Mengapa kamu tidak mencari makanan?”

Ular berkata,”Teman! Pergilah. Apakah gunanya bertanya padaku. Aku hanyalah makhluk yang tidak beruntung.”

Penasaran dengan hal tersebut, katak berkata,”Beritahukanlah padaku semuanya.”

Ular berkata,”Teman, karena nasib buruk dan sifat alamiku yang jahat. Aku menggigit putra Brahmin yang baru berusia 20 tahun bernama Kaundiya di Brahmapura, yang dianugrahi semua kualitas baik. Melihat putranya wafat, Kaundiya menjadi tidak sadarkan diri dan jatuh limbung. Lantas semua sanak keluarganya yang ada di Brahmapura datang dan berkumpul.

Seperti dikatakan :

Pada sebuah perayaan, pada sebuah bencana,
Pada sebuah pertempuran, ketika bencana kelaparan datang,
Ketika kerajaan dalam keadaan kacau,
Pada pintu gerbang kerajaan, dan juga pada tempat pembakaran,
Orang-orang yang berkerumun disana adalah sanak saudara.


“Disana Sanataka yang bernama Kapila berkata,”Oh Kaundinya! Dasar bodoh. Pantaslah kamu berduka. Dengarlah!”

Perpindahan membuat seorang anak ada di pangkuannya terlebih dahulu,
Saat anaknya lahir,
Dan kemudian ibunya,
Lalu apakah alasan untuk menderita?

Kemanakah perginya pelindung dunia?
Dengan pasukan dan armadanya?
Dunia ini terus ada hingga kini,
Seperti halnya saksi mata atas ketiadaannya.

Tubuh hancur sebentar lagi,
Kekayaan adalah pusat kesengsaraan,
Persekutuan seiring dengan perpecahan,
Semua yang lahir adalah tidak kekal.

Kebusukan pada setiap waktu,
Tubuh ini tidak diamati untuk melakukannya,
Namun hanya saat hal itu hancur,
Seperti halnya makanan mentah dalam kendi tanah.

Makhluk hidup pergi lebih dekat dan dekat,
Menuju kepada kematian hari demi hari,
Seperti seorang yang dihukum mati, ketika sedang dilaksanakan,
Pada tempat hukuman mati, langkah demi langkah.

Ketidakkekalan adalah muda, indah,
Hidup, akumulasi dari kekayaan,
Kekayaan dan sahabat terkasih,
Seorang yang bijak tidaklah dibingungkan oleh mereka.

Seperti halnya dua buah kayu,
Hadir bersama di samudera,
Dan setelah bertemu, mereka pun berpisah,
Demikian halnya dengan makhluk hidup.

Seperti pengembara yang berteduh,
Dan melanjutkan perjalanan sesudah beristirahat,
Sahabat adalah seperti itu.

Jika tubuh, yang terbuat dari lima elemen39,
Larut bersama,
Dan setiap elemennya kembali ke bentuk awal,
Karenanya, mengapa bersedih?

Seperti banyak anak panah kesedihan,
Disimpan pada hati seseorang,
Seperti jumlah sahabat,
Seorang menjadi kekasih bagi yang lain.

Persahabatan yang abadi ini,
Tidaklah diperoleh oleh setiap orang,
Bahkan dengan tubuhnya sendiri,
Lantas bagaimanakah hal itu dengan orang lain?

Sekutu itu sendiri penting,
Kemungkinan untuk berpisah,
Seperti halnya kelahiran mendekati kematian,
Yang tidak dapat dielakkan.

Persahabatan dengan orang yang dikasihi,
Menyenangkan pada awalnya,
Namun hasilnya menakutkan,
Seperti makan makanan tidak bergizi.

Seperti halnya arus sungai,
Yang terus mengalir dan tak pernah kembali,
Demikian pula halnya dengan siang dan malam,
Setelah mendapatkan hidup duniawi sepanjang waktu.

