HITOPADESHA IN INDONESIAN

NASEHAT YANG BERGUNA

 

Lebih pula:

Hal-hal berikut adalah kecacatan,
Mempersalahkan seorang teman;
Membuka sebuah rahasia, mengemis,
Kekejaman dan pikiran yang plin-plan,
Sifat murka, sifat tidak benar dan perjudian.
Bahkan tidak satupun dari kesalahan-kesalahan tersebut terlihat pada dirimu."



Untuk:

Kepintaran dan sifat sebenar-benarnya,
Dikenal selama percakapan berlangsung
Sementara kedewasaan dan kestabilan,
Dikenal melalui pengalaman.



Lebih pula:

Salah satu bentuk dari persahabatan dari seseorang,
Yang mana pikirannya murni,
Sementara perkataan dari seseorang,
Yang mana pikirannya dirusaki oleh ketidakjujuran,
Adalah suatu bentuk persahabatan dari seorang yang lain.14

Hanya ada satu hal dalam pikiran,
Yang lainnya ada dalam perkataan,
Dan sementara yang lainnya
Berada dalam tindakan dari orang yang jahat,
Sementara hal yang sama,
Berada dalam pikiran, perkataan
Dan perbuatan orang-orang yang saleh.

"Jadi biarkan seperti apa yang engkau kehendaki."

Tak lama kemudian Hiranyaka mengesahkan persahabatannya dengan si burung gagak, mempersilahkan dia dengan bermacam-macam makanan lezat serta memasuki lubang persembunyiannya.

Sang burung gagakpun kembali ke tempatnya.

Setelah itu, kehidupan mereka berlalu dalam kebahagiaan saling memberi makanan satu sama lain, dalam keacuhan atas keadaan kesehatan satu sama lain serta dalam percakapan pribadi.

Suatu hari Laghupatanaka berkata kepada Hiranyaka, "Teman! Sulit rasanya memperoleh makanan di tempat ini, jadi aku berkeinginan untuk meninggalkan tempat ini dan pergi ke tempat lain."

Hiranyaka berkata, "Teman! Kemana kamu dapat pergi?"

Sebagaimana disebutkan:

Orang yang bijak bergerak dengan satu kaki,
Dan berhenti dengan kaki yang lainnya:
Tanpa memeriksa tempat yang baru,
Seseorang tidak boleh meninggalkan
Tempat kediaman sebelumnya.

Si burung gagak menjawab, "Terdapat suatu tempat yang benar-benar baik yang telah pernah diperiksa sebelumnya."

Hiranyaka bertanya, "Dimana tempatnya?"

Si gagak menjawab, "Di dalam hutan Dandaka, terdapat sebuah danau yang bernama Karpuragaura. Disana tinggal teman lamaku, seekor kura-kura yang saleh bernama Manthara."



Untuk:

Kepintaran dalam memberi nasehat kepada yang lain,
Adalah sesuatu hal yang mudah bagi semua manusia,
Namun dalam hal pelaksanaan dari perbuatan baik
Sesuai perintah agama,
Dikerjakan hanya oleh sejumlah orang
Yang bersifat murah hati.

"Dia akan mempersilahkan aku dengan makanan-makanan lezat yang lain."

Hiranyaka berkata, "Lalu apa yang akan aku lakukan bila tetap disini?"



Untuk:

Sebuah tempat,
Dmana tidak terdapat rasa hormat di dalamnya,
Yang tidak ada mata pencaharian,
Tidak ada sanak keluarga,
Dan tidak ada kemungkinan
Untuk memperoleh pengetahuan;
Maka tempat tersebut haruslah ditinggalkan.



Lebih pula:

Mata pencaharian, ketakutan, perasaan akan malu,
Kesopan santunan dan memberi derma;
Dimana kelima hal ini tidak terdapat,
Maka seseorang haruslah tidak boleh tinggal disitu.



