Dear Editor,

During my correspondence with tutdesujana, of Yayasan Widya Sari, Tianyar, I was impressed with his work and prompt replies.
I started thinking : Why does this person take so much interest in the helpless orphans?
The answer was : Out of love.
My next question to myself was :Does the love end when it reaches the children?
The answer was : Yes.
My next thought was : Should not the children themslves visit helpless and sick elderly and give them love .
The answer was :Love must flow and never end .
So I requested Tutdesujana to take the children to elderly people.

He promptly did so and took the children to the elderly and sick people.
I requested the children to write their experiences in their own way.
The response was so magnanimous from 11 children that I felt here was hidden intelligence and love.Dear Editor, Please see the photos in the attachment along with their reports.

It would be a very good idea if you publish them or news of their visit in your esteemed Bali post.
For full report:Let them visit www.chandiramani.con section 24 Indonesia : Bridge to Love.
This idea can revolutionise the social structure in Bali, when it is followed by others And for that we need your support.

With Regards,
Chandiramani



Bakti Sosial





Pada tanggal 1 januari kami melakukan kegiatan bakti sosial (bersosialisasi ) kepada orang tua renta dan cacad.
Persiapan kami sebelum berangkat adalah kami mengumpulkan uang dan juga barang bekas berupa baju, sandal, handuk, kami juga memberikan makanan berupa beras, roti, telur, kopi, gula, mie, susu.

Kami juga memberikan obat-obatan, setelah kami mempersiapkan kami pulang dan barang-barang itu kami simpan di Yayasan.
Besoknya kami berangkat ketika akan berangkat tiba-tiba hujan lebat dan disertai dengan angin kencang, sambil menunggu hujannya reda kami bermain-main dulu, tidak lama kemudian hujannya reda dan kami pun berangkat menuju rumah Nenek Kupit ketika di perjalanan salah satu tman kita mengajak kami bermain – main dan juga bernyayi-nyayi di jalan sambil meniup terompet, tidak lama kemudian kita sampai di rumah Nenek Kupit,saya sangat terkejut melihat keadaan nenek itu yang sudah tua renta dan saya juga terkejut melihat keadaan rumahnya yang sudah kecil dan bocor pada saat hujan, kami menayakan dimana suaminya dia berkata suaminya itu sudah lama meninggal sekitar 5 tahun yang lalu, kami menanyakan pula berapa dia punnya anak, dia bilang mempunnyai 4 anak tapi yang tiga anaknya itu sudah meninggal, dan sakarang dia tinggal bersama anak pertamanya yang bernama Ni Luh Rai, pekerjaan nenek ini sebagai pedagang , nenek ini berjualan tiga kali sehari pengasilannya paling besar sekitar 20 ribu.

Itu pun tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari- harinya. Nenek ini bekerja sendirian kerena anaknya itu sering kali sakit oleh karena itu tidak bisa membantu mencari nafkah ketika nenek itu bercerita saya sampai menangis, setelah kami memberi sedikit bantuan kami pulang karena sudah agak sore.
Sampai disini cerita dari saya.

Kesan dan pesan saya: Saya berharap semoga anak nenek Kupit itu tidak sakit lagi dan bisa membantu nenek Kupit mencari nafkah dan semoga nenek Kupit di berikan umur yang panjang kepada tuhan dan diberikan rejeki yang cukup untukl kebutuhannya sehari-hari dan saya berharap semoga nenek Kupit dan anaknya bahagia selamanya...