Di dunia ini, persahabatan dengan yang baik,
Memberikan kesenangan besar,
Lantas dengan kualitas baik dari akhir perpisahan,
Ditempatkan pada ujung penderitaan.

Itulah sebabnya yang baik tidak memerlukan,
Persahabatan dari orang-orang suci,
Karena tidak ada obat penawar bagi pikiran,
Yang telah dilukai oleh pedang perpecahan.

Meskipun itikad baik telah dilaksanakan,
Oleh raja, Sagara, dan yang lain,
Namun mereka akan dibinasakan,
Sesuai dengan perbuatannya.

Saat memikirkan tentang Kematian,
Yang hukumannya mengerikan,
Semua usaha orang bijak berkurang,
Seperti gelang kulit yang terendam oleh air hujan.

Pada hari pertama saat banyak lelaki pemberani,
Memasuki rahim [untuk kelahiran berikutnya],
Dari sanalah kemudian mereka mendekat menuju kematian,
Dengan perjalanan tak terputus.


“Untuk itu pahamilah dunia. Penderitaan bukanlah apa-apa melainkan perwujudan dari ketidaktahuan.”

Lihatlah :

Jika penderitaan bukanlah penyebab dari ketidaktahuan
Tapi perpecahan penyebabnya,
Lantas seiring bergulirnya waktu,
Mengapa penderitaan malah menurun dan bukan meningkat?


“Untuk itulah, pada hal ini, mantapkanlah pikiranmu. Janganlah merenungkan tentang kesedihan.”

Karena :

Dipengaruhi oleh kejadian mendadak,
Dari luka akibat penderitaan kejam,
Yang mempengaruhi indra-indra penting,
Kestabilan adalah obat mujarab.


“Sesudah mendengarkan kata-katanya, Kaundiya, seolah-olah bangkit dan berkata,”Kini cukuplah hidup di rumah seperti neraka. Saya leibh baik pergi ke hutan.”

Kapila berujar lagi :

Bahkan di hutan, ajakan tetap ada,
Bagi mereka yang bernafsu,
Bahkan di rumah, pengendalian diri
Dari kelima indra adalah penebusan dosa itu sendiri,
Seorang yang memaksa dirinya sendiri,
Yang tidak dapat disalahkan,
Dan telah menundukkan nafsu besar.
Rumah itu sendiri adalah hutan kecil penebusan dosa baginya.


Karena :

Meskipun sedang berduka,
Seorang seharusnya melakukan kewajiban rohaninya,
Dan memperlakukan semua makhluk sama,
Biarkan mereka semua dalam pertapaan,
Simbol eksternal bukanlah esensi dari agama.


Seperti dikatakan :

Makanan demi perlindungan,
Hubungan seksual demi keturunan,
Berbicara demi kebenaran;
Orang seperti itu mengatasi kesulitan.


Dan juga :

Jiwa adalah sungai,
Dengan pengendalian diri bagi tempat-tempat suci,
Kebenaran bagi air,
Karakter baik untuk tepian sungai,
Kasih sayang untuk gelombangnya;
Apakah agamamu berenang di dalamnya, Oh putra Pandu,
Jiwa terdalammu tidaklah disucikan oleh air.


Dan dengarlah dengan baik :

Diserang oleh kelahiran, kematian,
Usia tua, penyakit, dan penderitaan,
Seorang yang meninggalkan dunia yang fana ini,
Menemukan kebahagiaan.

Hanya ada penderitaan namun bukan kebahagiaan,
Karena itulah yang dipahami,
Pada hilangnya penderitaan yang dialami,
Berganti menjadi kebahagiaan.


Kaundinya berkata,’Memang benar demikian.’”

“Sesudah itu Brahmin yang sedang berduka itu mengutukku,’Mulai saat ini, kau akan menjadi kendaraan bagi katak.”

“Kapila berkata,’Saat ini, kamu tidak dapat mendengarkan nasihatku karena sedang diliputi kesedihan. Dengarkanlah apa yang harus dilakukan.’”