Juga:

Seorang pemberi pinjaman, seorang dokter,
Seorang Brahmana yang benar-benar menguasai Veda,
Dan sebuah sungai yang penuh dengan air;
Dimana keempat hal ini tidak terdapat,
Wahai teman! Seseorang tidak boleh tinggal disitu.

"Jadi bawalah aku kesana."

Sembil bercakap-cakap tentang bermacam-macam topik, sang gagakpun sampai di danau tersebut dengan mudah bersama temannya si tikus.

Dari kejauhan, Manthara melihat mereka kemudian menyambut Laghupatanaka dengan wajar dan juga menerima si tikus dengan keramah-tamahan sebagaimana layaknya terhadap seorang tamu.



Karena:

Seorang anak, seorang manusia dewasa
Atau seorang anak muda,
Yang telah datang ke sebuah rumah,
Haruslah diperlihatkan kepada mereka rasa hormat,
Seorang tamu adalah sebuah objek dari ibadat bagi semua.

Api dimuliakan oleh para Brahmana,
Para Brahmana dimuliakan oleh keempat kasta dibawahnya, castes
Suami oleh isterinya dan seorang tamu oleh semuanya.     describe 4

Sang gagak berkata, "Temanku Manthara! Berikanlah kehormatan kepadanya, karena dia adalah Hiranyaka, sang raja para tikus, yang mana dia adalah pemimpin dari mereka yang tindakan-tindakannya berfaedah dan juga adalah lautan kemurahan hati. Bahkan dengan dua ribu lidahnya, raja dari ular-ular tidak akan dapat memuji kemurahan hatinya."

Berkata demikian, dia kemudian menceritakan episode tentang Chitragreeva.

Manthara memujii Hiranyaka dengan penuh hormat dan berkata, "Oh temanku! Katakan padaku apa alasan engkau sampai ke dalam hutan terpencil ini."

Hiranyaka berkata, "Aku akan bercerita. Dengarlah!"



Cerita Tentang Seekor Tikus Yang Kaya Dan Seorang Pertapa

Di sebuah kota bernama Champaka, terdapat sebuah tempat dimana para pertapa tinggal.

Seorang pertapa bernama Chudakarna tinggal disana.

Setelah makan makanan yang diperolehnya dari mengemis, dia selalu menyimpan sisa makanannya dalam sebuah mangkuk yang dipakai untuk mengemis pada sebuah paku tancapan dan kemudian dia pergi tidur.

Aku dulunya suka meloncat ke mangkuk tersebut dan memakan makanannya berkali-kali.

Setelah beberapa waktu, seorang teman baiknya yang juga seorang pertapa yang bernama Vinakarna datang ke tempat itu. Sementara bercakap-cakap menegnai berbagai topik dengannya, Chudakarna selalu memukul lantai dengan sebuah tongakt bambu tua untuk menakut-nakuti saya.

Melihatnya, Vinakarna berkata, "Teman! Kenapa engkau selalu bersikap acuh tak acuh pada perkataanku dan asyik dengan sesuatu yang lain?"

Chudakarna berkata, "Teman! Aku sesungguhnya tidak acuh tak acuh. Tapi lihatlah tikus ini, seekor binatang pembuat kejahatan bagiku yang selalu melompat ke mangkuk dan memakan makanan yang ada di simpan di mangkuk yang aku kumpulkan melalui mengemis.

Vinakarna mempelajari pasak tempat mangkuk d an kemudian berkata, "Bagaimana caranya tikus yang memiliki kekuatan kecil ini bisa melompat begitu tinggi? Pasti ada suatu alasan mengenai hal ini."



Sebagaimana disebutkan:

Secara tiba-tiba, seorang wanita muda,
Yang menarik rambut suaminya yang sudah tua,
Memeluknya dengan penuh nafsu and menciumnya,
Pastilah ada sebuah alasan dalam hal tersebut.

Chudakarna bertanya, "Bagaimana hal itu terjadi?"