By: Puriani
Yayasan Widya Sari
Tianyar-Bali-Indonesia




Bakti Sosial



Kami mengadakan acara bakti sosial karena dalam rangka tahun baru kami ingin berbagi terhadap orang tua renta yang tidak mampu maupun orang cacad disekitar kehidupan kami. Kami dapat mengadakan acara ini karena kami membentuk kelompok dan kami menyumbang seberapapun kami mampu, dan jumlahnya cukup untuk kami berkunjung.
Kelompok kami menunjuk beberapa anggota untuk membeli peralatan yang ingin kami sumbangkan, antara lain beras, susu, buah-buahan, obat-obatan, dll.
Kami mengunjungi 4 rumah orang yang ingin kami berikan sumbangan.
Perjalanan kami kerumah orang pertama sungguh mengasikkan karena selama perjalanan kami membawa sumbangan tersebut secara bergantian dan kami sangat menikmati perjalanan tersebut.
Namun, pada saat kami tiba dirumah orang tua renta yang bernama Ni Nengah Kupit sungguh kami merasa sangat terharu dan rasanya ingin menangis melihat keadaannya karena rumah nenek tersebut sangatlah sempit dan tidak layak untuk ditempati apalagi rumah kecil itu hanya beratapkan daun kelapa dan juga atap rumah tersebut bocor. Rumah nenek itu hanya memiliki 1 kamar saja dan dia hanya tinggal dengan seorang anaknya yang bernama Ni Luh Rai.
Disebuah kamar kecil itulah nenek itu dan anaknya beristirahat dimalam hari. Penghasilan nenek itu paling banyak hanya Rp 20.000 per tiga hari.
Saya sangat kasihan melihat keadaan nenek itu karena walaupun ia hidup kurang mampu ia dapat menjalani kehidupannya bersama dengan anaknya yang sakit-sakitan.
Dengan mengadakan acara bakti sosial terhadap orang tua renta yang tidak mampu maupun orang cacad saya merasa mendapatkan pelajaran yang sangat besar dan tak ternilai harganya yang sangat berarti bagi saya.
Saya sangat senang dapat membantu orang yang tidak mampu saya juga merasa terharu melihat keadaan sesosok nenek tua renta yang tiada hentinya berjuang menjalani hidup meskipun keadaannya kurang mampu.
Saya berharap dengan adanya bakti sosial ini beban nenek tersebut dapat berkurang dan bantuan ini dapat bermanfaat bagi dirinya dan anaknya.













By: Suriani



BAKTI SOSIAL



Dalam rangka menyambut tahun baru 2011 kami anak yayasan akan mengunjungi orang tidak mampu atau cacat.
Untuk megunjungi orang tidak mampu tersebut kami membagi menjadi beberapa kelompok.
setiap kelompok harus menentukan orang yang tidak mampu tersebut di sekitar kita dan kami pun membentuk kelompok laki-laki dan setiap anak wajib membawa bingkisan berupa baju, handuk, beras, gula, susu, buah-buahan, dll.

Waktu itu tepat tanggal 1 januari 2011 kami pun kumpul di yayasan dan bersiap siap mengunjungi orang-orang yang akan kami beri bantuan.
Baru akan berangkat tiba-tiba hujan dan angi turun dengan deras.
Kami pun menunggu sambil bergurau sejenak, tidak lama hujan pun reda dan kami pun berangkat ke tempat tujuan.



Tujuan pertama kita adalah ke rumah nenek Egar , nenek Egar adalah sosok nenek yang sangat tua dan renta dan dia juga pelupa. Kami sangat senang bisa membantu nenek Egar , dan kami sangat kasihan karena dia tinggal seorang diri, sesekali kami ber foto-foto dan diatas adalah foto nenek Egar.
Setelah kami selesai mengunjungi rumah nenek Egar kami pun melanjutkan kerumah Nenek Kaler, nenek Kaler juga sosok nenek yang sangat tua dan mempunyai penyakit GONDOK, BATUK. Kami sangat kasihan kepada nenek Kaler sesekali nenek Kaler batuk-batuk.
Walau pun nenek Kaler mempunyai suami tetapi penghasilan suaminya tidak menentu.



Bakti Sosial





Pada waktu tahun baru di yayasan mengadakan Bakti Sosial.
Kami mengunjungi orang yang kurang mampu salah satunya nenek kupit.
Sebelum berkunjung ke rumah nenek Kupit kami mempersiapkan Bingkisan yang sderhana yang berisi Pakaian,Telur,beras Susu, Mie, sandal, handuk ,dan obat-obatan.
Dari persiapan tersebut kami mengumpulkan sedikit uang untuk membeli bingkisan tersebut. Pada saat kami akan berangkat kerumah nenek Kupit tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras dan disertai angin yang sangat kencang. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya hujanpun reda dan kami mulai berangkat.
Diperjalanan kami merasa sangat semangat dan kami saling bernyanyi. Setelah lama berjalan, dan akhirnya kami sampai dirumah nenek Kupit dan kami sangat terkejut melihat keadaan rumah nenek Kupit yang tidak layak untuk ditempati apalagi atap tersebut bocor.
Nenek Kupit menyambut kami dengan ramah dan mempersilakan kami masuk. Disana kami melihat anak nenek Kupit yang terbaring sakit.
Kemudian , kami berbicang-bincang dan nenek Kupit meceritakan tentang kehidupannya yang serba kekurangan.
Penghasilan nenek Kupit paling banyak hanya Rp 20.000 per tiga hari, itupun belum cukup untuk kebutuhannya sehari-hari.
Kini saya baru merasa bahwa selama ini masih banyak orang yang tidak mampu. Saya berharap kehidupan nenek Kupit bisa lebih baik.
Saya sangat sedih melihat keadaan nenek Kupit yang tidak mampu. Dan saya sangat senang karena saya mendapat pengalaman yang berarti bagi saya.