Pergaulan seharusnya :

Dihindarkan terhadap setiap orang;
Jika tidak memungkinkan,
Seharusnya hanya dengan yang baik,
Karena pergaulan dengan yang baik adalah penawarnya.

Nafsu seharusnya benar-benar dihentikan,
Jika itu tidak memungkinkan,
Lalu harus diarahkan pada pasangannya sendiri,
Itulah penawarnya.


Ketika Kaundiya mendengar hal ini, pijaran api penderitaannya digantikan oleh nasihat baik dari Kapila dan ia pun menjadi sanyasi.

“Untuk itulah, karena kutukan Brahmin, saya tetap tinggal disini untuk membawa katak.”

Lalu kemudian katak menuju ke Jalapada menemui raja katak dan menceritakan semua hal kepadanya. Raja katak pun muncul dan mendaki ke punggung ular. Ular membawanya diatas punggungnya dan beranjak dengan gaya yang berbeda. Keesokan harinya, melihatnya sulit untuk bergerak, raja katak pun bertanya kepadanya,”Mengapa kamu sungguh sulit bergerak hari ini?”

Ular berkata,”Dewa! Aku sangat lemah karena ketiadaan makanan.”

Raja katak menjawab,”Makanlah katak itu atas ijinku.”

Dijawab oleh Ular,”Saya terima bantuan Tuan.”

Maka ia pun mulai memangsa katak-katak itu. Dan setelah ia melihat tidak ada lagi katak yang tersisa, ia pun juga memangsa raja katak.

“Untuk itulah aku berkata,’Ketika seorang bijak memiliki motif, ia akan membawa musuhnya di atas pundaknya.’”

Menteri berkata,”Dewa! Hentikan kisah tentang apa yang sudah terjadi. Raja Hiranyagarbha layak untuk perdamaian. Aku memerintahkan untuk berdamai dengannya.”

Raja berkata,”Nasihat apakah ini? Karena ini telah dimenangkan oleh pihak kita. Maka jika ia sekarang menjadi pelayan kita, maka biarkanlah demikian, jika tidak mari kita kembali berperang.”

Saat itu, burung beo tiba dari Jambudweepa dan berkata,”Dewa! Burung bangau raja Sinhala telah mengepung Jambudweepa.”

Raja bertanya dengan khawatir,”Apaa..?? ”

Burung Beo mengulangi apa yang telah diucapkannya.

Menteri burung hering berkata kepadanya,”Hebat, menteri Chakravarka, kamu memang yang serba tahu! Hebat!”

Raja berkata dengan emosi yang tinggi,”Biarkan ia disana! Saya harus pergi dan mengalahkannya.”

Lantas Dooradashi tertawa dan berkata :

Seorang haruslah tidak mengeluarkan suara tidak penting,
Bagai awan ketika musim gugur,
Lelaki hebat tidaklah menonjolkan diri,
Akan keuntungan dan kerugian dari mustuhnya.


Lebih lanjut :

Seorang raja seharusnya tidak bertempur melawan banyak musuh,
Pada waktu yang bersamaan
Bahkan ular sombong itu benar-benar,
Dihancurkan oleh banyak semut.


“Dewa! Bagaimana kita bisa pergi dari sini tanpa membuat perdamaian? Karena ia akan membuat masalah ketika kita pergi.”

Lebih lanjut :

Tanpa mengetahui dengan pasti masalah sebenarnya,
Seorang yang menyerah kepada kemurkaan,
Selanjutnya ditangani dengan kedukaan,
Bagaikan Brahmin bodoh karena seekor musang.


Raja bertanya,”Bagaimanakah kisahnya?”

Dooradashi pun mengisahkan :

Kisah Brahmin yang Gegabah dan Musang yang Setia


DI kota Ujjayini seorang Brahmin bernama Madhava hidup bersama istrinya yang baru saja melahirkan seorang anak laki-laki. Brahmin bertugas menjaga anaknya saat istrinya sedang mandi.