Dan Vinakarnapun bercerita:



Cerita Tentang Seorang Suami Yang Sudah Tua Dan Isterinya Yang Muda

Seorang saudagar kaya bernama Chandandas tinggal disana. Dia telah berada dalam masa akhir hidupnya namun karena nafsu dan sombong dengan kekayaannya dia kawin dengan anak perempuan dari seorang saudagar bernama Lilavati.

Kehidupan mudanya dicapai seperti spanduk dari Dewa cinta. Suami yang sudah sangat tua tidaklah memuaskan dia.

Untuk:

Seperti bagi mereka yang menggigil karena kedinginan
Tidak suka akan bulan
Atau bagi mereka yang tertekan dengan panas,
T idak suka akan matahari,
Demikian juga dengan pikiran seorang wanita,
Tidak merasa girang terhadap seorang suami,
Yang mana anggota-anggota tubuhnya telah menjadi lemah
Karena usia sudah tua.



Lebih pula:?

Bagaimana bisa seorang laki-laki
Yang rambutnya telah berubah warna menjadi abu-abu,
Memiliki tenaga untuk seks?
Wanita-wanita yang tertarik pada laki-laki lain,
Akan menganggap laki-laki
Yang tua tersebut sebagai obat penawar.

Namun demikian laki-laki tua tersebut sangat sayang terhadap dia.

Untuk:

Keinginan terhadap kekayaan dan hidup,
Adalah selalu menjadi penting bagi mahluk hidup
Tapi bagi seorang laki-laki tua, isteri mudanya,
Adalah lebih penting bahkan daripada hidupnya sendiri.



Lebih pula:

Seorang laki-laki tua tidak bisa menikmati,
Tidak pula bisa meninggalkan kenikmatan sensual,
Dia seperti seekor anjing yang tidak memiliki gigi-gigi lagi,
Yang hanya menjilat sepotong tulang dengan lidahnya.

Setelah kemudian si Lilavati yang karena mabuk kepayang dengan masa muda, akhirnya melanggar kehormatan keluarganya dan hatinya melekat pada seorang anak saudagar.



Untuk:

Hal-hal berikut adalah alasan-alasan
Bagi rusaknya seorang wanita:
Kemerdekaan, bertempat tinggal di rumah bapaknya,
Bersama-sama dengan
Yang lain pada acara-acara makan,
Mengobrol dengan banyak laki-laki,
Tidak tetap pada aturan tingkah laku,
Hidup jauh di luar negeri,
Berhubungan dengan wanita-wanita
Yang memiliki sifat tidak baik,
Berkali-kali kehilangan sifat baiknya,
Usia suami yang tua, sifat cemburu suaminya,
Atau tempat tinggal suaminya di luar negeri.



Lebih pula:

Keenam hal ini akan merusak seorang wanita:
Minum minuman keras,
Bersama-sama dengan orang-orang yang jahat
Berpisah dari suami,
Suka bepergian kesana-kemari
Tidur atau tinggal di tempat orang lain.



Dan juga:

Tidak ada tempat, tidak ada kesempatan,
Tidak ada orang lain yang merayu dia;
Untuk alasan-alasan ini saja, Wahai Narada!
Seorang wanita akan tetap tidak ternoda.



Lebih pula:

Seorang wanita sama seperti sebotol ghee15
Seorang laki-laki sama seperti sepotong arang panas,
Oleh karenanya seorang yang bijaksana
Harusnya tidak boleh membuat keduanya berdekatan.



Juga:

Si ayah melindungi masa gadisnya,
Si suami melindungi nasa mudanya,
Si anak laki-laki melindungi masa tuanya;
Seorang wanita tidak boleh diberikan kemerdekaan.

Suatu waktu, ketika Lilavati duduk bahagia sangat dekat sambil bercakap-cakap dengan anak dari saudagar di sofa yang penuh gemerlap karena perhiasan, tiba-tiba melihat suaminya datang mendekat. Dia berdiri dengan cepat, menariknya rambutnya, memeluknya dengan dalam dan menciumnya. Sementara pada saat yang sama kekasihnya kabur.