BY: Suardani



Bakti sosial

Dalam rangka Tahun Baru kami anak-anak yayasan menyambut Tahun Baru dengan cara memberi bantuan kepada orang-orang yang tidak mampu.
Pertama-tama saya senang bisa membantu orang yang tidak mampu,.
Tanggal 31 Desember tepatnya menyambut Tahun Baru kami anak-anak yayasan mengumpulkan uang Rp 5.000 dan mie instan per orang, Setelah semuanya kumpul kami mempersiapkan alat-alat untuk di sumbangkan di antaranya Beras, pakaian, susu,dll.
Dan kami membagi alat-alat itu dengan 3 bagian yang di isi di masing-masing kardus.
Besoknya kami datang ke Yayasan jam 09.00 setelah tiba disana,tiba-tiba hujan dan kami harus menunggunya, sambil menunggu hujan reda kebetulan saya lapar dan saya membeli makanan di warung terdekat.
Hujan pun reda tapi masih bergerimis,dan kami berangkat pukul 13.00 kami di bagi menjadi 3 kelompok dan saya di tugaskan untuk pergi ke rumah Nenek Kupit, dan Kakek Were.Sebelum kami berangkat kami berangkat tidak lupa kami berdoa bersama-sama.
Dan akhirnya kami berangkat,di perjalanan kami membawa bungkusan itu secara bergantian.
Di perjalanan kami bernyanyi-nyanyi , rumahnya pun cukup jauh.
Setelah sampai disana saya sangat sedih melihan rumahnya nenek Kupit, rumahnya tak memungkinkan untuk di tempati dia hanya tinggal dengan anaknya, anaknya sakit-sakitan dan suaminya sudah meninggal.
dia mempunyai 4 orang anak, meninggal 3, dan dia sekarang hanya tinggal bersama anaknya yang pertama bernama Niluh rai ia sakit-sakitan.Pekerjaan nenek kupit hanya seorang pedagang yang berjualan di pasar, dalam 3 hari Nenek Kupit hanya mendapatkan uang Rp 15-20.000.
saya sangat sedih mendengar kisah hidup nenek Kupit selama ini.
Dan kami berpoto-poto disana,saya sangat senang bisa membantu Nenek Kupit.
dan saya pun berpamita kepada Nenek kupit dan melanjutkan perjalanan yaitu ke rumah Kakek were.
Kakek wera ini menderita penyakit ganguan jiwa ,saya sangat takut mengunjunginya, karena dengar-dengar Kakek Were ini galak and serem.
ternyata kakek Wera ini pintar dan kami mengajak kakek Wera berbicara, kami memberikan bingkisan kepada Kakek Were dan kami berpamitan untuk pulang ke yayasan, Saya berharap Nenek Kupit dan Kakek Wera sehat selalu dan bahagia.
Semoga tuhan memberi rejeki yang cukup.
Demikianlah Bakti sosial kami dalam rangka Tahun baru 2011.

BY: Sukreni



Bakti Sosial

Waktu liburan sekolah,saya dan teman-teman mengisi tahun baru dengan melaksanakan Bakti Sosial denga memberikan bantuan kepada orang tua renta yang tidak mampu seperti Nenek Kupit.
ada pun yang akan kami berikan adalahberas, telur, buah-buahan, susu,mie, Pakaian, Dan Obat juga kami mempersiapkan mental kami.
Perjalanan kami menuju rumahnya Nenek Kupit cukup jauh,saya dan teman-teman harus berjalan dengan cukup jauh.
Setelah sampai di rumahnya Nenek Kupit,saya dan teman-teman menyapa dan Nenek Kupit meyapa kembali kemudia kami di suruh duduk.
Setelah itu kami bertanya-tanya tentang kehidupan Nenek Kupit, kami bertanya Nenek Kupit dengan siapa tinggal?ia menjawab Nenek tinggal dengan anak Nenek satu-satunya yang bernama Ni Luh Rai dan pertanyaan kami yang kedua adalah apa pekerjaan Nenek adalah sebagai pedagang dan ia berkata penghasilan Nenek tiga hari paling banyak adalah 20.000 ribu dan melihat keadaan rumahnya saya dan teman-teman merasa kasihan dengan kehidupan yang dijalani oleh Nenek Kupit.
setelah itu kami meyerahkan bingkisan itu lalu kami mengajak Nenek Kupit berpoto bersama teman-teman.
dan kami langsung pamit dan melanjutkan perjalanan yang kedua yaitu menuju rumahnya Kakek tut wera yang tinggal di tukad deling.
sampai di sana kami meyapa dan Kakek tut Wera meyapa kembali,tidak tau kenapa kakek itu langsung mengajak kami bicara dan untung ada salah satu teman dari kami yang menjawab semua pertayaannya.
lama kemudian kami meyerahkan bingkisan itu kepada Kakek tut Wera,kami sangat ketakutan karena kakek tut wera memiliki gangguan jiwa.
dan saya berharap semoga cepat sembuh,dan untuk nenek kupit semoga di berikan anugrah oleh tuhan.