Ketika sedang menjaga anaknya, utusan istana datang mengirimkan undangan dari raja baginya untuk menerima persembahan pada perayaan Sraddha.

Karena keadaan ekonominya yang kurang berkecukupan, ia pun berpikir,”Jika aku tidak segera berangkat, orang lain akan mendengar tentang hal ini dan mengambil persembahan perayaan Sraddha itu.”

Seperti dikatakan :

Apa yang akan diambil dan apa yang akan diberikan,
Atau perbuatan yang seharusnya dilakukan,
Hal ini jika tidak segera dilaksanakan,
Waktu yang akan menghabiskan intisarinya.


“Akan tetapi, tidak ada yang menjaga bayiku disini. Apa yang harus aku lakukan? Mungkin aku harus mempercayai si musang, yang sudah menjagaku sejak lama dan sudah seperti anakku sendiri. Jadi biarlah musang yang menjaga bayiku sementara aku pergi ke istana.”

Pergilah sang Brahmin menuju istana meninggalkan bayinya bersama musang.

Sesudah itu, seekor ular hitam, bergerak lambat mendekati bayi. Musang mengawasi perbuatan ular ini. Musang langsung menyambar ular dalam kemarahan dan membuatnya terbunuh berkeping-keping.

Ketika musang melihat Brahmin telah kembali, ia pun segera menghampirinya dengan wajah dan kaki coreng moreng oleh darah, berguling-guling pada kakinya.

Demi melihat musang dalam keadaan demikian, Brahmin pun berpikir,”Pasti musang ini telah memakan anakku,” dan seketika membunuh musang.

Selanjutnya Brahmin masuk ke dalam rumah dan melihat anaknya tidur dalam damai dengan ular yang tewas ada di dekatnya. Sadar akan kebaikan musang, benaknya pun dipenuhi penyesalan yang dalam.

“Untuk itulah aku berkata,’Tanpa mengetahui dengan pasti masalah sebenarnya, dst.

Lebih lanjut :

Seorang seharusnya menghentikan enam hal ini:
Nafsu, kemurkaan, dan keterikatan,
Ketamakan, kebanggaan diri, dan kemabukan;
Ketika keenam ini dihentikan, raja menjadi bahagia.


Raja berkata,”Menteri! Apakah ini keputusanmu?”

Menteri menjawab,”Sepertinya demikian,”

Karena :

Ingatan akan masalah penting,
Kekuatan analisa,
Pengetahuan cukup, keteguhan, dan menjaga rahasia;
Ini merupakan kualitas terbaik dari seorang menteri.


Karena disebutkan :

Seorang seharusnya tidak melakukan setiap pekerjaan dalam ketergesaan,
Karena kurangnya penelitian mendalam membawa pada bencana;
Kekayaan itu sendiri mencari seorang,
Yang bertindak seusai dalam kaitan pertimbangan,
Tertarik oleh kebaikannya.


“Jadi Dewa! Jika kamu mengikuti nasihatku, berdamailah dengannya dan kita pergi.”

Karena :

Meskipun empat penawar disarankan
Guna mencapai tujuan,
Hasil yang didapatkan melaluinya,
Hanyalah sekedar nama,
Sementara kesuksesan nyata ada dalam perdamaian.


Raja bertanya,”Bagaimanakah ini terjadi?”

Menteri menjawab,”Dewa! Itu akan segera terjadi.”

Lihatlah :

Seorang bodoh dapat dengan mudah dipuaskan,
Sementara seorang terpelajar dapat dipuaskan lebih mudahnya,
Namun bahkan Brahma tidak dapat menyenangkan manusia,
Yang angkuh hanya dengan sedikit pengetahuan.


“Terutama sekali, Raja mengetahui tugasnya dan menteri juga mengerti semuanya. Ini saya pelajari dari pembicaraan Meghawarna dan melalui kerja yang mereka lakukan.