Disebutkan bahwa:

Sastra-sastra yang diketahui oleh Usana dan Brihaspati,
Semuanya ini berada dalam kepintaran seorang wanita.

Ketika seorang pelacur yang berada dekat di situ melihat rangkulan tersebut, dia menjadi heran, "Mengapa dia dengan tiba-tiba merangkulnya?"

Ketika seorang wanita asusila mengetahui alasannya, dia pun secara rahasia menghukum Lilavati.

"Oleh karenanya aku berkata, 'Secara tiba-tiba, seorang wanita menangkap suaminya yang sudah hampir tua' dan lain-lain."

Vinakarna melanjutkan, "Dalam hal ini, sumber tenaga yang terus-menerus dari si tikus pastilah karena kekayaan yang berlimpah-limpah."

Dia berpikir sebentar dan berkata, "Alasan dalam hal ini adalah hanya karena berlimpahnya kekayaan."



Untuk:

Dalam dunia ini, dimanapun dan di setiap waktu,
Seorang manusia menjadi sangat berkuasa ketika ia kaya,
Kekuasaan raja-rajapun,
Berdasar semata-mata karena kekayaan.

Dia kemudian membawa sebuah sekop, menggali lubang tersebut yang telah aku buat dan membawa kabur seluruh kekayaanku yang bertumpuk sejak lama. Setelah itu, aku sama sekali tanpa tenaga dan vitalitas energi, bahkan tak bisa mencari makanan untuk diriku sendiri, Chudakarna melihatku merayap perlahan dalam teror.



Dan dia berkata:

Karena kekayaan di dunia ini,
Seseorang menjadi berkuasa,
Juga karena kekayaan,
Seseorang dianggap terpelajar,
Lihatlah tikus yang jahat ini,
Dia telah menjadi sama seperti salah satu dari kastanya.



Juga:

Seluruh upaya dari seorang yang berintelek rendah,
Yang sama sekali tanpa kekayaan,
Mengering seperti sebuah sungai kecil di musim panas.



Dan juga:

Siapa yang memiliki kekayaan memiliki teman-teman,
Siapa yang memiliki kekayaan memiliki saudara,
Siapa yang memiliki kekayaan
Adalah benar-benar seorang manusia di dunia,
Siapa yang memiliki kekayaan adalah terpelajar.



Lebih pula:

Rumah dari seorang
Yang tidak mempunyai anak adalah sunyi,
Begitu juga dengan seorang
Yang tidak memiliki teman-teman yang baik,
Bagi seorang yang bodoh,
Sluruh sudut adalah sunyi,
Dan segala sesuatu adalah sunyi dalam kemiskinan.



Dan:

Diantara kemiskinan dan kematian,
Kematian lebih disukai,
Karena kematian,
Sakit hanya untuk waktu yang singkat,
Sementara bagi kemiskinan, sakit untuk selamanya.



Dan:

Pengertian-pengertian sama yang benar,
Nama yang sama,
Intelektualitas sama yang tidak merusak,
Perkataan yang sama,
Namun ketika terpisah dari kehangatan kekayaan,
Seorang menjadi berbeda dalam sejenak;
Ini tentunya adalah aneh.

Mendengar hal ini semua, saya berpikir, "Tidak pantas bagi saya untuk tinggal disini. Menceritakan kisah ini ke orang lain juga tidak pantas."



Untuk:

Kehilangan kekayaan, penderitaan bathin,
Kelakuan-kelakuan buruk di rumah,
Ketidakjujuran dan penghinaan diri;
Tidak boleh diperlihatkan oleh seorang yang bijaksana.



Seperti disebutkan:

Jika nasib benar-benar bermusuhan,
Dan seluruh upaya gagal,
Bagi seorang yang pintar tapi tanpa kekayaan,
Dimana lagi terdapat kebahagiaan
Kecuali dalam sebuah hutan?