By: Devi



Bakti Sosial



Pada Tahun Baru di yayasan kami mengadakan Bakti Sosial bagi orang yang tidak mampu salah satunya nenek Kupit. Sebelum kami melakukan perjalanan kami melakukan persiapan yaitu sebuah Bingkisan yang sederhana yang berisi Beras, Telur, Susu, Mie, Sandal, Handuk, Kopi, Gula dan Obat-obatan, dari persiapan tersebut kami mengumpulkan uang untuk membeli Bingkisan.
Ketika saat kami berangkat ke rumah nenek Kupit tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras dan disertai angin.
Setelah menunggu lama hujan berhenti kami pun mulai berangkat, di perjalanan salah satu teman kami memberi semangat agar kami lebih semangat untuk melakukan Bakti Sosial.

Setelah lama berjalan kami sampai di rumah nenek Kupit daqn kami terkejut melihat keadaan rumah nenek Kupit yang tidak sepatutnya untuk ditempati, dinding rumahnya bocor dan rusak.
Kemudian kami disambut dengan ramah oleh nenek Kupit dan kami dipersilakan masuk, kami melihat anak Nenek Kupit yang terbaring sakit.
Dia mengajak kami berbincag –bincang dan nenek Kupit bercerita tentang kehidupannya sehari –hari.
Suaminya sudah meninggal, nenek Kupit mempunyai 4 orang anak dan 3 orana anak nya sudah meninggal .Nenek Kupit yang bekerja sebagai padagan hanya mendapat penghasilan yang sedikit, itu pun tida cukup untuk kebutuhannya sehari – hari.
Saya sangat sedih melihat keadaan Nenek Kupit yang tidak mampu.
Saya merasa beruntung karena kehidupan saya masih layak, tapi saya senang bisa menolong orang yang tidak mampu dan saya mendapat pengalaman yang berarti.

Demikianlah Bakti Sosial kami di Tahun Baru 2011…

By: Karyani



Bakti Sosial

Dalam rangka liburan tahun baru kami anak-anak yayasan mengisi liburan untuk memberikan sumbangan kepada orang yang kesusahan dan dengan orang yang sudah tua reta. Kami anak –anak yayasan memberi sumbangan dengan uang 5.000 dan beras, susu, mie, telur dll.
Dan besok harinyan kami datang ke yayasan pukul 09.00 wita mami menunggu temen- temen untuk berkumpul dulu, setelah jam 11.00 wita kami berangkat menuju kerumah –rumah yang menurut kami gak mampu.
Menurut kami semua yang pali berken adalah Nenek Kupit.

Nenek Kupit adalah sosok wanita yang sangat tegar, karena bisa menghidupi keluarganya walaupun penghasilannya selama 3 hari Cuma mendapatkan uang 20.000.
Nenek Kupi mempunyai anak 4 orang sudah meninggal 3 orang dan sekarang nenek kupit tinggal bersama anaknya yang bernama Ni Luh Rai, yang sakit- sakitan.
Saya kesana dersama anak –anak yayasan saya sangat terharu melihat rumahnya sangat tidak layak di tempati sampai-sampai saya menangis melihat rumahnya.
Dan suaminya sudah meninggal hamper sudah 7 tahun ditinggal suaminya.

Kesan dan pesan saya Saya sangat Bahagia bisa membantu nenek kupit yang penuh perjuangan dan selalu sebagai untuk menghadapi hidupnya yang penuh dengan kekurangan.Suatu saat nanti saya sukses saya ingin membantu nenek kupit untuk meringankan bebanya.