Karena :

Dimanapun keberadaan kebaikan mereka,
Yang tidak terlihat,
Diketahui melalui perbuatan mereka,
Untuk itulah perbuatan yang tidak terlihat,
Dapat ditebak melalui hasil yang diperoleh.


Raja berkata,”Cukup sudah jawaban atas jawaban ini! Lakukan sesuai yang kamu inginkan.”

Setelah berunding, perdana menteri burung hering berkata,”Apapun yang sesuai disini, harus dilakukan.” Lalu ia pun masuk ke dalam benteng.

Kini burung gagak yang diutus sebagai mata-mata, datang dan berkata kepada Hiranyagarbha,”Perdana menteri burung hering telah datang untuk membuat perjanjian.”

Mendengar hal ini, angsa kerajaan berujar,”Menteri! Mungkin ada alasannya!”

Menteri serba tahu tertawa dan berkata,”Dewa! Tidak ada tempat untuk keragu-raguan, karena burung hering Dooradarshi ini adalah seorang yang rendah hati. Bagaimanapun, mereka dengan kecerdasan rendah, tidak akan curiga sama sekali di suatu waktu, akan tetapi di lain waktu mereka bisa sangat mencurigai segalanya.”

Seperti contohnya :

Seekor angsa, yang mencari tangkai bunga padma,
Pada malam hari di danau,
Dan diperdaya sesaat,
Oleh bayangan dari jutaan bintang,
Tidak menggigit bunga padma putih lagi
Bahkan di siang hari mencurigai mereka untuk menjadi bintang;
Mereka yang telah berbohong,
Mencurigai iblis bahkan dalam kebenaran.

Ketika pikiran seseorang diganggu oleh kejahatan,
Ia tidak memiliki keyakinan bahkan dalam kebaikan,
Seorang anak kecil yang sekali pernah terbakar oleh susu panas,
Memakan dadih susu setelah mendinginkannya,
Dengan meniupnya dengan mulutnya.


“Untuk itulah Dewa, sesuai dengan kemampuan terbaikmu, siapkanlah permata dan hadiah lainnya dalam penyambutannya.”

Setelah ini dilakukan, Chakravaka mendekati menteri burung hering, hormat padanya, membawanya pada gerbang benteng dan mengantarkannya pada raja. Ia kemudian duduk pada tempat yang disediakan.

Chakravaka berkata,”Semua ini milikmu. Nikmatilah kerajaan ini sesuai yang kau inginkan.”

Angsa kerajaan berkata,”Memang benar demikian.”

Lantas Dooradarshi berkata,”Ya, biarkanlah demikian. Namun untuk saat ini, percakapan yang panjang kurang berguna.”

Karena :

Seorang seharusnya memikat orang yang tamak,
Melalui kekayaan,
Seorang yang besar kepala,
Melalui salam penghormatan,
Seorang bodoh, melalui khayalannya,
Dan seorang bijak melalui kebenaran.


Lebih lanjut :

Seorang seharusnya mempengaruhi temannya,
Dengan perasaan tulus hati,
Hubungan, melalui penyambutan mereka,
Istri dan para pelayan,
Dengan hadiah dan perhatian,
Dan orang lain, dengan kesopanan.


“Untuk itulah berdamailah dengan Raja Chitravarna perkasa ini dan biarkan ia pergi.”

Chakravarka memohon,”Tolong jelaskan, perdamaian seperti apakah yang dapat diciptakan.”

Raja bertanya,”Berapa jenis perdamaian ada disana?”

Burung hering menjawab,”Saya akan menguraikannya. Harap dengarkan.”

Ketika musuh yang digjaya melakukan serangan,
Dan tidak ada jalan keluar lain,
Seorang raja yang sedang dalam paksaan,
Bermain waktu dengan memohon demi perdamaian.