Lebih pula:

Seorang yang terhormat sudi meninggal,
Tetapi tidak memperlihatkan ketidakberdayaan,
Api menjadi padam,
Tetapi tidak akan pernah menjadi dingin.



Dan juga:

Seperti seikat kembang,
Terdapat dua sikap dari seorang yang bijaksana,
Salah satu adalah menghiasi kepala-kepala semua orang,
Atau melayukan diri di dalam hutan.
Untuk bertahan hidup disini dengan mengemis adalah sangat hina.



Untuk:

Akan lebih baik bagi seseorang
Yang tidak memiliki kekayaan,
Memuaskan api dengan badannya,
Daripada menyerahkan harga diri,
Dan meminta kepada seorang yang kikir.



Lebih pula:

Dari kemiskinan,
Seseorang memperoleh rasa malu,
Dipenuhi dengan rasa malu,
Dia menyimpang dari moralitas,
Tanpa moralitas,
Dia terhina,
Dari kehinaan,
Dia memasuki keputusasaan,
Dia sampai pada kesedihan,
Dihantam oleh duka cita,
Dia kehilangan intelektualitasnya,
Tanpa intelektualitas, dia hancur;
Oh! Kemiskinan adalah kediaman dari seluruh malapetaka.



Dan juga:

Lebih baik mengambil langkah berdiam diri,
Daripada berbicara kata-kata yang palsu,
Lebih baik impotensi terdapat pada seorang laki-laki,
Daripada melakukan zina dengan isteri orang lain;
Lebih baik mengorbankan hidup,
Daripada bersenang-senang dalam percakapan
Dengan orang orang yang jahat
Lebih baik hidup dari derma
Daripada bersenang senang dari kekayaan orang lain



Dan lebih lanjut:

Seperti perhambaan, seluruh harga diri;
Seperti cahaya bulan, kegelapan;
Seperti usia lanjut, kecantikan;
Seperti pembicaraan mengenai Vishnu dan Shiva, dosa;
Begitu juga mengemis menghancurkan
Bahkan ratusan kebajikan.

Demikian aku berpkir, "Haruskah aku mempertahan diriku dengan makanan orang lain?
Oh betapa sulitnya! Hal itu juga merupakan pintu kedua menuju kematian."



For:

Tiga hal yang menurunkan martabat seseorang:
Belajar yang hanya bagian luarnya saja,
Kenikmatan seksual yang diperoleh dengan bayaran
Dan ketergantungan terhadap orang lain
Dalam hal makanan



Lebih lagi:

Seorang yang sakit,
Seorang yang tinggal di luar negaranya sejak lama,
Siapa yang memakan makanan orang lain,
Dan seorang yang tidur di tempat orang lain;

Seorang yang hidup demikian,
Sama layaknya seperti kematian,
Kematiannya adalah istirahatnya yang terakhir.

Meskipun berpikir demikian, namun karena serakah, saya sekali lagi berkeinginan memiliki makanannya.

Seperti disebutkan:

Intelektualitas terpengaruh melalui keserakahan,
Keserakahan menghasilkan keinginan:
Diliputi oleh keinginan,
Sesorang memperoleh kesedihan,
Di dunia ini dan dunia yang lain.

Tak lama kemudian, ketika aku melangkah dengan lambat, Vinakarna menghantam aku dengan kayu bambu tua, setelah mana aku berpikir,

Keserakahan akan kekayaan membawa
Pada kurangnya kepuasan hati,
Pikiran yang tidak tetap
Dan kehilangan kontrol atas perasaan,
Semua malapetaka menimpa pada diri,
Bagi siapa yang pikirannya tidak puas.



Dan juga:

Seluruh kekayaan adalah milik diri,
Bagi siapa yang pikirannya puas,
Siapa yang kakinya tertutup oleh sepatu,
Bukankah tidak sebenarnya,
Seolah-olah seluruh bumi tertutup oleh kulit?