By: wangi



Bakti Sosial

Waktu liburan sekolah kami melakukan bakti sosial (Bersosialisasi).
Persiapan kami sebelum mengunjungi orang tua yang renta dan juga anak yang cacat adalah mengumpulkan uang juga barang-barang yang sudah tidak dipakai seperti pakaian bekas dan kami juga memberikan makanan seperti: mie, telur, susu, roti, gula, dan kopi.

Setelah selesai mempersiapkan kami pulang ke rumah masing-masing dan barang –barang kami taruh di Yayasan dan besoknya kami berangkat bersama-sama bersama kelompok.
Ketika berangkat tiba-tiba hujan disertai angin kencang sambil menunggu hujan reda kami bermain –main di yayasan.

Setelah lama kemudian hujan pun reda kami pun berangkat ke tempat tujuan.

Ketika diperjalanan kami bernyanyi sambil bercanda gurau.
Tidak lama kemudian kami sampai di rumah nenek Egar, kami sangat terkejut ketika melihat keadaan nenek itu sudah tua renta dan juga kami terkejut melihat keadaan rumahnya yang sudah sangat kecil.

Kami menanyakan dimana suaminya katanya suaminya sudah meninggal dan bertanya berapa umurnya???
Salah satu keluarga nenek Egar bilang umurnya 110 tahun.

Setelah kami memberikan bingkisan kami dan nenek Egar berfoto-foto.























By: Kawisesa

BHAKTI SOSIAL

Waktu liburan sekolah kami melakukan kegiatan bersosialisasi/bhakti sosial kepada orang yang tidak mampu.
Persiapan kami sebelum mengunjungi nenek yang renta/cacad adalah pertama kami mengumpulkan uang dan barang-barang yang tidak dipakai lagi, seperti: pakaian bekas.
Uang yang sudah dikumpulkan, kami membeli barang-barang, seperti: beras, mie, roti, dan telur.
Setelah itu kami bungkus dan dibagi menjadi empat.
Nenek yang pertama namanya Nenek Egar, rumah nenek egar sudah rapuh/tidak bisa ditempati lagi.
Lalu kami memberikan bingkisan itu, dan berfoto bersama.
Terus kami melanjutkan Nenek yang kedua namanya Nenek Kaler, sampai disana kami melihat Nenek Kaler sakit, ia sakit gondok.
Lalu saya memberikan bingkisan itu sambil berfoto bersama.
Dan kami melanjutkan perjalanan yang ketiga yaitu Kakek Lingga.
Kakek Lingga hidup sendiri tanpa didampingi oleh istrinya, Kakek Lingga hidup sederhana, ia mempunyai peralatan tukang kayu dan saya sangat terharu melihat keadaan Kakek Lingga.
Terus kami memberikan bingkisan itu sambil berfoto bersama.
Lalu saya melanjutkan perjalanan yang cukup jauh, yaitu Ibu Merta.
Sampai disana saya kaget karena Ibu Merta terkena gangguan jiwa, lalu saya tidak bisa mendekatinya dan saya mempunyai cara untuk mendekatinya yaitu dengan cara memberika ia rokok.

Rokok yang ia suka adalah ultra, terus saya memberikannya sambil member bingkisan itu dan saya lupa berfoto bersama karena takut dikejar-kejar.
Dan kami pulang, diperjalanan saya harap bingkisan itu bermanfaat bagi mereka.
Kepada Ibu Merta saya harap cepat sembuh dan saya sangat bangga bisa membantu mereka.





Bakti Sosial

Saya merasa sangat senang karena di tahun baru saya bisa membantu orang yang tidak mampu.

Ketika kami mau membagikan binkisan kepada orang tua yangtidak mampu pertama pertama kami mengunjungi nenek Egar dan juga saya sapai disana kami bersalaman dan berfoto-foto dengan nenek Egar lalu kami mengunjungi nenek Kaler sampai sana kami mengucapkan selamat tahun baru dan nenek Egar terharu dan menangis dan kesan yang saya takuti.

Ketika mengunjungi Nenek Merta dia sakit gangguan jiwa kami tidak mengerti kata –katanya nenek merta.
Ketika saya mendekati dia . Saya mau dipenggal kepala saya .Jadinya saya lari terus sampai rumahnya Kakek Lingga saya mengucapkan salam dengan Kakek Lingga karena dia sangat sedih sama teman-teman saya . Saya sama teman –teman juga bersedih.

Terus saya berfoto –foto sama Kakek Lingga dan sama teman-teman saya .



BY :JULIAWAN



End of the Story