Kapala, Upahara, juga Samtana dan Samgata,
Upanyasa, Pratikara, Samyoga, Purushantara,
Adrishtanara, Adistha, Atmadishta, Upagraha,
Parikraya, Utchanna, Parabhushana,
Dan Skandhopaneya :
Keenambelas ini adalah ragam perdamaian,
Para ahli yang sangat berpengalaman dalam ilmu perdamaian,
Juga menyebutkan keenambelas ini.

Itu haruslah dikenal sebagai Kapala Sandhi;
Yang dilakukan diantara hanya yang setara,
Dan yang terjadi,
Melalui pertukaran hadiah;
Adalah Upahara Sandhi.

Samtana Sandhi harus diketahui
Sebagai sesuatu yaitu,
Mempersembahkan anak perempuan dalam pernikahan,
Dan Samgata Sandhilah itu,
Yang disebut setelah menumbuhkan
Persahabatan dengan kebaikan.

Selama hidup berlangsung,
Terdapat gambaran kesamaan minat,
Dan bukan kemakmuran, juga bukan kemalangan,
Yang itu telah hancur karena suatu alasan;
Ini adalah Samgata Sandhi saja,
Karena kecerdasannya,
Telah dinyatakan sebagai emas,
Oleh para ahli pembuat perdamaian.

Seorang yang berbuat guna menuju pencapaian,
Dari tujuan masa depan;
Itu disebut Upanyasa Sandhi,
Oleh mereka yang ahli dalam etika.

Saya telah berkewajiban sebelumnya kepadanya,
Ia akan melakukan hal yang sama terhadapku;
Perdamaian itu yang dibuat,
Disebut Pratikara Sandhi.

Saya membantunya,
Dan ia juga akan melakukan hal yang sama untukku;
Itu juga disebut Pratikara Sandhi,
Seperti Rama dan Sugriwa.

Menuju pada tujuan bersama,
Seorang yang melaju dengan sekutu,
Disertai dengan pertemuan-pertemuan;
Itu disebut Samyoga Sandhi.

Biarkan tujuan kita tercapai,
Oleh ksatria utama kita;
Persekutuan, dimana sumpah telah dibuat,
Disebut dengan Purushantara Sandhi.

Kamu sendiri akan melaksanakan,
Tujuanku ini,
Dimana musuh membuat suatu kondisi,
Itu disebut dengan Adrishtanara Sandhi.

Mereka yang ahli dalam membuat perdamaian,
Disebut dengan Adishta Sandhi;
Dimana perdamaian dibuat dengan menyerahkan,
Bagian dari daratan untuk musuh yang kuat.

Persekutuan dengan pasukan orang lain,
Disebut dengan Atmadishta Sandhi;
Yang dilakukan demi keselamatan hidup orang lain,
Dengan memberikan semuanya; adalah Upagriha Sandhi.

Dengan memberikan sedikit,
Setengah bagian atau bahkan harta karun penuh,
Demi penyelamatan sisa pasukan;
Itu disebut dengan Parikraya Sandhi.

Perdamaian dengan memberikan ladang hasil panen;
Disebut dengan Utchanna Sandhi;
Yang dibuat melalui hadiah
Dari semua hasil satu pertanian,
Disebut dengan Parabhushana Sandhi.

Dimana jumlah yang terbatas dari hasil pertanian,
Yang dapat ditanggung di pundak, diberikan;
Perdamain seperti itu disebut
Skandhopaneya Sandhi,
Oleh para ahli pembuat perdamaian.

Kewajiban timbal balik, persahabatan,
Hubungan dan hadiah;
Keempat ini dikenal sebagai jenis-jenis perdamaian.

Diluar dari Upahara Sandhi sendiri,
Adalah perdamaian sebenarnya,
Ini murni pendapatku.
Yang lainnya berbeda dari Upahara Sandhi,
Adalah tanpa elemen persahabatan didalamnya.

Penyerbu karena kekuatannya,
Tidak akan kembali tanpa mendapatkan apapun,
Untuk itulah selain Upahara Sandhi,
Tidak ada jenis perdamaian lain yang tersisa.