Lebih pula:

Terpuaskan dengan madunya kepuasan hati,
Kesenangan yang berada pada pikiran yang tenang,
Dari mana kesenangan tersebut datang,
Mereka yang serakah akan kekayaan,
Yang mengejarnya kesana kesini?



Dan juga:

Oleh siapa itu dipelajari,
Oleh siapa itu didengar,
Oleh siapa itu segala sesuatu dilakukan;
Siapa yang telah meninggalkan hasrat-hasrat,
Dan telah memilih jalan kepada ketidakinginan.



Lebih pula:

Diberkati adalah kehidupan dari seseorang,
Yang tidak menunggu di depan pintu orang-orang kaya,
Yang tidak mengetahui penderitaan dari perpisahan,
Yang tidak mengatakan kata-kata penghambaan
Yang menurunkan martabat.



Dan juga:

Ratusan Yojanas tidaklah jauh bagi seseorang,
Siapa yang terbawa dengan keinginan,
Bagi siapa yang merasa puas,              Yojna: Measure of distance
Bahkan pada saat kekayaan datang di tangannya,
Dia tidak terpengaruh dengannya.

Oleh karenanya keputusan mengenai suatu tindakan yang tepat sesuai keadaan tentu saja lebih disukai.

Dan disebutkan:

Apakah agama itu? Perasaan haru atas mahluk hidup; Apakah kebahagiaan itu? Kebebasan dari penyakit; Apakah kasih sayang itu?: Perasaan Yang baik atas semuanya; Apakah belajar itu?: Diskriminasi.

Juga:

Kebijaksanaan terletak pada pengambilan suatu keputusan,
Pada saat malapetaka menimpa kepada seseorang;
Ketika seseorang tidak mengambil keputusan,
Malapetaka menimpa pada setiap langkah.



Demikian juga:

Seseorang harus meninggalkan orang yang lain,
Demi untuk keluarga,
Sebuah keluarga demi untuk desa,
Sebuah desa demi untuk sebuah negeri,
Dan seluruh dunia demi dirinya sendiri.



Juga:

Air diperoleh tanpa kesulitan,
Atau makanan enak
Yang dihadiri dengan ketakutan,16
Tentunya dengan mempertimbangkan
Kedua alternatif tersebut,
Aku merasa didalamnya terdapat kebahagiaan,
Yang mana terdapat pikiran yang tenang.
Setelah berpikir demikian sampailah aku pada hutan yang tidak berpenghuni ini."



Untuk:

Akan lebih baik tinggal di hutan yang penuh
Dengan harimau dan gajah,
Yang mana dibawah pohonya,
Seseorang memperoleh buah-buahan matang dan air,
Ilalang sebagai tempat tidur
Dan daun-daunan sebagai pakaian,
Tetapi tidak tanpa kekayaan diantara saudara-saudara.

Kemudian sebagai hasil dari kebajikan-kebajikan agama yang aku lakukan, teman ini mempersilahkan aku dengan kasih sayang. Sekarang dengan kelanjutan dari hasil kebajikan-kebajikan agama yang aku lakukan, telah aku peroleh kehadiran kamu, yang mana benar-benar seperti surga."



Untuk:

Dari pohon beracun dunia yang fana, Dua buah-buahan adalah lezat; . Madu seperti rasanya, puisi, Dan persahabatan dengan orang-orang yang baik.

Manthara berkata

Kekayaan seperti debu dari kaki,
Kemudaan layaknya seperti aliran sungai pegunungan,
Usia seperti cepatnya tetesan air,
Kehidupan seperti sebuah buih;
Oleh karenanya, orang yang tidak pintar,
Yang tidak melakukan kebaikan-kebaikan agama,
Yang membuka gerbang-gerbang surga,
Menyesali kemudian pada usia tua
Dan terbakar dalam api kesedihan.

"Engkau telah memperturutkan? hatimu dengan kepemilikan yang berlebih-lebihan. Yang demikian adalah konsekuensi yang berbahaya dari hal tersebut."



Untuk:

Dari uang yang diperoleh,
Derma adalah pelindungnya,
Seperti air di sebuah danau tetap baik
Melalui arus keluar yang tetap.



Juga:

Seorang yang pelit,
Yang menyimpan kekayaannya di dalam tanah,
Telah membuat sebuah perjalanan baginya
Untuk pergi ke neraka.



Lebih pula:

Menolak dirinya dengan kesenangan hidup,
Seseorang yang menginginkan pemerolehan kekayaan,
Seperti isebuah pembawa beban demi yang lainnya,
Dia adalah penerima sendiri dari penderitaan.



Lebih pula:

Jika orang-orang dianggap kaya karena kekayaan
Yang mana tidak digunakan untuk derma atau hiburan:
Dengan kekayaan yang sama,
Dapatkah kita tidak dianggap kaya?



Juga:

Seseorang yang menghabiskan hari-harinya
Baik tanpa memberikan uang untuk derma.
Ataupun tanpa menikmatinya,
Seperti puputan pada tempat seorang tukang besi,
Yang mana bernapas tetapi tanpa kehidupan.

Apakah nilai kekayaan
Yang tidak diberikan untuk derma,
Atau keberanian
Yang mana tida menyiksa musuh,
Atau mendengarkan ayat-ayat kitab
Jika seseorang tidak mengikuti mereka,
Ataukah jiwanya yang mana tidak mengontrol perasaan?



Juga:

Inilah tiga hal kemungkinan,
Seseorang yang tidak memberi atau menikmati,
Kemungkinan yang ketiga akan terjadi padanya.
Dengan tanpa kesenangan, kekayaan
Dari seorang yang pelit,
Adalah seperti kepunyaan orang lain,
"Ini adalah kepunyaannya",
Hubungan ini terbentuk,
Melalui kesedihan dia dalam kehilangannya.



Seperti disebutkan:

Pemberian dengan kata-kata yang manis,
Pengetahuan tanpa rasa congkak,
Keberanian yang diikuti oleh sifat pemaaf,
Kekayaan yang diberikan untuk derma;
Inilah keempat hal yang jarang di dunia ini.



Juga disebutkan:

Seseorang harus selalu mengumpulkan,
Tetapi tidak melewati batas.



Lihatlah:

Si serigala yang mencoba mengumpulkan terlalu banyak,
Terbunuh melalui busur.

Keduanya bertanya, "Bagaimana hal itu sampai terjadi?"

Dan Manthara pun bercerita.



Cerita tentang Seorang Pemburu, Seekor Kijang,
Seekor Babi, Seekor Ular dan Seekor Serigala

Terdapat seorang pemburu yang bernama Bhairava, yang mana dia adalah penduduk Kalyanakata.

Suatu ketika, dia pergi ke tengah hutan Vindhya untuk mencari seekor kijang.

Setelah membunuh satu, sementara dia membawanya dia melihat seekor babi yang terkejut.

Kemudian sang pemburu menaruh kijangnya di atas tanah dan membunuh babi tersebut dengan sebuah panah. Sang babi membalas dengan auman keras dan menyerang si pemburu di bagian paha yang membuatnya jatuh seperti sebuah pohon yang dikampak.



Untuk:

Air, api, racun, senjata,
Kelaparan, penyakit, jatuh dari gunung,
Bertemu dengan sebab yang nyata,
Suatu mahluk hidup hilanglah kehidupannya.

Ditengah-tengah, seekor ular besar juga mati saat terinjakoleh keduanya

Sementara itu, seekor serigala Deergharava yang berjalan-jalan disana mencari makanan, melihat si pemburu, kijang, babi dan ular.

Kemudian dia berpikir, "Oh! Sebuah santapan besar telah datang kepadaku."

Untuk:

Samalah seperti kesedihan yang tidak diharapkan,
Menimpa atas manusia,
Begitu juga dengan kesenangan,
Aku percaya bahwa nasib adalah
Yang utama dalam hal-hal ini.