Raja berkata,”Kamu sungguh hebat dan pandai. Jadi beritahukanlah pada kami apa yang harus dilakukan saat ini.”

Menteri bertanya,”Mengapa Tuan bertanya demikian?”

Karena :

Siapa yang memang ingin berbuat tidak benar,
Demi karena suatu tubuh,
Yang akan musnah hari ini atau esok,
Melalui cobaan berat jiwa atau tubuh.

Tidak kukuh seperti bayang-bayang bulan,
Di tengah-tengah air,
Adalah memang kehidupan dari makhluk hidup,
Mengetahui itu seperti demikian,
Seorang haruslah melakukan hal yang berguna.

Melihat dunia akan musnah dalam sekejap,
Seperti fatamorgana,
Seorang seharusnya membangun persahabatan dengan orang baik,
Demi kewajiban agama dan kebahagiaan.


“Jadi berbuatlah sesuai dengan keyakinanku.”

Karena :

Ribuan kuda berkorban dan kebenaran,
Ketika ditimbang terhadap satu dan yang lain,
Kebenaran sendiri lebih berat daripada
Ribuan kuda yang dikorbankan.


“Jadi biarkanlah perdamaian yang disebut Kanchana terjadi diantara kedua raja, dimana membicarakan kebenaran adalah keistimewaan utama.

Yang serba tahu berkata,”Biarkanlah demikian.”

Lalu Menteri Dooradarshi dihadiahi pakaian, perhiasan, dll. oleh angsa kerajaan. Dengan berbahagia, ia pun mengajak Menteri Chakravarka menuju ke tempat raja burung merak. Disana Raja Chitravarna, mengikuti nasihat dari burung hering, menyambutnya dengan hormat yang dalam, dan menerima rencana perdamaian. Selanjutnya ia mengirimkannya kembali kepada angsa kerajaan.

Dooradarshi berkata,”Dewa! Keinginanmu telah terpenuhi. Jadi sekarang marilah kita kembali ke tempat asal kita, di pegunungan Vindhya.”

Lalu mereka semua pun kembali ke tanah asalnya dan hidup berbahagia sesuai dengan keinginan hati mereka.

Vishnusharma bertanya,”Apalagi yang harus aku ceritakan? Beritahukan padaku.”

Tuan Puteri menjawab,”Arya, melalui berkahmu, kami mengetahui yang diperlukan untuk jalannya kerajaan. Jadi kami merasa berbahagia.”

Vishusharma berkata,”Meskipun demikian, ada beberapa hal berikut ini:”

Semoga ‘Perdamaian’ akan ada selamanya kepada kebahagiaan
Terhadap semua raja,
Semoga kebaikan dibebaskan dari bencana,
Dan semoga kemasyhuran kebaikan,
Berjaya selamanya.

Biarkanlah kebijakan kerajaan seperti perempuan pelacur
Berada selalu diatas dada menteri,
Mencium mulut mereka,
Dan biarkan ada perayaan besar,
Dari hari ke hari.


Selain itu, demikian juga halnya :

Selama bulan sabit Tuhan
Tempat Dewa Shiva bersemayam,
Di hati Parvati
Putri dari Himalaya,
Selama Laksmi menghuni,
Di hati Dewa Vishnu,
Seperti halnya halilintar pada awan,
Selama Meru bertahtakan,
Gunung emas,
Yang mencerminkan api hutan rimba,
Dan bersinar seperti sinar matahari:
Semoga kumpulan kisah ini,
Yang disusun oleh Narayana Pandit,
Akan terus selamanya beredar.


Lebih lanjut :

Semoga Raja Dhavalachandra yang makmur ini,
Karena kerja kerasnya,
Kumpulan kisah ini,
Ditulis dan disebarkan,
Mengalahkan musuh-musuhnya.


Disini berakhirlah bagian keempat kumpulan kisah “Perdamaian”, dalam Hitopadesha.

Semoga berbahagia!

-oOo-