"Kalau begitu, dengan daging mereka ini, aku akan hidup bahagia untuk tiga bulan. Yang manusia akan bertahan untuk satu bulan, si kijang dan babi untuk dua bulan dan si ular untuk satu hari. Hari ini aku akan makan daging busur. Setelah pertama perihnya ////// perut karena lapar, aku akan menggigit urat yang tanpa rasa dan terbuat dari otot yang terhunungkan pada busur.

Pada waktu dia memotong otot urat tersebut, busur tersebut tiba-tiba keluar dan menghujam hatinya. Deerghava terpecah menjadi lima bagian.

"Oleh karenanya aku berkata,"

Seseorang haruis mengumpulkan,
Tapi tidak melewati batas



Dan juga:

Apa yang dia berikan dan nikmati,
Sesungguhnya adalah kekayaan
Dari orang-orang yang kaya,
Sebaliknya pada saat dia mati,
Orang-orang yang lain terpikat hati mereka,
Dengan kekayaan dan juga isterinya.



Juga:

Apa yang diberi atau dikeluarkan
Oleh orang-orang kaya,
Adalah benar-benar kekayaan mereka,
Sementara sisanya mereka lindungi bagi yang lain.

"Marilah kita lewati hal ini. Apa gunanya membicarakan suatu hal yang telah lampau?"



Untuk:

Apa yang tidak dapat dicapai,
Mereka tidak akan dirindukan,
Apa yang telah hilang,
Mereka tidak menjadi sedih
Bahkan dalam keadaan malapetaka,
Orang yang berpikiran pandai
Tidak akan menjadi bingung.

"Jadi teman, engkau harus selalu penuh dengan perasaan antusias."



Untuk:

Bahkan setelah belajar ayat-ayat suci,
Banyak yang masih tetap bodoh,
Tapi seseorang yang pandai dalam pekerjaan,
Orang tersebut tentunya terpelajar.

Suatu obat yang dipilih
Sete lah melalui pertimbangan yang dalam
Untuk mereka yang sakit,
Tidaklah membuat mereka terbebas dari penyakit,
Dengan hanya menyebutkan namanya saja.



Lebih pula:

Benarlah adanya dalam pengetahuan teori,
Tidak memberi bahkan keuntungan yang kecil,
Bagi seseorang yang takut untuk berusaha.

Apakah sebuah lampu seimbang
Ketika ditaruh di tangan seorang yang buta,
Menerangkan suatu objek bagi dia?

"Oleh karenanya, wahai teman, dibawah suasana aneh disini, engkau harus rileks dan tidak membayangkan hal tersebut sukar untuk dikerjakan."



Untuk:

Seorang raja, keluarga wanita, seorang Brahmana,
Seorang menteri dan payudara;
Bila dipisahkan dari tempatnya yang semestinya,
Tidaklah terlihat menarik.



Demikian juga:

Gigi, rambut, kuku dan laki-laki;
Mengetahui hal ini, seorang yang pintar,
Tidak boleh meninggalkan tempatnya.
Tapi ini adalah kata-lata dari seorang pengecut



Untuk:

Meninggalkan negerinya mereka ini akan pergi jauh:
Singa-singa, orang-orang baik dan gajah-gajah;
Disini sendiri mereka ini akan binasa://////////
Burung-burung gagak, para pengecut dan kijang-kijang.



Juga:

Bagi seorang yang berpikiran berani,
Manakah negara asal atau asingnya?
Dimanapun negeri dia pergi,
Negeri itu dia tundukkan,
Dengan kekuatan lengannya,
Hutan apapun bagi seekor singa yang dia masuki,
Dia membunuh dengan giginya, cakar dan ekor,
Dan memuaskan hausnya,
Dengan darah dari gajah-gajah.



Lebih pula:

Seperti katak-katak yang datang ke sebuah genangan,
Burung-burung ke sebuah danau luas,
Begitu juga semua kekayaan datang
Kepada seorang yang rajin.



 
Back


  Next
Hitopadesha in German Home Hitopadesha in English